MasukWaktu seolah membeku di dalam mansion megah milik Felix. Satu bulan telah berlalu sejak hari pernikahan yang terasa seperti pemakaman itu, namun bagi Jolina, setiap detik yang ia lalui tetap terasa seperti berjalan di atas mata pisau.
Felix tidak berubah. Pria itu tetaplah Sang Don yang dingin, otoritasnya mutlak, dan kehadirannya selalu mendominasi setiap jengkal napas Jolina. Di balik pintu kamar mereka, Felix tetaplah pria yang kasar dan hyper, menuntut setiap inci tubuh Jolina sebagai pemuas hasratnya yang seolah tak pernah ada habisnya. Namun, di balik kepasrahan fisik Jolina, tubuhnya mulai meneriakkan sesuatu yang tidak bisa ia abaikan lagi. Selama beberapa minggu terakhir, Jolina merasa ada yang salah dengan dirinya. Lemas yang luar biasa seringkali menyerangnya di tengah hari, membuat dunianya seolah berputar. Dan mual... rasa mual itu seperti tamu tak diundang yang menetap di kerongkongannya, muncul setiap kali ia mencium bau parfum Felix yang tajam atau aroma masakan yang terlalu berbumbu. "Kau pucat lagi, Jolina," ucap Felix suatu pagi, matanya menyipit memperhatikan istrinya yang sedang berusaha menyesap teh jahe di balkon. "Aku hanya kurang tidur, Tuan," jawab Jolina pelan, matanya menunduk. Ia tidak berani mengatakan bahwa ia memuntahkan seluruh makan malamnya tadi subuh. "Aku akan memanggil dokter pribadi keluarga untuk memeriksamu sore ini," Felix berdiri, merapikan jasnya. "Tidak!" Jolina menjawab terlalu cepat, nadanya hampir menyerupai kepanikan. "Maksudku... tidak perlu, Tuan. Aku benar-benar tidak apa-apa. Mungkin hanya perubahan cuaca. Aku hanya butuh lebih banyak istirahat." Jolina menolak bukan tanpa alasan. Ia takut. Ia takut jika dokter menemukan sesuatu yang tidak diinginkannya. Ia takut jika kondisi tubuhnya adalah hasil dari stres berkepanjangan karena harus melayani pria sedingin Felix sekaligus menghindari bayang-bayang Oliver. Bicara tentang Oliver, pria itu kini menjadi mimpi buruk yang nyata. Sejak hari pernikahan, Oliver mulai berani menampakkan diri di mansion Felix dengan dalih "kunjungan persaudaraan". Felix, meski tampak tidak menyukai adiknya, tidak bisa melarang Oliver masuk sepenuhnya karena urusan bisnis keluarga yang saling bertautan. Setiap kali Oliver datang, Jolina akan mengunci diri di kamar atau bersembunyi di perpustakaan. Namun, Oliver selalu menemukan cara untuk memberikan tekanan. Pernah suatu ketika, saat Felix sedang menerima telepon di taman, Oliver berpapasan dengan Jolina di lorong. "Masih mencoba menjadi istri yang baik untuk kakakku, Sayang?" bisik Oliver saat itu, suaranya mengandung ancaman yang membuat Jolina merinding. "Kau pikir dia akan tetap mencintaimu jika dia tahu berapa kali kau memohon padaku untuk melepaskanmu dulu? Berapa kali kau menangis di depanku? Aku bisa menghancurkan citra 'suci' yang kau bangun di depannya dalam sekejap." Jolina hanya bisa gemetar. Ia takut Oliver akan memutarbalikkan fakta, mengatakan pada Felix bahwa Jolina dan Oliver pernah memiliki hubungan spesial di masa lalu, padahal kenyataannya Jolina adalah korban pengejaran obsesif Oliver. Ia tahu karakter Felix, jika pria itu merasa dikhianati atau dibohongi, amarahnya tidak akan menyisakan ruang untuk penjelasan. Ketegangan itu mencapai puncaknya pada suatu malam yang gerimis. Felix dan Jolina sedang duduk berhadapan di meja makan panjang yang diterangi cahaya lilin. Aroma daging panggang memenuhi ruangan, sebuah hidangan yang biasanya Jolina sukai. Namun malam ini, aroma lemak dan rempah itu terasa seperti racun bagi indra penciumannya. Jolina mencoba menyuap satu potong kecil daging, namun saat makanan itu menyentuh lidahnya, perutnya bergejolak hebat. Ia menutup mulutnya, mencoba menelan paksa rasa mual itu demi menjaga harga diri di depan Felix. "Makan masakanmu, Jolina. Jangan hanya memainkannya," tegur Felix dingin. Jolina mencoba mengangguk, namun gelombang mual kedua datang lebih kuat. Wajahnya seketika berubah pucat pasi, keringat dingin muncul di keningnya. Pandangannya mengabur. Suara denting alat makan yang digunakan Felix terdengar seperti dentuman keras di telinganya. "Jolina?" Suara Felix terdengar menjauh. Tiba-tiba, Jolina merasa tubuhnya kehilangan tulang penyangga. Ia tersungkur dari kursi, jatuh ke lantai marmer yang dingin sebelum akhirnya kegelapan menelannya sepenuhnya. "JOLINA!" Felix melompat dari kursinya, suaranya menggelegar penuh kepanikan yang jarang ia tunjukkan. Ia segera mengangkat tubuh mungil istrinya dan berteriak memanggil kepala pelayan. "Panggil Dokter sekarang! Jika dia tidak sampai dalam sepuluh menit, aku akan membakar kliniknya!" Dokter keluarga, seorang pria paruh baya bernama Dr. Aris, tiba dengan napas tersenggal. Felix berdiri di samping ranjang dengan rahang yang mengeras, matanya tak lepas dari wajah Jolina yang masih tak sadarkan diri. Setelah melakukan pemeriksaan singkat dan mengambil sampel darah dengan peralatan cepat, Dr. Aris berbalik menatap Felix. Ada senyum tipis di wajah sang dokter, namun ia juga terlihat ragu melihat ekspresi Felix yang menakutkan. "Tuan Felix, ada kabar baik," ucap Dr. Aris pelan. "Katakan saja," perintah Felix tajam. "Nyonya Jolina tengah mengandung. Usia kandungannya sudah berjalan sekitar empat minggu lebih," jelas sang dokter. Felix terpaku. Dunia seolah berhenti sejenak. Mengandung? Ada rasa senang yang meledak di dadanya—sebuah naluri primitif untuk memiliki keturunan. Namun, detik berikutnya, keraguan menyusup. Sebuah perhitungan matematis mulai berjalan di kepalanya. Satu bulan pernikahan... empat minggu kandungan. "Empat minggu?" desis Felix. Matanya berubah gelap. Ia mengingat kembali saat pertama kali ia menyentuh Jolina secara agresif setelah ayahnya menyerahkannya. Felix teringat dengan jelas malam itu. Malam di mana ia memperlakukan Jolina seperti mangsa. Ia juga teringat pagi harinya, saat ia mengganti sprei ranjangnya. Ada noda merah yang tertinggal di sana—bukti tak terbantahkan bahwa Jolina masih perawan saat ia pertama kali menyentuhnya. Tidak ada pria lain sebelumnya. Felix menatap dokter itu dengan tajam, seolah sedang menginterogasi tahanan. "Pastikan hitunganmu benar, Dokter. Jika dia perawan saat pertama kali aku menyentuhnya tepat satu bulan lalu, apakah anak ini...?" Dr. Aris mengangguk mantap. "Tentu, Tuan. Berdasarkan siklus dan bukti fisik yang Anda sebutkan, sudah dapat dipastikan secara medis bahwa anak yang dikandung Nyonya saat ini adalah anak biologis Anda. Noda itu adalah buktinya. Proses pembuahan terjadi tepat di malam-malam awal kebersamaan Anda." Felix menghela napas panjang, sebuah beban berat seolah terangkat dari bahunya, namun segera digantikan oleh rasa posesif yang ribuan kali lebih kuat. Ia mendekat ke ranjang, duduk di samping Jolina, dan mengusap perut istrinya yang masih rata dengan tangan besarnya. Ada nyawa di sana. Darah dagingnya. Namun, di tengah rasa puas itu, sebuah pikiran gelap kembali melintas. Oliver. Adiknya itu terus-menerus mengincar istrinya. Tepat saat itu, Jolina mulai sadar. Matanya terbuka perlahan, menatap Felix yang sedang memegang perutnya. Ia melihat dokter di sana dan langsung menyadari apa yang terjadi. Ketakutan kembali menghiasi wajahnya. "Tuan Felix... aku..." bisik Jolina gemetar. Felix mendekatkan wajahnya, mengecup kening Jolina dengan intensitas yang mencekam. "Kau mengandung anakku, Jolina. Kau membawa pewaris takhtaku di dalam sini." Jolina menangis pelan, antara lega dan takut. Namun, kebahagiaan singkat itu hancur saat terdengar suara tepuk tangan pelan dari ambang pintu kamar yang terbuka sedikit. Oliver berdiri di sana, bersandar di pintu dengan ekspresi yang sulit diartikan. Ia rupanya belum pergi dari mansion. "Wah, wah... sebuah kejutan yang luar biasa," ucap Oliver, matanya menatap tajam ke arah perut Jolina. "Keponakan baru, hm? Atau... haruskah aku menyebutnya 'hadiah' yang tertunda?" Felix berdiri, menghalangi pandangan Oliver terhadap Jolina. "Pergi dari sini, Oliver. Sebelum aku benar-benar membunuhmu." Oliver tertawa sinis, lalu ia berjalan mendekat tanpa rasa takut, berbisik cukup keras agar Jolina bisa mendengarnya. "Kau yakin itu anakmu, Felix? Kau tahu kan, aku sering mengunjungi Jolina secara sembunyi-sembunyi saat kau sedang mengurus bisnismu di luar kota? Jolina pandai menyimpan rahasia, bukan begitu, Kakak Ipar?" Jolina membelalakkan mata, ia ingin berteriak bahwa Oliver berbohong, namun suaranya tercekat. Felix terdiam, tubuhnya kaku, dan perlahan ia menoleh ke arah Jolina dengan tatapan yang kini bukan lagi penuh cinta, melainkan keraguan yang mematikan. Di saat yang sama, Oliver melemparkan sebuah benda kecil ke atas ranjang—sebuah anting milik Jolina yang hilang satu minggu lalu, yang seharusnya berada di kamar pribadi Jolina, namun kini berada di tangan Oliver. "Lalu, bagaimana anting ini bisa ada di kantong celanaku pagi ini, Jolina?" tanya Oliver dengan nada polos yang berbisa.Mansion keluarga Benharg tampak seperti benteng batu yang dingin di bawah langit pagi yang mendung. Felix sedang mengenakan jas antipelurunya dengan gerakan yang efisien dan penuh amarah yang tertahan. Di seberangnya, Jolina berdiri dengan mata sembab namun penuh tekad. Ia sudah mendengar pembicaraan Felix di telepon; ia tahu ibunya ada di tempat ini."Aku ikut," ucap Jolina tegas.Felix berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun. "Tidak. Kau tetap di sini dengan pengawalan maksimal. Tempat itu adalah sarang ular, Jolina. Ayahku dan Oliver tidak akan segan-segan menggunakanmu untuk memeras leherku.""Dia ibuku, Felix!" Jolina melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka."Sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayang kehilangannya. Aku tidak peduli seberapa berbahaya tempat itu. Jika kau meninggalkanku di sini, aku akan gila karena kecemasan. Tolong... biarkan aku melihat wajahnya sekali saja."
Sinar matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar utama mansion Wesley. Cahaya itu jatuh di atas wajah Jolina, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak. Untuk sesaat, ia merasa disorientasi. Ingatan tentang bentakan Felix, rasa mual di kamar mandi, hingga pengakuan jujur pria itu tentang ibunya semalam, berputar di kepalanya seperti kepingan film yang rusak.Jolina meraba sisi ranjang di sebelahnya. Dingin. Felix sudah tidak ada di sana.Ia berusaha bangkit, namun rasa pusing yang hebat mendadak menghantam kepalanya. Pandangannya sedikit mengabur, sisa-sisa stres luar biasa dari kejadian kemarin malam masih meninggalkan jejak di tubuhnya. Jolina memijat pelipisnya, mendesah pelan saat rasa malu mulai merayapi hatinya.Bagaimana bisa aku begitu bodoh? batinnya menyalahkan diri sendiri. Ia telah mempercayai secarik kertas tanpa identitas dan menuduh suaminya sebagai penculik ibunya, padahal Fel
Suasana di restoran mewah yang tadinya romantis seketika berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan. Genggaman tangan Felix pada pergelangan tangan Jolina tidak lagi hangat, itu adalah cengkeraman baja yang menuntut kejujuran. Sebelum Jolina sempat menyembunyikan foto usang itu ke dalam tasnya, Felix sudah lebih dulu menyambarnya dengan gerakan secepat kilat.Felix menatap foto itu. Matanya menyipit, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia menatap sosok wanita di foto itu—ibu Jolina—lalu beralih pada tulisan tangan di baliknya. Keheningan yang menyusul terasa begitu berat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh kemarahan yang mulai mendidih di balik dada Sang Don. Jolina tidak berani bernapas. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap pangkuannya sendiri sambil meremas kain gaun biru safirnya hingga kusut. Jantungnya berdegup begitu kencang, memberikan rasa
Kegelapan malam di dalam kamar itu mendadak terasa menyesakkan bagi Jolina. Setelah membaca pesan misterius yang diselipkan di bawah pintu balkon, jantungnya berpacu seirama dengan detak jarum jam di dinding. Kata-kata itu—Proyek Mawar Hitam—terasa seperti belati dingin yang menusuk tepat ke pusat traumanya. Ibunya, sosok yang menghilang tanpa jejak sepuluh tahun lalu, kini kembali menghantui dalam bentuk tuduhan mengerikan terhadap pria yang sedang memeluknya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan Felix, Jolina merangkak turun dari ranjang. Lantai marmer yang dingin menyentuh telapak kakinya, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia berlutut di samping ranjang, jemarinya meraba-raba kolong kayu jati yang megah itu. Nafasnya tertahan. Ia mencari sebuah celah, sebuah tonjolan, atau apa pun yang menyerupai brankas kecil seperti yang disebutkan dalam surat itu. Ia meraba hingga ke sudut terdalam, debu tipis
Keamanan di kediaman Felix Wesley kini berubah menjadi benteng yang nyaris mustahil ditembus. Kejadian kamera pengintai di rumah sakit tempo hari telah menyulut api kemarahan sekaligus kecurigaan yang luar biasa di dalam diri Felix. Ia tidak lagi bisa mempercayai bayangannya sendiri. Satu per satu, pelayan, koki, hingga tim penjaga ring terluar diinterogasi secara brutal. Felix yakin, Oliver tidak mungkin bisa menembus privasinya tanpa bantuan orang dalam. Ada pengkhianat yang telah menjual informasi demi kepingan uang dari adiknya yang licik itu. Namun, di hadapan Jolina, Felix tetaplah samudra yang tenang. Ia tidak ingin istrinya yang sedang mengandung itu kembali didera ketakutan. Satu bulan kemudian, Jolina mulai menikmati masa-masa keemasannya. Perutnya mulai sedikit membuncit, sebuah tonjolan kecil yang selalu membuat Felix tersenyum tipis setiap kali ia mengusapnya sebelum tidur. Kelembutan Felix b
Lampu-lampu rumah sakit berpendar temaram saat Felix melangkah menyusuri lorong VIP yang dijaga ketat. Langkah kakinya yang biasanya terdengar seperti dentuman sepatu tentara, kini ia pelankan. Ada kegelisahan yang aneh di dadanya, sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan setelah menghancurkan musuh atau memenangkan negosiasi jutaan dolar. Felix berhenti di depan pintu kamar rawat Jolina. Melalui celah kaca kecil, ia melihat pemandangan yang membuatnya terpaku. Jolina sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya yang pucat kini sedikit lebih berwarna di bawah cahaya lampu nakas yang kekuningan. Wanita itu tampak sangat fokus, jemari tangannya yang mungil memegang sebuah pena, menggoreskan kata-kata di atas sebuah buku diary kecil bersampul beludru. Felix tidak langsung masuk. Ia berdiri di sana, mengamati istrinya dari balik bayang-bayang. Ia memperhatikan bagaimana rambut Jolina ya