Partager

BAB 204

Auteur: Langit Parama
last update Date de publication: 2026-07-06 00:01:30

“Kak Tristan ke mana, Bu?” tanya Jevier seraya menghampiri ibunya yang duduk di barisan paling depan bersama Remmer dan Raymond.

Miriam menoleh sekilas. “Ibu juga tidak tahu, Jev. Tadi dia berangkat lebih dulu. Harusnya sekarang sudah ada di sini.”

“Berangkat lebih dulu?” Satu alis Jevier terangkat. “Ibu yakin dia memang ke sini?”

“Memangnya mau ke mana lagi?” balas Miriam dengan kening berkerut.

Jevier tak menjawab. Ia hanya menghembuskan napas pelan, lalu duduk di samping Raymond.

Pria t
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Chapitre verrouillé
Commentaires (10)
goodnovel comment avatar
Wahyuningsih D.Sumitro
Kaelix terlalu pintar utk dibodohi, tp gimana nasib sasqia...
goodnovel comment avatar
Tati S
thooor up lagi dong nanggung tuuh qia nya sama tristan apa sama kael??
goodnovel comment avatar
evi erfika
Semoga sasqia tetap smaa kael, malas banget liat soraya dan shiren
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 252

    “Shiren, tolong buatkan kopi untuk Pak Kaelix, ya.” Salah seorang office girl senior menyodorkan secarik kertas berisi pesanan. Shiren yang sejak tadi bersandar santai di pantry langsung mengangguk. “Siap, Mbak.” Tangannya mulai meracik kopi dengan cekatan. Sambil menunggu air panas menetes perlahan dari mesin, sudut bibirnya terangkat tipis. “Lumayan ...,” gumamnya pelan. “Harus sering-sering cari perhatian begini. Toh hubungan Kaelix sama Sasqia lagi gak baik.” Ia terkekeh kecil. “Lagian bulan depan aku juga udah pindah divisi. Gak bakal lama-lama jadi office girl.” Beberapa menit kemudian, secangkir kopi hangat telah siap. Shiren merapikan tatakan cangkir, lalu membawanya menuju lantai eksekutif. _____ Begitu keluar dari lift, ia langsung disambut sekretaris pribadi Kaelix yang tengah berdiri di depan meja kerjanya. “Oh, Mbak Shiren. Biar saya yang antarkan ke dalam.” Shiren menggeleng halus. “Gak usah, Mbak. Kebetulan saya juga mau ngobrol sebentar sama Pak Kaelix.” Se

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 251

    “Mobil sudah siap mengantar Bapak ke restoran untuk makan siang,” lapor Arlan setelah rapat bersama jajaran divisi berakhir. Kaelix menghembuskan napas pelan. Sejujurnya, ia sama sekali tidak berselera makan. Namun, pekerjaannya masih menumpuk hingga malam. Ia tetap membutuhkan tenaga. Pria itu bangkit dari kursi kerjanya, merapikan jas yang dikenakannya, lalu melangkah menuju pintu dengan Arlan mengikuti beberapa langkah di belakang. Klek. Begitu pintu terbuka, Kaelix mendapati Sasqia sudah berdiri di depan ruangannya, tangan kanannya terangkat, hendak mengetuk. “Mas ...,” senyum manis langsung merekah di wajah cantik wanita itu. “Aku dateng bawain makan siang buat kamu.” Ia mengangkat paper bag yang dibawanya dengan antusias. “Aku masak sendiri. Masih hangat.” Tatapan Kaelix jatuh pada paper bag itu selama beberapa detik. Lalu kembali menatap wajah istrinya. “Saya tidak meminta.” Kalimat itu terdengar datar, cukup membuat senyum Sasqia sedikit memudar. “Aku tahu,” balasnya

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 250

    Pagi itu, suasana kantor mulai ramai oleh para karyawan yang baru datang. Di pantry lantai utama, Shiren tengah berdiri sambil menikmati secangkir kopi. Pagi itu pekerjaan belum terlalu padat. Ia pun bersandar santai di meja pantry. Tanpa sadar, jemarinya memainkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Kilauan berlian kecil pada cincin itu tampak memantulkan cahaya lampu. “Lumayan,” gumamnya pelan. “Toh Sasqia punya banyak.” Tatapannya kembali jatuh pada cincin tersebut. “Pasti dia juga gak bakal sadar kalau satu hilang.” Senyum tipis penuh kemenangan terukir di wajahnya. “Shiren!” Suara seseorang membuatnya buru-buru menurunkan tangan. Ia menoleh dan mendapati salah seorang supervisor berjalan menghampirinya. “Iya, Bu?” “Pak Arlan minta kamu ke ruang HRD sekarang.” Shiren mengernyit. “HRD?” “Iya.” “Ada masalah sama kerjaan saya?” tanya Shiren dengan raut wajah panik. Supervisor itu justru tersenyum. “Saya juga kurang tahu. Tapi se

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 249

    Pukul sembilan malam, Sasqia sudah duduk di ruang tamu dengan kedua tangan memeluk lutut. Tatapannya berkali-kali beralih ke arah pintu utama. Sebelumnya ia sempat mengirim pesan kepada sang suami, menanyakan apakah Kaelix sudah makan dan apakah akan pulang larut malam. Balasan yang diterimanya hanya satu kata. Iya. Tak ada kalimat lain. Tak ada pertanyaan balik seperti biasanya. Biasanya Kaelix akan menanyakan apakah ia sudah makan, atau mengingatkannya agar tidak menunggu terlalu malam. Namun malam ini tidak ada satu pun. Sasqia menghembuskan napas pelan. Ia kembali melirik jam dinding. Pukul sepuluh malam. Rumah itu masih sunyi. “Kalau aku kirim pesan lagi ...,” gumamnya lirih. “Paling jawabannya singkat lagi.” Sesaat kemudian ia menggeleng pelan. “Yaudah ... coba aja.” Jemarinya segera meraih ponsel di atas meja. Kali ini ia tidak mengirim pesan. Ia langsung menekan nama Mas Kael pada daftar kontak. Panggilan tersambung, namun hanya beberapa detik. “Nomor yang Anda tuju

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 248

    Suara mesin mobil Kaelix perlahan menghilang dari halaman rumah. Sasqia masih berdiri di depan pintu, tatapannya kosong. Baru beberapa detik yang lalu suaminya berada di hadapannya. Kini rumah sebesar itu kembali terasa sunyi. Pelan-pelan ia melangkah menuju kamar, pintu ditutup tanpa suara. Begitu berada di dalam, seluruh tenaga di tubuhnya seakan lenyap. Sasqia terduduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya akhirnya luruh begitu saja. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isaknya pecah. “Mas ...,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Maaf ....” Tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya bahwa satu keputusan yang ia anggap sepele justru melukai orang yang paling tulus mencintainya. Bukan karena Kaelix marah. Bukan pula karena pria itu meninggikan suara. Yang paling menyakitkan adalah tatapan datar itu. Tatapan yang seolah membangun jarak di antara mereka. Sasqia memeluk kedua lututnya, dadanya terasa sesak. Bar

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 247

    “Yaaah ... udah mau pulang.” Sherly langsung mengerucutkan bibirnya. “Sherly gak bisa berenang lagi kayak semalem.” “Di rumah juga ada kolam renang, Sayang,” hibur Mahendra sambil mengusap kepala cucunya. “Tapi gak sebagus di rumah Om Kael,” rengek Sherly. “Kolamnya lebih gede, lampunya banyak, terus ada Om Kael yang ngajarin Sherly berenang.” Sudut bibir Kaelix terangkat tipis. “Hari lain Om ajarin lagi.” Bola mata Sherly berbinar. “Janji?” serunya semangat, tatapannya beralih pada Kaelix. “Janji.” Sherly langsung tersenyum puas. Sementara itu, Soraya diam-diam memperhatikan Sasqia. Sejak semalam, putri bungsunya itu tampak lebih banyak diam. “Sasqia.” Sasqia menoleh. “Ikut Mama sebentar.” Tanpa menunggu jawaban, Soraya lebih dulu berjalan menuju taman samping rumah. Sasqia sempat melirik Mahendra dan Kaelix. Tak ada yang berkata apa-apa. Ia pun menyusul ibunya. “Ada apa, Ma?” Soraya memandang rumah megah di hadapannya. “Rumah kamu bagus.” Sasqia hanya te

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 90

    “Mas semalam ke rumah sakit, ya?” tanya Sasqia pelan, membuka percakapan lebih dulu saat mereka makan siang bersama. Sendok di tangan Tristan terhenti di udara. Ia lalu meletakkannya kembali di atas piring, sebelum menatap Sasqia. “Kamu tahu dari mana?” Sasqia tersenyum kecil. “Semalam Tuan Kael

    last updateDernière mise à jour : 2026-04-02
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 14

    Sasqia spontan berbalik. Tanpa berpikir panjang, ia melangkah cepat kembali ke arah mobil. “Sas? Mau ke mana?” Jevier menoleh kaget, lalu segera menyusulnya. “Sas, tunggu!” Namun Sasqia tak menghiraukan panggilan itu. Ia terus berjalan, hampir setengah berlari, seola

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 12

    “Hah?” Sasqia tersenyum kecil sambil meraih tangan ayahnya yang masih menyentuh pipinya, lalu menggenggamnya lembut. “Nggak, Pa. Ini tadi blush on-nya kebanyakan.” “Blush on?” Mahendra mengerutkan kening. “Itu, riasan perona pipi. Biar kelihatan segar,” jelas Sasqia ringan. “Karena Qia buru-buru,

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-18
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 13

    “Kamu memecat Jessie, Tristan?” tanya Miriam sambil memiringkan kepala, menatap putranya tajam di tengah makan malam keluarga itu. Meja panjang dipenuhi berbagai hidangan mewah, tetapi suasana terasa jauh dari hangat. Tristan duduk tenang, menopang dagunya dengan sat

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-18
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status