MasukSuara benturan keras memecah keheningan ruang tamu di kediaman Adrian Arbein.
Sebuah vas porselen terlempar begitu saja dan hancur berkeping-keping di lantai marmer. Para pelayan hanya bisa menunduk dalam-dalam, tak ada yang berani mendekat sedikit pun bahkan istri Adrian sendiri. Adrian berdiri, napasnya memburu, jantungnya berdetak lebih kencang karena emosi yang tidak stabil. "Dua orang," ucapnya rendah. "Dua orang dewasa dan satu wanita cacat." Ia mengarahkan pandangan pada Monica dan Chris secara bergantian. Tatapan itu seperti menguliti keduanya hidup-hidup. "Bagaimana bisa kalian gagal membawa satu wanita lumpuh ke hadapanku?" tanya Adrian, emosi. "Siapkan alasan yang cukup logis, atau hukuman akan kalian terima." Monica yang gugup menggigit bibirnya. "Ayah, kami sudah hampir berhasil, tapi tiba-tiba ada pria lain di sana." Alis Adrian terangkan tipis. "Pria lain? Siapa pria berani itu?" "Pria itu datang sendirian," lanjut Monica, "tanpa pengawalan tapi ... dia bersikap paling berkuasa." Chris mengangguk. Wajahnya terlihat pucat sebab takut pada Adrian. "Pria itu mengancam kami. Saya terpaksa menarik Monica pergi karena pria itu terlalu tenang menghadapi situasi. Saya pikir kita harus memikirkan rencana lain." Adrian melangkah mendekat, berhenti tepat di hadapan Chris yang sigap menunduk karena takut. "Kau mundur hanya karena ancaman kosong pria itu? Kau memang tidak berguna." "Saya sangat yakin itu bukan hanya ancaman kosong," sahut Chris cepat, berusaha tenang. "Pria itu terlihat berkuasa. Dan ... Caroline menuruti setiap perkataannya." Kata terakhir itu membuat sorot mata Adrian berubah. "Menuruti?" ulangnya pelan. "Pria itu pasti bukan sekedar orang biasa." Adrian tiba-tiba tertawa kecil. Bukan tawa senang melainkan tawa kebencian. "William, ternyata mati pun kau masih menyusahkanku," gumamnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa. Punggungnya bersandar sambil pikirannya menerawang. "Caroline tidak mungkin dibiarkan sendiri tanpa sandaran," ucapnya tenang. "Jika ada pria yang berdiri di hadapannya sekarang, maka sudah pasti pria itu ada sangkut-pautnya dengan William." Monica menegakkan bahu. "Ayah, aku akan mencobanya lagi." Adrian menoleh perlahan. Tatapannya tajam. "Mencoba lagi?" ulangnya dingin. "Aku tidak memerintah kalian hanya untuk mengulang kegagalan yang sama." 'Sial!' batin Monica. Kata-kata ayahnya selalu saja tajam, seolah ia bukan anak yang diinginkan oleh pria itu. Adrian menarik napas panjang, lalu berkata dingin, "Sekarang tugas kalian adalah mencari tahu satu hal." Chris dan Monica saling pandang, tidak tahu. "Cari tahu siapa pria itu," lanjut Adrian. "Dan apa yang diinginkannya dari Caroline." Monica maju selangkah. "Bagaimana kita bisa tahu siapa pria itu, Ayah? Dia bahkan tidak menyebutkan namanya." "Kau jangan terlalu bodoh, Monica!" tegas Adrian. "Tugas semudah ini masa begitu saja kalian tidak bisa." Monica mendengus. Namun, ia tidak berani untuk membantah. "Pria yang datang tanpa nama biasanya punya sesuatu yang disembunyikan." Chris mengangkat kepala. "Maksud Anda?" "Pria itu tidak ingin kita tahu siapa dia," potong Adrian. "Itu berarti identitasnya kuat untuk membuatnya berhati-hati." Adrian menatap ke arah kaca jendela besar, memandang langit di luar sana. "Aku harus tahu siapa pria itu," katanya pelan. "Tidak ada pria tanpa nama yang berani ikut campur dalam urusan keluarga Arbein, terkecuali namanya saja sudah cukup untuk membuat orang lain mundur." "Jadi, langkah apa yang harus kita ambil?" tanya Chris. Sejujurnya ia sudah muak untuk terlibat dalam urusan keluarga gila Monica. Namun, perilaku pria yang bersama Caroline telah membuatnya muak. "Kalian cari tahu namanya." Monica mendongak pada ayahnya. "Bagaimana? Kita bahkan tidak tahu pria itu tinggal di mana." Adrian menyeringai tipis. "Setiap orang pasti meninggalkan jejak. Terutama pada orang yang memiliki kekuasaan." Adrian merogoh saku celananya, meraih ponsel, lalu menekan satu nomor. "Aku ingin seluruh rekaman CCTV rumah sakit yang di datangi putriku diberikan padaku hari ini,"perintahnya singkat. "Wajah pria yang melindungi Caroline ... aku ingin melihatnya. Cari tahu namanya sekarang." Sambungan terputus. Adrian menatap Chris dan Monica bergantian. "Selama kita masih belum tahu siapa dia, maka Caroline akan aman di bawah perlindungannya." Monica mengepalkan tangannya. Caroline memang selalu beruntung dalam segi apa pun. "Jika Ayah sudah tahu pria itu? Bagaimana jika dia benar-benar orang berbahaya? Kita bisa saja hancur dibuatnya." Sorot mata Adrian menggelap. "Kau meragukan kemampuan Ayahmu, Monica?" Refleks Monica menggeleng. Tatapannya beralih pada ibunya yang tengah memijit pangkal hidung, seolah mengejek kebodohannya. "Kita akan tahu," ucapnya pelan. "Apakah pria itu layak menjadi musuh ... atau sekedar batu sandungan yang harus disingkirkan." ~~~ Mobil Nicholas berhenti tepat di halaman mansion saat malam telah sepenuhnya menguasai. Caroline menatap bangunan megah itu dari balik kaca, kemudian mengembuskan napas panjang. Tanpa banyak bicara, Demon membantunya turun dan mendorong kursi rodanya perlahan memasuki mansion. Para pelayan sudah berjejer rapi, menundukkan kepala dalam diam. Tak satu pun berani menatap langsung padanya, atau lebih tepatnya pada Nicholas yang melangkah lebih dulu. Caroline menyadari satu hal yang membuat bulu tengkuknya meremang. Sejak di rumah sakit, ia merasa pengawalan untuknya semakin bertambah. "Aku tidak ingin terkurung seperti ini," ucapnya akhirnya saat memasuki ruang tengah. Nicholas berhenti melangkah. Ia berbalik memandangi Caroline dengan wajah datarnya. "Tidak ada yang mengurungmu," sahutnya datar. "Mereka hanya berjaga di luar. Kau masih bisa berkeliaran sesuka hati tanpa takut terganggu." Caroline tak menjawab. Ia menundukkan kepala dengan tangan mengepal di atas pangkuannya. Nicholas maju selangkah, tangannya meraih dagu Caroline, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam matanya. "Aku hanya tidak ingin mengulang kesalahan." "A-apa maksudmu?" "Aku terlalu lengah menjagamu hari ini. Itu saja." Caroline terkekeh pahit. Tangannya menjauhkan tangan Nicholas darinya. "Jadi sekarang aku harus menanggung akibat dari kelengahanmu, Nicholas?" Nicholas menunduk. Tangannya mencengkeram kursi roda dengan tatapan menghunus tajam, penuh perhitungan. "Kau menanggung akibat dari masih hidup, Nona Caroline." Kalimat itu membuat Caroline terdiam. "Mulai sekarang," lanjut Nicholas, "kau tidak akan keluar tanpa seizinku. Kau tidak suka rumah sakit? Aku akan menyediakan rumah sakit itu di sini." Caroline mengernyit. "Kau memperlakukanku sama seperti tahanan." "Tidak," bantah Nicholas, tenang. "Aku memperlakukanmu sama seperti aset yang terlalu berharga untuk hilang."Ketukan di pintu kamar Caroline terdengar singkat dan terukur, seolah si pengetuk tak membutuhkan jawaban untuk masuk.Nicholas melangkah ke dalam kamar Caroline dengan langkah tenang. Setelan hitamnya rapi, wajahnya dingin seperti biasa. Di tangannya, sebuah map cokelat tipis terjepit rapi, terlalu resmi untuk sekadar kunjungan singkat.Caroline yang tengah duduk di kursi rodanya mengangkat pandangannya. Ada firasat tak enak yang mengendap di dadanya bahkan sebelum pria itu berhenti di hadapannya.Nicholas meletakkan map itu pelan di atas meja kecil di samping ranjang.“Aku memberimu waktu untuk membacanya,” ucapnya singkat.Caroline menatap map itu beberapa detik sebelum meraihnya. Jemarinya sedikit gemetar saat membuka penutupnya. Deretan kalimat hukum menyambutnya, dingin, kaku, dan tanpa emosi.Perjanjian pranikah.Matanya bergerak perlahan, membaca satu demi satu pasal. Tentang pembagian aset. Tentang hak dan kewajiban. Tentang batasan yang harus ia patuhi sebagai calon istri Ni
Telepon di meja kerja Nicholas bergetar pelan, memecah kesunyian ruangan.Ia melirik layar sekilas sebelum mengangkatnya, ekspresi wajahnya tetap datar.“Ada apa menghubungiku?” tanyanya singkat.Suara di seberang sana terdengar tua, berat, dan sarat wibawa. Suara yang tidak membutuhkan teriakan untuk memerintah.“Kau sudah menemukannya, Nicholas?"Mendengar itu, Nicholas bersandar pada kursinya. “Menemukan siapa?”Keheningan menyapa sejenak, lalu suara berwibawa itu kembali terdengar, kali ini lebih dingin.“Wanita yang dulu sudah dijodohkan denganmu.”Jari Nicholas mengepal di atas meja. “Aku tidak lupa,” sahutnya pelan.“Baguslah,” kata pria tua itu. “Karena kau juga tidak boleh lupa satu hal lain.”Nada suaranya mengeras, tanpa emosi. “Kau akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu … hanya jika kau menikah dengan wanita itu.”Nicholas terdiam. Ia hanya menyimak tanpa ingin membantah. “Jika kau gagal,” lanjut sang kakek, “atau lebih buruk lagi salah memilih wanita lain,
Ruang kerja Adrian Arbein dipenuhi aroma tembakau yang belum sepenuhnya menghilang. Pria tua itu duduk tenang di balik meja kayu gelapnya, mendengarkan tanpa menyela, sementara Chris mondar-mandir dengan wajah memerah menahan kesal.“Pria itu benar-benar tidak tahu diri, Tuan,” geram Chris akhirnya. “Berani-beraninya dia bersikap seolah lebih tinggi dariku. Padahal dia hanya pria miskin yang bahkan tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.” Monica yang sejak tadi berdiri di samping jendela berbalik perlahan. Tatapannya tajam, bibirnya melengkung tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.“Dia bukan hanya sok,” ucapnya tenang, sarat kebencian. “Dia juga terlihat berbahaya.”Adrian mengangkat alis. “Berbahaya?”“Ya.” Monica melangkah mendekat. “Dia berani menyembunyikan Caroline, Ayah. Bahkan lebih dari itu, dia berani meremehkan kita. Seolah keberadaan keluarga Arbein tidak berarti apa-apa.”Chris mendengus. “Namanya hanya Nicholas. Itu saja yang dia berik
Hari itu, keberuntungan seolah tengah berpihak pada Chris dan Monica. Dari balik kaca mobil yang terparkir di seberang jalan raya, Monica menangkap sosok pria yang sedari lama mereka incar. "Itu dia, Chris," ucapnya cepat, menepuk bahu Chris. "Pria yang waktu itu."Chris mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap sosok tinggi yang baru saja keluar dari gedung. Pria itu tidak dikawal, tidak ada iring-iringan. Hanya satu mobil hitam biasa yang menunggu di pinggir jalan. Sudut bibir Chris terangkat. "Jadi dia benar-benar hanya pria biasa."Di sisi lain, di dalam mobil Nicholas, suasana tampak tenang. Ia merasa tak terganggu, meski seseorang tengah mengawasi. Demon melirik kaca spion sebelum bersuara. "Seperti ada yang mengikuti kita, Tuan. Jarak dua puluh meter, mobil abu-abu. "Nicholas menyenderkan punggungnya, seolah tak terganggu sama sekali. "Biarkan saja," sahutnya pelan. Demon mengangguk. "Jadi, ke mana tujuan kita?" Nicholas terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Belok ke bar
Udara pagi di taman mansion terasa jauh lebih sejuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Caroline mendorong kursi rodanya perlahan di jalur bebatuan yang rapi, ditemani dedaunan hijau dan aroma tanah yang masih basah oleh embun. Ini pertama kalinya ia diperbolehkan jalan-jalan tanpa ditemani pengawalan ketat seperti sebelum-sebelumnya, seolah Nicholas memang membiarkan Caroline untuk menenangkan diri. Ditengah asiknya, Caroline seketika menghentikan kursi rodanya. Di ujung taman, ia melihat Nicholas berdiri di sana.Pria itu tidak sendiri. Beberapa pengawal berpakaian serba hitam mengelilinginya dengan jarak teratur. Tubuh-tubuh tegap, sikap waspada, tatapan mereka yang menyapu sekeliling tanpa henti. "Siapa pria ini sebenarnya?" gumam Caroline. "Dia terlihat sangat berkuasa." Caroline beralih pandang sejenak, lalu melirik ke arah pelayan yang tengah mendorong sebuah keranjang bunga di dekatnya. Pria paruh baya itu adalah kepala pelayan, orang yang jelas sudah lama bekerja di mansio
Jantung Caroline berdetak keras saat akhirnya ia ketahuan menguping. Nasi sudah menjadi bubur, ingin melarikan diri pun Caroline tak bisa. Pintu terbuka pelan, sosok Demok muncul di ambang pintu, tubuhnya tegap, tatapannya jatuh pada Caroline yang tengah menunduk sambil memainkan jemarinya. "Nona Caroline," sapanya tenang. "Apakah Anda tersesat?" Caroline mengangkat wajahnya perlahan. "Aku hanya ... ingin lewat," jawabnya, suara yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri. "Lewat?" ulang Nicholas, "bukankah kamarmu berada sebelum ruang kerjaku, Nona Caroline. Kau ingin ke mana di malam seperti ini?"Tatapan Nicholas datar, yang membuat Caroline menelan ludahnya kelu. Tatapan pria itu terlalu mengintimidasi, membuatnya gugup bukan main. "Aku ... tidak bisa tidur," jawab Caroline akhirnya.Dari kursi rodanya, Caroline dapat merasakan tatapan Nicholas meski pria itu tidak menanggapi perkataannya. Diamnya Nicholas jauh lebih menakutkan. "Sudah terlalu larut, Nona," sahut Demon







