共有

BAB 201

作者: Langit Parama
last update 公開日: 2026-07-05 00:02:59

Ding. Dong.

Bel apartemen terus berbunyi memecah keheningan malam. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas tepat.

Sasqia yang belum juga memejamkan mata menghela napas pelan. Ia turun dari ranjang, mengenakan sandal rumah, lalu berjalan menuju pintu.

“Siapa malam-malam begini?” gumamnya pelan. “Mama? Atau Kak Shiren?”

Begitu gagang pintu diputar dan daun pintu terbuka, kedua matanya langsung membulat.

“Tuan Kaelix...?”

Pria itu berdiri tegak di hadapannya. Jas hitam yang dikenakan mas
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (5)
goodnovel comment avatar
Goodnovel Awesomegirl
hahahahahha...aku juga
goodnovel comment avatar
Sultan Balqis
yg penting kael n sasqia nikah n saling mencintai Thor tolonggg hikz hikz... klo konflik nya terserah author aja
goodnovel comment avatar
Iin Klau
dilema antra Teisan dan kaelix
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 252

    “Shiren, tolong buatkan kopi untuk Pak Kaelix, ya.” Salah seorang office girl senior menyodorkan secarik kertas berisi pesanan. Shiren yang sejak tadi bersandar santai di pantry langsung mengangguk. “Siap, Mbak.” Tangannya mulai meracik kopi dengan cekatan. Sambil menunggu air panas menetes perlahan dari mesin, sudut bibirnya terangkat tipis. “Lumayan ...,” gumamnya pelan. “Harus sering-sering cari perhatian begini. Toh hubungan Kaelix sama Sasqia lagi gak baik.” Ia terkekeh kecil. “Lagian bulan depan aku juga udah pindah divisi. Gak bakal lama-lama jadi office girl.” Beberapa menit kemudian, secangkir kopi hangat telah siap. Shiren merapikan tatakan cangkir, lalu membawanya menuju lantai eksekutif. _____ Begitu keluar dari lift, ia langsung disambut sekretaris pribadi Kaelix yang tengah berdiri di depan meja kerjanya. “Oh, Mbak Shiren. Biar saya yang antarkan ke dalam.” Shiren menggeleng halus. “Gak usah, Mbak. Kebetulan saya juga mau ngobrol sebentar sama Pak Kaelix.” Se

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 251

    “Mobil sudah siap mengantar Bapak ke restoran untuk makan siang,” lapor Arlan setelah rapat bersama jajaran divisi berakhir. Kaelix menghembuskan napas pelan. Sejujurnya, ia sama sekali tidak berselera makan. Namun, pekerjaannya masih menumpuk hingga malam. Ia tetap membutuhkan tenaga. Pria itu bangkit dari kursi kerjanya, merapikan jas yang dikenakannya, lalu melangkah menuju pintu dengan Arlan mengikuti beberapa langkah di belakang. Klek. Begitu pintu terbuka, Kaelix mendapati Sasqia sudah berdiri di depan ruangannya, tangan kanannya terangkat, hendak mengetuk. “Mas ...,” senyum manis langsung merekah di wajah cantik wanita itu. “Aku dateng bawain makan siang buat kamu.” Ia mengangkat paper bag yang dibawanya dengan antusias. “Aku masak sendiri. Masih hangat.” Tatapan Kaelix jatuh pada paper bag itu selama beberapa detik. Lalu kembali menatap wajah istrinya. “Saya tidak meminta.” Kalimat itu terdengar datar, cukup membuat senyum Sasqia sedikit memudar. “Aku tahu,” balasnya

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 250

    Pagi itu, suasana kantor mulai ramai oleh para karyawan yang baru datang. Di pantry lantai utama, Shiren tengah berdiri sambil menikmati secangkir kopi. Pagi itu pekerjaan belum terlalu padat. Ia pun bersandar santai di meja pantry. Tanpa sadar, jemarinya memainkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. Sudut bibirnya terangkat tipis. Kilauan berlian kecil pada cincin itu tampak memantulkan cahaya lampu. “Lumayan,” gumamnya pelan. “Toh Sasqia punya banyak.” Tatapannya kembali jatuh pada cincin tersebut. “Pasti dia juga gak bakal sadar kalau satu hilang.” Senyum tipis penuh kemenangan terukir di wajahnya. “Shiren!” Suara seseorang membuatnya buru-buru menurunkan tangan. Ia menoleh dan mendapati salah seorang supervisor berjalan menghampirinya. “Iya, Bu?” “Pak Arlan minta kamu ke ruang HRD sekarang.” Shiren mengernyit. “HRD?” “Iya.” “Ada masalah sama kerjaan saya?” tanya Shiren dengan raut wajah panik. Supervisor itu justru tersenyum. “Saya juga kurang tahu. Tapi se

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 249

    Pukul sembilan malam, Sasqia sudah duduk di ruang tamu dengan kedua tangan memeluk lutut. Tatapannya berkali-kali beralih ke arah pintu utama. Sebelumnya ia sempat mengirim pesan kepada sang suami, menanyakan apakah Kaelix sudah makan dan apakah akan pulang larut malam. Balasan yang diterimanya hanya satu kata. Iya. Tak ada kalimat lain. Tak ada pertanyaan balik seperti biasanya. Biasanya Kaelix akan menanyakan apakah ia sudah makan, atau mengingatkannya agar tidak menunggu terlalu malam. Namun malam ini tidak ada satu pun. Sasqia menghembuskan napas pelan. Ia kembali melirik jam dinding. Pukul sepuluh malam. Rumah itu masih sunyi. “Kalau aku kirim pesan lagi ...,” gumamnya lirih. “Paling jawabannya singkat lagi.” Sesaat kemudian ia menggeleng pelan. “Yaudah ... coba aja.” Jemarinya segera meraih ponsel di atas meja. Kali ini ia tidak mengirim pesan. Ia langsung menekan nama Mas Kael pada daftar kontak. Panggilan tersambung, namun hanya beberapa detik. “Nomor yang Anda tuju

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 248

    Suara mesin mobil Kaelix perlahan menghilang dari halaman rumah. Sasqia masih berdiri di depan pintu, tatapannya kosong. Baru beberapa detik yang lalu suaminya berada di hadapannya. Kini rumah sebesar itu kembali terasa sunyi. Pelan-pelan ia melangkah menuju kamar, pintu ditutup tanpa suara. Begitu berada di dalam, seluruh tenaga di tubuhnya seakan lenyap. Sasqia terduduk di lantai, bersandar pada sisi ranjang. Air mata yang sejak tadi berusaha ditahannya akhirnya luruh begitu saja. Ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Isaknya pecah. “Mas ...,” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Maaf ....” Tak pernah terlintas sedikit pun di benaknya bahwa satu keputusan yang ia anggap sepele justru melukai orang yang paling tulus mencintainya. Bukan karena Kaelix marah. Bukan pula karena pria itu meninggikan suara. Yang paling menyakitkan adalah tatapan datar itu. Tatapan yang seolah membangun jarak di antara mereka. Sasqia memeluk kedua lututnya, dadanya terasa sesak. Bar

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 247

    “Yaaah ... udah mau pulang.” Sherly langsung mengerucutkan bibirnya. “Sherly gak bisa berenang lagi kayak semalem.” “Di rumah juga ada kolam renang, Sayang,” hibur Mahendra sambil mengusap kepala cucunya. “Tapi gak sebagus di rumah Om Kael,” rengek Sherly. “Kolamnya lebih gede, lampunya banyak, terus ada Om Kael yang ngajarin Sherly berenang.” Sudut bibir Kaelix terangkat tipis. “Hari lain Om ajarin lagi.” Bola mata Sherly berbinar. “Janji?” serunya semangat, tatapannya beralih pada Kaelix. “Janji.” Sherly langsung tersenyum puas. Sementara itu, Soraya diam-diam memperhatikan Sasqia. Sejak semalam, putri bungsunya itu tampak lebih banyak diam. “Sasqia.” Sasqia menoleh. “Ikut Mama sebentar.” Tanpa menunggu jawaban, Soraya lebih dulu berjalan menuju taman samping rumah. Sasqia sempat melirik Mahendra dan Kaelix. Tak ada yang berkata apa-apa. Ia pun menyusul ibunya. “Ada apa, Ma?” Soraya memandang rumah megah di hadapannya. “Rumah kamu bagus.” Sasqia hanya te

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 39

    Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.

    last update最終更新日 : 2026-03-23
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 36

    Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da

    last update最終更新日 : 2026-03-22
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 27

    “Tuan, kita sudah sampai.” Suara sopir membangunkan Tristan yang duduk di kursi belakang. Ia baru saja tiba di vila tempat kakeknya beristirahat. Sejak mendarat di bandara, ia langsung menuju ke sini—bahkan sempat terlelap sebentar di perjalanan. Ia membuka mata perlahan, lalu keluar dari mobi

    last update最終更新日 : 2026-03-21
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 30

    “Apa yang mereka lakukan di dalam?” Kaelix bergumam lirih sambil menatap langit malam yang bertabur bintang. Ia duduk seorang diri di bangku taman vila, diterangi cahaya lampu kekuningan yang temaram. Di antara jemarinya, sebatang rokok menyala redup. Bara merah di ujungnya berkedip setiap kali i

    last update最終更新日 : 2026-03-21
続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status