MasukKemarahan Felix meledak seperti gunung api yang sudah ribuan tahun memendam lava. Saat anting milik Jolina itu mendarat di atas sprei putih, Felix tidak hanya melihat sebuah perhiasan, ia melihat sebuah penghinaan.
Namun, sisa-sisa kewarasannya masih mengarah pada pria yang berdiri dengan seringai licik di ambang pintu. Felix menerjang Oliver, mencengkeram kerah kemeja adiknya itu dengan satu tangan, sementara tangan lainnya menodongkan moncong pistol tepat di bawah rahang Oliver. "Keluar dari rumahku sekarang juga, Oliver!" geram Felix, suaranya bukan lagi manusia, melainkan raungan binatang buas. "Jika kau berani menginjakkan kaki di sini lagi, atau bahkan menyebut nama istriku dengan mulut kotor itu, aku bersumpah akan mencabikmu menjadi potongan-potongan kecil yang tak akan bisa dikenali bahkan oleh ibumu sendiri!" Oliver hanya tertawa, tawa yang kering dan menjijikkan, sebelum akhirnya mengangkat tangan dan melangkah mundur saat para penjaga Felix mulai mengepungnya. "Tenanglah, Kakak. Aku pergi. Tapi ingat, keraguan adalah benih yang akan memakanmu hidup-hidup." Setelah pintu mansion berdentum tertutup, keheningan yang jauh lebih mematikan menyelimuti kamar utama. Dokter Aris sudah lama pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan suasana yang kini berbau ketakutan. Jolina masih meringkuk di atas ranjang. Tubuhnya gemetar hebat, air matanya mengalir deras membasahi bantal. Ia ingin menjelaskan, ingin meneriakkan bahwa Oliver telah menyusup ke kamarnya saat Felix pergi dan mencuri anting itu, tapi lidahnya kelu. Melihat sosok Felix yang berdiri mematung membelakanginya, Jolina tahu bahwa Sang Don telah berubah menjadi predator yang paling ganas. Felix perlahan berbalik. Matanya merah, bukan karena air mata, tapi karena amarah yang mencapai titik didih. Ia mendekati ranjang dengan langkah yang berat dan terukur. "Tuan Felix... dia berbohong..." bisik Jolina parau. "Diam!" bentakan Felix membuat Jolina tersentak. Felix tidak butuh penjelasan. Logikanya telah kalah oleh rasa cemburu yang membakar harga dirinya. Baginya, Jolina adalah miliknya secara absolut, dan pikiran bahwa ada pria lain—terutama Oliver—yang menyentuh miliknya adalah sebuah dosa yang tak termaafkan. Rasa curiga itu meracuni hatinya, mengaburkan fakta medis yang baru saja ia dengar dari dokter. Tanpa peringatan, Felix naik ke atas ranjang. Ia menyambar pergelangan tangan Jolina dan menariknya dengan kasar ke tengah kasur. Ia tidak mempedulikan kondisi Jolina yang masih lemah setelah pingsan. "Kau ingin disentuh, Jolina? Begitu cara kau melayani adikku di belakangku?" desis Felix, suaranya sarat dengan kebencian dan gairah yang menyimpang. Ronde yang terjadi malam itu bukanlah sebuah penyatuan, melainkan sebuah hukuman. Felix menggagahi istrinya dengan tanpa ampun. Dengan gerakan kasar, ia merobek pakaian tidur Jolina yang tipis, membiarkan kulit pucat istrinya terekspos di bawah cahaya lampu kamar yang temaram. Ia tidak memberikan ciuman lembut, melainkan gigitan-gigitan yang meninggalkan tanda di bahu dan leher Jolina, seolah ingin menimpa jejak Oliver yang sebenarnya tidak pernah ada. Felix mencengkeram gumpalan dada Jolina dengan kuat, meremasnya dengan agresivitas yang membuat Jolina merintih kesakitan. Tangannya yang besar menekan perut Jolina, tempat di mana benih kecil yang baru saja terdeteksi itu berada. Ia tidak peduli. Saat ini, yang ia tahu hanyalah ia harus menanamkan dominasinya kembali ke dalam tubuh wanita itu. Dengan satu sentakan brutal, Felix masuk ke dalam diri Jolina. Tidak ada pemanasan, tidak ada kelembutan. Jolina memekik pelan, sebuah jeritan yang tertahan oleh bantal saat wajahnya ditekan oleh Felix. Tubuh Jolina yang lemah diguncang oleh gerakan Felix yang liar dan penuh amarah. Setiap hentakan terasa seperti sebuah tamparan bagi Jolina. Ia menangis tersedu-sedu, membiarkan wajahnya terbenam di antara bantal, mencoba menulikan telinganya dari suara napas Felix yang menderu seperti badai di telinganya. Felix kehilangan kendali. Di dalam kepalanya, ia membayangkan Oliver menyentuh kulit Jolina, dan pikiran itu membuatnya bergerak semakin gila, tanpa ampun, tanpa sedikit pun memedulikan rintihan minta tolong istrinya. Hasratnya malam itu adalah sebuah ledakan dari rasa dendam dan sakit hati yang bercampur aduk. Hingga akhirnya, badai itu mencapai puncaknya. Felix mengerang rendah, menyalurkan seluruh emosinya ke dalam diri Jolina dengan satu kejutan terakhir yang membuat tubuh wanita itu lemas tak berdaya di bawahnya. Felix ambruk di samping Jolina, napasnya perlahan mulai teratur. Selama beberapa menit, hanya ada suara detak jam di dinding dan isak tangis tertahan dari Jolina yang masih membenamkan wajahnya di bantal. Perlahan, kabut amarah di mata Felix mulai menipis. Kesadaran mulai merayap kembali ke dalam otaknya. Ia menoleh ke samping, melihat Jolina yang gemetar hebat. Ia melihat bekas merah di pergelangan tangan istrinya yang ia cengkeram tadi, dan tanda-tanda gigitan di bahunya yang kini membiru. Tiba-tiba, sebuah pikiran yang menakutkan melintas di benaknya. Bagaimana kalau Oliver memang sengaja? Felix mengenal adiknya dengan baik. Oliver adalah ular yang licik. Ia tahu betapa emosionalnya Felix jika menyangkut kepemilikan. Bagaimana kalau Oliver sengaja membawa anting itu hanya untuk memicu amarah Felix? Bagaimana kalau tujuannya adalah agar Felix menyakiti Jolina, sehingga Jolina akan merasa benci dan ingin lari darinya? Lalu, Felix teringat kata-kata dokter. Noda merah di malam pertama. Perhitungan usia kandungan yang sangat akurat dengan waktu kepulangan Felix satu bulan lalu. "Jolina..." panggil Felix lirih. Suaranya tidak lagi kasar, melainkan penuh dengan nada yang ia sendiri tidak sanggup definisikan, rasa bersalah. Jolina tidak bergerak. Ia tetap meringkuk, menyembunyikan wajahnya di bantal, hanya bahunya yang naik turun karena tangis yang tak kunjung reda. Ia merasa hancur. Bukan hanya fisiknya yang sakit, tapi jiwanya yang kini merasa sangat hina di bawah pria yang seharusnya melindunginya. Felix mengulurkan tangannya, mencoba menyentuh punggung Jolina, namun wanita itu tersentak seolah baru saja tersengat listrik. Penolakan halus itu terasa seperti belati yang menusuk dada Felix. Rasa bersalah yang tak pernah ia rasakan sebelumnya—rasa yang tidak seharusnya dimiliki oleh seorang Don—kini mencekik lehernya. Bagaimana jika bayi itu memang benar-benar anaknya? Dan ia baru saja melakukan hal yang membahayakan nyawa kecil itu demi egonya sendiri? Felix duduk di tepi ranjang, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Ia menatap ke arah pintu, membayangkan Oliver yang mungkin saat ini sedang tertawa di luar sana karena rencananya berhasil. Felix telah menjadi monster yang diinginkan adiknya. Ia kembali menatap Jolina yang masih diam membatu. Felix mendekat perlahan, meraba dahi Jolina yang terasa panas. Saat Felix menarik tangannya, ia menyadari sesuatu yang mengerikan. Di atas sprei yang berantakan, tepat di bawah tubuh Jolina, terdapat rembesan cairan bening kemerahan yang perlahan mulai meluas. Jolina tidak lagi menangis, ia telah pingsan karena menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya. Felix membelalakkan mata, ia meraba cairan itu dan menyadari bahwa itu adalah darah. "Jolina! Bangun!" teriak Felix dengan suara yang penuh ketakutan. Saat ia mengangkat tubuh istrinya yang terkulai lemas, sebuah kertas terjatuh dari balik bantal Jolina—sebuah surat yang belum sempat Jolina berikan, berisi hasil tes mandiri yang ia lakukan beberapa hari lalu dengan tulisan tangan yang gemetar. 'Aku sangat takut, tuan. Tanpa kusadari, diam-diam aku mencintaimu. Aku harap kau akan bahagia dan menjadi lebih baik padaku saat tahu tentang bayi kita.' "Ah, sial!"Rerumputan liar dan pepohonan rimbun mengapit bangunan tua berdinding bata yang telah tampak merana di batas kota. Rumah lama keluarga Roberson berdiri membisu di bawah guyuran gerimis malam. Sebagian atapnya telah runtuh akibat kebakaran beberapa tahun silam, meninggalkan sisa-sisa kayu hitam dan pilar-pilar rapuh yang diselimuti lumut.Iring-iringan SUV hitam milik Felix berhenti tepat di halaman depan yang dipenuhi semak belukar. Felix melangkah turun dengan gerakan cepat. Wajahnya mengeras, sementara tangan kanannya yang terbungkus sarung tangan kulit hitam menggenggam revolver peraknya. Di saku jasnya, foto Nyonya Valerie yang baru saja didapatnya dari pria asing di persimpangan jalan terasa menekan dadanya bagai timah panas."Amankan seluruh perimeter! Jangan biarkan siapa pun lolos!" perintah Felix pada tim taktisnya.Satu tim pengawal berpelindung tubuh lengkap menyergap masuk terlebih dahulu, memecahkan sisa-sisa pintu kayu yang sudah lapuk. Suara derap sepatu bot bergaung
Malam membungkus kota dengan keheningan yang dingin. Hujan gerimis yang turun sejak sore meninggalkan permukaan aspal jalanan licin dan berkilat di bawah temaram lampu jalan. Sebuah iring-iringan tiga mobil SUV hitam melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalurnya, dipimpin langsung oleh Felix Wesley dari balik kemudi kendaraan paling depan. Mata elang Felix menatap lurus ke jalanan yang sepi. Informasi terbaru dari The Ghost mengenai sinyal ponsel Roberson yang bergerak mendekati rumah tua terus berputar di kepalanya. Pria itu menancap gas lebih dalam, membiarkan deru mesin mobilnya menggerung membelah malam. Fokusnya terkunci total pada brankas tua yang menyimpan rahasia tentang Valerie dan asal-usul Jolina. Namun, di sebuah persimpangan jalan utama yang sepi di batas kota, takdir memiliki rencananya sendiri. Sebuah mobil sedan mewah edisi terbatas berwarna hitam kelam, kendaraan berpelat diplomatik dengan sistem keamanan antipeluru tingkat tinggi, mendadak melaju memotong jalur
Keheningan manis di perpustakaan mansion terpaksa buyar saat ponsel satelit rahasia di saku kemeja Felix bergetar hebat. Sebuah nada getar berkode khusus, hanya digunakan oleh The Ghost untuk laporan yang sifatnya sangat darurat dan rahasia.Felix menarik napas perlahan, merapikan helai rambut Jolina yang sedikit berantakan di dahi. Ia mengecup kening istrinya sekilas. "Istirahatlah di kamar dulu, Jolina. Ada laporan keamanan yang harus kupantau sebentar."Jolina menatap Felix dengan binar mata yang masih menyisakan kehangatan ciuman mereka tadi. Wanita itu mengangguk pelan, mengusap lengan tegap suaminya sebelum melangkah keluar dari perpustakaan, membiarkan Felix kembali ke dalam sangkar tugasnya sebagai seorang Don.Begitu pintu tebal perpustakaan tertutup rapat, raut wajah Felix berubah seketika. Kehangatan yang baru saja ia tunjukkan pada Jolina menguap tanpa sisa, berganti menjadi ekspresi dingin dan penuh kewaspadaan. Ia menekan tombol penerima pada ponselnya dan menempelkannya
Pagi hari menyapa mansion Wesley dengan hamparan kabut tipis yang merayap pelan di antara pilar-pilar batu megah. Dari luar, suasana terkesan tenang dan tenteram, meski aroma halus tanah basah yang berbaur dengan jelaga sisa ledakan semalam masih membekas di sudut-sudut perbatasan halaman. Sisa-sisa pertempuran berdarah telah dibersihkan secara efisien oleh tim The Ghost, meninggalkan mansion dalam kedamaian tiruan yang mencekam.Di ruang makan utama yang luas, pendar sinar matahari pagi menembus jendela kaca tinggi, memantulkan cahaya lembut ke atas meja kayu mahoni yang terbentang panjang. Jolina duduk di salah satu sisi meja, mengaduk pelan mangkuk sup hangatnya dengan tatapan menerawang. Jubah sutra berwarna krem yang dikenakannya membungkus tubuhnya dengan anggun, memperlihatkan siluet kehamilannya yang mulai sedikit memadat.Di ujung meja, Felix duduk dengan kemeja putih yang lengannya tergulung hingga siku. Pria itu tampak sibuk menyesap kopi hitamnya sembari meneliti beberap
Di sebuah rumah tua terisolasi yang tersembunyi jauh di dalam rimbunnya hutan batas kota, napas ketakutan masih terasa begitu pekat. Bau mesiu, darah kering, dan asap rokok murahan memenuhi ruangan bersudut sempit yang hanya diterangi oleh sebuah lampu gantung kekuningan yang berkedip-kedip. Luar mansion Wesley mungkin telah sunyi, tetapi kepanikan sisa-sisa pelarian itu kini berkumpul di dalam pondok reyot ini.Vico duduk bersandar di sudut dinding kayu, mengepalkan kedua tangannya yang bernoda hitam bekas ledakan. Pakaian taktisnya robek di beberapa bagian, namun bukan luka fisik yang membuatnya membisu. Kepala Vico serasa mau pecah. Kalimat demi kalimat yang diucapkan Felix di balik kaca ruang panel keamanan terus berputar tanpa henti, merusak pertahanan keyakinan yang selama ini ia agungkan.“William Benharg adalah orang yang memegang kendali atas kasus hukum ayahmu... Siapa yang diuntungkan saat ayahmu masuk penjara dan Addison menghilang? Benharg, Vico. Bukan Addison.”Vico men
Asap rokok kembali mengepul, memenuhi ruang kendali bawah tanah yang sunyi. Felix Wesley masih duduk di kursi besarnya, menatap nanar barisan dokumen digital yang ditampilkan di layar monitor oleh The Ghost. Sejarah kelam tahun 2000-an itu memang telah membuka tabir tentang penjebakan Bryan dan pernikahan kedua William. Namun, bagi pria sekritis Felix, berkas-berkas itu justru meninggalkan lubang besar yang menganga di kepalanya. Felix mengetukkan jemarinya di atas meja mahoni dengan ritme yang konstan, mencerminkan isi pikirannya yang sedang berputar keras. Ada tiga pertanyaan besar yang belum terjawab. Pertama, kenapa Addison akhirnya menghilang dari mansion Benharg? Jika awalnya Addison memilih pasrah dan bertahan di bawah kungkungan William demi melindungi Felix yang masih balita, apa yang memicu pria itu pada akhirnya memutuskan untuk kabur dan menghilang seperti asap? Dan yang paling mengusik ketenangan Felix adalah sebaris kal
Langit-langit katedral tua itu dipenuhi dengan lukisan fresko para malaikat yang seolah menatap dingin ke arah bawah, menyaksikan sebuah persatuan yang jauh dari kata suci. Aroma dupa yang berat bercampur dengan wangi bunga lili putih yang melimpah di setiap sudut ruangan, menciptakan suasana yang
Suara langkah sepatu pantofel Felix yang beradu dengan lantai di luar kamar terdengar seperti detak jam kematian bagi Jolina. Ia segera bangkit dari posisinya di dekat jendela, merapikan jubah sutranya yang sedikit berantakan, dan duduk di tepi ranjang dengan jemari yang saling bertaut erat.
Denting kunci yang berputar dari luar barusan seolah menjadi penanda bahwa kebebasan Jolina telah mati. Kini, ia hanya bisa mondar-mandir di atas karpet beludru yang tebal, membiarkan jemari kakinya tenggelam dalam kelembutan kain yang terasa kontras dengan kekacauan di dalam dadanya. Kamar m
Cahaya matahari siang yang pucat menyelinap masuk melalui celah gorden yang berat, menusuk kelopak mata Jolina yang perih.Ia terbangun dalam keadaan linglung, sejenak berharap bahwa semua yang terjadi semalam hanya sekadar manifestasi dari mimpi buruk yang paling keji. Namun, saat ia mer







