Home / Mafia / Dekapan Tuan Mafia / 07. Nyala Api (18+)

Share

07. Nyala Api (18+)

Author: Marfia Aphro
last update Last Updated: 2026-01-06 19:05:00

Kemarahan Felix meledak seperti gunung api yang sudah ribuan tahun memendam lava. Saat anting milik Jolina itu mendarat di atas sprei putih, Felix tidak hanya melihat sebuah perhiasan, ia melihat sebuah penghinaan.

Namun, sisa-sisa kewarasannya masih mengarah pada pria yang berdiri dengan seringai licik di ambang pintu.

Felix menerjang Oliver, mencengkeram kerah kemeja adiknya itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menodongkan moncong pistol tepat di bawah rahang Oliver.

"Keluar dari rumahku sekarang juga, Oliver!" geram Felix, suaranya bukan lagi manusia, melainkan raungan binatang buas.

"Jika kau berani menginjakkan kaki di sini lagi, atau bahkan menyebut nama istriku dengan mulut kotor itu, aku bersumpah akan mencabikmu menjadi potongan-potongan kecil yang tak akan bisa dikenali bahkan oleh ibumu sendiri!"

Oliver hanya tertawa, tawa yang kering dan menjijikkan, sebelum akhirnya mengangkat tangan dan melangkah mundur saat para penjaga Felix mulai mengepungnya.

"Tenanglah, Kakak. Aku pergi. Tapi ingat, keraguan adalah benih yang akan memakanmu hidup-hidup."

Setelah pintu mansion berdentum tertutup, keheningan yang jauh lebih mematikan menyelimuti kamar utama. Dokter Aris sudah lama pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan suasana yang kini berbau ketakutan.

Jolina masih meringkuk di atas ranjang. Tubuhnya gemetar hebat, air matanya mengalir deras membasahi bantal. Ia ingin menjelaskan, ingin meneriakkan bahwa Oliver telah menyusup ke kamarnya saat Felix pergi dan mencuri anting itu, tapi lidahnya kelu.

Melihat sosok Felix yang berdiri mematung membelakanginya, Jolina tahu bahwa Sang Don telah berubah menjadi predator yang paling ganas.

Felix perlahan berbalik. Matanya merah, bukan karena air mata, tapi karena amarah yang mencapai titik didih. Ia mendekati ranjang dengan langkah yang berat dan terukur.

"Tuan Felix... dia berbohong..." bisik Jolina parau.

"Diam!" bentakan Felix membuat Jolina tersentak.

Felix tidak butuh penjelasan. Logikanya telah kalah oleh rasa cemburu yang membakar harga dirinya. Baginya, Jolina adalah miliknya secara absolut, dan pikiran bahwa ada pria lain—terutama Oliver—yang menyentuh miliknya adalah sebuah dosa yang tak termaafkan.

Rasa curiga itu meracuni hatinya, mengaburkan fakta medis yang baru saja ia dengar dari dokter.

Tanpa peringatan, Felix naik ke atas ranjang.

Ia menyambar pergelangan tangan Jolina dan menariknya dengan kasar ke tengah kasur. Ia tidak mempedulikan kondisi Jolina yang masih lemah setelah pingsan.

"Kau ingin disentuh, Jolina? Begitu cara kau melayani adikku di belakangku?" desis Felix, suaranya sarat dengan kebencian dan gairah yang menyimpang.

Ronde yang terjadi malam itu bukanlah sebuah penyatuan, melainkan sebuah hukuman. Felix menggagahi istrinya dengan tanpa ampun.

Dengan gerakan kasar, ia merobek pakaian tidur Jolina yang tipis, membiarkan kulit pucat istrinya terekspos di bawah cahaya lampu kamar yang temaram.

Ia tidak memberikan ciuman lembut, melainkan gigitan-gigitan yang meninggalkan tanda di bahu dan leher Jolina, seolah ingin menimpa jejak Oliver yang sebenarnya tidak pernah ada.

Felix mencengkeram gumpalan dada Jolina dengan kuat, meremasnya dengan agresivitas yang membuat Jolina merintih kesakitan. Tangannya yang besar menekan perut Jolina, tempat di mana benih kecil yang baru saja terdeteksi itu berada. Ia tidak peduli.

Saat ini, yang ia tahu hanyalah ia harus menanamkan dominasinya kembali ke dalam tubuh wanita itu.

Dengan satu sentakan brutal, Felix masuk ke dalam diri Jolina. Tidak ada pemanasan, tidak ada kelembutan. Jolina memekik pelan, sebuah jeritan yang tertahan oleh bantal saat wajahnya ditekan oleh Felix.

Tubuh Jolina yang lemah diguncang oleh gerakan Felix yang liar dan penuh amarah. Setiap hentakan terasa seperti sebuah tamparan bagi Jolina. Ia menangis tersedu-sedu, membiarkan wajahnya terbenam di antara bantal, mencoba menulikan telinganya dari suara napas Felix yang menderu seperti badai di telinganya.

Felix kehilangan kendali. Di dalam kepalanya, ia membayangkan Oliver menyentuh kulit Jolina, dan pikiran itu membuatnya bergerak semakin gila, tanpa ampun, tanpa sedikit pun memedulikan rintihan minta tolong istrinya.

Hasratnya malam itu adalah sebuah ledakan dari rasa dendam dan sakit hati yang bercampur aduk.

Hingga akhirnya, badai itu mencapai puncaknya. Felix mengerang rendah, menyalurkan seluruh emosinya ke dalam diri Jolina dengan satu kejutan terakhir yang membuat tubuh wanita itu lemas tak berdaya di bawahnya.

Felix ambruk di samping Jolina, napasnya perlahan mulai teratur. Selama beberapa menit, hanya ada suara detak jam di dinding dan isak tangis tertahan dari Jolina yang masih membenamkan wajahnya di bantal.

Perlahan, kabut amarah di mata Felix mulai menipis. Kesadaran mulai merayap kembali ke dalam otaknya. Ia menoleh ke samping, melihat Jolina yang gemetar hebat.

Ia melihat bekas merah di pergelangan tangan istrinya yang ia cengkeram tadi, dan tanda-tanda gigitan di bahunya yang kini membiru.

Tiba-tiba, sebuah pikiran yang menakutkan melintas di benaknya.

Bagaimana kalau Oliver memang sengaja?

Felix mengenal adiknya dengan baik. Oliver adalah ular yang licik. Ia tahu betapa emosionalnya Felix jika menyangkut kepemilikan.

Bagaimana kalau Oliver sengaja membawa anting itu hanya untuk memicu amarah Felix? Bagaimana kalau tujuannya adalah agar Felix menyakiti Jolina, sehingga Jolina akan merasa benci dan ingin lari darinya?

Lalu, Felix teringat kata-kata dokter. Noda merah di malam pertama. Perhitungan usia kandungan yang sangat akurat dengan waktu kepulangan Felix satu bulan lalu.

"Jolina..." panggil Felix lirih. Suaranya tidak lagi kasar, melainkan penuh dengan nada yang ia sendiri tidak sanggup definisikan, rasa bersalah.

Jolina tidak bergerak. Ia tetap meringkuk, menyembunyikan wajahnya di bantal, hanya bahunya yang naik turun karena tangis yang tak kunjung reda.

Ia merasa hancur. Bukan hanya fisiknya yang sakit, tapi jiwanya yang kini merasa sangat hina di bawah pria yang seharusnya melindunginya.

Felix mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh punggung Jolina, namun wanita itu tersentak seolah baru saja tersengat listrik.

Penolakan halus itu terasa seperti belati yang menusuk dada Felix. Rasa bersalah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—rasa yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang Don—kini mencekik lehernya.

Bagaimana jika bayi itu memang benar-benar anaknya? Dan ia baru saja melakukan hal yang membahayakan nyawa kecil itu demi egonya sendiri?

Felix duduk di tepi ranjang, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia menatap ke arah pintu, membayangkan Oliver yang mungkin saat ini sedang tertawa di luar sana karena rencananya berhasil. Felix telah menjadi monster yang diinginkan adiknya.

Ia kembali menatap Jolina yang masih diam membatu. Felix mendekat perlahan, meraba dahi Jolina yang terasa panas.

Saat Felix menarik tangannya, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Di atas sprei yang berantakan, tepat di bawah tubuh Jolina, terdapat rembesan cairan bening kemerahan yang perlahan mulai meluas. Jolina tidak lagi menangis, ia telah pingsan karena menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.

Felix membelalakkan mata, ia meraba cairan itu dan menyadari bahwa itu adalah darah.

"Jolina! Bangun!" teriak Felix dengan suara yang penuh ketakutan.

Saat ia mengangkat tubuh istrinya yang terkulai lemas, sebuah kertas terjatuh dari balik bantal Jolina—sebuah surat yang belum sempat Jolina berikan, berisi hasil tes mandiri yang ia lakukan beberapa hari lalu dengan tulisan tangan yang gemetar.

'Aku sangat takut, tuan. Tanpa kusadari, diam-diam aku mencintaimu. Aku harap kau akan bahagia dan menjadi lebih baik padaku saat tahu tentang bayi kita.'

"Ah, sial!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dekapan Tuan Mafia   15. Di bawah Langit Benharg

    Mansion keluarga Benharg tampak seperti benteng batu yang dingin di bawah langit pagi yang mendung. Felix sedang mengenakan jas antipelurunya dengan gerakan yang efisien dan penuh amarah yang tertahan. Di seberangnya, Jolina berdiri dengan mata sembab namun penuh tekad. Ia sudah mendengar pembicaraan Felix di telepon; ia tahu ibunya ada di tempat ini."Aku ikut," ucap Jolina tegas.Felix berhenti sejenak, menoleh dengan tatapan yang bisa membekukan darah siapa pun. "Tidak. Kau tetap di sini dengan pengawalan maksimal. Tempat itu adalah sarang ular, Jolina. Ayahku dan Oliver tidak akan segan-segan menggunakanmu untuk memeras leherku.""Dia ibuku, Felix!" Jolina melangkah maju, memangkas jarak di antara mereka."Sepuluh tahun aku hidup dalam bayang-bayang kehilangannya. Aku tidak peduli seberapa berbahaya tempat itu. Jika kau meninggalkanku di sini, aku akan gila karena kecemasan. Tolong... biarkan aku melihat wajahnya sekali saja."

  • Dekapan Tuan Mafia   14. Sisa Badai Semalam

    Sinar matahari pagi yang pucat menyelinap masuk melalui celah-celah gorden sutra di kamar utama mansion Wesley. Cahaya itu jatuh di atas wajah Jolina, membangunkannya dari tidur yang tidak nyenyak. Untuk sesaat, ia merasa disorientasi. Ingatan tentang bentakan Felix, rasa mual di kamar mandi, hingga pengakuan jujur pria itu tentang ibunya semalam, berputar di kepalanya seperti kepingan film yang rusak.Jolina meraba sisi ranjang di sebelahnya. Dingin. Felix sudah tidak ada di sana.Ia berusaha bangkit, namun rasa pusing yang hebat mendadak menghantam kepalanya. Pandangannya sedikit mengabur, sisa-sisa stres luar biasa dari kejadian kemarin malam masih meninggalkan jejak di tubuhnya. Jolina memijat pelipisnya, mendesah pelan saat rasa malu mulai merayapi hatinya.Bagaimana bisa aku begitu bodoh? batinnya menyalahkan diri sendiri. Ia telah mempercayai secarik kertas tanpa identitas dan menuduh suaminya sebagai penculik ibunya, padahal Fel

  • Dekapan Tuan Mafia   13. Janji Yang Rapuh

    Suasana di restoran mewah yang tadinya romantis seketika berubah menjadi medan perang yang sunyi namun mematikan. Genggaman tangan Felix pada pergelangan tangan Jolina tidak lagi hangat, itu adalah cengkeraman baja yang menuntut kejujuran. Sebelum Jolina sempat menyembunyikan foto usang itu ke dalam tasnya, Felix sudah lebih dulu menyambarnya dengan gerakan secepat kilat.Felix menatap foto itu. Matanya menyipit, rahangnya mengeras hingga otot-otot di lehernya menonjol. Ia menatap sosok wanita di foto itu—ibu Jolina—lalu beralih pada tulisan tangan di baliknya. Keheningan yang menyusul terasa begitu berat, seolah oksigen di ruangan itu telah habis terbakar oleh kemarahan yang mulai mendidih di balik dada Sang Don. Jolina tidak berani bernapas. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menatap pangkuannya sendiri sambil meremas kain gaun biru safirnya hingga kusut. Jantungnya berdegup begitu kencang, memberikan rasa

  • Dekapan Tuan Mafia   12. Di ambang Keraguan

    Kegelapan malam di dalam kamar itu mendadak terasa menyesakkan bagi Jolina. Setelah membaca pesan misterius yang diselipkan di bawah pintu balkon, jantungnya berpacu seirama dengan detak jarum jam di dinding. Kata-kata itu—Proyek Mawar Hitam—terasa seperti belati dingin yang menusuk tepat ke pusat traumanya. Ibunya, sosok yang menghilang tanpa jejak sepuluh tahun lalu, kini kembali menghantui dalam bentuk tuduhan mengerikan terhadap pria yang sedang memeluknya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati agar tidak membangunkan Felix, Jolina merangkak turun dari ranjang. Lantai marmer yang dingin menyentuh telapak kakinya, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia berlutut di samping ranjang, jemarinya meraba-raba kolong kayu jati yang megah itu. Nafasnya tertahan. Ia mencari sebuah celah, sebuah tonjolan, atau apa pun yang menyerupai brankas kecil seperti yang disebutkan dalam surat itu. Ia meraba hingga ke sudut terdalam, debu tipis

  • Dekapan Tuan Mafia   11. Duri di Dalam Daging

    Keamanan di kediaman Felix Wesley kini berubah menjadi benteng yang nyaris mustahil ditembus. Kejadian kamera pengintai di rumah sakit tempo hari telah menyulut api kemarahan sekaligus kecurigaan yang luar biasa di dalam diri Felix. Ia tidak lagi bisa mempercayai bayangannya sendiri. Satu per satu, pelayan, koki, hingga tim penjaga ring terluar diinterogasi secara brutal. Felix yakin, Oliver tidak mungkin bisa menembus privasinya tanpa bantuan orang dalam. Ada pengkhianat yang telah menjual informasi demi kepingan uang dari adiknya yang licik itu. Namun, di hadapan Jolina, Felix tetaplah samudra yang tenang. Ia tidak ingin istrinya yang sedang mengandung itu kembali didera ketakutan. Satu bulan kemudian, Jolina mulai menikmati masa-masa keemasannya. Perutnya mulai sedikit membuncit, sebuah tonjolan kecil yang selalu membuat Felix tersenyum tipis setiap kali ia mengusapnya sebelum tidur. Kelembutan Felix b

  • Dekapan Tuan Mafia   10. Benih Cinta Di antara Luka

    Lampu-lampu rumah sakit berpendar temaram saat Felix melangkah menyusuri lorong VIP yang dijaga ketat. Langkah kakinya yang biasanya terdengar seperti dentuman sepatu tentara, kini ia pelankan. Ada kegelisahan yang aneh di dadanya, sebuah perasaan yang tidak pernah ia rasakan setelah menghancurkan musuh atau memenangkan negosiasi jutaan dolar. Felix berhenti di depan pintu kamar rawat Jolina. Melalui celah kaca kecil, ia melihat pemandangan yang membuatnya terpaku. Jolina sedang duduk bersandar pada tumpukan bantal, wajahnya yang pucat kini sedikit lebih berwarna di bawah cahaya lampu nakas yang kekuningan. Wanita itu tampak sangat fokus, jemari tangannya yang mungil memegang sebuah pena, menggoreskan kata-kata di atas sebuah buku diary kecil bersampul beludru. Felix tidak langsung masuk. Ia berdiri di sana, mengamati istrinya dari balik bayang-bayang. Ia memperhatikan bagaimana rambut Jolina ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status