LOGINAlena tahu, dalam keadaan berlangsungnya acara itu, dirinya tak dapat mendesak Suaminya. Sebagai Istri sah, Alena melangkahkan kaki tegasnya menuju tempat Tama, tanpa rasa canggung maupun tertonton di antara banyaknya pasang mata.
Meskipun detak jantungnya menggebu hampir gila. Setiap langkah adalah luka yang terkelupas. Alena berkali-kali membuang napas, agar sakit hatinya dapat tersalur dengan sikap elegant.Tak menjatuhkan, namun cukup menyudutkan.Dua pria salahSekitar pukul 3 sore, pesawat yang Alena tumpangi tiba di Bandara Jakarta. Ia belum sempat mengganti mode ponselnya. Karena saat ini yang ada di pikirannya adalah sang Papa. Alena sudah memesan taxi online, namun dengan sengaja Leon membatalkan secara sepihak. "Ini uangnya, anda boleh pergi!" Alena yang keluar dari kamar mandi sontak membulatkan mata. Ia sedikit berlari, namun taxi pesanannya sudah pergi lebih dulu. Alena meradang, ingin sekali ia mebogem wajah Leon. Tiba-tiba saja... Awhhh!!! "Alena, stop!" Leon mendorong pelan kepala Alena dari lengannya. Bekas gigi rapi Alena tercetak jelas di kulit bersihnya, membuat tangan Leon sampai merah. "Shhh...." Pria itu mengibaskan tangannya. Namun hanya beberapa detik saja wajahnya sudah berubah lebih maskulin. "Rasain, kamu!" puas Alena. "Tapi saya suka kamu gigit, Alena. Itu berarti kamu sudah bersedia bekontak fisi
Di Korea, Siang itu Aston baru selesai visit room ke bangsal Ibu nifas. Ia menyerahkan data rekam medis pada Asistennya. Lalu berniat masuk ke dalam ruangannya di lantai 4. Tapi begitu keluar dari lift, ia di kujutkan dengan Liana yang sudah berdiri di depan pintu menampakan wajah gugup. Aston mengernyit. Ia masih dalam balutan jas Dokter beserta kacamata kerjanya. "Liana? Ngapain kamu disini?" "Oh, Aston... Kebetulan kita bertemu disini. Saya sudah mengirimkan hasil aktivitas di bangsal ibu nifas tadi. Kamu bisa melihatnya terlebih dulu, baru saya kirimkan ke staff untuk di buatkan edukasi dari rumah sakit. Saya takutnya jika seperti waktu lalu, ada beberapa foto yang membuat Alena salah paham. Ayo, kita cek sama-sama...." Liana mempersilahkan Aston berjalan lebih dulu. Aston hanya menatapnya sekilas, acuh, lalu segera masuk ke dalam ruangannya.
Leon hanya mengangkat satu alisnya. Bersikap tenang sambil menjatuhkan tubuhnya di bangku sebelah Alena. Dan Alena tahu, pasti semua ini adalah akal-akalan Leon. Ia sudah ingin berontak, namun pramugari mengharapkan tenang, sementara pesawat sudah mulai lepas landas. Alena sejak tadi memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia merasa muak, hidupnya berasa di kendalikan penuh. Padahal ia hanya ingin hidup normal selayaknya masyarakat umum. Sejujurnya Aston sudah meminta Istrinya memilih class bisnis, tapi Alena sendiri yang menolak. "Lebih enakan disini 'kan, Alena? Nyaman... Tidak ada yang mengganggu kita," bisik Leon memiringkan kepalanya. Huh... Alena menegakan wajahnya, menghela napas berat. Ia tak ingin terpancing apapun dari mulut berbisa Leon. Ia harus bersikap tenang, dan melawan. Alena tiba-tiba menoleh ke arah rekannya dengan intimidasi. "Dari semua kebetulan yang tidak masuk akal ini, pasti kamu 'kan d
Leon bangkit, tatapan santai namun cukup menusuk membuat wajah Aston menggeram, rahangnya menggeretak kuat. Ia mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Alena. Bagi Aston, Leon lebih dari ancaman rumah tangganya. Hama paling sadis yang kapan saja dapat membuat keretakan. "Kamu sengaja megatur semua ini?" suara berat Aston lolos. "Alena... Aston... Kalian jangan suka berprasangka buruk dengan saya. Mengatur?" Leon sampai menyipitkan mata. "Mengatur apa maksud kamu, Dokter Aston? Seharusnya kamu berterimakasih kepada saya, Alena pulangnya ada yang menjaga. Jadi kamu disini cukup tenang." Alena menatap suaminya sekilas. Aston sudah ingin maju, namun Alena menahannya. Ia tak ingin nama baik sang Suami di rumah sakit baru menjadi taruhan. "Leon, cukup! Tanpa kamu menjaga, saya dapat menjaga diri saya sendiri," tekannya. Alena mengusap dada suaminya. Aston menunduk. "Kak Aston harus percaya Alena. Alena tidak sebodoh itu."
Aston menegang. Istrinya bangkit, bergangi mendorong tubuhnya sangat pelan, namun dengan tatapan liar. Aston menelan ludah berkali-kali. Malam ini istrinya sudah mirip singa betina yang sangat agresif. Di bawah lampu temaram, siluet sinar rembulan yang menggantung di atas langit, menembus cela korden dinding kaca kamar Aston. Angin berhembus, membuat tirai tipis itu bergoyang pelan. Sementara di atas ranjang, Alena tengah menikmati permaianan barunya. Sesekali ia merasa gemas, sesekali merasa aneh dengan perubahan bentuk, aset mahal suaminya yang seperti squashi. "Sayang... Eghh... Jangan di pencet-pencet!" pekik Aston di tengah hembusan napas yang memburu. "Habisnya lucu banget. Dari yang semula kaya squashi, tiba-tiba berubah jadi anak konda. Besar banget, Kak." ucap Alena mencoba melingkarkan semua jemarinya pada aset Aston. Sementara Aston. Pria itu memejamkan mata, lalu mencoba meraih tubuh Istrinya untuk dirinya sentu
Aina tahu, dua suster tadi pasti saling tanya, karena yang mereka tahu anak Papa Gino hanya dua orang, Mike dan Alena. Namun meskipun begitu, selama ia berdiri ke pihak kebenaran, tak sekalipun dirinya gentar hanya karena omongan orang. "Sebelum melakukan donor darah, kami akan memerika Mbak Aina terlebih dulu. Hanya sekedar memastikan jika Mbak Aina dalam keadaan sehat dan memiliki kualitas darah yang baik." Jelasnya. "Apa anda bersedia?" "Lakukan saja, Sus! Yang terpenting Ayah saya segera mendapatkan donor darah." Meninggalkan Aina yang tengah di periksa secara keseluruhan kesehatannya, di lain tempat, tengah malam itu Alena baru saja mendapatkan tiket pesawat yang di pesankan suaminya. Keberangkatannya pukul 5 pagi, jadi sangat mendadak. "Sayang... Kamu meding istirahat saja ya. Ini semua biar saya yang packing," kata Aston masih sambil menata koper istrinya. Alena tersenyum gamang. Ia memberikan pakaiann
"Mas, aku menginginkan kamu malam ini. Tolong sentuh lah aku," mohon Alena dibalik kabut gairahnya.Mantan Model cantik berusia 25 tahun itu berjalan sensual menghampiri suaminya dengan balutan daster lingerie berbahan linen bewarna putih terawang.Sementara Tama, dokter bedah berusia 28 tahun itu,
Semenjak kecaman pedas yang Alena terima dari suaminya, semenjak itu pula Tama semakin menunjukan sikap acuh bahkan terkesan tak peduli dengan semua hal yang menyangkut Istrinya. Bukan hanya sehari dua hari Alena mencoba mengetuk pintu hati sang Suami, namun lagi-lagi yang dirinya dapat sebuah penol
Setelah pemeriksaan tadi siang, sesuai edukasi Aston, Alena yang sudah rapi mengenakan dress elegan terkesan seksi, kini mulai bersolek tipis di depan kaca rias, memastikan make-up naturalnya dapat menarik gairah Tama nantinya. Sudut bibir Alena tertarik simpul. Lipstik pink nude itu merekah indah
Aston tidak menjawab dengan kalimat panjang. Ia hanya memberikan tatapan tegas yang memberi isyarat bahwa perintah medisnya tidak untuk didebat. Pria itu melangkah menuju alat pemindai ultrasonografi (USG) di samping ranjang pasien dan mulai mengenakan sarung tangan latex medis."Saya perlu melakuk







