登入“Aduh!” Wanita itu berbalik, tubuhnya tersentak karena tarikan kuat Hanson.Tapi itu bukan Kiara.Hanson mengusap wajahnya dengan kasar. “Maaf. Maafkan saya. Salah orang.”“Lain kali hati-hati dong! Kalau aku jatuh gimana? Nggak sopan banget!” Wanita itu pergi dengan marah.Hanson menghela napas panjang. Ia sangat gelisah. “Bagaimana ini?”Matanya menatap sekelilingnya, mencoba menemukan sesuatu entah bayangan gadis itu, atau petunjuk apapun. Dan tatapannya berhenti pada papan informasi keberangkatan di ujung ruangan. Hanson berdiri di depannya. Matanya menelusuri baris demi baris sampai menemukan yang dia cari.“Kereta Malam — Kota Bunga — Berangkat 22.00.”Jam di papan itu menunjukkan pukul 22.15. Lima belas menit yang lalu kereta sudah berangkat.Hanson menutup matanya sekejap lalu membukanya lagi. Papan itu masih menunjukkan hal yang sama. Ia sudah terlambat lima belas menit.Hanson meraih ponselnya. “Andhika!”Andhika mengangkat di nada pertama seperti biasanya. “Boss?”“Kita ha
"Ke stasiun kereta, Pak."Pengemudi taksi mengangguk tanpa bertanya. Kiara kembali menatap keluar jendela dengan pikiran kalut.Ucapan Hanson ketika menggumamkan kata cinta kemarin, masih menggema di kepalanya. Kiara ingat, bagaimana dia menggenggam tangan Kiara lalu memeluknya. Tatapan mata yang teduh dan hangat.‘Karena dengan begitu aku bisa berada di sisimu dengan leluasa. Aku bisa menciummu, memelukmu bahkan berpacaran dan menikahimu, Kiara.’‘Aku cinta kamu sebagai seorang wanita.’‘Kamu memang pembawa sial, buat orang-orang yang pernah menindasmu.’Kiara menggigit bibirnya. Kata-kata itu terdengar nyata saat diucapkan. Terasa menyegarkan bagi perasaannya yang aneh. Tetapi ia tidak bisa melupakan apa yang ia lihat tadi. Posisi Vanessa sangat intim. .Hanson, dari semua yang Kiara ketahui tentang laki-laki itu, tidak pernah melakukan sesuatu tanpa alasan. Tidak pernah membiarkan sesuatu terjadi tanpa keputusan darinya.Maka jika perempuan itu berada di sana. Di ruangan itu. Berlu
Carlos masuk ke ruang kerja Hanson. Satu tangannya di rambut Vanessa, mencengkeram kuat sambil menggiringnya masuk. Wajahnya kaku seolah tak peduli teriak kesakitan gadis itu. “Hentikan! Lepaskan!” Vanessa berusaha melepaskan tangan Carlos dari rambutnya. Tetapi perbedaan kekuatan mereka terlalu jauh. Vanessa terlalu lemah untuk melawan.Di belakang keduanya, Pak Rusman masuk mengikuti. Begitu sampai di sana, Carlos mendorong Vanessa ke lantai, membuat wanita itu terjerembab begitu saja tepat di hadapan Hanson. “Argh!” jerit Vanessa.Hanson duduk di belakang mejanya. Ia duduk dengan tenang. Dadanya bergerak naik turun pertanda emosi tengah menggelegak dalam dada.“Tutup pintunya.” Hanson berkata datar.Carlos menutup pintu. Kini di ruangan itu menjadi sunyi. Pak Rusman mengambil tempat di kursi tamu tanpa diminta. Dia membuka kopernya, dan mengeluarkan beberapa lembar dokumen yang dia susun rapi di atas pahanya. Sepertinya bersiap untuk sesuatu.Carlos berdiri di sisi kanan ruangan
Syuting hari itu selesai lebih cepat dari jadwal. Andhika sudah menunggu di parkiran dengan mesin menyala ketika Kiara keluar dari pintu samping studio. Ia membuka pintu belakang bahkan sebelum Kiara sempat meraih gagangnya. “Terima kasih.” Kiara melempar tas ke sudut belakang dan masuk. “Siap, Nona.” Perjalanan pulang berlangsung dalam diam. Kiara menyandarkan kepalanya ke kaca jendela. Kepalanya sedikit berdenyut. Begitu sampai, Andhika memarkirkan mobil di garasi. Kiara masuk ke dalam rumah. Rumah Hanson terasa lebih sepi dari biasanya di jam-jam sore. Hanson biasanya sudah pulang menjelang pukul enam. Walaupun terlambat, Kiara bisa mendengar suara mobilnya dari kamar. Tapi sekarang baru pukul empat lebih. Kiara melepas sepatunya di depan pintu dan melempar jaketnya ke sofa. Ia meraih remote televisi dari atas meja kecil di sudut ruang tamu. Kiara mengerutkan dahi saat menyadari benda berlayar pipih itu tak menyala walau jemarinya menekan tombolnya. Ia mencoba menekan s
Hanson sudah ada di ruang kerjanya sejak pukul tujuh kurang seperempat.. Di mejanya, tiga tumpukan berkas menunggu untuk ditandatangani dan dua layar monitor menyala bersamaan.Ia bekerja dalam diam yang biasa. Sampai pintu ruang kerjanya diketuk.“Masuk.”Carlos masuk. Biasanya dia terlihat tenang. Tetapi, pagi ini langkahnya sedikit berbeda sedikit terburu-buru. Ekspresinya terlihat tidak nyaman.“Hans.” Carlos menutup pintu di belakangnya.Hanson mengangkat kepalanya. “Ada apa?”Carlos tidak segera menjawab. Ia mendekat ke meja dan meletakkan ponselnya di atas permukaan meja itu, menghadap ke arah Hanson. Layarnya sudah terbuka pada sebuah halaman.“Kamu perlu melihat ini dulu.”Hanson meraih ponsel itu. Matanya menatap layar. Sebuah artikel dari portal berita hiburan.ARTIS PENDATANG BARU K, KEPERGOK KENCAN DENGAN PRIA MISTERIUS DI CAFE HOTEL LOTUS.Di bawah judul itu, dua foto berdampingan.Foto pertama, diambil dari jarak yang cukup jauh dengan kualitas kamera telefoto yang jela
Sinar matahari pagi menyusup melalui celah tirai jendela ruang rias ketika Kiara duduk di depan cermin besar yang dikelilingi lampu bulat berwarna putih hangat. Make up artist-nya sedang sibuk menyapukan foundation ke pipi kirinya ketika ponsel Kiara bergetar di atas meja rias.Kiara melirik layarnya. Matanya melihat nama Beckie mengambang di layarnya.“Maaf, Rin. Aku terima telepon sebentar.” Kiara mengangkat tangannya.Rini mundur, berpura-pura sibuk merapikan peralatan di sampingnya.“Halo, Beck—”“Ara.” Suara Beckie terdengar dari seberang. Suaranya kali ini lebih pelan dan lega. “Adikku sudah siuman.”Kiara menghela napas dan tersenyum. “Serius? Syukurlah!”“Serius.” Terdengar Beckie menarik napas panjang di seberang sana. “Tadi pagi. Dokternya bilang operasi semalam berjalan baik. Masa kritis sudah berlalu. Walau dia masih lemah dan masih banyak yang harus dipantau, tapi dia sudah membuka mata, Ra. Dia sudah sadar.”“Syukurlah!” Kiara menutup matanya sebentar. “Iya. Aku sangat







