Share

DPK 030

last update publish date: 2026-04-25 23:21:52

“Pegang tanganku!” perintah Hanson. Wajahnya tegang, jelas menunjukkan kepanikannya.

Tapi pinggiran teralis itu terasa tajam dan Kiara tak sanggup menahan rasa sakit di telapak tangannya. Perlahan pegangannya mulai terlepas dan tubuhnya melayang jatuh begitu saja.

“Ara!” Teriakan itu menggema.

Hanson membuka matanya. Keringat membasahi keningnya. Ia hampir tidak pernah bermimpi, tapi mimpi buruk kali ini benar-benar terasa begitu nyata.

Hanson mengatur napasnya, berusaha mengusir kegelisaha
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 038

    Ia membacanya baris demi baris. Nama Kevin Luminto tertera di bagian atas sebagai pihak yang mengadopsi. Nama bayi yang diadopsi dikosongkan di dokumen aslinya. Lalu di sampingnya, dalam tulisan tangan Papa Kevin, tertulis satu nama.Kiara.“Jadi, Kiara bukan adik kandungku?” Tubuh Hanson membeku. Matanya kembali mengamati dokumen adopsi itu dengan seksama. Kemudian perhatian Hanson tertuju pada akta kematian.Hanson menghela napas berat. Ia mengambil lembar terakhir. Akta kematian. Nama yang tertera di sana membuat matanya berhenti sejenak.Bayi perempuan, lahir mati. Putri dari Kevin Luminto dan Tiara Indah. Hanson menutup matanya sejenak. “Jadi begitu. Bayi itu … bayi kandung Papa dan Mama telah meninggal saat lahir. Dan Kiara yang selama ini aku kenal sebagai adikku adalah bayi lain yang Papa bawa pulang.” Hanson meletakkan akta kematian itu perlahan di atas meja.Dia mengusap wajahnya dengan kasar. “Pantas saja golongan darah Kiara berbeda dariku, mama dan papa. Karena memang se

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 037

    Malam itu Kiara tidak bisa tidur. Ia berbaring di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar. Pikirannya berkelana antara foto, berkas-berkas di dalam amplop coklat dan buku harian ibunya.“Tapi … itu bukan fotoku.”Kiara berusaha memejamkan matanya, tapi ia tidak bisa. Ia masih tak bisa menerima kenyataan itu. “Papa bilang Mama langsung memeluknya dengan hangat beberapa jam setelah ia dilahirkan. Bahkan Mama pernah mengatakan ia menyusu dengan kuatnya.”Kiara membuka matanya. Matanya kembali menatap langit-langit yang sama.Pertanyaannya, kenapa tidak ada yang memberitahunya? Selama dua puluh tahun. Bahkan saat dia pulang, tidak ada seorangpun yang datang dan berkata Kiara, ada yang perlu kamu tahu. Tidak ada yang mengatakan bahwa ia hanya putri pengganti.“Putri pengganti.” Kiara menggumam pelan.Pikiran itu tiba-tiba muncul, dan begitu muncul, Kiara tidak bisa membuang pikiran itu.Nenek Melati sengaja menyembunyikan fakta itu. Nenek tahu bahwa ia hanya anak pungut, dan tak

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 036

    “Heh, kebuka!” Kiara berseru penuh semangat.Kiara menghela napas panjang sebelum perlahan membuka laci itu. Matanya menyapu isi di dalamnya. Sebuah gambar lukisan tangan Hanson kecil. Bibir Kiara tersenyum tipis ketika melihat gambar itu. Coretan gambar sebuah keluarga dengan seorang anak laki-laki dengan warna-warni ceria itu, membuatnya tak bisa menahan senyumnya. Dibawahnya ada coretan tangan dengan huruf yang tidak sempurna – Keluarga Hanson. Kiara meraihnya. “Amplop coklat apa ini?” Kiara mengerutkan kening saat melihat sebuah amplop coklat yang terlihat tebal di bawah gambar keluarga itu. Dengan hati-hati, Kiara meletakkan gambar itu di atas permukaan meja. Kemudian tangannya kembali masuk ke dalam laci, mengeluarkan amplop coklat yang ukurannya hampir seluas laci. Tapi punggung tangannya menyentuh bagian atas laci. “Oh!”Kiara terkejut saat sebuah benda berbentuk lingkaran yang mengkilat jatuh di atas amplop coklat itu. Spontan ia menarik tangannya keluar. “Hah? CD?” Ki

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 035

    Kiara melebarkan matanya, mencoba memastikan apa yang dia lihat. Tapi ia tidak melihat satu benda pun di atasnya. “Tidak ada apa-apa?” Kiara mengerutkan keningnya. Dia mengamati ranjang itu dengan seksama. “Tapi … aku merasakannya, kok,” lanjutnya penasaran. Ranjang itu bersih. Tidak ada benda asing apapun yang terselip di antara lipatannya. Hanya kain putih gading yang sudah sedikit menguning dimakan waktu. Kiara bisa mencium aroma lavender yang samar. “Tapi … tadi apa yang terasa di punggungku?” gumamnya bingung. Matanya kembali mengamati kasur itu. Kali ini bahkan dia menyipitkan mata. “Apa ya itu? Di sini terlihat tidak ada apapun. Tetapi, aku jelas merasakannya tadi.” Kiara kembali berbaring, kali ini perlahan. Memposisikan tubuhnya tepat seperti tadi. Dia membiarkan kulitnya menyentuh permukaan kasur dengan hati-hati. Badannya menggeser pelan. Matanya terpejam, seluruh konsentrasinya dia pusatkan pada indera perabanya. “Di sebelah mana ya?” Kiara terus berusaha men

  • Dekapan Panas Kakakku   Bab 034

    “Bukan … bukan sekedar buat asuransi. Tapi juga … mengambil alih semua usaha yang sudah orang tuaku perjuangkan buat kami.” Carlos menghela napas. “Dia mungkin memang satu-satunya yang tersisa dari keluarga Luminto seandainya kamu dan adik kamu nggak ada. Tapi … kamu yakin dia sanggup menyakiti keluarganya sendiri? Bukannya sepuluh tahun lalu, dia yang terlihat paling terpukul saat pemakaman orang tuamu?” Hanson menggelengkan kepalanya. “Aku tidak tahu lagi siapa yang bisa kupercaya. Tapi … ada baiknya kalau kita tetap mengawasi dia.” Carlos mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia bisa memahami kecurigaan sahabatnya. “Vanessa kemarin diperiksa selama dua jam di kepolisian. Tapi …” Carlos menghela napas, “tidak cukup bukti buat menahannya. Vanessa punya alibi yang kuat.” Tiba-tiba pintu ruang inap itu terbuka dengan lebar. Seorang wanita dengan rambut memutih itu melangkah masuk. Dibelakangnya, seorang gadis muda mengikuti dengan sekeranjang buah segar di tangannya. “Astaga …

  • Dekapan Panas Kakakku   DPK 033

    “Nggak ada yang perlu kamu takutkan.”Hanson mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya. “Aku tahu apa yang harus aku lakukan.”Kiara membeku. Perasaannya benar-benar kacau. Keluarga Luminto tidak sesederhana yang terlihat. Dan … ia merasa tak aman berada di dalam lingkaran itu.“Kakak, nggak marah kan, sama aku?” tanya Kiara penuh harap, “Kakak masih anggap aku adik, kan?”Lelaki itu mencubit pucuk hidungnya dengan gemas. “Dasar bodoh! Kapan aku pernah marah sama kamu.”Dalam kegelisahannya, Hanson bukan mengkhawatirkan dirinya, melainkan keselamatan adiknya seandainya motif pamannya benar-benar tentang harta keluarga Luminto.Ia tahu dengan jelas karakter Edwin Luminto yang bisa melakukan apapun untuk mencapai keinginannya. Apalagi beberapa tahun lalu, Hanson dengan sengaja mengusirnya dari perusahaan karena kasus penggelapan yang dilakukannya.Hanson bahkan menindak tegas kesalahan itu dengan memutasinya ke anak cabang perusahaan di luar negeri. Entah apa yang bakal pamannya lakukan se

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status