공유

Bab 3

작가: Silence
Karena sengaja disembunyikan oleh Brady, aku tidak tahu bahwa dia akan menghadiri pertemuan orang tua murid.

Saat itu, ekspresinya yang penuh kegembiraan ketika menempelkan telinga di perutku untuk mendengarkan gerakan bayi masih teringat jelas dalam benakku. Namun jauh di lubuk hatinya, dia ternyata sudah meyakini bahwa aku sedang berbohong dan cemburu pada seorang anak!

"Nyonya! Nyonya! Bangunlah!"

Sepasang tangan mengguncang tubuhku dengan kuat. Kepalaku terasa kacau dan tidak jelas. Dengan susah payah aku membuka mata perlahan. Sosok Lisa muncul di hadapanku.

Melihat aku sadar, dia menghela napas lega dan menepuk dadanya. "Syukurlah belum mati." Lalu dia mengeluh, "Nyonya, Nyonya benar-benar membuatku takut."

Aku menunduk melihat perutku. Hamparan warna merah langsung memenuhi pandanganku.

Lisa mengikuti arah tatapanku. Setelah melihat sesuatu, dia menutup hidungnya dan berkata dengan jijik, "Nyonya, kenapa sih Nyonya jatuhin kaleng cat yang ditaruh pekerja di depan pintu? Baunya menyengat sekali."

"Karena bukan Nyonya yang beresin rumah sendiri, makanya jadi nggak tahu jaga rumah."

Aku menoleh ke sudut ruangan. Sebuah kaleng cat merah terbalik tergeletak di lantai. Mungkin tanpa sengaja tersenggol oleh tanganku tadi.

Ruang bawah tanah itu gelap gulita. Lisa berdiri menghalangi cahaya dari pintu. Tiba-tiba dia seperti menyadari sesuatu dan berkata, "Benar juga kata Tuan. Nyonya sengaja menjatuhkan kaleng cat itu supaya aku mengira Nyonya mengalami sesuatu, lalu menelepon Tuan agar dia pulang!"

"Untung saja Tuan nggak ketipu sama Nyonya! Kalau nggak, pesta ulang tahun Tuan Muda Carlton pasti sudah dirusak oleh Nyonya!"

Aku menatapnya tajam. Rasa sakit yang luar biasa membuatku tidak mampu mengucapkan banyak kata. Lisa terkejut oleh tatapanku. Dia buru-buru berbalik untuk mengambil pel dan membersihkan lantai. Karena terburu-buru, dia lupa menutup pintu ruang bawah tanah.

Tangga yang menghubungkan ruang bawah tanah ke luar rumah berkelok-kelok dan panjang. Namun, aku sudah tidak sempat memikirkan apa pun lagi. Jika tidak menyelamatkan diri sekarang, aku akan mati di tempat itu.

Setelah menarik napas beberapa kali, aku memegangi perutku dan berdiri dengan tubuh gemetar sambil berpegangan pada dinding. Selangkah demi selangkah aku berjalan menuju luar.

Aku tidak pernah merasa tangga itu sepanjang ini. Ditambah kontraksi yang terus datang tanpa henti, setiap langkah terasa seperti ada pisau yang mengaduk-aduk perutku.

Brady telah mengambil ponselku. Aku hanya bisa keluar dari vila dan mencari pertolongan.

Saat berhasil mencapai jalan utama, seluruh tenagaku sudah habis. Aku jatuh tersungkur dengan menyedihkan di pinggir jalan. Orang-orang yang sedang berjalan-jalan setelah makan malam segera mengerumuniku.

Beberapa orang sampai menjerit ketakutan dan langsung menelepon ambulans. Salah satu rekan bisnis Brady mengenaliku dan berkata dengan terkejut, "Bu Sandra! Kamu sedang hamil, kenapa bisa di sini dalam keadaan begini? Rumahmu dirampok?"

"Aku akan segera telepon Pak Brady!"

....

"Pak Choki?" Brady tampak bingung saat menerima telepon.

Choki langsung berkata, "Pak Brady! Ada penjahat yang masuk ke rumah Bapak! Istri Bapak terbaring di depan rumah dengan tubuh berlumuran darah! Kami sudah panggil ambulans. Sekarang cepatlah pergi ke Rumah Sakit Pratama!"

Mendengar keributan di seberang telepon, Brady mengernyitkan dahi dan tanpa sadar berdiri.

Sebuah tangan ramping memegang pergelangan tangannya. Shelvi mengangkat ponselnya dengan raut wajah serba salah. "Brady, lihat apa yang dikatakan Bi Lisa."

Saat melihat layar percakapan itu, pupil mata Brady menyusut. Wajahnya langsung menjadi muram. Dengan nada dingin dan tajam dia berkata, "Pak Choki salah paham. Nggak ada penjahat yang masuk ke rumah kami. Cairan di tubuh istriku itu adalah cat merah yang dia siramkan sendiri karena sedang marah padaku."

"Tolong batalkan ambulansnya. Aku sudah hubungi dokter keluarga dan dia akan segera tiba."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 10

    Mendengar ucapanku, raut wajah Brady langsung menunjukkan luka dan kesedihan. Dia memelukku dengan erat. "Sandra, mana mungkin aku membunuhmu? Aku sangat mencintaimu. Aku bahkan nggak sanggup melihatmu terluka sedikit pun."Aku mendorongnya sekuat tenaga lalu berteriak, "Kalau begitu, untuk apa kamu cari aku?! Kamu tahu sekarang kamu ini buronan, bukan?!"Brady mengangguk. "Aku tahu."Lalu dia menatapku dengan penuh perasaan dan berkata, "Sandra, bukannya kamu nggak suka Shelvi? Dia sudah mati. Carlton juga sudah kuhapus dari silsilah keluarga dan kukirim ke panti asuhan. Sekarang nggak ada lagi siapa pun yang bisa menghalangi hubungan kita.""Aku datang ke sini khusus untuk mencarimu. Aku melakukan semua ini demi dirimu. Aku membalaskan dendam anak kita!""Kalau bukan karena Shelvi, aku tidak nggak akan salah paham sama kamu. Kalau bukan karena dia, anak kita nggak akan meninggal! Sekarang kita bisa menjadi keluarga yang bahagia."Mendengar kata-katanya, seluruh tubuhku terasa dingin.

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 9

    Kaleng cat itu jelas sudah lama kosong dan mengering. Sisa cat di dalamnya hanya tinggal lapisan tipis. Sementara itu, seluruh ruang bawah tanah hanya dipenuhi bau darah yang menyengat. Tidak sulit membayangkan betapa menderitanya Sandra malam itu.Namun, Brady malah berulang kali mengabaikan permintaan tolongnya, bahkan mendorong anaknya sendiri menuju kematian! Teringat pada botol obat yang ada di kamar dan seolah ingin membuktikan sesuatu, Brady menelepon Ghani."Obat apa ini? Apa ini obat untuk memicu kelahiran prematur?"Ghani memandang Brady dengan ragu sebelum menjawab, "Pak Brady, itu asam folat. Obat yang biasa dikonsumsi ibu hamil."Punggung Brady yang selama ini selalu tegak, akhirnya runtuh. Dia mencengkeram rambutnya sendiri dengan putus asa. Apa yang sebenarnya telah dia lakukan? Dia telah membunuh anaknya sendiri!Melihat keadaan Brady yang hampir seperti orang gila, Ghani ketakutan dan segera meninggalkan vila.Brady kemudian menemukan Lisa. Dia mengikat wanita itu di r

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 8

    "Sandra? Apa yang kamu katakan itu ... bohong, 'kan? Kamu sedang bohongi aku lagi? Benar, 'kan? Jawab aku!"Melihat Brady yang hampir histeris, aku mengangkat tangan dan menamparnya keras. "Brady! Majulah dan lihat baik-baik siapa yang ada di sana! Itu anak yang kamu tinggalkan malam itu! Itu anak yang kamu larang untuk lahir!""Dia berjuang mati-matian di dalam kandunganku untuk keluar ke dunia ini! Dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup! Tapi kamu bukan hanya nggak bawa aku ke rumah sakit, kamu bahkan mengurungku di ruang bawah tanah!"Brady menoleh ke arah kiri. Di dalam peti kecil terbaring seorang bayi yang tubuhnya telah rusak dan berlumuran darah.Kedua kakinya langsung kehilangan tenaga. Dia jatuh berlutut ke tanah. Pukulan yang begitu besar membuat seluruh semangat hidupnya seolah lenyap. Kesedihan yang luar biasa menerjang hatinya dan emosinya mulai runtuh."Kamu bohong .... Kamu pasti sedang bohong .... Kamu sedang membohongiku ...."Brady berusaha berdiri. Namun, kedu

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 7

    "Besok pagi pukul sembilan, di Pemakaman Forest. Itu kesempatan terakhir bagimu untuk melihat anakmu." Usai bicara, aku pun berbalik dan pergi.Brady ingin menghentikanku dan meminta penjelasan, tetapi beberapa pengawal dari berbagai arah segera mengepungnya dan menghalanginya di tempat.Melihat dia didorong dengan kasar hingga naik ke mobil dalam keadaan menyedihkan di tengah hujan deras, Aldan masih belum puas dan bertanya, "Sandra, kamu benar-benar mau biarkan dia begitu saja? Bahkan masih ngasih dia kesempatan untuk melihat bayi itu terakhir kalinya?"Aku menatap malam yang gelap di luar jendela dengan perasaan getir. Kedua tanganku mengepal erat. "Dia ayah anak itu. Dia berhak mengetahui kebenarannya.""Membiarkannya begitu saja?" Aku tertawa pahit. "Dia seharusnya menyesal seumur hidup. Setiap kali terbangun di tengah malam dan teringat kematian anaknya, dia seharusnya nggak bisa tidur semalaman.""Dia harus menghabiskan sisa hidupnya dalam penyesalan. Mana mungkin aku membiarkan

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 6

    "Maksudmu, Sandra naik ke mobil pria lain sambil bawa anakku? Dia bahkan nggak meninggalkan sepatah kata pun untukku?" tanya Brady kepada Gery dengan tidak percaya.Gery menundukkan kepala. Keringat deras mengalir ke matanya, tetapi dia bahkan tidak berani mengusapnya. Dengan hati-hati dia menjawab, "Benar, Pak. Aku sempat dihalangi sama seorang pria. Bu Sandra nggak bilang apa-apa. Dia cuma memeluk sebuah kotak, lalu masuk ke dalam mobil."Ekspresi Brady menjadi muram. Dia membanting buket bunga tulip di tangannya ke lantai dan berkata dengan suara berat, "Periksa rekaman CCTV. Cari nomor pelat mobil itu! Dalam waktu satu hari, temukan Sandra!"Setelah dibawa pulang, aku hanya duduk terpaku menatap guci abu yang diletakkan di atas sofa. Lama sekali aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Tak mampu menahan berbagai pikiran yang berputar di kepalaku, aku bertanya kepada kakak pertamaku, Aldan, yang berada di sampingku, "Kak, menurutmu apa bayi kita akan takut berjalan sendirian di

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 5

    Ayman akhirnya menoleh kembali. Dia memelukku ke dalam pelukannya dan mengusap kepalaku dengan lembut. "Nggak apa-apa, Sandra. Nggak apa-apa. Kakak ada di sini."Larut malam, Brady tiba-tiba mendengar tangisan bayi dalam mimpinya. Dia langsung membuka mata dan tanpa sadar menoleh ke samping. Carlton tertidur dengan patuh di sisinya dan sama sekali tidak menangis.Setelah menyelimuti Carlton dengan baik, kegelisahan yang muncul membuatnya tidak bisa tidur lagi. Dia menyalakan sebatang rokok dan membuka ponselnya. Tidak ada satu pun pesan masuk.Mengingat beberapa panggilan dari nomor asing yang dia tolak siang tadi, kegelisahan di hatinya langsung memuncak. Wajah Sandra melintas di benaknya. Dia segera menekan nomor telepon Dokter Ghani."Dokter Ghani, gimana kondisi istriku?""Bu Sandra? Pak Brady, bukannya Bu Sandra sudah dibawa ambulans ke rumah sakit karena mau melahirkan? Waktu aku tiba di vila, ambulansnya kebetulan baru saja pergi. Aku kira aku terlambat datang karena Pak Brady s

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status