LOGINAlena sedikit tersentak. "Diperiksa sekarang, Kak?"
Aston tidak menjawab. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang mengisyarat agar Alena segera berbaring. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi di samping ranjang dan mulai mengenakan sarung tangan medis. "Saya perlu melakukan pemeriksaan USG terlebih dahulu untuk melihat kondisi rahim dan ovarium kamu, agar kita tahu apa yang menjadi masalahnya," jelas Aston dengan nada suara yang tenang. Penjelasan yang logis itu membuat Alena sedikit tenang. Ia bangkit dari kursi, melangkah ragu menuju ranjang pemeriksaan, lalu merebahkan tubuhnya di sana dengan perasaan yang campur aduk. Suasana ruangan itu terasa begitu sunyi, hanya menyisakan desing halus dari mesin USG yang mulai dinyalakan. "Buka bagian perut bawah kamu, Alena." "Di buka? Tapi saya memakai dress, Kak. Tidak bisa di buka," cicit Alena bimbang. "Kamu memakai dalaman 'kan?" Aston kembali meyakinkan. Alena mengangguk. "Kalau begitu, naikkan sedikit dress kamu sampai ke batas panggul." Dengan gerakan canggung, Alena menarik kain dress-nya ke atas, memperlihatkan perutnya yang rata dan mulus, serta batas celana dalam ketat yang dikenakannya. Aston melangkah mendekat, lalu menuangkan sedikit gel transparan yang dingin ke atas perut Alena. Saat dingin alat itu menyentuh perut bawahnya, tubuh Alena seketika menegang dan tanpa sadar melengguh. Aston reflek menghentikan gerakan pijatan itu. Ia melirik wajah Iparnya yang tampak memerah. "Kamu baik-baik saja, Alena?" Alena merasa malu. Ia berusaha memalingkan wajah, menghindari tatapan kuat itu. "Maaf, Kak ... rasanya agak geli." Aston tidak berkomentar lebih jauh. Ia kembali memeriksa Alena. Setelah beberapa saat, kerutan samar muncul di dahi Aston. "Semuanya baik. Tapi gambaran dari luar kurang spesifik karena terhalang dinding perut. Untuk memastikan, saya harus melakukan USG Transvaginal." Alena langsung menegang. "USG Transvaginal? Bukankah itu berarti alatnya harus dimasukkan ke dalam, Kak…?" "Benar. Ini prosedur standar medis untuk memeriksa lebih dalam lagi. Kita perlu melihat apakah ada penebalan dinding rahim atau indikasi kista," jawab Aston lugas. "Bagaimana? Kamu menyetujuinya?" Demi mengetahui kepastian kondisi kesehatannya, Alena akhirnya mengangguk pasrah. "Baik, Kak... jika itu memang diperlukan." Aston segera menyiapkan alat khusus berbentuk seperti stik, kemudian melapisinya dengan pelindung medis dan gel. Ia berjalan dan memposisikan diri di ujung ranjang, tepat di antara kedua kaki Alena. Aura di dalam ruangan terasa semakin pekat dan mendebarkan bagi Alena. Jantungnya berdegup kencang, menyadari bahwa area paling intimnya akan segera diperiksa oleh Kakak Iparnya sendiri. "Posisikan kakimu menekuk dan buka sedikit ke samping," instruksi Aston dengan suara baritonnya yang stabil. Alena bergerak ragu, perlahan menurunkan sedikit pakaian dalamnya di bawah pandangan mata medis Aston. Area sensitifnya yang bersih kini terekspos. "Rileks, Alena. Jangan menahan napas agar otot panggulmu tidak menjepit alatnya," ucap Aston seraya perlahan mengarahkan ujung alat transvaginal ke dalam tubuh Alena. Alena sedikit meringis saat merasakan benda tumpul asing perlahan mengisi tubuhnya. Ia memejamkan mata erat sambil mencengkeram sprei di sisi ranjang, menahan rasa malu di hadapan kakak iparnya. "Bagaimana kondisi di dalam, Kak? Apa ada yang aneh dengan tubuh saya?" tanya Alena dengan suara serak, mencoba mengalihkan rasa canggung dan sensasi aneh yang mulai menjalar di perut bawahnya. "Secara anatomi, kondisinya sangat sehat. Tidak ada tanda-tanda infeksi atau masalah serius," ujar Aston, mulai memberikan penjelasan medisnya seraya menatap layar. "Masalah nyeri saat berhubungan kemungkinan besar dipicu oleh kurangnya lubrikasi alami akibat tidak adanya stimulasi yang cukup sebelum penetrasi." Aston menghentikan gerakan alat itu sejenak, lalu menatap Alena dengan saksama. "Dan mengenai keterlambatan haidmu... lihat ke layar ini." Alena menoleh ke arah monitor dengan saksama. "Di sini terlihat adanya penebalan pada dinding rahim, namun belum ada tanda-tanda peluruhan darah. Ini bukan karena penyakit struktural, melainkan karena gangguan hormonal yang dipicu oleh tingkat stres yang tinggi dan kelelahan psikologis." Aston kemudian menarik alat itu keluar dengan perlahan, lalu melepaskan sarung tangan karetnya dan membuangnya ke tempat sampah medis. Alena buru-buru turun dari ranjang dengan lutut yang terasa sedikit lemas. Dengan jemari yang masih bergetar halus, ia membenarkan pakaian dalam dan menarik turun kembali kain dress-nya. Ia benar-benar ingin segera keluar dari ruangan yang mendadak terasa begitu pekat ini. Sebelum Alena sempat berpamitan, Aston berkata, "Dan juga ada memar di dinding dalam kamu, Alena." Langkah Alena yang hendak turun dari ranjang seketika terkunci. "Lain kali beri tahu Tama untuk lebih lembut... atau saat kamu terpaksa menyentuh dirimu sendiri, jangan terlalu tergesa-gesa karena hanya akan melukaimu." Wajah Alena seketika pias tanpa sisa dan jantungnya berdegup dua kali lebih cepat. Pikiran buruk langsung berputar liar di kepalanya. Apakah ini hanya sekadar dugaan medis dari sang Ipar, atau... Kakak Iparnya benar-benar tahu apa yang ia lakukan sendirian di kamar tamu semalam?"Saya dapat kabar dari Aston. Kamu seharusnya langsung menghubungi saya saja karena ya, Alena... Kamu tahu sendirilah, dia sedang hamil muda. Dan Aston nggak akan mungkin meninggalkan Istrinya demi kamu, Liana," tekan Danu. Di sela rasa khawatir itu, ia juga teramat geram karena Liana masih terus mengharapkan Aston.Huh...Liana hanya mampu menghela napas berat. Ia merasa muak harus mendengarkan penuturan Danu terus-menerus. "Pak Danu, jika kedatangan anda ingin menyindir saya, lebih baik silahkan pergi dari sini!" Liana memalingkan wajah sambil bersedekap dada. "Biar dimakan hewan buas juga nggak papa.""Yakin? Emangnya ada hewan buas yang doyan sama daging kamu? Yang ada, dia malah lari terlebih dulu karena takut pasangannya nanti kamu incar juga," tampik Danu menaik turunkan alisnya.Liana menoleh dengan tatapan tajam."Pak Danu!!!!" pekiknya. Liana langsung saja menginjak kaki Danu yang terbungkus sepatu kulit buaya.Awh!!!
Tama lalu bangkit, ia memeluk sambil menepuk punggung sang Kakak sejenak, merasa bersalah atas semua hal yang menyudutkan keberadaan sang Kakak dalam keluarga tersebut. Aston tak sanggup kenyataan itu harus membersamai langkah adiknya di saat Tama kembali ingin menata hidupnya.Alena yang tak sengaja melihat pemandangan itu tiba-tiba merasa bahagia. Bibirnya melekuk senyum tipis, pemandangan dua kakak beradik itu membuat dadanya berdesir. Dan jika dulu sebagai suami Tama, Alena merasa semua itu tidak adil, tapi setelah menjadi Istri Aston, ia baru tersadar, mengapa suaminya itu bersikeras selalu melindungi adiknya."Ya sudah, kamu segeralah bersihkan diri. Ibu sudah masak, karena Sarah malam ini akan datang. Nggak usah nangis, malu sama umur," celetuk Aston sambil menepuk-nepuk punggung adiknya.Tama kemudian bangkit, mengusap sisa air matanya dengan kedua tangan. Hal itu membuat Aston berasa melihat adiknya di umur 5 tahun. Tama selalu menangis setiap pul
Apa yang sebenarnya terjadi? batin Tama sejak tadi sibuk menerka, mengingat semua hal yang terjadi di antara dirinya dengan Kakak ada sebuah kejanggalan. Tama bangkit, ia mencoba membuang semua ledakan asumsi itu, agar tak menimbulkan keresahan dan keretakan dalam keluarganya. Tapi entah mengapa, Tama merasa ada sesuatu yang Kakaknya sembunyikan..Sore itu juga Tama berjalan menuju lantai dasar untuk menemui salah satu staff medis yang pernah menangani masalah tes DNA nya waktu lalu. Dan kebetulan, ruang laboratorium masih ada yang menjaga.Tama langsung masuk ke ruangan Dokter Reza.Kedatangan Dokter bedah itu membuat Dokter Reza yang biasa menangani masalah tes DNA sontak terkejut. Pasalnya, waktu itu Aston sudah mewanti-wanti tentang kebenaran tes DNA milik keluarganya."Dokter Tama? Ada yang bisa saya bantu?" Dokter Reza mempersilahkan duduk. "Silahkan duduk, Dok."Tama menarik kursi untuknya duduki. Ia sudah duduk dengan tenang, mena
Alena sudah kehabisan akal. Ia tiba-tiba berpura kesakitan sambil memegangi kakinya. "Tama... Tolong! Ini kakiku tiba-tiba kram!"Tama pun reflek meninggalkan rasa penasarannya pada tombol dibalik rak tadi. Ia bergegas mendekat ke arah Alena yang masih terpaku di ambang pintu. Tama merunduk, ia mencoba memegang kaki Alena dengan wajah cemas."Alena... Yang mana yang kram?""Aku mau duduk dulu, Tam." Alena berjalan tertatih menuju sofa ruangan kerja suaminya. Begitu ia sudah duduk, Tama menekuk satu kakinya untuk mencoba memijat kaki Alena. Namun baru menyentuh, Alena sudah tak enak hati sendiri."Mana yang sakit, Al? Apa perlu kita ke rumah sakit, biar Kak Aston yang tangani langsung. Kamu lagi hamil muda soalnya," gelisah Tama.Alena mencegah tangan Iparnya. "Tam, aku baik-baik saja kok. Ini juga udah enakan. Kamu lebih baik buruan ke rumah sakit, soalnya udah di tungguin Kak Aston.""Kamu yakin?" Tama mendongak.Alena
Alena terkekeh dibalik selimut tebalnya. Tapi rasanya malam ini ia tak dapat berlari, sebab sudah beberapa malam karena badannya yang lemas terpaksa ia menunda hubungan bercintanya terlebih dulu. Di tambah, ia juga tak tega melihat wajah Aston yang memelas, tatapannya sudah tertutup kabut gairah."Sayang, ayolah, please! Udah nggak bisa nahan lagi ini," ucap Aston."Kak, tapi janji pelan-pelan ya. Ingat, di dalam ada anak kamu," ucap Alena memperingati.Aston mengangguk cepat. Sebelum ia melakukan ritual malamnya, Aston mengusap perut Alena dan menciuminya terlebih dahulu. "Sayang, anak Papa... Jangan kaget ya. Papa mau intin kamu bentar saja. Papa juga kangen sama Mama kamu. Beberapa hari Papa di asingkan gara-gara kamu. Masih di dalam perut saja udah ngerebut perhatian Papa. Gimana kalau kamu udah lahir, pasti Papa di taruh panti asuhan."Alena terkekeh bukan main. Ia tak menyangka sang suami bertambah lucu semenjak dirinya di nyatakan akan menj
Tama akhirnya memutuskan kembali ke ruang tengah sambil membawakan dua gelas jahe hangat dan cemilan untuk sang Mama. Setelah semuanya di letakan, Tama duduk di sebelah Bu Syanas untuk menanyakan kebenaran yang terjadi."Bu, di dapur ada susu ibu hamil, apa Alena hamil?" tanya Tama dengan wajah serius."Iya, Tam... Mama sebentar lagi akan punya cucu, dan kamu akan di panggil Om," kata Bu Syanas. Selama ini, yang Bu Syanas tahu: Tama hanya menikahi Dinda secara siri lalu berakhir begitu saja. Aston dan Tama sudah menyepakati, untuk tidak menceritakan masalalu pernikahan Tama dengan Alena. Aston hanya tidak ingi sang Ibu kembali kepikiran.Tama hanya tersenyum tipis, menegakan duduknya menatap kosong ke depan sambil menggapai gelas jahe tadi. Semakin ia mengingat bagaimana caranya memperlakukan Alena dulu, sama seperti Tama menggenggam pisau tajam yang hanya akan menyakitinya saja. Penyesalan memang hanya tinggal penyesalan. Namun setidaknya, Tama sudah berh
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Pagi harinya, suasana meja makan terasa canggung. Tepat setelah sarapan selesai, Tama bergegas pergi lebih dulu karena mendapat panggilan darurat dari IGD. Alena hanya mampu melambaikan tangan kecilnya. Ia masih bergeming beberapa detik di dekat pintu, sebelum berbalik dan tidak sengaja menabrak se
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol







