공유

BAB 51

작가: Langit Parama
last update 게시일: 2026-03-04 10:19:51

“Wah … rumahnya besar banget, Nek! Ada kolam renangnya juga!” seru Sherly riang.

Bocah tiga tahun itu berlari kecil menyusuri lantai marmer yang masih mengilap, boneka beruang pemberian Sasqia dipeluk erat di dadanya.

Kakinya yang mungil melangkah menuju taman samping yang langsung menghadap kolam renang berair jernih.

Shiren berdiri tak jauh dari pintu masuk, menatap sekeliling dengan senyum puas yang sulit disembunyikan.

Akhirnya.

Rumah besar dengan halaman luas dan kamar pribadi ya
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터
댓글 (4)
goodnovel comment avatar
Sultan Balqis
aku Tim Kaelix si CEO tampan dan dingin hehehe
goodnovel comment avatar
Nia Khair
jangan sasqia beraninya sama kaelix doang,, tapi sama ibunya ngalah teruss
goodnovel comment avatar
Nia Khair
Thor jangan bikin sasqia gampang di tindas donggg
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 292

    Dahi Sasqia berkerut. “Maksud, Mas?” “Saya tidak ingin membuka hati. Saya juga tidak berniat mencari pendamping hidup,” nada bicara Tristan tetap tenang. Tidak tinggi, tidak pula dipenuhi emosi. Justru ketenangan itulah yang membuat setiap ucapannya terdengar begitu mantap. “Saya sudah menentukan pilihan.” Tatapan Sasqia mulai berubah. “Mas ....” “Saya akan menunggu,” kalimat itu keluar begitu saja tanpa ragu. Tanpa sedikit pun keraguan di wajah Tristan. “Saya akan menunggu kamu, Sasqia.” Bibir Sasqia perlahan terbuka. “Mas, jangan ....” “Sampai kapan pun.” Tristan memotong dengan tenang. “Selama saya masih hidup.” Sasqia menggeleng pelan. “Itu gak benar. Itu juga gak adil buat diri Mas sendiri.” Tristan tersenyum tipis. “Saya tidak merasa dirugikan. Justru saya sudah berdamai dengan pilihan itu.” Sasqia menatapnya tak percaya. “Mas masih punya kesempatan untuk bahagia.” “Kebahagiaan saya bukan harus menikah.” Tristan membalas tanpa ragu. “Saya bahagia selama tahu kamu baik

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 291

    Restoran hotel yang menghadap Danau Zurich pagi itu terasa tenang. Cahaya matahari menembus dinding kaca, memantulkan kilau keemasan di permukaan air. Sarapan mereka hampir selesai. Tak banyak percakapan yang terjadi. Sesekali hanya terdengar denting sendok yang beradu pelan dengan piring. Tristan mengangkat cangkir kopinya, menyesap sedikit sebelum menatap wanita di hadapannya. “Kamu bilang ada yang ingin dibicarakan.” Tatapannya lurus menatap Sasqia. “Sekarang saya sudah siap mendengarnya.” Sasqia yang sejak tadi memainkan ujung sendoknya perlahan menghentikan gerakan itu. Ia meletakkannya di atas piring, lalu mengembuskan napas pelan. Ada jeda beberapa saat sebelum akhirnya ia mengangkat wajah. “Saya memang sengaja ngajak Mas sarapan.” Tatapannya lembut, tetapi penuh kesungguhan. “Karena ada sesuatu yang udah lama pengen saya sampaikan.” Tristan tak menyela. Ia hanya menunggu. Sasqia tersenyum tipis. “Ini bukan tentang saya, bukan juga tentang masa lalu kita.” “Terus?” tan

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 290

    Ding. Dong. Suara bel kamar memecah keheningan pagi itu. Sasqia yang tengah menyusun barang belanjaannya ke dalam koper sontak mengangkat kepala. “Hah?” ia melirik jam dinding. “Aku gak pesen makanan.” Keningnya berkerut pelan. Jantungnya justru berdegup lebih cepat. “Jangan-jangan …,” senyum kecil mulai mengembang di bibirnya. “Mas Kael?” Ia buru-buru meletakkan pakaian yang sedang dilipat. “Tapi semalam Mas bilang baru berangkat besok.” Langkahnya semakin cepat menuju pintu. “Jangan-jangan,” Sasqia tertawa kecil sendiri. “Mas sengaja bohong biar kasih kejutan.” Tanpa berpikir panjang, ia langsung memutar gagang pintu. Klik. Pintu terbuka. Senyum di wajahnya perlahan memudar. “Mas ... Tristan?” Di hadapannya berdiri Tristan dengan setelan kasual berwarna gelap. Sebuah koper berada di sisi kakinya, sementara satu tangannya masih menggenggam gagang koper itu. Tatapan pria itu tetap tenang seperti biasa. “Saya sempat berpikir akan salah kamar.” Sasqia masih memandangnya be

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 289

    Sasqia berdiri di balkon suite hotelnya, memandangi hamparan Pegunungan Alpen yang diselimuti cahaya senja. Di tangannya, ponsel masih menempel di telinga. Angin dingin Swiss mengibaskan pelan rambut panjangnya, tetapi tak sedikit pun mengurangi kerinduannya pada sang suami. “Mas ...,” rengeknya pelan. “Kapan nyusul aku?” Di seberang sana, Kaelix yang masih berada di ruang kerjanya menghentikan gerakan pena di tangannya. Sudut bibirnya terangkat tipis mendengar nada manja sang istri. “Sebentar lagi, sayang,” jawabnya tenang. “Di sini masih ada beberapa pekerjaan yang harus saya selesaikan.” Sasqia menghembuskan napas panjang. “Aku udah seminggu di sini, loh.” “Hm.” Kaelix bergumam pelan. “Mas juga nggak bolehin aku pulang.” “Bukannya tidak boleh.” “Terus?” “Saya minta kamu menikmati liburan.” Sasqia langsung mencebik. “Liburan tanpa suami gak seru.” Kaelix terkekeh pelan. “Tadi katanya suka Swiss.” “Ya emang suka.” “Ya sudah, nikmati dulu.” “Gak mau,” jawab Sasqia cepa

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 288

    Yola tersenyum hambar. “Maaf. Aku jadi banyak ngomong.” Sasqia menggeleng pelan. “Nggak apa-apa.” Keheningan kembali menyelimuti meja mereka beberapa saat. Suara denting sendok dari meja lain dan alunan musik pelan memenuhi sudut kafe. Sasqia menatap lembut wanita di hadapannya. “Yola ....” “Hm?" Yola mengangkat kedua alisnya. “Aku boleh tanya sesuatu?” tanya Sasqia lembut. Yola mengangguk pelan. “Tentu.” “Kamu ... suka sama Mas Tristan, ya?” Pertanyaan itu membuat Yola tersenyum tipis. Namun senyum itu menyimpan begitu banyak kelelahan. “Iya.” Jawabnya singkat, tanpa berusaha disembunyikan. “Aku suka sama dia udah lama. Jauh sebelum dia berhubungan sama Mina. Jauh sebelum dia mengenal kamu.” Tatapan Yola perlahan menerawang ke luar jendela. “Dulu aku pikir ... kalau aku cukup sabar, suatu hari dia bakal melihat aku. Ternyata dia memilih Mina. Aku mundur.” “Setelah Mina meninggal, aku pikir kesempatan itu datang.” Yola tertawa lirih. “Dia gak bisa move on dari Mina selama b

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 287

    | Mas, aku lagi di kafe. Aku pesen pure matcha. Kata pelayannya, minuman ini bagus buat kesehatan dan bikin kulit lebih glowing. Sasqia tersenyum kecil setelah mengirim pesan itu kepada sang suami. Beberapa detik berlalu. Tak ada balasan. Di layar ponselnya hanya terlihat satu tanda centang abu-abu, pertanda pesan itu belum sampai ke tangan Kaelix. Mungkin pria itu sedang berada di tengah rapat atau penerbangan bisnis. Sasqia tidak kecewa. Ia justru meletakkan ponselnya di atas meja, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil memandangi hamparan pegunungan Alpen yang berdiri megah di kejauhan. Udara musim semi yang sejuk berembus lembut, membawa aroma kopi dan bunga dari taman kecil di depan kafe. Perlahan senyum tipis terukir di bibirnya. “Jauh lebih tenang di sini,” gumamnya pelan. Tatapannya masih lurus ke luar jendela. “Tapi ... pasti lebih menyenangkan kalau Mas Kael ada di sebelah aku.” Ia membayangkan bagaimana suaminya akan duduk di kursi seberang, sesekali mencicipi m

  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 48

    “Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s

    last update최신 업데이트 : 2026-03-25
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 45

    “Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk

    last update최신 업데이트 : 2026-03-24
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 39

    Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.

    last update최신 업데이트 : 2026-03-23
  • Dekapan Hangat Tiga Pria   BAB 36

    Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da

    last update최신 업데이트 : 2026-03-22
더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status