Share

DPK 028

last update publish date: 2026-04-22 21:35:17

Hanson langsung memutar tubuhnya dan melangkah cepat kembali ke kamarnya. Tanpa berkata apapun, ia langsung mendorong pintu kamar mandi saking khawatirnya pada adiknya.

Namun tubuhnya mematung saat matanya justru terpaku pada sosok di hadapannya.

Si pemilik tubuh indah dengan kulit putih itu berdiri membelakanginya. Tubuh polosnya membungkuk, seolah sedang menantangnya. Tangannya meraih botol-botol sabun dan sampo yang menggelinding di lantai kamar mandi.

Lelaki itu menelan ludahnya dengan ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 042

    Ting!Suara notifikasi terdengar di ponselnya. Ia melirik sekilas ke benda pipih di hadapannya. Tangannya masih memegang kemudi dengan fokus terpecah antara jalanan dan isi pesan singkat itu. Tepat di lampu merah, ia berhenti. Hanson membulatkan matanya saat melihat isi pesan itu. “Hotel Lotus? Kenapa dia ke kota itu? Apa dia juga menyelidiki keluarganya?” batin Hanson. Ia mendecak saking kesalnya. “Apa mungkin dia merasa kasih sayang keluarga Luminto masih kurang?” Tin! Tin! Suara klakson terdengar saat lampu kembali berwarna hijau, membuat Hanson tersentak kembali dari kekacauan pikirannya. “Aku harus bawa dia kembali!” Hanson langsung memutar kemudinya, ke arah yang berlawanan. Lima jam perjalanan terbaca di perangkat penunjuk jalan di hadapannya. “Kiara … siapapun keluargamu, aku nggak peduli,” batin Hanson, “kamu nggak boleh ninggalin aku buat yang kedua kalinya.” ….Setelah perjalanan lima jam yang terasa begitu lama. Akhirnya papan nama hotel Fontana pun terlihat. Hans

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 041

    “Lama tidak mendengar suaramu.” Terdengar suara Edwin dari seberang.Kiara tidak menjawab. Dia masih mencerna dan menebak apa maksud Edwin menelponnya. Bukankah Edwin membencinya? “Kamu diam saja. Apa kamu tak mau menyapa pamanmu?”“Kamu bukan pamanku.” Kiara menjawab dengan susah payah. “Tidak ada paman yang bakal membuang keponakannya sendiri di panti asuhan, bahkan di lain negara hanya untuk memastikan agar aku tak pernah kembali.”Hening sejenak di ujung sana. Lalu suara Edwin terdengar. Seperti sedang tertawa akan sesuatu. Tetapi, bagi Kiara itu sama sekali tidak lucu.“Jadi, kamu sudah tahu. Yah, seharusnya kamu memang bakalan tahu cepat atau lambat sih.” Edwin berbicara dengan entengnya.Kiara mengepalkan tangannya, begitu enteng suara orang itu terdengar di telinganya. Seolah meremehkan dirinya. “Apa yang kamu mau, Edwin?”“Temui aku.”“Tidak mau!” Kiara menolak cepat.“Kiara. Ini bukan permintaan. Aku tidak memintamu. Tetapi, kamu yang memang harus menemuiku.”Kiara mengerny

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 040

    “Sialan!” Beckie membuang muka.Kiara memutar bola mata kesal. “Jangan-jangan kamu CEO yang menyamar.”Theo meletakkan sendoknya dan menatap kedua wanita di hadapannya. “Saya memang tukang parkir. Percayalah, parkir itu seru. Ini pekerjaan yang santai.”“Kalau begitu aku tanya. Hobi kamu apa? Jaga loket tol?” tanya Beckie semakin kesal. “Lihat jam tanganmu. Sepertinya bagus.”Theo tertawa pendek. “Belum pernah dicoba. Tapi … sepertinya seru juga jaga loket tol.”Beckie hendak membuka mulutnya. Tetapi, sebelum sempat mengeluarkan komentar, sebuah suara memotong dari arah pintu kantin.“Dokter Theo!”Ketiganya menoleh. Seorang perawat muda berjalan cepat ke arah mereka membawa selembar kertas yang tampaknya butuh tanda tangan segera. Wajahnya terlihat terburu-buru. “Dokter, maaf mengganggu makan siangnya. Formulir dari lantai tiga perlu ditandatangani sekarang untuk—”“Sebentar.” Theo mengangkat satu tangan ke arah perawat itu, lalu menoleh ke Beckie dan Kiara yang terlanjur mendengarka

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 039

    Bangku taman di ujung jalan itu sudah basah oleh embun pagi.Tap Kiara tidak peduli. Ia sudah duduk di sana entah sejak jam berapa. Atau lebih tepatnya sejak kakinya berhenti berjalan. Di sekelilingnya, kota perlahan-lahan bangun. Pedagang sayur mendorong gerobaknya. Lampu-lampu jalan satu per satu mati digilas sinar matahari yang mulai merangkak naik.Kiara menatap lesu ke arah depan. Ponselnya sudah bergetar berkali-kali sejak tadi. Nenek Melati dan kakaknya, Hanson. Ia hanya menatap nama-nama yang muncul di layar, lalu membiarkannya menghilang dengan sendirinya.Hingga satu nama yang muncul. Kali ini dia tidak bisa mengabaikannya. Kiara menyentuh logo berwarna hijau di layarnya dan menyeretnya ke atas. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, suara di ujung sana sudah mendahuluinya.“Kamu di mana?”Kiara menelan salivanya. “Taman. Yang dekat dengan perempatan Jalan Kenari.”“Kamu … tetap di sana. Jangan kemana-mana.”Telepon terputus. Kiara menghela napas panjang. Toh dia tidak p

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 038

    Ia membacanya baris demi baris. Nama Kevin Luminto tertera di bagian atas sebagai pihak yang mengadopsi. Nama bayi yang diadopsi dikosongkan di dokumen aslinya. Lalu di sampingnya, dalam tulisan tangan Papa Kevin, tertulis satu nama.Kiara.“Jadi, Kiara bukan adik kandungku?” Tubuh Hanson membeku. Matanya kembali mengamati dokumen adopsi itu dengan seksama. Kemudian perhatian Hanson tertuju pada akta kematian.Hanson menghela napas berat. Ia mengambil lembar terakhir. Akta kematian. Nama yang tertera di sana membuat matanya berhenti sejenak.Bayi perempuan, lahir mati. Putri dari Kevin Luminto dan Tiara Indah. Hanson menutup matanya sejenak. “Jadi begitu. Bayi itu … bayi kandung Papa dan Mama telah meninggal saat lahir. Dan Kiara yang selama ini aku kenal sebagai adikku adalah bayi lain yang Papa bawa pulang.” Hanson meletakkan akta kematian itu perlahan di atas meja.Dia mengusap wajahnya dengan kasar. “Pantas saja golongan darah Kiara berbeda dariku, mama dan papa. Karena memang se

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 037

    Malam itu Kiara tidak bisa tidur. Ia berbaring di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya berkelana antara foto, berkas-berkas di dalam amplop coklat dan buku harian ibunya.“Tapi … itu bukan fotoku.”Kiara berusaha memejamkan matanya, tapi ia tidak bisa. Ia masih tak bisa menerima kenyataan itu. “Papa bilang Mama langsung memeluknya dengan hangat beberapa jam setelah ia dilahirkan. Bahkan Mama pernah mengatakan ia menyusu dengan kuatnya.”Kiara membuka matanya. Matanya kembali menatap langit-langit yang sama.Pertanyaannya, kenapa tidak ada yang memberitahunya? Selama dua puluh tahun. Bahkan saat dia pulang, tidak ada seorangpun yang datang dan berkata Kiara, ada yang perlu kamu tahu. Tidak ada yang mengatakan bahwa ia hanya putri pengganti.“Putri pengganti.” Kiara menggumam pelan.Pikiran itu tiba-tiba muncul, dan begitu muncul, Kiara tidak bisa membuang pikiran itu.Nenek Melati sengaja menyembunyikan fakta itu. Nenek tahu bahwa ia hanya anak pungut, dan tak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status