로그인“... aku bisa lakukan apapun buat kamu. Termasuk menyingkirkan Kayuna Group dari bumi Nusantara.” Kiara menelan salivanya. Napasnya semakin kacau saat hembusan napas lelaki itu membelai kulit di dadanya dan rasa gelitik yang kuat menyentuh di puncaknya yang menegang. “Kakak—” Sentuhan basah itu terasa panas saat hembusan napas hangat Hanson menyentuhnya. Tubuhnya menegang, gelisah dalam gairah yang semakin memuncak. Kiara menggigit bibirnya saat merasakan sentuhan di bawah sana. Terasa lembut, menggoda, membuat sensasi aneh di dalam perutnya. Tangannya meremas kuat sprei di bawahnya saat sesuatu di bawah sana mulai menekan di celah di antara kedua pahanya. Panas, lembut dan terasa menyesak di dalam rongganya. Kedut-kedut itu terasa kuat, menciptakan sensasi aneh di dalam perutnya. Apalagi saat Hanson mulai menggerakkan tubuhnya dengan ritme yang bervariasi. Napasnya semakin kacau. Jantungnya berdetak semakin kencang dan bibirnya tak sanggup menahan desah menanggung setiap henta
Kiara dapat merasakan kejujuran dari tatapan matanya. Mendadak ia merasakan kengerian dalam dadanya. Apa jadinya seandainya Jonathan bertemu dengan Hanson? Apa jadinya jika Jonathan tahu lelaki yang dicintainya adalah kerabat pria yang sudah membuatnya menderita. Kiara mendesah pelan, saat merasakan remasan di pantatnya. Hanson menarik tubuhnya mendekat, membuat tubuh mereka saling bersentuhan. Napas mereka saling bersilang, membelai wajah keduanya. “Tapi aku bukan matahari,” sahut Kiara, “dan kakak bukan bulan.” “Kamu benar. Kita bukan bulan ataupun matahari. Dan aku nggak mau jadi mereka yang terus saling mengejar. Aku mau terus ada di dekat kamu.”Hanson mendekatkan bibirnya, melumat bibir mungil gadis di depannya dengan penuh hasrat. Tangannya memeluk tubuh gadis di depannya seolah takut ia kembali tenggelam.Kiara meletakkan satu tangannya di dada Hanson. Tangan itu menekan kuat, jelas menolak sentuhan lelaki di depannya. “Kak, kamu belum jawab pertanyaanku,” ucap Kiara deng
“Jo, kalau itu tujuanmu. Sebaiknya aku nggak terima kontrak kerja sama ini.” Kiara meraih tas di sisinya dan berdiri. “Aku nggak mau orang lain salah paham.” Jonathan melepas sarung tangan kotornya dan meletakkannya di atas meja. Lelaki itu langsung berdiri dan meraih tangan Kiara, menahannya untuk tidak melangkah pergi.“Aku nggak ada tunangan, calon istri atau apapun sejenisnya. Kalau itu yang kamu cemaskan,” balasnya, “aku benar-benar merindukanmu. Aku—” “Jo. Dengar … aku nggak perlu penjelasan apapun dari kamu. Kita sudah sama dewasa. Aku ataupun kamu, bebas menentukan dengan siapa kita mau bersama. Kita tidak bisa hidup dalam bayangan masa lalu,” potong Kiara.“Maksud kamu—” “Aku juga sudah punya seseorang di hatiku. Seseorang yang aku ingin hidup bersama.” Jonathan melepaskan cekalannya. Ia menundukkan kepalanya. “Aku … terlambat ya.” Kiara menghela napas, seolah semua kekhawatiran lepas dari pundaknya. “Aku … cuma bisa menganggapmu teman.” Jonathan mengangkat kepalanya. “
“Lama tak bertemu,” ucap lelaki itu. Tangannya terulur, menunggu balasan dari Kiara. “Kamu … masih ingat aku, kan?” Kiara mengulurkan tangannya, membalas uluran tangan Jonathan yang masih menggantung di udara. Ia menarik sudut bibirnya, memberikan seulas senyumannya yang indah.“Tentu saja. Aku nggak mungkin ngelupain enam tahun kenangan kita,” sahut Kiara tulus. Jonathan, lelaki bertubuh tegap itu masih menatap Kiara tanpa berkedip. Beckie bahkan bisa melihat obsesi di mata lelaki itu. Obsesi yang justru terasa mencekam dalam tatapannya yang dalam. “Dua tahun terakhir, aku sempat mencarimu. Di panti itu, tapi mereka mengatakan kalah kamu sudah pergi,” tutur Jonathan lagi, “apa … om kamu akhirnya membawamu pulang?” Kiara menggelengkan kepalanya. “Dia nggak pernah muncul. Aku pergi dari panti karena … aku mendapatkan beasiswa sekolah seni.” “Aku memutuskan tinggal di asrama, dan mengambil beberapa part time job untuk menutupi kebutuhanku sehari-hari.” “Pantas saja,” gumam Jonath
“... sepasang suami istri mengadopsinya.”Kiara menarik sudut bibirnya. “Setelah itu, aku benar-benar harus menjaga diriku sendiri. Harus berpura-pura kuat dan bahagia.” “Sekarang kamu nggak perlu pura-pura, Ara.” Hanson mengusap pipi Kiara dengan ibu jarinya. “Kamu bebas melakukan apapun yang kamu suka.” Kiara memejamkan matanya.“Seandainya waktu bisa berputar kembali, aku nggak akan biarkan kamu pergi, Ara.” Hanson menghela napas. Matanya menatap langit-langit kamar dengan cahaya temaram itu. “Kami yang membawamu ke rumah ini. Papa dan mama di surga, pasti sedih kalau tahu betapa menderitanya kamu di sana.”Hanson memiringkan badannya, menoleh ke arah Kiara. Melihat mata gadis itu terpejam dan napasnya yang teratur, ia pun tersenyum.“Tidurlah, kamu nggak akan pernah menderita lagi sekarang,” bisik Hanson, “kakak janji, akan jagain kamu seumur hidupku.” Hanson memejamkan matanya. Kiara memutar tubuhnya dengan gelisah. Setiap kalimat yang diucapkan oleh Hanson seperti menggema
Kaca yang gelap, suara dengung halus mesin, dan mobil yang bergoyang di taman kota itu sama sekali tak ada yang mengusik, seolah dunia milik mereka berdua. Kiara menggigit bibirnya. Ia menggerakkan tubuhnya di atas tubuh Hanson. Tubuhnya menegang, menahan gelitik di dalam perutnya dan kedut itu terasa semakin kuat saat ia memegang kendali atas permainan itu. “Aah!” desis Hanson saat Kiara kembali menjepit miliknya dengan kuat. Ia dapat merasakan sesuatu menghisap miliknya, bukan hanya memijatnya. Tangan lelaki itu meremas gumpalan kenyal yang terus memantul di hadapannya. Puncak kemerahan yang menegang itu seperti menantangnya untuk dilumat. Kiara langsung menghentikan gerakannya saat bibir lelaki itu menyentuh puncak kemerahan di dadanya. Ia mendesah pelan, saat lelaki itu mulai menghisap di puncaknya dan sesuatu terasa hidup dan berkedut dengan kuat di bawah sana. “Ouh! Aku nggak tahan, Kak,” lirih Kiara. Ia mencengkram pundak Hanson semakin kuat. Perlahan ia kembali bergerak,
“Kak …” Kiara hampir kehabisan napas. Karena ciuman Hanson semakin menuntut. “Aku … nggak … napas …” lirih Kiara dengan napas terengah. Ciuman Hanson beralih ke lehernya. Kiara secepat mungkin menarik napas, mengisi paru-parunya kembali dengan udara. Kiara hendak protes, tetapi kalimat itu t
“Hans!” Suara itu membuat Hanson terkejut. Ia langsung melepaskan diri dari cekalan Kiara. Ia langsung menoleh. Matanya menatap sosok yang berdiri tepat di depan pintu. “Nenek—” Hanson segera bangkit dari sisi ranjang. “Ngapain Nenek datang sepagi ini?”Nenek Melati m
“Kiara nggak butuh rasa kasihan siapapun.” Hanson seperti tercekik. Kalimat itu seperti pisau yang dihujamkan ke ulu hatinya.“Ara, Kakak—” Kiara beringsut dari ranjangnya. Ia menegakkan tubuhnya dengan susah payah, lalu menyandarkan tubuhnya. “Aku sudah dew
Hanson mendecak kesal saat tak lagi melihat mobil sedan itu di depan rumahnya, ia segera masuk dan melangkah cepat menuju lantai atas, tempat kamarnya dan kamar Kiara berada.Suasana terasa begitu hening seperti biasa, karena dua asisten rumah tangga sudah kembali ke kamarnya masing-masi







