Mag-log inSuara langkah sepatu pantofel Felix yang beradu dengan lantai di luar kamar terdengar seperti detak jam kematian bagi Jolina.
Ia segera bangkit dari posisinya di dekat jendela, merapikan jubah sutranya yang sedikit berantakan, dan duduk di tepi ranjang dengan jemari yang saling bertaut erat. Jantungnya berdegup kencang, masih terbayang jelas seringai Oliver di bawah sana. Pintu terbuka dengan satu sentakan tenang namun berwibawa. Felix melangkah masuk, aura dinginnya seolah menyedot seluruh oksigen di dalam ruangan. Ia melonggarkan kancing kemeja atasnya sambil menatap Jolina dengan intensitas yang sulit dibaca. Jolina ingin sekali bertanya. Lidahnya sudah gatal untuk menanyakan siapa pria berbaju perak itu dan apa hubungannya dengan Felix. Namun, ketakutan lebih dulu membungkamnya. Jika Felix tahu bahwa ia mengenal Oliver, pria yang kemungkinan besar adalah rekan bisnis atau bahkan kerabat Sang Don, apakah Felix akan menganggapnya sebagai mata-mata? Atau lebih buruk, apakah Felix akan menyerahkannya kembali pada Oliver sebagai tanda kerja sama? "Kau tampak seperti baru saja melihat hantu, Jolina," suara Felix memecah keheningan. Ia berjalan mendekat, berdiri tepat di depan Jolina hingga bayangannya menelan tubuh kecil wanita itu. Jolina mendongak perlahan, mencoba mengatur raut wajahnya agar tampak sedatar mungkin. "T-tidak, Tuan. Aku hanya... aku hanya sedikit pusing." Felix menyipitkan mata. Ia bukan pria yang mudah dikelabui oleh kebohongan amatir. Ia meraih dagu Jolina, mengangkatnya agar mata mereka beradu "Kau tidak pandai berbohong. Matamu gelisah sejak aku masuk. Ada sesuatu yang ingin kau katakan tentang tamu yang baru saja pergi?" Jantung Jolina serasa melompat ke tenggorokan. Ia segera menggeleng dengan cepat, terlalu cepat hingga membuatnya sedikit limbung. "Tidak, aku tidak tahu siapa dia. Aku hanya... aku hanya merasa lapar. Aku belum makan sejak semalam." Itu bukan sepenuhnya kebohongan. Perut Jolina memang terasa kosong, namun rasa lapar itu tertutup oleh rasa mual karena kecemasan. Felix menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah sedang membedah isi kepala Jolina, sebelum akhirnya melepaskan cengkeramannya. "Makan, ya? Baiklah." Felix berbalik dan menekan tombol interkom di dinding. "Siapkan makan malam di kamar sekarang. Sesuatu yang ringan tapi mengenyangkan. Cepat." Tak butuh waktu lama bagi dua pelayan untuk masuk membawa baki perak berisi sup krim kental, roti panggang, dan potongan daging tenderloin yang aromanya sangat menggoda. Mereka menata makanan itu di meja kecil dekat balkon sebelum membungkuk hormat dan keluar dengan cepat. "Makanlah," perintah Felix sambil duduk di hadapan Jolina. Jolina mulai menyuap supnya perlahan. Ia mencoba fokus pada rasa gurih krim dan jamur, namun bayangan Oliver yang kasar kembali melintas. Ia teringat bagaimana Oliver pernah memaksanya memakan makanan yang tidak ia sukai hanya untuk menunjukkan dominasinya. Ia teringat rasa sakit di lengannya saat Oliver menyeretnya keluar dari restoran. Tanpa sadar, Jolina melamun. Sendoknya berhenti di tengah udara, matanya menatap kosong ke arah piring. "Jolina!" suara berat Felix menyentaknya kembali ke kenyataan. "Kau melamun lagi. Jika kau tidak suka makanannya, katakan. Jangan membuang-buang waktuku dengan tatapan kosong itu." "Maaf, Tuan. Aku hanya sedang berpikir tentang..." Belum sempat Jolina menyelesaikan kalimatnya, sebuah sensasi aneh mendadak muncul dari dasar perutnya. Itu bukan sekadar rasa lapar. Itu adalah gejolak hebat yang mendesak naik ke kerongkongannya. Rasa mual yang begitu mendadak dan kuat hingga membuat wajah Jolina seketika pucat pasi. Ia menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak. Tanpa mempedulikan sopan santun di depan Sang Don, Jolina melompat dari kursinya dan berlari sekencang mungkin menuju wastafel di kamar mandi. Huekk… Jolina memuntahkan semua yang baru saja ia makan. Tubuhnya gemetar, keringat dingin membasahi dahinya. Ia merasa dunianya berputar. Di belakangnya, terdengar suara langkah kaki yang berat. Felix berdiri di ambang pintu kamar mandi, wajahnya merah padam karena amarah. Pria itu segera berteriak ke arah luar kamar, memanggil kepala pelayan. "Apa yang kalian berikan padanya?! Apa makanan itu beracun?!" bentak Felix hingga suaranya menggetarkan dinding kamar. "Jika terjadi sesuatu padanya, aku akan memastikan kalian semua memakan racun yang sama!" Jolina yang masih lemas mencoba berpegangan pada pinggiran wastafel. "T-tidak, Tuan... bukan... bukan makanannya. Pelayan tidak salah..." ucapnya dengan suara lemah yang hampir habis. Felix mendekat, mengabaikan rasa jijik, dan memegang bahu Jolina yang masih gemetar. Kemarahannya pada pelayan sejenak mereda, digantikan oleh kekhawatiran yang ia sembunyikan di balik tatapan tajamnya. Ia menyeka sisa air di bibir Jolina dengan ibu jarinya. "Kau sakit?" tanya Felix, suaranya sedikit lebih rendah. "Mungkin hanya kelelahan," bisik Jolina. Felix tidak membantah. Ia langsung mengangkat tubuh Jolina dalam gendongan bridal style, membawanya kembali ke ranjang besar dan merebahkannya dengan gerakan yang tak disangka-sangka begitu lembut. Ia menyelimuti Jolina hingga sebatas dada. "Istirahatlah. Aku tidak ingin pengantinku pingsan di depan altar besok," ucap Felix sambil mengusap rambut Jolina. Jolina memejamkan mata, merasa sedikit lega karena Felix tidak lagi bertanya tentang Oliver. Namun, di dalam hatinya, sebuah ketakutan baru muncul. Rasa mual ini... ia ingat kapan terakhir kali ia merasakannya. Dan jika perhitungannya benar, ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar hutang ayahnya yang sedang tumbuh di dalam dirinya. Saat Felix hendak berbalik meninggalkan kamar, Jolina meraih ujung kemeja pria itu secara spontan. "Tuan... apakah kau benar-benar akan menikahiku besok?" tanya Jolina lirih. Felix terhenti, ia menoleh sedikit, menatap tangan Jolina yang memegang kemejanya. Ia kemudian berbalik, menunduk hingga wajahnya hanya berjarak beberapa inci dari Jolina. Ia mengecup kening Jolina dengan lama, sebuah ciuman yang terasa seperti segel kepemilikan yang abadi. "Besok, dunia akan tahu kau adalah milikku," bisik Felix. "Tapi ada satu hal yang harus kau tahu, Jolina. Aku bisa memaafkan banyak hal, kecuali pengkhianatan dan rahasia yang kau simpan di belakangku." Felix melepaskan tangan Jolina dan keluar, mengunci pintu kembali. Jolina terbaring kaku, menatap langit-langit kamar dengan air mata yang menetes. Ia menyentuh perutnya yang masih terasa bergejolak. “Jika perhitunganku benar, maka ini adalah milikmu Felix…”Rerumputan liar dan pepohonan rimbun mengapit bangunan tua berdinding bata yang telah tampak merana di batas kota. Rumah lama keluarga Roberson berdiri membisu di bawah guyuran gerimis malam. Sebagian atapnya telah runtuh akibat kebakaran beberapa tahun silam, meninggalkan sisa-sisa kayu hitam dan pilar-pilar rapuh yang diselimuti lumut.Iring-iringan SUV hitam milik Felix berhenti tepat di halaman depan yang dipenuhi semak belukar. Felix melangkah turun dengan gerakan cepat. Wajahnya mengeras, sementara tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam menggenggam revolver peraknya. Di saku jasnya, foto Nyonya Valerie yang baru saja didapatnya dari pria asing di persimpangan jalan terasa menekan dadanya bagai timah panas."Amankan seluruh perimeter! Jangan biarkan siapa pun lolos!" perintah Felix pada tim taktisnya.Satu tim pengawal berpelindung tubuh lengkap menyergap masuk terlebih dahulu, memecahkan sisa-sisa pintu kayu yang sudah lapuk. Suara derap sepatu bot bergaung
Malam membungkus kota dengan keheningan yang dingin. Hujan gerimis yang turun sejak sore meninggalkan permukaan aspal jalanan licin dan berkilat di bawah temaram lampu jalan. Sebuah iring-iringan tiga mobil SUV hitam melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalurnya, dipimpin langsung oleh Felix Wesley dari balik kemudi kendaraan paling depan. Mata elang Felix menatap lurus ke jalanan yang sepi. Informasi terbaru dari The Ghost mengenai sinyal ponsel Roberson yang bergerak mendekati rumah tua terus berputar di kepalanya. Pria itu menancap gas lebih dalam, membiarkan deru mesin mobilnya menggerung membelah malam. Fokusnya terkunci total pada brankas tua yang menyimpan rahasia tentang Valerie dan asal-usul Jolina. Namun, di sebuah persimpangan jalan utama yang sepi di batas kota, takdir memiliki rencananya sendiri. Sebuah mobil sedan mewah edisi terbatas berwarna hitam kelam, kendaraan berpelat diplomatik dengan sistem keamanan antipeluru tingkat tinggi, mendadak melaju memotong jalur
Keheningan manis di perpustakaan mansion terpaksa buyar saat ponsel satelit rahasia di saku kemeja Felix bergetar hebat. Sebuah nada getar berkode khusus, hanya digunakan oleh The Ghost untuk laporan yang sifatnya sangat darurat dan rahasia.Felix menarik napas perlahan, merapikan helai rambut Jolina yang sedikit berantakan di dahi. Ia mengecup kening istrinya sekilas. "Istirahatlah di kamar dulu, Jolina. Ada laporan keamanan yang harus kupantau sebentar."Jolina menatap Felix dengan binar mata yang masih menyisakan kehangatan ciuman mereka tadi. Wanita itu mengangguk pelan, mengusap lengan tegap suaminya sebelum melangkah keluar dari perpustakaan, membiarkan Felix kembali ke dalam sangkar tugasnya sebagai seorang Don.Begitu pintu tebal perpustakaan tertutup rapat, raut wajah Felix berubah seketika. Kehangatan yang baru saja ia tunjukkan pada Jolina menguap tanpa sisa, berganti menjadi ekspresi dingin dan penuh kewaspadaan. Ia menekan tombol penerima pada ponselnya dan menempelkannya
Pagi hari menyapa mansion Wesley dengan hamparan kabut tipis yang merayap pelan di antara pilar-pilar batu megah. Dari luar, suasana terkesan tenang dan tenteram, meski aroma halus tanah basah yang berbaur dengan jelaga sisa ledakan semalam masih membekas di sudut-sudut perbatasan halaman. Sisa-sisa pertempuran berdarah telah dibersihkan secara efisien oleh tim The Ghost, meninggalkan mansion dalam kedamaian tiruan yang mencekam.Di ruang makan utama yang luas, pendar sinar matahari pagi menembus jendela kaca tinggi, memantulkan cahaya lembut ke atas meja kayu mahoni yang terbentang panjang. Jolina duduk di salah satu sisi meja, mengaduk pelan mangkuk sup hangatnya dengan tatapan menerawang. Jubah sutra berwarna krem yang dikenakannya membungkus tubuhnya dengan anggun, memperlihatkan siluet kehamilannya yang mulai sedikit memadat.Di ujung meja, Felix duduk dengan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Pria itu tampak sibuk menyesap kopi hitamnya sembari meneliti beberap
Di sebuah rumah tua terisolasi yang tersembunyi jauh di dalam rimbunnya hutan batas kota, napas ketakutan masih terasa begitu pekat. Bau mesiu, darah kering, dan asap rokok murahan memenuhi ruangan bersudut sempit yang hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung kekuningan yang berkedip-kedip. Luar mansion Wesley mungkin telah sunyi, tetapi kepanikan sisa-sisa pelarian itu kini berkumpul di dalam pondok reyot ini.Vico duduk bersandar di sudut dinding kayu, mengepalkan kedua tangannya yang bernoda hitam bekas ledakan. Pakaian taktisnya robek di beberapa bagian, namun bukan luka fisik yang membuatnya membisu. Kepala Vico serasa mau pecah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Felix di balik kaca ruang panel keamanan terus berputar tanpa henti, merusak pertahanan keyakinan yang selama ini ia agungkan.“William Benharg adalah orang yang memegang kendali atas kasus hukum ayahmu... Siapa yang diuntungkan saat ayahmu masuk penjara dan Addison menghilang? Benharg, Vico. Bukan Addison.”Vico men
Asap rokok kembali mengepul, memenuhi ruang kendali bawah tanah yang sunyi. Felix Wesley masih duduk di kursi besarnya, menatap nanar barisan dokumen digital yang ditampilkan di layar monitor oleh The Ghost. Sejarah kelam tahun 2000-an itu memang telah membuka tabir tentang penjebakan Bryan dan pernikahan kedua William. Namun, bagi pria sekritis Felix, berkas-berkas itu justru meninggalkan lubang besar yang menganga di kepalanya. Felix mengetukkan jemarinya di atas meja mahoni dengan ritme yang konstan, mencerminkan isi pikirannya yang sedang berputar keras. Ada tiga pertanyaan besar yang belum terjawab. Pertama, kenapa Addison akhirnya menghilang dari mansion Benharg? Jika awalnya Addison memilih pasrah dan bertahan di bawah kungkungan William demi melindungi Felix yang masih balita, apa yang memicu pria itu pada akhirnya memutuskan untuk kabur dan menghilang seperti asap? Dan yang paling mengusik ketenangan Felix adalah sebaris kal
Waktu seolah membeku di dalam mansion megah milik Felix. Satu bulan telah berlalu sejak hari pernikahan yang terasa seperti pemakaman itu, namun bagi Jolina, setiap detik yang ia lalui tetap terasa seperti berjalan di atas mata pisau. Felix tidak berubah. Pria itu tetaplah S
Langit-langit katedral tua itu dipenuhi dengan lukisan fresko para malaikat yang seolah menatap dingin ke arah bawah, menyaksikan sebuah persatuan yang jauh dari kata suci. Aroma dupa yang berat bercampur dengan wangi bunga lili putih yang melimpah di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang
Denting kunci yang berputar dari luar barusan seolah menjadi penanda bahwa kebebasan Jolina telah mati. Kini, ia hanya bisa mondar-mandir di atas karpet beludru yang tebal, membiarkan jemari kakinya tenggelam dalam kelembutan kain yang terasa kontras dengan kekacauan di dalam dadanya. Kamar m
Cahaya matahari siang yang pucat menyelinap masuk melalui celah gorden yang berat, menusuk kelopak mata Jolina yang perih.Ia terbangun dalam keadaan linglung, sejenak berharap bahwa semua yang terjadi semalam hanya sekadar manifestasi dari mimpi buruk yang paling keji. Namun, saat ia mer







