LOGINPagi datang dengan kabut tipis yang belum sepenuhnya pergi. Kiara berdiri di trotoar di depan sebuah kafe kecil yang belum terlalu ramai. Tangannya menggenggam dua benda. Flashdisk hitam kecil di satu tangan. Potongan isolasi bening yang sudah direkat rapi di atas lembar plastik bening.Angin pagi menyapu rambutnya. Kiara menatap jalanan di depannya. Sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan. Edwin turun.Ia mengenakan kemeja abu-abu gelap dan celana hitam. Wajahnya terlihat segar. Sementara Kiara justru sebaliknya, terlihat lesu karena hampir tidak tidur sama sekali.Edwin mendekat tanpa tergesa.“Pagi yang indah,” sapanya begitu berdiri di depan Kiara.“Ini barang yang kamu minta.”Kiara menyerahkan flashdisk dan lembaran isolasi bening itu secara bersamaan. Edwin menerima keduanya. Matanya memeriksa isolasi bening itu terlebih dahulu. Ia memegangnya menghadap cahaya matahari pagi. Di bawah sinar itu, samar-samar terlihat jejak sidik jari yang tertinggal di permukaan perekat. Lima
Hanson berdiri di sana dengan kemeja tidur. Rambutnya tampak sedikit berantakan karena baru saja bangun atau memang tidak bisa tidur. Matanya menatap Kiara dengan heran.Kiara mendelikkan matanya. Satu telunjuk dengan cepat dia angkat menempel di bibirnyaHanson melihat ponsel di tangan Kiara. Dia tahu itu Edwin dan mengangguk. Ia tidak bersuara. Hanya berdiri di tempat, menatap Kiara dengan waspada.Kiara mengelus dadanya. “Baiklah. Aku coba sekarang. Di sini sepi.”“Bagus! Ruang kerjanya di mana?”“Lantai dua. Ujung lorong kanan.” Kiara menjawab sambil menatap Hanson. Ia menggerakkan kepalanya ke arah tangga, seolah sebuah perintah bagi Hanson untuk mengikutinya.Hanson mengerti. Ia melangkah lebih dulu tanpa suara. Kiara mengikutinya dari belakang.“Baik. Masuk ke sana sekarang, Kiara.”Mereka berjalan berdampingan di lorong gelap. Langkah kaki Hanson nyaris tidak terdengar. Tentu saja Kiara lebih berhati-hati agar tidak menimbulkan bunyi sedikitpun.“Aku sudah di depan pintu,” lap
Perjalanan pulang terasa lebih panjang dari seharusnya. Kiara duduk dengan amplop coklat itu di pangkuannya. Jari-jarinya sesekali menekan tepian amplop itu, meremas, lalu melepasnya lagi.Hanson mengemudi tanpa banyak bicara. Sesekali matanya berpindah ke arah Kiara, lalu kembali ke jalanan. Ada sesuatu yang ingin dia katakan, Kiara bisa merasakannya. Tetapi, lelaki itu memilih diam.“Kakak tidak perlu khawatir soal Theo.” Kiara berbicara memecah kesunyian.“Aku tidak khawatir.” Hanson menjawab cuek.“Kakak berbohong.”“Aku tidak berbohong.”“Kakak mengerutkan alis kiri setiap kali bohong.” Kiara menoleh ke arah Hanson dengan santai. “Kakak tidak sadar ya?”Hanson tidak menjawab. Tetapi, tangannya bergerak memperbaiki posisi menggenggam kemudi. Kiara tersenyum kecil menghadap ke depan lagi.Rumah Hanson menyambut mereka dengan cahaya hangat dari lampu teras yang otomatis menyala begitu mobil memasuki halaman. Andhika yang sudah menunggu di dekat pintu membuka pintu mobil dan mengangg
Langit di luar jendela masih berwarna abu-abu kebiruan. Terlalu awal untuk disebut pagi, ketika Kiara perlahan menggeser selimut dari tubuhnya.Ia berhenti dan menunggu. Di sampingnya, napas Hanson masih teratur dan dalam. Lelaki itu berbaring dengan punggung menghadap padanya.Kiara menatapnya lama. Lalu dia mengalihkan pandangannya, mengambil ponsel dari atas nakas.Ponselnya menyala dengan satu notifikasi pesan mengambang di layarnya.‘Saya sudah di lobi’, dari Theo.Kiara meraih jaketnya dari kursi di sudut kamar. Ia menyelipkan ponsel ke dalam saku, dan melangkah ke pintu, berjingkat-jingkat agar tidak menimbulkan suara. Ia membuka pintu lalu menutupnya dengan pelan. Kiara menghembuskan napas pelan di lorong yang masih sepi itu, lalu berjalan cepat menuju lift.Theo sudah berdiri di lobi ketika Kiara turun. Dia mengenakan kemeja putih biasa, celana krem, rambut yang rapi. Di tangannya terlihat sebuah amplop coklat.“Selamat pagi,” sapanya.“Pagi.” Kiara langsung menatap amplop
Kiara mendorong tubuh Hanson dengan wajah memucat. Tapi Hanson justru mencekal pergelangan tangannya. Dan saat tubuhnya doyong ke belakang, saat itu pula Kiara justru hilang keseimbangan. Tubuh ramping itu langsung menabrak Hanson. Mata Kiara membulat ketika bibirnya justru mendarat di leher Hanson. Napas hangat yang menyapu di lehernya, membuat lelaki itu semakin gelisah. Jakunnya justru terlihat naik turun, membuat Kiara semakin gemas untuk melewatkannya.Gadis itu menempelkan bibirnya, menyentuh bulatan yang kini terlihat berusaha stabil, tanpa banyak bergerak. Namun rasa hangat sekaligus basah itu membuat jantung Hanson semakin berdebar kuat. Ia berusaha menahan napas karena tak ingin Kiara merasakan kegelisahannya. Ini adalah kali pertama baginya seorang gadis menyentuh salah satu titik sensitif di tubuhnya. Dan entah kenapa, ia sama sekali tak merasa risih, jijik ataupun terganggu seperti yang dirasakannya pada perempuan lain. Suara lenguhan lembut keluar dari bibir Hanson. I
Ting!Suara notifikasi terdengar di ponselnya. Ia melirik sekilas ke benda pipih di hadapannya. Tangannya masih memegang kemudi dengan fokus terpecah antara jalanan dan isi pesan singkat itu. Tepat di lampu merah, ia berhenti. Hanson membulatkan matanya saat melihat isi pesan itu. “Hotel Lotus? Kenapa dia ke kota itu? Apa dia juga menyelidiki keluarganya?” batin Hanson. Ia mendecak saking kesalnya. “Apa mungkin dia merasa kasih sayang keluarga Luminto masih kurang?” Tin! Tin! Suara klakson terdengar saat lampu kembali berwarna hijau, membuat Hanson tersentak kembali dari kekacauan pikirannya. “Aku harus bawa dia kembali!” Hanson langsung memutar kemudinya, ke arah yang berlawanan. Lima jam perjalanan terbaca di perangkat penunjuk jalan di hadapannya. “Kiara … siapapun keluargamu, aku nggak peduli,” batin Hanson, “kamu nggak boleh ninggalin aku buat yang kedua kalinya.” ….Setelah perjalanan lima jam yang terasa begitu lama. Akhirnya papan nama hotel Fontana pun terlihat. Hans







