เข้าสู่ระบบDenting kunci yang berputar dari luar barusan seolah menjadi penanda bahwa kebebasan Jolina telah mati.
Kini, ia hanya bisa mondar-mandir di atas karpet beludru yang tebal, membiarkan jemari kakinya tenggelam dalam kelembutan kain yang terasa kontras dengan kekacauan di dalam dadanya. Kamar mewah ini, dengan segala fasilitas kelas atas dan aroma maskulin Felix yang tertinggal di setiap sudut, tak lebih dari sekadar sangkar emas yang pengap. Jolina merapatkan jubah sutra yang diberikan Felix, mencoba menutupi bekas-bekas kemerahan di leher dan bahunya yang masih terasa berdenyut. Pikirannya melayang pada ucapan Felix sebelum pergi. Siapa yang datang? Langkah kaki Jolina membawanya ke jendela besar yang menghadap langsung ke arah gerbang utama mansion. Dengan tangan gemetar, ia menyibakkan sedikit tirai blackout yang berat itu. Di bawah sana, sebuah mobil mewah berwarna perak metalik berhenti dengan posisi yang angkuh. Jantung Jolina seolah berhenti berdetak saat pintu mobil itu terbuka. Seorang pria keluar dengan gerakan yang sangat ia kenali. Postur tubuh yang tegap namun kaku, cara pria itu membetulkan letak jam tangan emasnya, hingga seringai tipis yang selalu tampak meremehkan dunia. "Oliver..." bisik Jolina, suaranya nyaris hilang ditelan udara. Dunia seolah berputar. Nama itu membawa kembali memori yang selama ini Jolina kubur dalam-dalam di dasar ingatannya. Kehadiran Oliver di sini, di markas besar seorang Don seperti Felix, adalah sebuah teka-teki yang mengerikan Lamuna Jolina melayang ke masa dua tahun lalu, kehidupan Jolina tidaklah semewah sekarang, namun jauh lebih tenang. Ia bekerja di sebuah toko bunga kecil di sudut kota. Di sanalah ia pertama kali bertemu Oliver. Awalnya, Oliver tampak seperti pelanggan biasa yang sopan, namun ketertarikan pria itu segera berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Jolina teringat suatu malam hujan saat ia baru saja menutup toko. Oliver berdiri di sana, di bawah lampu jalan yang temaram, memegang buket mawar merah yang sudah layu karena air hujan. "Jolina, kau tahu aku tidak suka menunggu," ucap Oliver kala itu, suaranya rendah namun mengandung nada ancaman yang tidak bisa disembunyikan. "Maaf, Oliver. Aku sudah bilang berkali-kali, aku tidak bisa menerima perasaanmu. Aku tidak menyukaimu," jawab Jolina dengan suara bergetar, mencoba melewati pria itu. Namun Oliver mencengkeram lengan Jolina dengan kasar. Kekuatannya membuat Jolina merintih. "Kau akan menyukaiku. Semua orang menyukaiku karena uangku dan kekuasaanku. Apa yang kurang dariku? Pria mana yang kau harapkan? Ayahmu yang pemabuk itu sudah merestui kita jika aku memberinya sedikit uang saksi!" Saat itulah Jolina menyadari bahwa Oliver adalah pria yang berbahaya. Ia kasar, manipulatif, dan merasa bisa membeli segala sesuatu dengan uang. Berkali-kali Jolina harus berpindah tempat kerja, bahkan mengganti nomor teleponnya, hanya untuk menghindar dari kejaran Oliver yang selalu tahu di mana ia berada. Oliver pernah menghajar seorang teman pria Jolina hingga masuk rumah sakit hanya karena pria itu menawarkan tumpangan pulang. Bagi Oliver, Jolina adalah barang koleksi yang belum sempat ia masukkan ke dalam lemari pajangannya. "Kau tidak akan bisa lari dariku, Jolina," bisik Oliver saat terakhir kali mereka bertemu sebelum Jolina menghilang ke kota lain. "Suatu saat, aku akan memilikimu, baik kau mau atau tidak." Jolina tersentak dari lamunannya saat melihat Oliver di bawah sana sedang bersalaman, atau lebih tepatnya melakukan kontak fisik yang penuh ketegangan dengan Felix. “Mengapa Oliver bisa berada di sini? Apa hubungannya dengan Felix? Apakah mereka rekan bisnis? Atau justru musuh?” Pikiran bahwa dua pria paling dominan dan berbahaya dalam hidupnya kini berada di satu titik yang sama membuat Jolina merasa mual. Jika Felix adalah monster yang baru saja merenggut paksa raganya, maka Oliver adalah hantu masa lalu yang ingin mengurung jiwanya. "Aku harus tahu apa yang mereka bicarakan," gumam Jolina panik. Ia berlari ke arah pintu kamar, mencoba memutar gagang pintunya dengan tenaga penuh. Ceklek. Ceklek. Tetap terkunci. Felix benar-benar mengurungnya seperti tawanan. "Felix! Buka pintunya!" teriak Jolina sambil menggedor kayu jati yang tebal itu. Tak ada jawaban. Mansion ini terlalu luas, dan dindingnya terlalu tebal untuk meneruskan suaranya ke lantai bawah. Jolina kembali ke jendela, mencoba membuka kaca jendela yang ternyata juga memiliki sistem pengunci otomatis yang hanya bisa dikendalikan dari panel pusat. Ia melihat Oliver tertawa sambil menepuk bahu Felix. Tatapan Oliver kemudian beralih ke arah bangunan utama mansion, seolah-olah pria itu tahu bahwa di salah satu kamar di sana, Jolina sedang mengintip dengan ketakutan. Oliver melepaskan kacamata hitamnya dan menatap lurus ke arah jendela kamar Felix, tepat ke arah Jolina. Jolina segera menarik tirai dan jatuh terduduk di lantai. Napasnya memburu. “Apakah Oliver tahu aku di sini? Apakah dia yang menjual informasi tentangku kepada Felix? Atau justru dia datang untuk memintaku kembali dari Felix?” Ketidakpastian itu menyiksanya. Jika Felix tahu tentang masa lalunya dengan Oliver, apakah Felix akan menganggapnya sebagai pengkhianat? Atau lebih buruk lagi, apakah ia akan dijadikan alat tawar-menawar di antara kedua pria itu? Jolina meringkuk, memeluk lututnya di balik pintu yang terkunci. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang diperebutkan oleh dua pemain yang sama-sama kejam. Satu menyakitinya dengan agresivitas fisik, yang lainnya menghancurkannya dengan teror mental. Di luar, sayup-sayup ia mendengar suara mesin mobil yang menderu menjauh. Oliver pergi. Namun, keheningan yang menyusul setelah itu jauh lebih menakutkan. Ia tahu, sebentar lagi Felix akan kembali ke kamar ini. Dan ia harus siap dengan jawaban atau pertanyaan yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya. Di tengah kemelut pikiran yang mencekam itu, sebuah getaran pendek namun tajam terasa dari balik bantal di sampingnya. Bzzz. Bzzz. Jolina tersentak. Jantungnya yang baru saja sedikit melambat kembali berpacu. Ia menoleh ke arah ponselnya yang tergeletak separuh tersembunyi di bawah bantal sutra. Dengan tangan yang masih gemetar, ia merogoh benda pipih itu. Layar ponselnya menyala, membelah kegelapan sudut kamar dengan cahaya putih yang menyilaukan mata. Ada satu notifikasi pesan masuk. Jolina ragu sejenak. Pikirannya langsung melayang pada kemungkinan-kemungkinan buruk. Apakah itu Felix yang mengiriminya perintah dari luar kamar? Ataukah ayahnya yang ingin menanyakan nasib transaksi mereka? Dengan napas yang tertahan di tenggorokan, Jolina menyentuh layar dan membuka kunci ponselnya. Pesan itu berasal dari nomor yang tidak dikenal. Tidak ada nama, tidak ada foto profil, hanya deretan angka asing yang terlihat dingin. Jolina mengerutkan dahi, matanya menyipit saat membaca baris kalimat pendek yang tertera di sana. "Hati-hati, Jolina."Keheningan yang mencekam menyelimuti ruangan itu setelah Roberson melontarkan tuduhannya. Jolina berdiri mematung, otaknya berputar cepat mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan ayahnya. Bertemu siapa? Malam itu? Ia tidak merasa bertemu dengan siapapun. Pikirannya berlarian ke belakang, memutar memori malam-malam sepi di mansion mewah Felix. Tiba-tiba, sebuah kilatan ingatan muncul. Pesan misterius pertama. Pesan singkat dari nomor tak dikenal yang hanya berisi dua kata, "Hati-hati, Jolina." Ia ingat betapa jantungnya berdegup kencang saat membaca itu, tapi ia tidak pernah bertemu dengan pengirimnya. Ia tidak pernah keluar dari kamar malam itu. Namun, bagaimana ia bisa menjelaskan hal itu sekarang? Di bawah tatapan Felix yang mulai berubah menjadi curiga, kata-kata seolah tersangkut di tenggorokannya. Belum sempat Jolina membuka suara untuk membela diri, Roberson Guilt tertawa terbahak-bahak. Tawa
Di dalam kabin mobil yang kedap suara, ketegangan terasa begitu padat hingga seolah bisa diiris dengan pisau. Jolina meremas jemarinya yang dingin, matanya tak lepas dari layar ponsel yang masih menampilkan video ibunya yang terikat dengan bom waktu. Setiap detik yang berlalu terasa seperti satu tahun. Napasnya pendek-pendek, dan rasa mual yang sempat hilang kini kembali menyerang, diperparah oleh kecemasan yang luar biasa. "Felix, kita tidak punya banyak waktu," bisik Jolina parau. "Bagaimana jika dia benar-benar menekan tombol itu? Bagaimana jika—" "Diam sejenak, Jolina. Aku sedang berpikir," potong Felix tanpa menoleh. Matanya menatap lurus ke depan, namun otaknya bekerja dengan kecepatan luar biasa, menimbang setiap risiko, menghitung setiap sudut buta, dan memetakan denah rumah Roberson Guilt yang sudah ia hafal di luar kepala. Setelah beberapa menit yang menyiksa, Felix akhirnya memutar kemudi dengan tenang. Ia menepika
Mansion keluarga Benharg tampak seperti benteng batu yang dingin di bawah langit pagi yang mendung. Felix sedang mengenakan jas antipelurunya dengan gerakan yang efisien dan penuh amarah yang tertahan. Di seberangnya, Jolina berdiri dengan mata sembab namun penuh tekad. Ia sudah mendengar pembicaraan Felix di telepon; ia tahu ibunya ada di tempat ini."Aku ikut," ucap Jolina tegas.Felix berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun. "Tidak. Kau tetap di sini dengan pengawalan maksimal. Tempat itu adalah sarang ular, Jolina. Ayahku dan Oliver tidak akan segan-segan menggunakanmu untuk memeras leherku.""Dia ibuku, Felix!" Jolina melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka."Sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayang kehilangannya. Aku tidak peduli seberapa berbahaya tempat itu. Jika kau meninggalkanku di sini, aku akan gila karena kecemasan. Tolong... biarkan aku melihat wajahnya sekali saja."
Sinar matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar utama mansion Wesley. Cahaya itu jatuh di atas wajah Jolina, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak. Untuk sesaat, ia merasa disorientasi. Ingatan tentang bentakan Felix, rasa mual di kamar mandi, hingga pengakuan jujur pria itu tentang ibunya semalam, berputar di kepalanya seperti kepingan film yang rusak.Jolina meraba sisi ranjang di sebelahnya. Dingin. Felix sudah tidak ada di sana.Ia berusaha bangkit, namun rasa pusing yang hebat mendadak menghantam kepalanya. Pandangannya sedikit mengabur, sisa-sisa stres luar biasa dari kejadian kemarin malam masih meninggalkan jejak di tubuhnya. Jolina memijat pelipisnya, mendesah pelan saat rasa malu mulai merayapi hatinya.Bagaimana bisa aku begitu bodoh? batinnya menyalahkan diri sendiri. Ia telah mempercayai secarik kertas tanpa identitas dan menuduh suaminya sebagai penculik ibunya, padahal Fel
Suasana di restoran mewah yang tadinya romantis seketika berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan. Genggaman tangan Felix pada pergelangan tangan Jolina tidak lagi hangat, itu adalah cengkeraman baja yang menuntut kejujuran. Sebelum Jolina sempat menyembunyikan foto usang itu ke dalam tasnya, Felix sudah lebih dulu menyambarnya dengan gerakan secepat kilat.Felix menatap foto itu. Matanya menyipit, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia menatap sosok wanita di foto itu—ibu Jolina—lalu beralih pada tulisan tangan di baliknya. Keheningan yang menyusul terasa begitu berat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh kemarahan yang mulai mendidih di balik dada Sang Don. Jolina tidak berani bernapas. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap pangkuannya sendiri sambil meremas kain gaun biru safirnya hingga kusut. Jantungnya berdegup begitu kencang, memberikan rasa
Kegelapan malam di dalam kamar itu mendadak terasa menyesakkan bagi Jolina. Setelah membaca pesan misterius yang diselipkan di bawah pintu balkon, jantungnya berpacu seirama dengan detak jarum jam di dinding. Kata-kata itu—Proyek Mawar Hitam—terasa seperti belati dingin yang menusuk tepat ke pusat traumanya. Ibunya, sosok yang menghilang tanpa jejak sepuluh tahun lalu, kini kembali menghantui dalam bentuk tuduhan mengerikan terhadap pria yang sedang memeluknya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan Felix, Jolina merangkak turun dari ranjang. Lantai marmer yang dingin menyentuh telapak kakinya, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia berlutut di samping ranjang, jemarinya meraba-raba kolong kayu jati yang megah itu. Nafasnya tertahan. Ia mencari sebuah celah, sebuah tonjolan, atau apa pun yang menyerupai brankas kecil seperti yang disebutkan dalam surat itu. Ia meraba hingga ke sudut terdalam, debu tipis