Beranda / Romansa / Dekapan Panas Kakak Ipar / Bab 5. Bisikan panas Aston

Share

Bab 5. Bisikan panas Aston

Penulis: Dayatsa
last update Tanggal publikasi: 2026-06-03 22:10:11

Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, Tama semakin bersikap tak acuh dengan semua hal yang menyangkut Alena.

Hingga satu bulan berlalu, sikap Tama tak berubah juga. Tentu Alena menjadi berpikir negatif. Sudah segala cara ia lakukan untuk menarik perhatian Tama, tapi suaminya itu sama sekali tak ingin menjamahnya.

Dan malam itu, Alena masuk ke dalam kamarnya setelah menyiapkan makan malam. Ia masuk sekedar memberitahu Tama bahwa makanan kesukaannya telah siap.

"Apakah Mas Tama sedang mandi?"

Di dalam kamar mandi itu terdengar suara gemercik air, dan Alena yakin jika Tama memang tengah mandi. Sembari menunggu, ia memutuskan duduk sejenak.

Hingga suara getaran mengalihkan perhatiannya. Ponsel Tama di atas nakas bergetar kencang. Tangan Alena terulur, namun panggilan itu sudah berakhir.

"Siapa ya?" Sambil menggapai ponsel, Alena menyipitkan mata kala terdapat beberapa pesan dari seseorang yang Tama beri simbol hati.

Jantung Alena sudah mulai berpacu perlahan. Beberapa pertanyaan muncul, menggiring opini dalam pikiran negatifnya. Di tengah rasa sesak itu, tangan Alena berselancar pada layar ponsel, dan ternyata nomor itu Tama asingkan di W******p Busines.

"Mas, nanti malam aku tunggu kamu di Hotel langganan kita. Aku sangat ketagihan dengan lolipop milikmu.”

"Mas Tama... Rasanya aku semakin resah, gak mau nunggu lebih lama lagi kamu jamah."

"Mas... Apa kamu nggak ingin melakukannya lagi?"

Beberapa pesan sensitif itu membuat Alena terkejut setengah mati. Bahkan, beberapa foto serta video tak pantas yang dikirimkan semakin membuat hati Alena terasa panas dan terbakar.

"Astaga... Apa ini…? Siapa wanita ini?" Suara Alena terdengar parau, air matanya perlahan luruh, bahkan kedua tanganya kini bergetar hebat.

Di saat bersamaan, pintu kamar mandi terbuka.

Tama keluar masih melilitkan handuk di pinggangnya, sambil mengusap rambut basahnya dengan handuk kecil. Namun setelah menyadari ponselnya berada di tangan sang Istri, kedua mata Tama membelalak.

Alena sudah bangkit, menajamkan mata sambil mengangkat gawai tadi. "Siapa wanita ini, Mas? Nomor siapa yang sudah kamu kasih tanda simbol hati ini?"

Ledakan suara Alena menggema. Ia segera mendekat ke arah Tama dan menahan lengan Suaminya itu.

Tama menarik kuat lenganya lalu segera menyambar ponselnya. "Lancang sekali kamu!" Mata Tama menajam kuat, menatap sang Istri tajam. "Mau siapa pun dia, itu bukan urusan kamu!"

Deg!

Dada Alena bak di hantam batu besar. Ucapan Tama mampu memporak porandakan pondasi pernikahannya selama ini.

"Aku ini masih Istri sah'mu, Mas! Aku berhak tahu semuanya, termasuk perubahan sikapmu. Ternyata kamu puas bermain dengan wanita lain, pantas saja kamu gak mau menyentuhku lagi!"

"Diam!" Bentak Tama lagi. Kali ini urat dalam lehernya sampai menonjol. "Aku udah capek kerja seharian, Alena! Tapi di rumah kamu masih sibuk cari gara-gara hanya masalah chat sepele itu? Aku kecewa sama kamu!"

Setelah mengecam Istrinya, Tama bergegas menuju walk in closet untuk mengganti pakaian.

"Mas... Seharusnya yang kecewa itu aku. Bukan kamu!" Alena kembali menghadang jalan Tama, menahan lengan suaminya namun lagi-lagi dihempaskan begitu saja.

Tama menatapnya bengis, sudah dalam keadaan rapi lalu segera melenggang keluar sambil membanting pintu.

Tangisan Alena pecah. Malam itu telah mengubah segalanya. Mungkin dugaan-dugaannya selama ini benar, bahwa Tama memang memiliki selingkuhan.

*

"Alena? Jam segini masih belum tidur, apa yang terjadi?"

Malam itu, Alena yang duduk di tepi kolam terkejut saat kakak iparnya menegurnya. Lalu Aston berjalan mendekat, hingga kini berdiri tepat di belakang tubuh Alena.

"Kamu ngapain?" tegur Aston lagi sambil melangkah lebih dekat.

Alena mendongak, senyumnya mengambang dengan wajah sedikit sembab. "Alena hanya ingin menikmati malam aja, Kak. Kakak gak perlu khawatir."

"Kemana suamimu? Sejak sore tadi Saya gak lihat." Karena pebedaan jam praktik, jadi membuat Aston jarang sekali melihat Adiknya di rumah.

Alena tersenyum getir. Tatapannya jauh kedepan. "Mas Tama mungkin sedang bersenang-senang dengan selingkuhannya, Kak."

"Selingkuhan? Apa maksudmu?" Aston kini ikut duduk setelah menggulung celananya. Wajah datarnya berkerut tipis.

Alena menoleh. Untuk sesaat Alena dapat melihat sorot khawatir dibalik netra Aston. Namun setelah itu Alena tertunduk kembali. Napasnya mulai berhembus sendu, memutuskan akan menceritakan semua kejadian sore itu kepada sang Ipar.

"Mas Tama selingkuh, Kak… Aku gak tahu lagi mau cerita sama siapa. Rasanya sakit banget melihat chat mesranya dengan wanita lain," air mata Alena berlinang kembali.

Aston tahu Alena membutuhkan pundak untuk bersandar. Aston sekuat hati menepis hal yang tak seharusnya ia pikirkan. Usg Transvaginal. Pusat inti Alena yang sempat terpampang jelas di depan matanya. Dalam sekian detik itu, hampir saja pikiran Aston terkontiminasi pada saat pemeriksaan.

Lalu diam untuk beberapa saat. Alena sadar kakak iparnya mungkin saja tak tahu harus mengatakan apa. Namun ia tiba-tiba terkejut saat sebuah tangan besar melingkar di pinggangnya, lalu mengusapnya lembut.

"Terlalu banyak pikiran hanya akan menyulitkan hidupmu, Alena. Kamu gak perlu pusing, biar saya yang kasih pelajaran ke Tama," lirih Aston masih terus mengusap pinggang Alena.

Alena mendongak sekilas. Tersenyum lembut dengan mata sembap, jantungnya nyaris pecah di bawah usapan lembut itu.

Ia tak pernah lagi merasakan hal seperti itu. Dan malam ini, mendapatkannya dari kakak ipar terasa aneh.

"Makasih, Kak..." ucapnya lirih.

Beberapa detik itu, tatapan keduanya saling bertemu di bawah remang lampu kolam.

Jantung Alena berdegup kencang saat jemar Aston terulur menyelipkan anak rambut Alena ke belakang telinga.

Sentuhan yang begitu hangat membuat tubuh Alena refleks meremang.

"Alena... Kamu tidak pantas diduakan," bisik Aston.

Sapuan napas Aston membuat perasaan Alena berdesir aneh. Tangan Aston yang semula mengusap pinggang sang Ipar, perlahan bergerak mengusap lembut perut ramping Alena.

Alena memejamkan mata dalam. Sentuhan hangat tangan pria matang itu seolah menyalakan kembali gairahnya yang selama ini hampir mati.

Aston menunduk, mendekatkan bibirnya ke telinga Alena, membisikkan kalimat yang membuat napasnya tercekat. "Jika Tama mengabaikanmu... Masih ada saya yang setiap harinya mengagumimu. Saya tahu kamu kesepian setiap malam, bahkan melihat dengan sangat jelas bagaimana cara kamu... memuaskan dirimu sendirii."

Alena membelalak, terkejut karena rahasianya terbongkar. Tangan Aston di pinggangnya mendadak mengencang, menarik tubuh Alena tanpa ampun hingga dua aset kembar miliknya menghantam dada bidang sang Ipar.

Suasana mendadak menjadi begitu pekat. Di tengah rasa terkejut yang belum reda, Aston memiringkan wajahnya, mengikis jarak hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.

"Malam ini biarkan saya yang menggantikan peran Adik saya untuk menghangatkanmu."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Azlina Hashim
cerita yang menarik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 288. Dasar anak tidak tahu diri!

    Ting!Lift baru saja terbuka, Alena keluar sambil mengedarkan mata. Teknisi tadi bilang, Aston akan menunggunya. Tapi dimana? Alena mencari jalan keluar, namun baru dua langkah kakinya menapak, ada tangan kekar yang mencengkram tangannya dari belakang. Alena pun reflek menoleh. Di depannya sudah ada seorang pria yang mengenakan setelan kasual dilapisi jaket hoodie memakai masker dan topi. Alena mengenal betul jaket milik siapa itu.Alena menarik maskernya ke bawah. "Kak....""Sayang...." Aston pun langsung memeluk tubuh Istrinya begitu erat dengan tangisan prihatin. "Sayang, akhirnya kita bersama lagi. Saya berjanji sama kamu dan diri saya sendiri, mulai detik ini, saya akan menjaga kamu."Alena merasakan lega, napasnya teratur lembut, membuat rasa nyaman dan tenang melingkupi dinding hatinya. Ia pun memeluk tubuh sang Istri dengan erat, tangan kekarnya mengusap lembut kepala Alena, di ciumi berkali-kali sebagai bentuk ungkapan rasa rindunya.

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 287. Papa sudah tungguin kita

    Segelas air tadi tertenggak sampai tatas, karena memang selain enak, asinan buah kuah buatan Alena juga sedikit pedas. Keringat sampai memupuk di sudut dahi Renaldi. Bibirnya pun sampai ikut merah karena kulit wajah Renaldi sangat bersih."Wah, enak sekali, Nona. Ya sudah, kalau begitu saya kembalikan ke dapur dulu," ucap Renaldi yang sudah bersiap membawa mangkuk dan gelas tadi."Eh, jangan!" Alena menahan lengan Renaldi. "Biar saya sekalian mau ke belakang."Renaldi tertunduk merasa segan. "Jangan, Nona! Nanti Tuan Leon marah. Anda sedang hamil, dan tidak boleh melakukan aktivitas lebih.""Ini hanya mangkuk dan gelas saja, Renaldi. Bukan batu lima kilo," kata Alena seraya bangkit. Ia lalu meraih gelas dan mangkuk tadi untuk di bawa menuju dapur.Alena duduk lagi di kursi kecil mini bar dapur. Ia menatap ke arah Renaldi yang sejak tadi sudah menguap beberapa kali. Alena tersenyum miring, sorot matanya menatap penuh licik, berharap pria g

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 286. Kamu menolak, Renaldi?

    TingTongSuara bel menggema di seluruh ruangan megah Penthouse Leon. Seorang pria berpenampilan formal pagi itu bergegas membukakan pintu. Wajahnya kaku tatapannya sangat dingin. Ia menatap seorang pria berseragam - mengalungi identitas yang tertulis "Teknisi Ac". "Siapa kamu?""Saya teknisi Ac, Tuan. Saya sebulan sekali memang di tugaskan kantor untuk mengecek Ac setiap hunian Penthouse," ucap pria berseragam biru tua tadi. Ia masih mengenakan masker, topi, dan membawa satu kotak perkakas di tangannya. Pria berpakaian formal tadi masih menyipitkan mata. Mungkinkah pria di depannya ini adalah komplotan salah satu pria yang ingin masuk lift tadi malam? Batin anak buah Leon masih terus mengusik. Jika salah sedikit pun, hidupnya tak akan selamat. "Buka masker dan topimu!" ucap Anak buah Leon. Sorot matanya tajam, menunggu Teknisi Ac tadi bergerak. Meskipun berat, namun petugas Teknisi Ac itu akhinya menuruti. Ia segera

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 285. Brengsek! Kamu nggak becus menjaga adik saya

    Hingga pukul 9 malam, ke-empat pria itu masih duduk di area lobi. Aston bingung apa yang harus dirinya lakukan agar dapat masuk ke dalam lift tadi. Ia duduk di sebelah adiknya, sementara Damian dan Danu duduk di sebrangnya. Dan tak lama itu, sebuah ide muncul dari Tama. Pria itu memang paling muda, tapi kecerdasan Tama memang tidak di ragukan lagi. Itulah sebanya dulu Aston berniat betul menyekolahkan adiknya di jurusan Kedokteran. Meskipun arogan, tapi iq Tama di atas rata-rata. Tama menyerongkan duduknya sambil menepuk pundak sang Kakak. "Mas, aku punya ide menarik."Di saat itulah semua orang berkerumun. Tama menjelaskan secara rinci, dari jalan pertama yang harus mereka lakukan, dan bagaimana caranya bisa masuk ke dalam Penthouse Leon. Karena Tama yakin betul, Penthouse di atas pasti milik pria singa itu. Di tengah ketegangan itu, tiba-tiba dari arah pintu lobi datang seseorang dengan langkah tergesanya. Mike, pria itu berhenti, dan melihat

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 284. Kalian semua akan membusuk di penjara!

    Leon masih terus berjalan. Alena sudah sangat ketakutan, berasa nyawanya di ujung tanduk. Sikap maskulin pria itu tidak membuat Alena terkesima, tapi malah membuatnya ingin muntah. "Alena... Jangan seperti ini, sayang. Ayo kita makan malam dengan romantis. Kamu duduk di sampingku, lalu saya memegang tanganmu dengan mesra."Tangan Leon sudah menjulur mencoba meraih lengan Alena, namun belum sampai Alena lebih dulu menepisnya. "Jangan sentuh saya, Leon?!"Suara Alena melengking, bergetar, air matanya mulai menetes membasahi wajah cantiknya. Sementara Leon kembali tersenyum tipis, menghadapi Alena membutuhkan kesabaran ekstra besar. Namun Leon bukan tipikal orang penyerah begitu saja. Ia sudah berjalan sejauh ini. Alena sudah ada di depan matanya, jadi selangkah lagi ia harus mendapatkan. "Ayolah, sayang... Jangan galak seperti ini," pinta Leon. Suaranya rendah dengan tatapan memohon. "Saya lebih baik tidak makan apa-apa, daripada harus duduk di sa

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 283. Saya jijik, Leon!

    Perusahaan Damian,1 jam berlalu, pukul 2 siang Aston baru saja keluar dari ruang meeting sembari menghidupkan gawainya. Karena memang selama meeting Aston selalu menonaktifkan, agar ponselnya tak mengganggu jalannya meeting. Ia tampak terkejut melihat beberapa panggilan tak terjawab dari sang Ibu, begitu Tama juga mendapat panggilan yang sama. Karena Bu Syanas tahu, jika ke dua putranya tengah meeting bersama. "Mas, Mama kok Mama telfon ya bekasnya? Ada apa ya?!" Tama menatap Kakaknya dengan gurat cemas. "Iya, Ibu juga telfon banyak banget bekasnya," gumam Aston seraya menghubungi Mamanya kembali. Pikiran Aston sudah kemana-mana karena memang Alena tengah hamil muda. Dan tak berselang lama itu panggilan Bu Syanas terhubung. "Bu... Ada apa, Bu?""Aston... Ayo cepat pulang, Nak. Alena dalam bahaya. Dia di bawa taxi online yang mengatasnamakan perintah Sarah, padahal Sarah saja baru datang," jelas Bu Sarah. Tubuhnya gemetar, jantungnya berpacu san

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 3. USG Transvaginal

    Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 4. Bagaimana aku bisa hamil?

    Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 2. Periksa sekarang, Kak?

    Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se

  • Dekapan Panas Kakak Ipar   Bab 1. Mas, sentuhlah aku!

    "Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status