แชร์

Bab 4

ผู้เขียน: Silence
Choki menatap seluruh tubuhku dengan mata terbelalak, lalu berkata ragu-ragu, "Bapak yakin ini cat merah?"

Brady menjawab dengan sangat yakin, "Aku yakin. Tolong kasih teleponnya ke istriku. Aku ingin bicara sebentar sama dia."

Choki berjongkok dan meletakkan telepon di dekat telingaku. Dia menatapku dengan penuh rasa iba. Suara Brady terdengar dari seberang sana, "Sandra, aku sudah muak sama semua sandiwara yang kamu mainkan."

"Entah kamu benar-benar melahirkan hari ini atau nggak. Bahkan kalau bayinya mau lahir sekarang juga, tahan saja!"

"Karena kamu nggak peduli sama keselamatan anak itu dan diam-diam minum obat untuk memicu kelahiran prematur, maka dia selamanya nggak pantas memiliki hari ulang tahun yang sama dengan Carlton. Kedudukannya akan selalu satu tingkat lebih rendah dari Carlton."

"Setelah aku ngomong begini, apa kamu sudah menyerah? Sekarang pulanglah dengan patuh dan jangan keluar lagi untuk mempermalukan diri sendiri!"

Setiap kata yang dia ucapkan terasa seperti pisau tajam yang mengiris jantungku berkali-kali. Jadi bukan hanya aku yang tidak bisa dibandingkan dengan Shelvi, bahkan anakku pun tidak bisa dibandingkan dengan anaknya!

Air mata bercampur darah mengalir dari wajahku dan menetes ke tanah.

"Diam-diam minum obat?" Dengan suara serak aku berkata, "Brady, ternyata kamu salah paham sedalam itu sama aku. Hubungan kita selama bertahun-tahun ini benar-benar seperti lelucon."

Brady berjalan mondar-mandir dengan kesal. Tangan yang menggenggam ponsel semakin mengencang. Saat dia hendak memarahiku lagi, dia mendengar suara lirih yang samar-samar terdengar dari seberang sana.

"Brady, kita jangan bertemu lagi."

....

Choki berhati baik. Dia tidak menuruti permintaan Brady untuk membatalkan ambulans. Sebaliknya, dia mengantarkanku ke rumah sakit.

Suntikan berisi cairan obat yang dingin masuk ke tubuhku. Rasa sakit memang berkurang, tetapi kesedihan yang mendalam justru memenuhi hatiku. Aku bisa merasakan kehidupan anakku perlahan-lahan memudar di dalam tubuhku.

Aku sedang kehilangan dia.

Anakku ....

Saat pertama kali mengandungnya, aku merasa bingung sekaligus bahagia.

Selama delapan bulan, dia menemaniku. Dia membuatku perlahan-lahan belajar menjadi seorang ibu yang baik. Anak yang mengalirkan darah yang sama denganku. Anak yang akan menendang perutku saat aku sedang sedih, seolah menghiburku.

Dia bahkan belum sempat melihat dunia ini.

Padahal, dia hampir saja bisa selamat. Hanya kurang sedikit lagi.

Sebuah tangan hangat menyeka air mataku dengan kasa medis. Dari atas kepalaku, terdengar suara dokter yang bertanya dengan cemas, "Apa suami pasien sudah berhasil dihubungi?"

"Kondisi ibu hamil ini sedang gawat. Harus segera operasi!"

Seorang perawat di samping menjawab, "Dokter Darian, tadi telepon suaminya masih bisa dihubungi, tapi panggilannya ditolak. Setelah itu ponselnya langsung dimatikan. Sekarang sama sekali nggak bisa dihubungi!"

"Bagaimana dengan surat persetujuan operasi? Siapa yang tanda tangan? Tanpa tanda tangan, kita nggak bisa operasi!"

Saat semua orang diliputi kecemasan, dokter menghela napas dan berkata, "Kalau nggak salah, Profesor Ayman sedang melakukan operasi. Joshi, pergi lihat apakah operasinya sudah selesai. Kalau sudah selesai, apa pun yang terjadi, tolong minta dia datang ke sini."

Dalam kesadaranku yang kabur, pisau bedah yang dingin bergerak di dalam tubuhku. Di tengah samar-samar kesadaran itu, aku mendengar tangisan seorang bayi. Aku langsung membuka mata dengan panik.

"Bayiku!"

Sebuah telapak tangan yang hangat memegang pergelangan tanganku dan menekanku kembali ke ranjang. Sebuah suara serak berkata, "Jangan bergerak. Jarum infusnya bisa terlepas."

Aku menoleh. Dalam sekejap, mataku memerah. Aku menatap sosok di hadapanku dengan tidak percaya dan bergumam, "Kak Ayman."

Ayman adalah kakak keduaku. Wajahnya tampak sangat lelah. Matanya dipenuhi guratan merah akibat kurang tidur. Melihat wajahku yang pucat, dia tidak mampu lagi menahan air mata. Dia menoleh ke samping sambil tersedak tangis dan berkata, "Kak Aldan sedang dalam perjalanan ke sini."

Aku akhirnya menangis keras seperti anak kecil. "Kak Ayman ... aku salah. Kak Ayman, aku benar-benar salah."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 10

    Mendengar ucapanku, raut wajah Brady langsung menunjukkan luka dan kesedihan. Dia memelukku dengan erat. "Sandra, mana mungkin aku membunuhmu? Aku sangat mencintaimu. Aku bahkan nggak sanggup melihatmu terluka sedikit pun."Aku mendorongnya sekuat tenaga lalu berteriak, "Kalau begitu, untuk apa kamu cari aku?! Kamu tahu sekarang kamu ini buronan, bukan?!"Brady mengangguk. "Aku tahu."Lalu dia menatapku dengan penuh perasaan dan berkata, "Sandra, bukannya kamu nggak suka Shelvi? Dia sudah mati. Carlton juga sudah kuhapus dari silsilah keluarga dan kukirim ke panti asuhan. Sekarang nggak ada lagi siapa pun yang bisa menghalangi hubungan kita.""Aku datang ke sini khusus untuk mencarimu. Aku melakukan semua ini demi dirimu. Aku membalaskan dendam anak kita!""Kalau bukan karena Shelvi, aku tidak nggak akan salah paham sama kamu. Kalau bukan karena dia, anak kita nggak akan meninggal! Sekarang kita bisa menjadi keluarga yang bahagia."Mendengar kata-katanya, seluruh tubuhku terasa dingin.

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 9

    Kaleng cat itu jelas sudah lama kosong dan mengering. Sisa cat di dalamnya hanya tinggal lapisan tipis. Sementara itu, seluruh ruang bawah tanah hanya dipenuhi bau darah yang menyengat. Tidak sulit membayangkan betapa menderitanya Sandra malam itu.Namun, Brady malah berulang kali mengabaikan permintaan tolongnya, bahkan mendorong anaknya sendiri menuju kematian! Teringat pada botol obat yang ada di kamar dan seolah ingin membuktikan sesuatu, Brady menelepon Ghani."Obat apa ini? Apa ini obat untuk memicu kelahiran prematur?"Ghani memandang Brady dengan ragu sebelum menjawab, "Pak Brady, itu asam folat. Obat yang biasa dikonsumsi ibu hamil."Punggung Brady yang selama ini selalu tegak, akhirnya runtuh. Dia mencengkeram rambutnya sendiri dengan putus asa. Apa yang sebenarnya telah dia lakukan? Dia telah membunuh anaknya sendiri!Melihat keadaan Brady yang hampir seperti orang gila, Ghani ketakutan dan segera meninggalkan vila.Brady kemudian menemukan Lisa. Dia mengikat wanita itu di r

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 8

    "Sandra? Apa yang kamu katakan itu ... bohong, 'kan? Kamu sedang bohongi aku lagi? Benar, 'kan? Jawab aku!"Melihat Brady yang hampir histeris, aku mengangkat tangan dan menamparnya keras. "Brady! Majulah dan lihat baik-baik siapa yang ada di sana! Itu anak yang kamu tinggalkan malam itu! Itu anak yang kamu larang untuk lahir!""Dia berjuang mati-matian di dalam kandunganku untuk keluar ke dunia ini! Dia berusaha sekuat tenaga untuk tetap hidup! Tapi kamu bukan hanya nggak bawa aku ke rumah sakit, kamu bahkan mengurungku di ruang bawah tanah!"Brady menoleh ke arah kiri. Di dalam peti kecil terbaring seorang bayi yang tubuhnya telah rusak dan berlumuran darah.Kedua kakinya langsung kehilangan tenaga. Dia jatuh berlutut ke tanah. Pukulan yang begitu besar membuat seluruh semangat hidupnya seolah lenyap. Kesedihan yang luar biasa menerjang hatinya dan emosinya mulai runtuh."Kamu bohong .... Kamu pasti sedang bohong .... Kamu sedang membohongiku ...."Brady berusaha berdiri. Namun, kedu

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 7

    "Besok pagi pukul sembilan, di Pemakaman Forest. Itu kesempatan terakhir bagimu untuk melihat anakmu." Usai bicara, aku pun berbalik dan pergi.Brady ingin menghentikanku dan meminta penjelasan, tetapi beberapa pengawal dari berbagai arah segera mengepungnya dan menghalanginya di tempat.Melihat dia didorong dengan kasar hingga naik ke mobil dalam keadaan menyedihkan di tengah hujan deras, Aldan masih belum puas dan bertanya, "Sandra, kamu benar-benar mau biarkan dia begitu saja? Bahkan masih ngasih dia kesempatan untuk melihat bayi itu terakhir kalinya?"Aku menatap malam yang gelap di luar jendela dengan perasaan getir. Kedua tanganku mengepal erat. "Dia ayah anak itu. Dia berhak mengetahui kebenarannya.""Membiarkannya begitu saja?" Aku tertawa pahit. "Dia seharusnya menyesal seumur hidup. Setiap kali terbangun di tengah malam dan teringat kematian anaknya, dia seharusnya nggak bisa tidur semalaman.""Dia harus menghabiskan sisa hidupnya dalam penyesalan. Mana mungkin aku membiarkan

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 6

    "Maksudmu, Sandra naik ke mobil pria lain sambil bawa anakku? Dia bahkan nggak meninggalkan sepatah kata pun untukku?" tanya Brady kepada Gery dengan tidak percaya.Gery menundukkan kepala. Keringat deras mengalir ke matanya, tetapi dia bahkan tidak berani mengusapnya. Dengan hati-hati dia menjawab, "Benar, Pak. Aku sempat dihalangi sama seorang pria. Bu Sandra nggak bilang apa-apa. Dia cuma memeluk sebuah kotak, lalu masuk ke dalam mobil."Ekspresi Brady menjadi muram. Dia membanting buket bunga tulip di tangannya ke lantai dan berkata dengan suara berat, "Periksa rekaman CCTV. Cari nomor pelat mobil itu! Dalam waktu satu hari, temukan Sandra!"Setelah dibawa pulang, aku hanya duduk terpaku menatap guci abu yang diletakkan di atas sofa. Lama sekali aku tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.Tak mampu menahan berbagai pikiran yang berputar di kepalaku, aku bertanya kepada kakak pertamaku, Aldan, yang berada di sampingku, "Kak, menurutmu apa bayi kita akan takut berjalan sendirian di

  • Demi Anak Angkat, Dia Rela Mengorbankan Nyawa Anak Kandung   Bab 5

    Ayman akhirnya menoleh kembali. Dia memelukku ke dalam pelukannya dan mengusap kepalaku dengan lembut. "Nggak apa-apa, Sandra. Nggak apa-apa. Kakak ada di sini."Larut malam, Brady tiba-tiba mendengar tangisan bayi dalam mimpinya. Dia langsung membuka mata dan tanpa sadar menoleh ke samping. Carlton tertidur dengan patuh di sisinya dan sama sekali tidak menangis.Setelah menyelimuti Carlton dengan baik, kegelisahan yang muncul membuatnya tidak bisa tidur lagi. Dia menyalakan sebatang rokok dan membuka ponselnya. Tidak ada satu pun pesan masuk.Mengingat beberapa panggilan dari nomor asing yang dia tolak siang tadi, kegelisahan di hatinya langsung memuncak. Wajah Sandra melintas di benaknya. Dia segera menekan nomor telepon Dokter Ghani."Dokter Ghani, gimana kondisi istriku?""Bu Sandra? Pak Brady, bukannya Bu Sandra sudah dibawa ambulans ke rumah sakit karena mau melahirkan? Waktu aku tiba di vila, ambulansnya kebetulan baru saja pergi. Aku kira aku terlambat datang karena Pak Brady s

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status