LOGINHanson menatap gadis yang terbaring di atas ranjang. Mata indah dengan bulu lentiknya itu masih terkatup. Dadanya naik turun dengan lembut dan teratur seperti lelap dalam mimpi indahnya. Lelaki muda itu gelisah. Ia tak bisa melupakan percakapannya dengan dokter Kirana semalam. Hatinya mencelos setiap memikirkan kemungkinan orang tuanya melakukan hal yang tidak seharusnya. Dan seandainya Nenek Melati mendengar berita ini, nama baik mendiang ibunya bisa saja hancur. Tidak! Tidak ada yang boleh tau sebelum ia mengetahui kebenarannya. Terlalu banyak kemungkinan. Bisa saja Kiara yang sebenarnya hidup bahagia dengan keluarganya. Lelaki itu meraih ponselnya dan menggulir layarnya sebelum menempelkan benda pipih itu di telinganya. “Alex, aku butuh bantuanmu.” Hanson mencubit pangkal hidungnya, berusaha menghilangkan pening di kepalanya karena tak bisa tidur semalaman. “Pergilah ke rumah sakit bersalin Kasih. Cari berkas atas nama Nyonya Tiara Indah, tepatnya dua puluh tahun yan
Hanson memijat keningnya dengan frustasi. Bayangan kejadian semalam tak bisa hilang dari ingatannya. Ia masih ingat bagaimana nekadnya dirinya untuk mencium adiknya. Bukan hanya itu, ia juga merasa berdosa karena sudah menggerayang di tubuh gadis itu. Jemarinya masih bisa merasakan saat menyentuh lembut kulitnya bahkan bagian intinya. Ia bisa merasakan dengan jelas belahannya yang rapat, hangat dan basah itu. “.... Pak Hanson, bagaimana pendapat Anda.”Tiba-tiba suara maskulin itu menghancurkan lamunannya. Ia menatap Carlos yang lagi-lagi seperti sengaja memojokkan di hadapan team peserta meeting kali ini“Kita sedang membicarakan design interior mall kita,” terang Carlos setelah tak juga mendapat tanggapan dari bosnya. “Apa Anda sudah menyetujui design yang diajukan oleh PT. Mitra tadi?” Hanson menegakkan tubuhnya dengan gelisah. Ini bukan pertama kali baginya melamun di tengah rapat penting yang ia pimpin. Tapi ia tidak ingin semua mata yang tertuju padanya itu merasa kecewa kar
“Pegang tanganku!” perintah Hanson. Wajahnya tegang, jelas menunjukkan kepanikannya. Tapi pinggiran teralis itu terasa tajam dan Kiara tak sanggup menahan rasa sakit di telapak tangannya. Perlahan pegangannya mulai terlepas dan tubuhnya melayang jatuh begitu saja. “Ara!” Teriakan itu menggema. Hanson membuka matanya. Keringat membasahi keningnya. Ia hampir tidak pernah bermimpi, tapi mimpi buruk kali ini benar-benar terasa begitu nyata. Hanson mengatur napasnya, berusaha mengusir kegelisahan yang semakin menggila di otaknya. Pikirannya tak lepas dari Kiara. Mungkin saja itu sebuah peringatan baginya bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Mungkin saja mimpi itu sengaja diberikan agar ia dapat melindungi Kiara.Lelaki itu menyibak selimutnya. Ia turun dari ranjang dan bergegas keluar dari kamarnya. Rasa dahaga seperti mengundangnya untuk melangkahkan kakinya ke dapur. Suara degung halus terdengar dan cahaya lampu dari lemari pendingin begitu mencolok di kegelapan ruangan. Kiara men
“Hei!” Teriak Kiara saat seorang gadis menabrak lengannya.Gadis itu menoleh. Bukan hanya dia, tapi juga beberapa gadis yang kebetulan ada di toilet saat itu. “Kenapa? Kamu nggak terima? Mau marah? Mau nampar lagi?” ketus gadis itu. Ia melangkah mendekat seolah sengaja mengintimidasi. “Kamu pikir karena kamu dekat dengan keluarga Luminto, lalu kamu bisa main tampar?”Gadis berbadan bongsor itu melangkah mendekati Kiara dengan tatapannya yang mengintimidasi. Vanessa tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan itu. Ia berdiri di hadapan gadis itu. Kedua tangannya terangkat, menghalangi pukulan yang dilayangkan pada Kiara. “Jangan pukul dia!” teriaknya sembari memejamkan mata.Gadis bertubuh bongsor itu menurunkan tangannya. “Aku nggak paham sama kamu. Tadi kamu sudah ditampar juga, kan sama dia. Tapi … kamu sekarang malah berdiri jadi tameng buat dia. Apa kamu sudah gila?” “Itu … urusan aku sama dia,” bantah Vanessa, “kalian nggak perlu ikut campur.” Gadis-gadis itu mendengus kesal. Ada
Hanson langsung memutar tubuhnya dan melangkah cepat kembali ke kamarnya. Tanpa berkata apapun, ia langsung mendorong pintu kamar mandi saking khawatirnya pada adiknya.Namun tubuhnya mematung saat matanya justru terpaku pada sosok di hadapannya. Si pemilik tubuh indah dengan kulit putih itu berdiri membelakanginya. Tubuh polosnya membungkuk, seolah sedang menantangnya. Tangannya meraih botol-botol sabun dan sampo yang menggelinding di lantai kamar mandi.Lelaki itu menelan ludahnya dengan berat. Ia hanyalah seorang lelaki normal. Bagaimana mungkin ia sanggup bertahan dalam godaan seberat ini. Matanya tak bisa berkedip saat gumpalan dengan garis di antara keduanya itu seakan menantangnya, bukan hanya itu ... pemandangan itu seperti sedang menawarkan sebuah kenikmatan yang tak mungkin bisa ditolak lelaki manapun.Tapi nuraninya berteriak, menghalangi keinginannya untuk melakukan hal yang tak seharusnya. Hanson memejamkan mata dan langsung memutar tubuhnya.“Maaf, aku kira … kamu butu
Hanson membaringkan adiknya di atas ranjang. Mata indahnya kini terpejam. Lelaki itu menghela napas dengan berat. Ia masih dapat merasakan perih mendengar isakan tadi.“Ara, kalau kamu nggak mau cerita, nggak masalah,” lirih Hanson. Lelaki itu duduk di sisi ranjang, sementara tangannya menyentuh helai rambut yang menutupi wajah cantik di depanya. “Apapun yang terjadi, kakak akan lindungi kamu. Nggak ada satu orang pun yang bisa ambil kamu dari sisiku lagi.” Hanson menelan salivanya. Jemarinya menyentuh dahi Kiara, perlahan menyeretnya dengan lembut menuju ke puncak hidungnya dan terus menurun di bibirnya. Matanya tak berkedip, seakan takut gadis di hadapannya akan lenyap bagai asap. Hatinya masih berkecamuk saat ia menarik tangannya. Namun tiba-tiba Kiara justru memeluk pahanya. “Kakak … jangan pergi. Temani Kiara –” lirihnya masih dengan mata terpejam. Hanson memejamkan matanya. Bagian dalam dirinya bergolak seketika saat tangan gadis itu nyaris menyentuh bagian paling sensitif d







