LOGINMendengar ucapanku, raut wajah Brady langsung menunjukkan luka dan kesedihan. Dia memelukku dengan erat. "Sandra, mana mungkin aku membunuhmu? Aku sangat mencintaimu. Aku bahkan nggak sanggup melihatmu terluka sedikit pun."Aku mendorongnya sekuat tenaga lalu berteriak, "Kalau begitu, untuk apa kamu cari aku?! Kamu tahu sekarang kamu ini buronan, bukan?!"Brady mengangguk. "Aku tahu."Lalu dia menatapku dengan penuh perasaan dan berkata, "Sandra, bukannya kamu nggak suka Shelvi? Dia sudah mati. Carlton juga sudah kuhapus dari silsilah keluarga dan kukirim ke panti asuhan. Sekarang nggak ada lagi siapa pun yang bisa menghalangi hubungan kita.""Aku datang ke sini khusus untuk mencarimu. Aku melakukan semua ini demi dirimu. Aku membalaskan dendam anak kita!""Kalau bukan karena Shelvi, aku tidak nggak akan salah paham sama kamu. Kalau bukan karena dia, anak kita nggak akan meninggal! Sekarang kita bisa menjadi keluarga yang bahagia."Mendengar kata-katanya, seluruh tubuhku terasa dingin.
Kaleng cat itu jelas sudah lama kosong dan mengering. Sisa cat di dalamnya hanya tinggal lapisan tipis. Sementara itu, seluruh ruang bawah tanah hanya dipenuhi bau darah yang menyengat. Tidak sulit membayangkan betapa menderitanya Sandra malam itu.Namun, Brady malah berulang kali mengabaikan permintaan tolongnya, bahkan mendorong anaknya sendiri menuju kematian! Teringat pada botol obat yang ada di kamar dan seolah ingin membuktikan sesuatu, Brady menelepon Ghani."Obat apa ini? Apa ini obat untuk memicu kelahiran prematur?"Ghani memandang Brady dengan ragu sebelum menjawab, "Pak Brady, itu asam folat. Obat yang biasa dikonsumsi ibu hamil."Punggung Brady yang selama ini selalu tegak, akhirnya runtuh. Dia mencengkeram rambutnya sendiri dengan putus asa. Apa yang sebenarnya telah dia lakukan? Dia telah membunuh anaknya sendiri!Melihat keadaan Brady yang hampir seperti orang gila, Ghani ketakutan dan segera meninggalkan vila.Brady kemudian menemukan Lisa. Dia mengikat wanita itu di r
"Sandra? Apa yang kamu katakan itu ... bohong, 'kan? Kamu sedang bohongi aku lagi? Benar, 'kan? Jawab aku!"Melihat Brady yang hampir histeris, aku mengangkat tangan dan menamparnya keras. "Brady! Majulah dan lihat baik-baik siapa yang ada di sana! Itu anak yang kamu tinggalkan malam itu! Itu anak yang kamu larang untuk lahir!""Dia berjuang mati-matian di dalam kandunganku untuk keluar ke dunia ini! Dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup! Tapi kamu bukan hanya nggak bawa aku ke rumah sakit, kamu bahkan mengurungku di ruang bawah tanah!"Brady menoleh ke arah kiri. Di dalam peti kecil terbaring seorang bayi yang tubuhnya telah rusak dan berlumuran darah.Kedua kakinya langsung kehilangan tenaga. Dia jatuh berlutut ke tanah. Pukulan yang begitu besar membuat seluruh semangat hidupnya seolah lenyap. Kesedihan yang luar biasa menerjang hatinya dan emosinya mulai runtuh."Kamu bohong .... Kamu pasti sedang bohong .... Kamu sedang membohongiku ...."Brady berusaha berdiri. Namun, kedu
"Besok pagi pukul sembilan, di Pemakaman Forest. Itu kesempatan terakhir bagimu untuk melihat anakmu." Usai bicara, aku pun berbalik dan pergi.Brady ingin menghentikanku dan meminta penjelasan, tetapi beberapa pengawal dari berbagai arah segera mengepungnya dan menghalanginya di tempat.Melihat dia didorong dengan kasar hingga naik ke mobil dalam keadaan menyedihkan di tengah hujan deras, Aldan masih belum puas dan bertanya, "Sandra, kamu benar-benar mau biarkan dia begitu saja? Bahkan masih ngasih dia kesempatan untuk melihat bayi itu terakhir kalinya?"Aku menatap malam yang gelap di luar jendela dengan perasaan getir. Kedua tanganku mengepal erat. "Dia ayah anak itu. Dia berhak mengetahui kebenarannya.""Membiarkannya begitu saja?" Aku tertawa pahit. "Dia seharusnya menyesal seumur hidup. Setiap kali terbangun di tengah malam dan teringat kematian anaknya, dia seharusnya nggak bisa tidur semalaman.""Dia harus menghabiskan sisa hidupnya dalam penyesalan. Mana mungkin aku membiarkan
"Maksudmu, Sandra naik ke mobil pria lain sambil bawa anakku? Dia bahkan nggak meninggalkan sepatah kata pun untukku?" tanya Brady kepada Gery dengan tidak percaya.Gery menundukkan kepala. Keringat deras mengalir ke matanya, tetapi dia bahkan tidak berani mengusapnya. Dengan hati-hati dia menjawab, "Benar, Pak. Aku sempat dihalangi sama seorang pria. Bu Sandra nggak bilang apa-apa. Dia cuma memeluk sebuah kotak, lalu masuk ke dalam mobil."Ekspresi Brady menjadi muram. Dia membanting buket bunga tulip di tangannya ke lantai dan berkata dengan suara berat, "Periksa rekaman CCTV. Cari nomor pelat mobil itu! Dalam waktu satu hari, temukan Sandra!"Setelah dibawa pulang, aku hanya duduk terpaku menatap guci abu yang diletakkan di atas sofa. Lama sekali aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Tak mampu menahan berbagai pikiran yang berputar di kepalaku, aku bertanya kepada kakak pertamaku, Aldan, yang berada di sampingku, "Kak, menurutmu apa bayi kita akan takut berjalan sendirian di
Ayman akhirnya menoleh kembali. Dia memelukku ke dalam pelukannya dan mengusap kepalaku dengan lembut. "Nggak apa-apa, Sandra. Nggak apa-apa. Kakak ada di sini."Larut malam, Brady tiba-tiba mendengar tangisan bayi dalam mimpinya. Dia langsung membuka mata dan tanpa sadar menoleh ke samping. Carlton tertidur dengan patuh di sisinya dan sama sekali tidak menangis.Setelah menyelimuti Carlton dengan baik, kegelisahan yang muncul membuatnya tidak bisa tidur lagi. Dia menyalakan sebatang rokok dan membuka ponselnya. Tidak ada satu pun pesan masuk.Mengingat beberapa panggilan dari nomor asing yang dia tolak siang tadi, kegelisahan di hatinya langsung memuncak. Wajah Sandra melintas di benaknya. Dia segera menekan nomor telepon Dokter Ghani."Dokter Ghani, gimana kondisi istriku?""Bu Sandra? Pak Brady, bukannya Bu Sandra sudah dibawa ambulans ke rumah sakit karena mau melahirkan? Waktu aku tiba di vila, ambulansnya kebetulan baru saja pergi. Aku kira aku terlambat datang karena Pak Brady s







