ログインPada malam ketika Jordan Lutan melamar wanita yang merupakan cinta pertamanya, aku berdiri di teras lantai 33 sebuah gedung sembari menggenggam selembar hasil diagnosis yang menyatakan bahwa aku mengidap kanker lambung stadium akhir. Aku menatap pria di dalam ruangan itu. Dia setengah berlutut sambil memasangkan cincin berlian merah muda yang seharusnya menjadi milikku ke jari wanita lain. Agar tidak merusak momen bahagia mereka, aku terus menahan rasa sakit dan bersembunyi di balik kaca jendela. Hingga akhirnya, Jordan melihatku. Dia tidak terkejut dan juga tidak merasa bersalah. Tatapannya hanya dipenuhi rasa jijik. Dari balik kaca, dia menyeringai dingin, lalu menunjuk ke arah tepi teras. Dia menggerakkan bibirnya tanpa suara. "Kalau mau lompat, lompat saja. Jangan bersandiwara dan membuat orang lain muak melihatmu. Kalau kamu benar-benar berani mati, aku baru percaya bahwa kamu memang nggak berbohong." Pada saat itu, harapan terakhirku untuk bertahan hidup pun padam. Aku menatapnya … menatap pria yang telah kucintai selama sepuluh tahun itu, lalu akhirnya aku tersenyum. Itu adalah senyum lega karena akhirnya aku bisa melepaskannya. Aku berbalik dan memanjat pagar pembatas. Jordan, kamu sudah bebas. Nikmatilah hadiah besar dariku ini.
もっと見るMangkuk porselen itu pecah berkeping-keping. Sup panas terciprat ke kaki Yunita hingga dia menjerit kesakitan."Selama tiga tahun ini, apa masih belum cukup kamu berpura-pura di hadapanku?" Aku melangkah mendekatinya perlahan, seperti malaikat maut yang datang untuk menagih nyawa."Kenapa Nikita bisa pingsan? Kenapa ibuku menyuruh pembantu menyiramnya dengan air pada hari itu? Yunita, apa kamu ingin aku mengambil rekaman CCTV di rumah dan menyerahkannya ke kantor polisi?"Wajah Yunita seketika memucat dan seluruh tubuhnya gemetar. "Jordan, aku … aku bukan sengaja. Aku hanya .…""Mulai hari ini, jangan sampai aku melihatmu lagi di Kota Amara." Aku menatapnya dengan dingin, seolah-olah dia hanyalah seekor semut yang tidak berarti. "Kembalikan semua perhiasan milik Nikita yang kamu ambil. Kalau ada satu saja yang kurang, akan kupotong satu jarimu."Yunita menjerit ketakutan, lalu melarikan diri dengan tergesa-gesa.Namun, menyingkirkan wanita itu sama sekali tidak membuatku merasa puas. S
EpilogSaat titik-titik cahaya itu lenyap, aku merasakan ada bagian dari diriku yang ikut mati bersamanya.Salju masih terus turun, terasa perih seperti sayatan pisau saat menyentuh wajahku. Aku berlutut di atas hamparan salju, menggenggam erat syal abu-abu tua itu. Masih ada aromanya yang tertinggal di sana, bercampur dengan bau obat yang samar dan aroma khas dirinya yang begitu segar dan menenangkan.Itulah satu-satunya peninggalannya untukku, sekaligus kutukan paling kejam yang diwariskannya."Kalau ada kehidupan berikutnya, giliran kamu yang mencintaiku ya?"Tidak, Nikita. Kamu berbohong kepadaku.Kata-kata terakhirmu adalah bahwa kamu ingin menjadi seekor burung dan tidak pernah bertemu denganku lagi. Kamu ingin terbang jauh dan ingin menghapus ikatan di antara kita."Jangan harap .…" Aku memaksa tenggorokanku yang serak mengeluarkan suara. Aku meraung ke arah taman yang kosong, seperti orang gila yang menolak menyerah. "Nikita, entah kamu adalah manusia, hantu, atau bahkan beruba
Pada hari ketujuh setelah kematianku, salju turun lebih lebat dari sebelumnya.Jordan memeluk guci abu jenazahku sambil duduk di bangku di taman tempat kami pertama kali bertemu.Salju menutupi rambut hitamnya yang dahulu tampak begitu lebat dan rapi. Kini, dia tampak seperti telah beruban dalam semalam. Dia duduk membisu seperti patung.Orang-orang yang lewat menunjuk ke arahnya sambil berbisik bahwa pria itu sudah gila. Namun, dia sama sekali tidak menggubris mereka.Dia hanya menunduk, lalu dengan lembut menyingkirkan kepingan salju yang menempel pada guci berisi abu jenazahku."Nikita, lihat. Sudah turun salju. Dulu, kamu paling suka salju. Kamu bilang salju bisa menutupi semua hal kotor di dunia ini. Sekarang, aku juga menyukai salju, karena seolah-olah ada bayanganmu di dalam sana."Suara Jordan terdengar serak dan tua, juga dipenuhi dengan kepedihan.Aku merasakan tubuhku semakin ringan, lalu perlahan berubah menjadi titik-titik cahaya yang tak terhitung jumlahnya.Aku tahu suda
"Setengah bulan lalu, sebenarnya aku ingin memberitahumu. Hari itu, aku pulang membawa hasil pemeriksaan, lalu memasak semua makanan kesukaanmu.""Tapi kamu malah membawa Yunita pulang ke rumah. Kamu membuang semua masakanku ke tempat sampah dan berkata bahwa melihatku saja sudah membuatmu mual.""Tiga bulan lalu, aku kesakitan sampai berguling-guling di atas tempat tidur. Aku meneleponmu, memohonmu untuk membawaku ke rumah sakit.""Kamu bilang aku hanya berpura-pura sakit demi mencari simpati. Kamu bahkan menyuruhku mati saja.""Sebulan lalu, aku pingsan di rumah. Ibumu yang menyuruh pembantu menyiramku dengan air sampai aku terbangun, katanya aku hanya sedang bermalas-malasan."Jordan tiba-tiba teringat sesuatu. Dia buru-buru mencari-cari ponselnya seperti orang yang kehilangan akal sehatnya.Dia menelusuri riwayat panggilan tiga bulan lalu, kemudian menemukan pesan suara yang berdurasi hanya tiga detik. Dia menekan tombol putar. Dari dalam ponsel terdengar suaraku yang begitu lemah.
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.