Beranda / Romansa / Dekapan Tuan Penguasa / Upaya penculikan gagal

Share

Upaya penculikan gagal

Penulis: Aini Sabrina
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 01:24:43

Tubuh Chris menegang. Cengkeramannya pada Caroline segera terlepas begitu mendapati pria asing yang tak lain adalah Nicholas menatapnya dengan dingin, meskipun sorot matanya masih menyimpan emosi yang belum reda.

"Kau siapa?" tanya Chris, berusaha bersikap tenang.

Nicholas melangkah mendekat. Suara pantofelnya menggema pelan di lorong sepi, lalu berhenti tepat di hadapan Chris.

"Perlukah kau tahu?" tanyanya kembali. "Bukan urusanmu untuk tahu siapa aku."

Caroline menelan ludah. Ia berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup keras tanpa berani bergerak sedikit pun, seolah takut saja jika sekali pergerakannya bisa memancing keributan kembali.

Chris terkekeh sinis. "Ini urusan pribadiku dengan tunanganku?"

Alis Nicholas mengernyit. "Tunangan?" ulangnya. Tatapan Nicholas beralih sejenak pada Caroline. "Apa kau mengakuinya?"

Caroline segera menggeleng.

"Kau lihat?" ujarnya, tersenyum sinis. "Kau bahkan tidak diakui sebagai tunangan di sini."

Chris mengepalkan tinjunya. Ia baru ingin menyentuh kursi roda Caroline saat Nicholas sigap menarik kursi roda tersebut mendekat padanya.

Chris mengatupkan rahangnya. "Dia milikku! Kau hanya orang asing yang berdiri diantara kami."

Nicholas maju selangkah. Jaraknya dengan Chris begitu dekat, hingga aura dingin pria itu terasa nyata.

"Tidak," sahutnya pelan. "Dia berada di bawah perlindunganku."

Monica bersuara. "Caroline."

Panggilan itu membuat detak jantung Caroline kembali berpacu. Monica yang sedari tadi diam, kini mendekat ke kursi roda Caroline. Ia menatap Caroline dengan senyuman tipis penuh makna, sebelum mengalihkan pandangannya pada Nicholas.

"Kami tidak bermaksud membuat keributan," ucap Monica tenang. "Kami hanya ingin berbicara padanya."

Nicholas tidak menanggapi.

Monica kembali menatap Caroline, kali ini dengan ekspresi yang dibuat selembut mungkin.

"Ayahku ingin bertemu denganmu, Caroline. Hanya sebentar untuk memastikan keponakannya baik-baik saja."

Caroline bersitatap dengan Monica. "Pamanku?"

"Ya," sahut Monica ringan. "Dia sudah tahu kau masih hidup. Dan tentunya ... Ayahku hanya ingin memastikan kondisimu secara langsung."

Kata-kata itu seolah menekan dada Caroline. Tangannya mengepal di atas pangkuan. Tentu ia tahu siapa yang dimaksud oleh Monica.

"Aku sedang tidak ingin bertemu siapa pun," sahut Caroline tegas. "Kau bisa katakan padanya jika aku baik-baik saja."

Monica menghela napas panjang seolah kecewa dengan penolakan itu. "Kau tidak bisa berpikir untuk bersembunyi. Bagaimanapun juga, kau masih bagian dari keluarga Arbein."

"Bersembunyi?" ulang Caroline. "Aku rasa tidak ada yang memiliki niat untuk bersembunyi."

Monica ingin kembali mendekat saat Nicholas sigap menghentikan.

"Cukup," ucapnya dingin. "Kau sudah dengar semua jawabannya, bukan?"

Tatapan Monica beralih padanya. Senyum di bibirnya menipis. "Aku rasa kau tidak berhak ikut campur, Tuan. Ini urusan keluarga."

Nicholas memandang keduanya. "Kau salah. Ini termasuk urusanku."

Chris merasa geram. "Kau siapa sebenarnya?" tanyanya, nadanya sedikit meninggi. "Kau bahkan tidak memiliki keterikatan apa pun dengannya."

Nicholas menatap Chris tanpa ekspresi. "Seseorang yang tidak suka barang miliknya disentuh orang lain."

Monica tertawa kecil. "Barang?" ulangnya sinis. "Wanita cacat sepertinya tidak pantas dimiliki oleh siapa pun."

Nicholas menatap Monica dingin. Tatapan itu terasa menekan udara di sekitar mereka.

"Mulai detik ini," ucapnya pelan, menatap lurus pada kedua orang di hadapannya, "kalian tidak akan pernah bisa untuk mendekatinya lagi."

"Jika kami tidak menuruti?"

Nicholas menoleh singkat pada Caroline yang juga balas menatapnya, lalu beralih kembali pada Monica dan Chris.

"Coba saja," katanya singkat. "Aku akan menilai seberapa jauh keberanian kalian."

Hening. Perkataan itu membuat Monica dan Chris diam seribu bahasa. Bagi Chris, pria di hadapannya terlalu tenang. Jawaban pria itu pun terlalu tenang tetapi mengandung makna yang sangat dalam.

Chris menarik napas panjang, tak ada pilihan selain menarik lengan Monica. "Kita harus pergi."

Monica enggan. Namun, Chris yang terus saja mencengkeram lengannya, membuatnya menatap Nicholas beberapa detik sebelum mengalihkan pandangannya pada Caroline dengan senyum tipis penuh arti.

"Ini belum selesai, Caroline."

Setelah keduanya menghilang, barulah Caroline dapat bernapas dengan lega. Kalau saja Nicholas tidak datang tepat waktu, tidak tahu bagaimanakah nasibnya di tangan dua manusia jahat itu.

Nicholas menoleh pada Caroline singkat. "Kembali ke mobil."

"Apa?" Caroline mendongak.

"Kau terlihat cukup kusut," sahut Nicholas. "Mulai sekarang, kau tidak akan keluar tanpa pengawalan ketat dariku."

Nicholas perlahan-lahan mendorong kursi roda Caroline sebelum akhirnya Demon datang sambil membungkuk hormat.

"Tuan, Anda di sini?"

"Kembali ke mobil," sahut Nicholas, tatapannya tajam. "Kau akan berurusan denganku."

Meskipun bingung, Demon mengangguk tanpa niat untuk bertanya lebih lanjut.

~~~

"Lepaskan aku, Chris!" Monica memberontak begitu mereka tiba di dalam mobil. "Kita hampir saja berhasil tadi, tapi kau justru memaksaku pergi!"

Chris mengatupkan rahangnya, tangannya mencengkeram setir dengan erat. "Berhasil?" ulangnya. "Kau tidak lihat bagaimana pria itu menatap kita, hah?"

"Dia hanya mengancam," sahut Monica ketus. "Semua orang bisa bersikap sok berkuasa seperti itu asal kau tahu."

Chris tertawa pendek, tanpa humor. "Pria itu tidak berbicara untuk menakut-nakuti, Monica. Ancamannya bukan omong kosong."

Monica menoleh tajam. "Lalu kau mau menyerah begitu saja?"

Chris menyalakan mesin mobil. "Aku tidak mengatakan untuk menyerah," balas Chris. "Kita juga perlu persiapan rencana. Aku tidak ingin mati sia-sia hanya karena ambisi keluargamu."

Monica mengepalkan tinjunya. "Ayah tidak akan tinggal diam, aku yakin."

Ucapan itu membuat Chris terdiam sesaat.

"Kita akan melaporkan ini pada Ayah," lanjut Monica, suaranya merendah namun berbahaya. "Kita hampir berhasil ... tapi ada pria lain yang melindunginya."

Chris menelan ludah. "Kalau begitu, semuanya akan jadi jauh lebih rumit. Pria itu bahkan tidak memberikan sedikit pun informasi tentang dirinya. Bagaimana kita bisa tahu siapa dia?"

Monica menyeringai. "Kau tidak tahu ayahku, Chris," sahutnya yakin, "mencari tahu latar belakang seseorang itu sangat mudah baginya."

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Dekapan Tuan Penguasa   Perjodohan yang dulu ditolak

    Ketukan di pintu kamar Caroline terdengar singkat dan terukur, seolah si pengetuk tak membutuhkan jawaban untuk masuk.Nicholas melangkah ke dalam kamar Caroline dengan langkah tenang. Setelan hitamnya rapi, wajahnya dingin seperti biasa. Di tangannya, sebuah map cokelat tipis terjepit rapi, terlalu resmi untuk sekadar kunjungan singkat.Caroline yang tengah duduk di kursi rodanya mengangkat pandangannya. Ada firasat tak enak yang mengendap di dadanya bahkan sebelum pria itu berhenti di hadapannya.Nicholas meletakkan map itu pelan di atas meja kecil di samping ranjang.“Aku memberimu waktu untuk membacanya,” ucapnya singkat.Caroline menatap map itu beberapa detik sebelum meraihnya. Jemarinya sedikit gemetar saat membuka penutupnya. Deretan kalimat hukum menyambutnya, dingin, kaku, dan tanpa emosi.Perjanjian pranikah.Matanya bergerak perlahan, membaca satu demi satu pasal. Tentang pembagian aset. Tentang hak dan kewajiban. Tentang batasan yang harus ia patuhi sebagai calon istri Ni

  • Dekapan Tuan Penguasa   Kedatangan Kakek Nicholas

    Telepon di meja kerja Nicholas bergetar pelan, memecah kesunyian ruangan.Ia melirik layar sekilas sebelum mengangkatnya, ekspresi wajahnya tetap datar.“Ada apa menghubungiku?” tanyanya singkat.Suara di seberang sana terdengar tua, berat, dan sarat wibawa. Suara yang tidak membutuhkan teriakan untuk memerintah.“Kau sudah menemukannya, Nicholas?"Mendengar itu, Nicholas bersandar pada kursinya. “Menemukan siapa?”Keheningan menyapa sejenak, lalu suara berwibawa itu kembali terdengar, kali ini lebih dingin.“Wanita yang dulu sudah dijodohkan denganmu.”Jari Nicholas mengepal di atas meja. “Aku tidak lupa,” sahutnya pelan.“Baguslah,” kata pria tua itu. “Karena kau juga tidak boleh lupa satu hal lain.”Nada suaranya mengeras, tanpa emosi. “Kau akan mendapatkan apa yang seharusnya menjadi milikmu … hanya jika kau menikah dengan wanita itu.”Nicholas terdiam. Ia hanya menyimak tanpa ingin membantah. “Jika kau gagal,” lanjut sang kakek, “atau lebih buruk lagi salah memilih wanita lain,

  • Dekapan Tuan Penguasa   Sepenggal masa lalu.

    Ruang kerja Adrian Arbein dipenuhi aroma tembakau yang belum sepenuhnya menghilang. Pria tua itu duduk tenang di balik meja kayu gelapnya, mendengarkan tanpa menyela, sementara Chris mondar-mandir dengan wajah memerah menahan kesal.“Pria itu benar-benar tidak tahu diri, Tuan,” geram Chris akhirnya. “Berani-beraninya dia bersikap seolah lebih tinggi dariku. Padahal dia hanya pria miskin yang bahkan tidak memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.” Monica yang sejak tadi berdiri di samping jendela berbalik perlahan. Tatapannya tajam, bibirnya melengkung tipis, sebuah senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.“Dia bukan hanya sok,” ucapnya tenang, sarat kebencian. “Dia juga terlihat berbahaya.”Adrian mengangkat alis. “Berbahaya?”“Ya.” Monica melangkah mendekat. “Dia berani menyembunyikan Caroline, Ayah. Bahkan lebih dari itu, dia berani meremehkan kita. Seolah keberadaan keluarga Arbein tidak berarti apa-apa.”Chris mendengus. “Namanya hanya Nicholas. Itu saja yang dia berik

  • Dekapan Tuan Penguasa   Menjadi target

    Hari itu, keberuntungan seolah tengah berpihak pada Chris dan Monica. Dari balik kaca mobil yang terparkir di seberang jalan raya, Monica menangkap sosok pria yang sedari lama mereka incar. "Itu dia, Chris," ucapnya cepat, menepuk bahu Chris. "Pria yang waktu itu."Chris mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap sosok tinggi yang baru saja keluar dari gedung. Pria itu tidak dikawal, tidak ada iring-iringan. Hanya satu mobil hitam biasa yang menunggu di pinggir jalan. Sudut bibir Chris terangkat. "Jadi dia benar-benar hanya pria biasa."Di sisi lain, di dalam mobil Nicholas, suasana tampak tenang. Ia merasa tak terganggu, meski seseorang tengah mengawasi. Demon melirik kaca spion sebelum bersuara. "Seperti ada yang mengikuti kita, Tuan. Jarak dua puluh meter, mobil abu-abu. "Nicholas menyenderkan punggungnya, seolah tak terganggu sama sekali. "Biarkan saja," sahutnya pelan. Demon mengangguk. "Jadi, ke mana tujuan kita?" Nicholas terdiam sejenak, lalu berkata pelan, "Belok ke bar

  • Dekapan Tuan Penguasa   Pijatan singkat

    Udara pagi di taman mansion terasa jauh lebih sejuk dibandingkan hari-hari sebelumnya. Caroline mendorong kursi rodanya perlahan di jalur bebatuan yang rapi, ditemani dedaunan hijau dan aroma tanah yang masih basah oleh embun. Ini pertama kalinya ia diperbolehkan jalan-jalan tanpa ditemani pengawalan ketat seperti sebelum-sebelumnya, seolah Nicholas memang membiarkan Caroline untuk menenangkan diri. Ditengah asiknya, Caroline seketika menghentikan kursi rodanya. Di ujung taman, ia melihat Nicholas berdiri di sana.Pria itu tidak sendiri. Beberapa pengawal berpakaian serba hitam mengelilinginya dengan jarak teratur. Tubuh-tubuh tegap, sikap waspada, tatapan mereka yang menyapu sekeliling tanpa henti. "Siapa pria ini sebenarnya?" gumam Caroline. "Dia terlihat sangat berkuasa." Caroline beralih pandang sejenak, lalu melirik ke arah pelayan yang tengah mendorong sebuah keranjang bunga di dekatnya. Pria paruh baya itu adalah kepala pelayan, orang yang jelas sudah lama bekerja di mansio

  • Dekapan Tuan Penguasa   Caroline tidak pernah melihat Nicholas.

    Jantung Caroline berdetak keras saat akhirnya ia ketahuan menguping. Nasi sudah menjadi bubur, ingin melarikan diri pun Caroline tak bisa. Pintu terbuka pelan, sosok Demok muncul di ambang pintu, tubuhnya tegap, tatapannya jatuh pada Caroline yang tengah menunduk sambil memainkan jemarinya. "Nona Caroline," sapanya tenang. "Apakah Anda tersesat?" Caroline mengangkat wajahnya perlahan. "Aku hanya ... ingin lewat," jawabnya, suara yang bahkan terdengar asing di telinganya sendiri. "Lewat?" ulang Nicholas, "bukankah kamarmu berada sebelum ruang kerjaku, Nona Caroline. Kau ingin ke mana di malam seperti ini?"Tatapan Nicholas datar, yang membuat Caroline menelan ludahnya kelu. Tatapan pria itu terlalu mengintimidasi, membuatnya gugup bukan main. "Aku ... tidak bisa tidur," jawab Caroline akhirnya.Dari kursi rodanya, Caroline dapat merasakan tatapan Nicholas meski pria itu tidak menanggapi perkataannya. Diamnya Nicholas jauh lebih menakutkan. "Sudah terlalu larut, Nona," sahut Demon

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status