LOGINDinginnya udara malam seperti merambat di tubuhnya saat tubuhnya menabrak tubuh lelaki di hadapannya. Lelaki yang semalam kemaren membuat mentalnya jatuh, hanya karena memergokinya dengan perempuan lain di ruang kerjanya. “Kenapa kamu kemari?” tanya Kiara dengan kesal. Ia menatap Prana yang berlagak innocent, saat melangkah pergi dari balik punggung Hanson. “Karena aku nggak mau kehilangan kamu lagi,” sahut Hanson, “karena aku mau menepati janjiku buat melindungi kamu seumur hidup kamu.” Hanson mengangkat tangan kanannya, hendak menyentuh Kiara. Tapi Kiara justru mundur selangkah, seakan jijik untuk sekedar bersentuhan. “Nggak perlu.” Kiara menatapnya dengan tajam. Hatinya terasa beku, seperti peristiwa yang telah terpatri di ingatannya malam itu. “Aku punya dua kakak yang bisa menjagaku. Aku juga punya papa yang sayang sama aku.”Hanson menghela napas. Perlahan ia menurunkan tangan kanannya dengan canggung. “Aku nggak tau apa yang buat kamu tiba-tiba bereaksi seperti ini, Kiara.
“Apanya?” Kiara mengerutkan kening. “Maksud Mas Wisnu tentang rumah? Tenang saja. Aku bisa tinggal di sini ataupun di sana. Ada Nenek Melati yang pastinya cemas kalau aku tidak pulang ke rumah juga. Jadi, aku akan—”“Bukan itu.” Wisnu menggelengkan kepala. “Aku tahu Nenek Melati sangat baik padamu. Dia juga tentu khawatir kamu pergi. Aku tahu itu. Hanya saja aku mengatakan itu untuk yang lain. Maksudku … tentang gosip itu. Apakah tidak ada cara untuk menghapusnya? Kakak cuma berpikir tentang masa depanmu, nama baikmu.”Kiara terdiam. Ia menatap lama kakak yang baru saja dia temukan hari ini. “Tidak usah dipikirkan, Mas.” Kiara tersenyum. “Gosip itu akan turun dan hilang sendiri ketika ada gosip baru. Aku tidak terlalu peduli. Faktanya ... aku tidak pernah melakukan hal seperti itu."Wisnu melebarkan mata. “Bagaimana bisa kamu tidak peduli? Nama baikmu jadi hancur—”“Aku tahu, Mas. Tetapi, percuma juga membela diri. Mereka hanya akan percaya apa yang mereka ingin percayai. Dikira aku
Kiara tidak punya jawaban untuk itu. Baginya Theo hanya teman yang baru dikenalnya beberapa hari.“Apa-apaan itu? Bagaimana bisa Theo menyukaiku? Dia kan hanya kasihan padaku.” Kiara membatin bingung. Sebab, baginya itu terdengar mustahil.Mereka berjalan dalam diam lagi. Lampu jalan kekuningan menerangi trotoar. Prana memperbaiki letak kantong belanjaannya. Ia mendongak menatap punggung Kiara.“Kiara.” Prana memanggil Kiara lagi.Kiara melambatkan langkah kakinya. Ia menunggu.“Kamu boleh berbohong pada siapapun. Itu hakmu. Aku tidak bisa melarangnya. Tetapi, aku mau minta satu hal.”Kiara belum menjawab sedikitpun. Hanya berjalan biasa yang sesekali menarik napas. Perasaannya aneh ketika ditodong pertanyaan itu.“Jangan berbohong kepada dirimu sendiri.”Langkah Kiara melambat lagi. “Aku tidak berbohong kok.”“Perasaan yang tidak diakui tidak bisa hilang begitu saja. Justru bisa saja perasaan itu semakin mendalam. Kamu bisa berkata tidak menyukai salah satu diantara mereka. Hanya saj
“Kamu mendengar pertanyaanku dengan jelas.”Kiara membelalakkan mata. “Tentu tidak!”Langkah Prana ikut berhenti. Menatap Kiara dengan datar. “Tadi dia hampir memukul orang karena melihatmu dekat dengan laki-laki lain.”“Itu karena dia terlalu protektif!” bantah Kiara.“Protektif dan cemburu itu beda tipis.”“Tidak!” Kiara menggelengkan kepala. “Kakak Hans hanya menganggapku sebagai adiknya.”“Kalau begitu kenapa dia terlihat seperti mau menghabisi Theo?” tanya Prana kemudian, “dia bahkan bisa pukul aku, seandainya kamu nggak melindungiku tadi.”Kiara kehilangan pembelaan diri. Prana memperhatikan ekspresi Kiara yang berubah kacau.“Theo juga sama anehnya.”Kiara makin salah tingkah. “Theo kenapa lagi? Dia hanya ingin menolongku.”“Dia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu tadi.” Prana melanjutkan langkahnya lagi. “Sewaktu wartawan itu bertanya hubungan kalian.”Kiara ikut berjalan lagi di sampingnya. Angin malam meniup pelan rambutnya.Prana mengangkat bahu kecil. “Aku melihat ca
Gang kecil di samping toko itu mulai menarik perhatian orang-orang sekitar. Seorang ibu yang baru keluar dari warung berhenti melangkah. Dua remaja laki-laki di ujung gang menoleh penasaran. Bahkan penjaga toko di dekat sana ikut mengintip dari balik rak minuman.“Ada yang bertengkar?”“Ssst! Jangan keras-keras! Nanti mereka dengar.”Mereka saling berbisik. Lalu mereka membungkam mulut mereka dan terus mengamati.“Tidak puas kamu menyakitiku dengan Theo? Sekarang ada laki-laki lain lagi?” Hanson menatap tajam ke arah Kiara.Kiara mematung sesaat. Ia lalu menarik napas sejenak.“Kak Hans, dengarkan aku baik-baik.” Kiara menarik napas panjang. “Laki-laki tadi itu bukan orang sembarangan.”“Aku tidak peduli siapa dia!”“Aku peduli!” Kiara meninggikan suaranya. “Dan kakak harus berhenti bicara seenaknya sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi!”Hanson terdiam sesaat karena nada suara Kiara. Selama ini Kiara tidak pernah membentaknya seperti itu.Sebelum Kiara sempat menjelaskan lagi, lan
Koordinat yang Alex kirimkan mengarah ke sebuah blok apartemen di sisi utara kota. Hanson berdiri di depan bangunan itu. Ia masuk ke dalam dan naik ke lantai tiga. Pintu nomor tiga belas. Hanson mulai mengetuk. “Apa tidak ada orang?” batinnya saat merasakan kesunyian dari dalam sana. Hanson mengetuk lagi. Tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi, bahkan kali ini lebih keras. Pintu di sebelahnya terbuka. Seorang ibu paruh baya muncul dari dalam. “Cari siapa?” “Dokter Theo. Yang tinggal di sini.” “Oh, Pak Theo.” Perempuan itu mengangguk. “Tadi keluar. Sekitar satu jam yang lalu kalau tidak salah. Terlihat buru-buru, sepertinya ada keperluan.” Satu alis Hanson naik. “Bersama seseorang?” Wanita itu berpikir sejenak sebelum menggeleng pelan. “Sendirian. Saya rasa sendirian. Tidak ada tamu yang datang ke sini hari ini. Saya tahu karena pintu saya kebetulan sering terbuka.” Ia menggerakkan tangannya ke arah pintu yang memang sudah terbuka dari dalam ketika Hanson mengetuk tadi. “







