LOGINLangit-langit katedral tua itu dipenuhi dengan lukisan fresko para malaikat yang seolah menatap dingin ke arah bawah, menyaksikan sebuah persatuan yang jauh dari kata suci.
Aroma dupa yang berat bercampur dengan wangi bunga lili putih yang melimpah di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang seharusnya romantis, namun bagi Jolina, aroma itu terasa seperti bau pemakaman. Ia sedang berdiri di ambang pintu altar, mengenakan gaun pengantin sutra putih yang harganya mungkin bisa membeli seluruh hidup ayahnya. Gaun itu indah, memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna, namun Jolina merasa seolah ia sedang mengenakan kain kafan yang sangat mahal. Felix berdiri di sana, di depan altar. Pria itu mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membuatnya tampak seperti dewa kematian yang sangat tampan. Tidak ada senyum di wajahnya, hanya otoritas absolut yang terpancar dari tatapan matanya yang tajam. Pernikahan ini berlangsung privat. Sangat privat. Hanya ada sekitar dua puluh orang di dalam ruangan luas itu—para petinggi organisasi Felix, orang-orang berpengaruh dengan wajah-wajah kaku, dan beberapa penjaga bersenjata yang berdiri di bayang-bayang pilar batu. Tak ada musik riang, hanya suara langkah kaki Jolina yang menggema saat ia berjalan mendekat, seolah menuju tiang gantungan. Namun, langkah Jolina mendadak membeku di tengah jalan. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan tangannya yang memegang buket bunga gemetar hebat. Di barisan kursi paling depan, di sisi kanan yang seharusnya diperuntukkan bagi keluarga mempelai pria, duduk seorang pria dengan setelan abu-abu perak. Pria itu tidak menatap altar. Ia menatap lurus ke arah Jolina dengan senyum miring yang sangat ia kenali—senyum predator yang pernah menghantuinya selama bertahun-tahun. Oliver. Dunia seolah runtuh di sekitar Jolina. Bagaimana mungkin? Mengapa Oliver bisa berada di sini? Mengapa dia duduk di kursi kehormatan di pernikahan Felix? Kilasan memori tentang Oliver yang kasar kembali menghantam kepala Jolina. Ia teringat bagaimana Oliver pernah mengurungnya di dalam gudang toko bunga hanya karena Jolina menolak diajak makan malam. Ia teringat rasa sakit saat Oliver mencengkeram rahangnya dan membisikkan bahwa Jolina tidak akan pernah bisa lari. Bayangan pria itu yang memaksa dan tidak mengenal kata "tidak" membuat lutut Jolina lemas. "Jalan, Jolina," suara rendah Felix terdengar, memecah kepanikan Jolina. Felix sudah berada di sampingnya, meraih tangannya yang dingin. Jolina tidak sanggup menatap wajah Felix. Ia segera menyambar lengan kekar pria itu, mencengkeram kain jas mahal Felix seolah-olah pria berbahaya ini adalah satu-satunya pelampung di tengah laut yang penuh hiu. Upacara pernikahan itu berlangsung dengan suasana yang sakral namun mencekam. Janji suci diucapkan, namun Jolina tidak mendengar sepatah kata pun dari pendeta. Pikirannya hanya terpusat pada satu hal: sosok Oliver yang berada hanya beberapa meter di belakangnya. Ia bisa merasakan tatapan Oliver yang menelusuri punggungnya, menelusuri kulitnya yang tertutup gaun transparan, seolah pria itu sedang melucuti pakaiannya dengan mata. Sepanjang sisa upacara, Jolina terus menempel di lengan Felix. Ia tidak berani menjauh bahkan sesenti pun. Saat mereka harus berbalik untuk menyapa para tamu setelah sah menjadi suami istri, Jolina menyembunyikan sebagian wajahnya di balik bahu Felix. Ketakutannya begitu nyata hingga tubuhnya menggigil terus-menerus. Felix, yang memiliki insting tajam seorang penguasa, tentu menyadari perubahan drastis pada wanita di sampingnya. Ia merasakan bagaimana jari-jari Jolina yang mungil mencengkeram lengannya hingga kuku wanita itu sedikit menekan kulitnya. Setelah upacara selesai, Felix membawa Jolina ke sudut ruangan yang sedikit lebih tenang, menjauh dari para tamu yang mulai menikmati jamuan minuman keras. Ia meletakkan gelas minumannya di atas meja kecil dan berbalik sepenuhnya ke arah Jolina, menghalangi pandangan siapa pun terhadap istrinya. "Ada apa denganmu?" tanya Felix. Suaranya rendah, namun mengandung nada menuntut yang tidak bisa diabaikan. Jolina tidak menjawab. Ia terus menunduk, menatap ujung sepatu putihnya. Ia tidak tahu harus mulai dari mana. Jika ia mengatakan siapa Oliver sebenarnya, apakah Felix akan marah? Atau apakah Felix justru akan menertawakannya? "Jolina, tatap aku," perintah Felix lebih tegas. Ia meraih dagu Jolina, memaksanya mendongak. "Kau gemetar seperti kelinci yang mencium bau serigala. Kau terus menempel padaku sejak tadi. Katakan padaku, apa yang membuatmu ketakutan?" Jolina menggigit bibir bawahnya, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Aku... aku hanya lelah, Tuan." Rahang Felix mengeras. Ia tidak suka kebohongan, apalagi ketidakpatuhan. Baginya, Jolina adalah miliknya, dan tidak boleh ada satu pun rahasia yang disembunyikan darinya. "Kau tahu aku tidak suka jika kau tidak patuh, Jolina. Jangan mengujiku di hari pernikahan kita. Katakan, kenapa kau tidak mau lepas dariku? Apa yang kau lihat?" Jolina baru saja hendak membuka mulutnya, mencari alasan lain yang lebih masuk akal, ketika sebuah suara langkah kaki yang mantap mendekat ke arah mereka. Langkah kaki yang sangat dikenali oleh telinga Jolina. "Sepertinya kakakku tercinta sedang menginterogasi pengantin barunya yang cantik," suara itu terdengar ringan, namun penuh dengan racun yang terselubung. Jolina membeku. Tubuhnya mendadak kaku seperti batu. Ia mencengkeram lengan Felix lebih erat, hingga kepalanya tanpa sadar bersandar pada bahu suaminya, mencari perlindungan. Oliver berdiri di sana, tepat di depan mereka. Ia tampak sangat tenang, memegang gelas champagne dengan gaya yang elegan. Matanya menatap Jolina dengan intensitas yang mengerikan, sebuah tatapan yang penuh dengan obsesi lama yang belum tuntas. Senyumnya melebar saat melihat betapa ketakutannya Jolina. Felix melepaskan tangannya dari dagu Jolina dan merangkul pinggang wanita itu dengan posesif, seolah merasakan ancaman yang datang dari arah pria di depannya. "Kau datang juga, Oliver," ucap Felix dengan nada dingin yang tidak bersahabat. Oliver tertawa kecil, suara tawa yang membuat bulu kuduk Jolina merinding. Ia mengalihkan pandangannya dari Jolina ke arah Felix, namun hanya untuk sesaat. "Tentu saja aku datang. Mana mungkin aku melewatkan pernikahan kakakku sendiri?" Oliver melangkah selangkah lebih maju, membuat Jolina hampir menjerit kecil karena takut. Oliver mengangkat gelasnya tinggi-tinggi ke arah Felix, namun matanya tetap terkunci pada Jolina yang kini pucat pasi. "Selamat, Kakak Ipar," ucap Oliver dengan penekanan yang sangat aneh pada kata 'Ipar'. Dunia Jolina seolah berhenti berputar. Kakak? Felix dan Oliver adalah saudara? Jolina merasa kepalanya berdenyut hebat. Pria yang menjual ayahnya ke neraka ini adalah kakak dari pria yang pernah menjadikannya target obsesi selama bertahun-tahun. Ia terjebak di tengah-tengah dua bersaudara yang paling berbahaya di kota ini. "Kau tampak sangat terkejut, Sayang," bisik Oliver, suaranya cukup rendah hanya untuk didengar oleh Jolina dan Felix. Ia kemudian mencondongkan tubuhnya ke arah telinga Jolina, mengabaikan tatapan mematikan dari Felix. "Kau pikir kau bisa lari dariku dengan menikahi saudaraku? Kau salah besar, Jolina. Sekarang, kau justru berada di bawah atap yang sama denganku. Dan aku... aku tidak suka berbagi mainan, bahkan dengan kakakku sendiri." Felix langsung menyentakkan bahu Jolina menjauh dari jangkauan Oliver, tangannya kini berada di gagang senjata di balik jasnya. Ketegangan di antara kedua pria itu meledak seketika, menciptakan keheningan yang mematikan di sekitar mereka. "Jaga bicaramu, Oliver. Dia istriku," geram Felix, suaranya seperti guntur yang tertahan. Oliver hanya tersenyum tipis, matanya berkilat penuh kemenangan. "Istri? Atau sekadar tebusan hutang? Kita lihat saja berapa lama kau bisa mempertahankannya sebelum dia sendiri yang memohon untuk kembali padaku." Oliver berbalik dan melangkah pergi, meninggalkan Jolina yang nyaris jatuh pingsan di pelukan Felix. Felix menatap punggung saudaranya dengan dendam yang membara, sementara tangannya meremas pinggang Jolina dengan sangat kuat, seolah takut jika ia melonggarkan pegangannya sesenti saja, istrinya akan lenyap ditelan kegelapan. Jolina mendongak menatap Felix dengan wajah penuh air mata. "Tuan... apa yang terjadi?" Felix tidak menjawab. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan mata yang penuh dengan rencana gelap. "Kau tidak akan pernah keluar dari rumah ini tanpa pengawasanku, Jolina. Mulai malam ini, neraka yang kau takuti baru saja dimulai."Mansion keluarga Benharg tampak seperti benteng batu yang dingin di bawah langit pagi yang mendung. Felix sedang mengenakan jas antipelurunya dengan gerakan yang efisien dan penuh amarah yang tertahan. Di seberangnya, Jolina berdiri dengan mata sembab namun penuh tekad. Ia sudah mendengar pembicaraan Felix di telepon; ia tahu ibunya ada di tempat ini."Aku ikut," ucap Jolina tegas.Felix berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun. "Tidak. Kau tetap di sini dengan pengawalan maksimal. Tempat itu adalah sarang ular, Jolina. Ayahku dan Oliver tidak akan segan-segan menggunakanmu untuk memeras leherku.""Dia ibuku, Felix!" Jolina melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka."Sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayang kehilangannya. Aku tidak peduli seberapa berbahaya tempat itu. Jika kau meninggalkanku di sini, aku akan gila karena kecemasan. Tolong... biarkan aku melihat wajahnya sekali saja."
Sinar matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar utama mansion Wesley. Cahaya itu jatuh di atas wajah Jolina, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak. Untuk sesaat, ia merasa disorientasi. Ingatan tentang bentakan Felix, rasa mual di kamar mandi, hingga pengakuan jujur pria itu tentang ibunya semalam, berputar di kepalanya seperti kepingan film yang rusak.Jolina meraba sisi ranjang di sebelahnya. Dingin. Felix sudah tidak ada di sana.Ia berusaha bangkit, namun rasa pusing yang hebat mendadak menghantam kepalanya. Pandangannya sedikit mengabur, sisa-sisa stres luar biasa dari kejadian kemarin malam masih meninggalkan jejak di tubuhnya. Jolina memijat pelipisnya, mendesah pelan saat rasa malu mulai merayapi hatinya.Bagaimana bisa aku begitu bodoh? batinnya menyalahkan diri sendiri. Ia telah mempercayai secarik kertas tanpa identitas dan menuduh suaminya sebagai penculik ibunya, padahal Fel
Suasana di restoran mewah yang tadinya romantis seketika berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan. Genggaman tangan Felix pada pergelangan tangan Jolina tidak lagi hangat, itu adalah cengkeraman baja yang menuntut kejujuran. Sebelum Jolina sempat menyembunyikan foto usang itu ke dalam tasnya, Felix sudah lebih dulu menyambarnya dengan gerakan secepat kilat.Felix menatap foto itu. Matanya menyipit, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia menatap sosok wanita di foto itu—ibu Jolina—lalu beralih pada tulisan tangan di baliknya. Keheningan yang menyusul terasa begitu berat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh kemarahan yang mulai mendidih di balik dada Sang Don. Jolina tidak berani bernapas. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap pangkuannya sendiri sambil meremas kain gaun biru safirnya hingga kusut. Jantungnya berdegup begitu kencang, memberikan rasa
Kegelapan malam di dalam kamar itu mendadak terasa menyesakkan bagi Jolina. Setelah membaca pesan misterius yang diselipkan di bawah pintu balkon, jantungnya berpacu seirama dengan detak jarum jam di dinding. Kata-kata itu—Proyek Mawar Hitam—terasa seperti belati dingin yang menusuk tepat ke pusat traumanya. Ibunya, sosok yang menghilang tanpa jejak sepuluh tahun lalu, kini kembali menghantui dalam bentuk tuduhan mengerikan terhadap pria yang sedang memeluknya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan Felix, Jolina merangkak turun dari ranjang. Lantai marmer yang dingin menyentuh telapak kakinya, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia berlutut di samping ranjang, jemarinya meraba-raba kolong kayu jati yang megah itu. Nafasnya tertahan. Ia mencari sebuah celah, sebuah tonjolan, atau apa pun yang menyerupai brankas kecil seperti yang disebutkan dalam surat itu. Ia meraba hingga ke sudut terdalam, debu tipis
Keamanan di kediaman Felix Wesley kini berubah menjadi benteng yang nyaris mustahil ditembus. Kejadian kamera pengintai di rumah sakit tempo hari telah menyulut api kemarahan sekaligus kecurigaan yang luar biasa di dalam diri Felix. Ia tidak lagi bisa mempercayai bayangannya sendiri. Satu per satu, pelayan, koki, hingga tim penjaga ring terluar diinterogasi secara brutal. Felix yakin, Oliver tidak mungkin bisa menembus privasinya tanpa bantuan orang dalam. Ada pengkhianat yang telah menjual informasi demi kepingan uang dari adiknya yang licik itu. Namun, di hadapan Jolina, Felix tetaplah samudra yang tenang. Ia tidak ingin istrinya yang sedang mengandung itu kembali didera ketakutan. Satu bulan kemudian, Jolina mulai menikmati masa-masa keemasannya. Perutnya mulai sedikit membuncit, sebuah tonjolan kecil yang selalu membuat Felix tersenyum tipis setiap kali ia mengusapnya sebelum tidur. Kelembutan Felix b
Lampu-lampu rumah sakit berpendar temaram saat Felix melangkah menyusuri lorong VIP yang dijaga ketat. Langkah kakinya yang biasanya terdengar seperti dentuman sepatu tentara, kini ia pelankan. Ada kegelisahan yang aneh di dadanya, sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan setelah menghancurkan musuh atau memenangkan negosiasi jutaan dolar. Felix berhenti di depan pintu kamar rawat Jolina. Melalui celah kaca kecil, ia melihat pemandangan yang membuatnya terpaku. Jolina sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya yang pucat kini sedikit lebih berwarna di bawah cahaya lampu nakas yang kekuningan. Wanita itu tampak sangat fokus, jemari tangannya yang mungil memegang sebuah pena, menggoreskan kata-kata di atas sebuah buku diary kecil bersampul beludru. Felix tidak langsung masuk. Ia berdiri di sana, mengamati istrinya dari balik bayang-bayang. Ia memperhatikan bagaimana rambut Jolina ya