MasukMobil hitam milik Kaelix berhenti di pelataran rumah sakit swasta tempat dokter kandungan Sasqia praktik. Mesin baru saja dimatikan ketika Kaelix membuka pintu mobil lebih dulu. “Ikut.” “Iya, Tuan.” Pelayan yang sedari tadi membawa paper bag segera mengekor di belakangnya. Di dalam kantong itu masih tersimpan beberapa botol jamu yang dibawa Shiren sebelumnya. Langkah Kaelix tenang, tetapi wajahnya sulit dibaca. Ia berjalan menyusuri koridor rumah sakit hingga berhenti di depan ruang praktik dokter kandungan yang beberapa hari lalu memeriksa Sasqia. Tok. Tok. Tok. “Silakan masuk.” Interuksi sang dokter dari dalam ruangan. Kaelix mendorong pintu perlahan. Dokter paruh baya itu langsung berdiri menyambutnya. “Pak Kaelix?” Ia melirik ke belakang punggung pria itu sekilas. “Istri Anda tidak ikut?” “Tidak.” Kaelix menjawab singkat, lalu mempersilakan pelayannya mendekat. “Taruh di meja.” Pelayan meletakkan paper bag itu dengan hati-hati. Dokter mengernyit. “Ini apa, Pak?” Kae
“Kaelix.” Shiren menjadi orang pertama yang memecah keheningan. Karena berada di luar lingkungan kantor, ia memanggil pria itu tanpa embel-embel ‘Pak’. Saat ini, Kaelix bukan atasannya, melainkan adik iparnya. Kaelix menatapnya datar. Tatapan itu sama sekali tidak menunjukkan keramahan. “Sedang apa di sini?” Shiren tersenyum tipis. “Baru aja anter jamu buat Sasqia. Sayang sekali ternyata dia lagi di luar negeri.” Ia menghembuskan napas pelan, lalu menggeleng seolah merasa prihatin. “Oh iya ... aku juga sebenernya mau minta maaf.” Kening Kaelix sedikit berkerut. “Untuk apa?” “Ya ... soal Sasqia.” Shiren menundukkan wajah sesaat, seolah memilih kata-kata yang tepat. “Jujur aja, aku agak gak enak sama kamu. Kamu capek-capek kerja setiap hari, sementara adikku malah bersenang-senang ke luar negeri.” “Sebenernya aku udah menasihati dia. Seharusnya sebagai istri, dia menemani suaminya. Bukan menikmati liburan sendiri ketika suaminya masih berkutat dengan pekerjaan.” Pelayan yang
Miriam meletakkan cangkir tehnya perlahan. “Jadi kamu sudah tahu.” “Saya ingin mendengar penjelasan ibu.” Kaelix memasukan kedua tangannya dalam saku celana, tatapannya dingin dan menusuk. Miriam menghela napas pelan. “Ibu membuang jamu yang diminum Sasqia.” Kaelix tetap diam. “Kenapa?” “Karena ibu tidak ingin dia merusak tubuhnya sendiri." Alis Kaelix bertaut. “Maksud ibu?” Miriam menyandarkan punggungnya ke sofa. “Kael, istrimu sedang menjalani program hamil dengan dokter. Kalian sudah melakukan pemeriksaan. Sudah diberi vitamin. Sudah diberi arahan.” “Lalu untuk apa dia masih meminum ramuan herbal yang kandungannya bahkan tidak jelas?” Kaelix mendengarkan tanpa menyela. “Ibu bukan membenci obat herbal, tapi tidak semua orang cocok. Terlebih perempuan yang sedang mempersiapkan kehamilan.” Miriam menatap putranya lurus. “Rahim perempuan bukan tempat untuk bereksperimen. Satu orang merasa cocok, belum tentu orang lain akan mendapatkan hasil yang sama.” “Kalau sampai ada bah
Sasqia mengernyit kecil menatap layar ponselnya. “Kok Kak Shiren gak bisa dihubungi, ya?” gumamnya lirih sembari kembali menekan tombol panggil. Namun, seperti sebelumnya, panggilan itu kembali tak tersambung. “Apa lagi sibuk?” Suara pintu terbuka perlahan. Kaelix yang baru selesai mandi melangkah keluar sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil. Melihat istrinya masih duduk di atas ranjang dengan ponsel di tangan, langkahnya terhenti. “Telepon siapa, Sayang?” Sasqia mendongak. “Kak Shiren, Mas.” Kaelix mengangguk pelan. “Ada perlu?” Sasqia tersenyum kecil, lalu mematikan layar ponselnya. “Nggak ada, kok. Cuma pengen ngobrol aja.” Kaelix tidak bertanya lagi. Ia tahu, jika Sasqia ingin bercerita, wanita itu akan melakukannya tanpa dipaksa. Pria itu naik ke atas ranjang, lalu duduk bersandar di kepala tempat tidur. Tangannya meraih jemari sang istri dan menggenggamnya pelan. Ada keheningan beberapa saat. “Saya mau kamu pergi.” Sasqia spontan menoleh, matanya membelal
Miriam menatap menantunya tanpa sedikit pun mengubah raut wajah. “Jamu itu tidak boleh kamu minum lagi.” Sasqia menggeleng pelan. “Ibu salah. Justru jamu ini katanya bisa membantu menyuburkan kandungan.” Sebelum kalimat itu selesai, Miriam mengangkat satu tangan, menghentikannya. “Cukup.” Nada suaranya tidak tinggi, tetapi cukup membuat seluruh dapur kembali sunyi. “Jangan mengajari saya soal hal-hal seperti itu.” Tatapan tajamnya beralih pada botol-botol kosong di dalam wastafel. “Usia saya jauh di atas kamu. Pengalaman saya juga lebih banyak.” Sasqia menggigit bibir bawahnya pelan, memilih diam. Miriam kembali menatapnya. “Kalau memang kalian sedang menjalani program hamil, lakukan dengan cara yang benar.” “Cara yang benar?” ulang Sasqia lirih. “Dokter.” Jawaban Miriam terdengar tegas. “Ikuti pemeriksaan. Minum vitamin yang diresepkan. Jalani terapi jika memang diperlukan. Bukan menelan apa saja hanya karena seseorang berkata itu bisa membuatmu cepat hamil.” Wanita paruh ba
Mobil melaju membelah jalanan siang yang mulai padat. Tak satu pun dari mereka membuka percakapan sejak meninggalkan rumah sakit. Suara mesin mobil dan pendingin ruangan memenuhi kabin yang terasa begitu sunyi. Kaelix duduk menatap lurus ke depan. Kedua tangannya bertaut di atas pangkuan, sementara rahangnya sesekali mengeras, seolah masih memikirkan setiap kalimat yang diucapkan dokter beberapa menit lalu. Di sampingnya, Sasqia mencuri pandang beberapa kali. Ia tahu suaminya sedang memikirkan sesuatu. Hanya saja ia tak tahu harus memulai dari mana. Saat lampu lalu lintas berubah merah, mobil berhenti perlahan. Tanpa mengalihkan pandangan dari kaca depan, Kaelix membuka suara. “Saya minta maaf.” Kalimat itu terdengar lirih, namun cukup membuat Sasqia menoleh cepat. “Mas ….” “Semuanya salah saya.” Sasqia buru-buru menggeleng. “Nggak. Ini bukan salah Mas.” Kaelix menghembuskan napas panjang. Sudut rahangnya mengeras sebelum akhirnya ia memejamkan mata sejenak. “Saya terlalu m
Sasqia masih menatap layar ponselnya beberapa detik setelah panggilan itu berakhir. Nama Tristan perlahan menghilang dari layar, namun suaranya seolah masih tertinggal di telinganya. Ia menghela napas pelan, lalu memasukkan ponselnya ke dalam saku celana. “Telepon da
“Kaelix memberikan sponsor itu pada pramugari lain?” Mata Miriam membulat tajam. “Padahal aku sudah lebih dulu mencantumkan nama Jessie.” “Ada alasannya,” jawab Remmer tenang, mencoba meredam gejolak di suara istrinya. “Apa alasannya?” dagu Miriam terangkat tinggi, s
“Semalam Sasqia tidak datang, Pak?” tanya Jevier pagi itu saat memasuki kamar rawat inap Mahendra. Mahendra yang sedang bersandar di ranjang tersenyum tipis. “Tidak, Dok. Tapi dia sudah mengirim pesan. Katanya langsung pulang ke kost.” Jevier mengangguk pelan. Tanpa banyak bicara, ia menyiapk
Sejenak, Jevier hanya mampu menatap Mahendra tanpa suara. Dadanya bergetar halus, detak jantungnya terasa lebih cepat dari biasanya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan datang secepat ini. Dan yang lebih mengejutkan, ia tak benar-benar ingin mengelak.







