Compartilhar

Bab 4

Autor: Puri
Aku menatap Jonatan dan berkata dengan tenang, "Aku mau ke rumah sakit untuk mengobati luka ini. Kamu lanjut ngumpul saja dengan mereka."

Jonatan mengejarku ke luar. Dia memegang bahuku, matanya dipenuhi rasa bersalah. "Maaf, aku tadi berlebihan. Aku antar kamu ke rumah ...."

"Kak Jonatan, cepat ke sini! Tania pingsan!"

Jonatan mulai ragu, jarak pandangnya terus beralih ke dalam dan kembali menatapku.

Sebagai pacarnya yang paling sempurna, tentu saja aku harus mengerti keadaan.

"Kembali saja, kondisinya kelihatannya lebih parah dari aku."

Rasa bersalah di mata Jonatan makin membuncah.

"Kalau begitu ... aku kembali ke dalam dulu. Hari ini aku yang salah, aku bakal ganti rugi. Kirimkan saja barang-barang yang kamu mau, nanti aku belikan semuanya!"

Mesin ATM sendiri yang menawarkan, mana mungkin aku menolak?

Lalu tanpa ragu sedikit pun, aku memilih barang-barang senilai hampir 2 triliun. Mungkin karena merasa terlalu bersalah, Jonatan menggesek kartunya tanpa mengedipkan mata.

Pada hari barang-barang itu tiba, Jonatan menyetir sendiri untuk mengantarkannya.

Bagasi mobilnya terisi sangat penuh. Dia memindahkan kotak demi kotak ke dalam rumah.

Setelah selesai, dia berdiri di ruang tamu dengan pelipis sedikit berkeringat. Menatapku yang sedang membuka kemasan hadiah, dia tampak ragu hendak berbicara.

"Anita."

"Ya?" Aku menjawab tanpa menoleh. Jari-jariku mengusap permukaan berlian pada gelang edisi terbatas sambil memperkirakan harganya di dalam hati.

"Apa kamu ... belakangan ini sedang nggak senang?"

Aku mendongak menatapnya, lalu menyunggingkan senyum yang sangat pas.

"Mana mungkin? Kamu baik banget sama aku, aku justru senang luar biasa!"

Jonatan menggigit bibirnya, seolah berusaha mencari celah di wajahku. Namun senyumku sangat sempurna, lembut sekaligus anggun.

Dia tidak menemukan retakan apa pun.

"Baguslah kalau begitu," ucapnya dengan suara serak. "Anita, kemarin aku memikirkan banyak hal. Menurutku sudah waktunya kita menikah. Minggu depan saja kita menikah, ya!"

Gerakanku terhenti sejenak. Aku menatapnya dan bercanda, "Boleh, kamu mau kasih mahar aku berapa?"

Jonatan mengerutkan dahi. "Aku nggak begitu paham soal beginian, tapi aku bakal bikin kamu jadi pengantin paling bahagia di seluruh Kota Savana."

Aku bersandar di sofa, lalu tersenyum santai.

"Oke."

"Kalau begitu, maharnya aku tetapkan 200 miliar dulu."

"Resepsi pernikahan kita juga harus digelar megah."

Jonatan tertegun sejenak, lalu terkekeh pelan. "Oke, apa pun yang kamu mau, bakal aku turuti semuanya."

Ponselnya berdering pada saat itu.

Nama kontak di layarnya tertera tulisan "Tania", diikuti emotikon kepalan tangan.

Jonatan melirik sekilas, lalu tidak menganggapnya.

Aku mengangkat alis.

Jarang sekali begini.

Dia membalikkan ponselnya dan meletakkannya di atas meja, tetapi ponsel itu berdering lagi.

Dengan sangat perhatian, aku mengambilkan ponsel itu dan menyodorkannya kepadanya.

"Angkat saja, siapa tahu ada urusan mendesak."

Dia menatapku sejenak, seolah ingin memastikan sesuatu, tetapi akhirnya tetap mengangkat panggilan itu.

"Jonatan, kamu sudah mati, ya? Aku menelepon berkali-kali kenapa nggak diangkat?"

Suara Tania sangat keras hingga bisa terdengar ke seluruh ruang tamu, membawa nada ketidaksabaran dan keangkuhan yang sudah menjadi ciri khasnya.

"Sudah-sudah, nggak usah bahas itu. Aku baru balik dari gym dan pinggangku terkilir. Sakit banget sampai nggak bisa gerak di kasur. Cepat datang ke sini buat mengurusku!"

Jonatan mengerutkan dahi. "Kamu nggak bisa panggil tukang pijat sendiri ke rumah?"

Tania langsung memaki dengan kesal, "Panggil tukang pijat katamu? Membiarkan cowok asing memegang pinggangku? Kamu mau cariin cowok buat aku, ya? Bukannya dulu kamu sendiri yang mijat aku? Kenapa, sekarang mau nikah, terus kakimu sudah kuat dan mau kabur dariku?"

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 20

    Aku tersenyum dan mengiyakannya. Malam harinya, kami duduk di balkon sambil menikmati embusan angin malam. Di hadapan kami, berjajar botol-botol minuman yang sudah kosong.Dia agak mabuk, bersandar di pagar sambil berkata dengan penuh rasa haru. "Anita, coba kamu pikir, kenapa dulu kamu bisa suka sama pria macam begitu? Sudah bajingan, plin-plan pula, masih lebih baik anjing di pinggir jalan."Aku mengaduk minumanku di dalam gelas, cairan merah di dalamnya memancarkan kilauan indah di bawah sinar rembulan. "Namanya juga masih muda dan polos, aku pikir cinta itu hal paling besar di dunia. Sekarang baru sadar, sebesar-besarnya cinta di dunia ini, uang tetap yang nomor satu."Sahabatku tertawa sampai menepuk meja. "Bagus! Ayo, kita bersulang demi uang yang banyak!" Kami bersulang, mendongakkan kepala lalu meminum minuman kami sampai habis.Setelah bersulang, sahabatku menuangkan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri. Dia tidak terburu-buru meminumnya, tapi memiringkan kepala menatapku

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 19

    Aku memalingkan kepala menatapnya. Mata Farel sangat bersih, begitu jernih hingga aku bisa melihat dasarnya."Kak, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Dia menarik napas dalam-dalam, melangkah maju ke hadapanku."Aku tahu, mungkin Kakak cuma menganggapku menarik dan penurut, makanya membiarkanku tetap ada di sisimu." "Aku juga tahu, kalau Kakak pernah terluka dulu, dan nggak begitu percaya pada perasaan cinta lagi." "Tapi Kak ... aku serius."Dia melangkah maju sejenak, berdiri sangat dekat denganku. Begitu dekat hingga aku bisa melihat dengan jelas bulu matanya yang bergetar pelan."Bukan karena Kakak kaya raya, bukan karena Kakak cantik, tapi karena ...." "Aku suka padamu."Lampu di tepi jalan menyala terang, memancarkan cahaya kuning hangat yang menyelimuti tubuhnya, membingkai siluetnya menjadi lembut dan hangat. Setelah mengucapkan kalimat itu, dia menundukkan kepala dengan gugup. Seolah-olah sedang menunggu sebuah putusan hukuman.Melihat penampilannya yang seperti in

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 18

    Perasaanku campur aduk. Aku segera menghubungi ambulans. Pada saat tubuhnya diangkat ke dalam mobil ambulans, Jonatan tersenyum tipis padaku. "Aku mencintaimu, Anita."Aku berdiri di luar mobil ambulans, memperhatikan tubuhnya yang didorong masuk. Darah terus mengucur deras dari luka di lehernya, membasahi seluruh tandunya. Tangannya terkulai dari tepi tandu, menggapai lemas ke arahku seolah ingin meraih sesuatu.Suaranya sudah sangat pelan hingga hampir tidak terdengar lagi, bibirnya bergerak-gerak, tiap kata seolah dikeluarkannya dengan mengerahkan sisa seluruh tenaganya. "Kehidupan selanjutnya ... aku pasti ... nggak akan membuatmu menderita lagi ...."Menatap pandangan matanya yang perlahan membuyar, dadaku sempat merasakan nyeri sejenak. Bukan karena cinta. Melainkan karena rasa kasihan. Kasihan karena dia baru menyadarinya saat semuanya saat sudah terlambat. Kasihan karena hal-hal yang ditebusnya dengan nyawa ini, sudah lama tidak bernilai lagi bagiku."Jonatan." Aku meman

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 17

    Jonatan akhirnya paham apa yang kurasakan dulu, saat melihat kemesraannya dengan Tania. Sangat menyakitkan. Bagaikan ada orang yang mencabut jantungnya dari dalam dada, lalu menggilasnya berulang kali di atas tanah.Setiap suara yang terdengar dari celah pintu, bagaikan pisau tumpul yang menggergaji sarafnya bolak-balik. Dia teringat pada Anita, yang dulu pernah berada di posisi yang sama. Mendengarkan gelak tawanya bersama Tania di balik pintu, melihat unggahan ambigu Tania di ponsel, hingga melihatnya mencium wanita lain di tengah sorak-sorai kerumunan orang.Saat itu, dia menganggap wanita itu berlebihan. Menganggapnya tidak dewasa, terlalu sensitif, rapuh, dan histeris. Kini dia akhirnya mengerti. Bukan karena wanita itu terlalu lemah. Melainkan karena rasa sakit seperti ini, tidak akan sanggup ditanggung oleh manusia mana pun."Maafkan aku, Anita, maafkan aku!" Dia berdiri di depan pintu sambil menangis histeris.Aku tidak mau memedulikannya dan memilih untuk fokus membawa b

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 16

    "Pergi! Jangan sentuh istriku!" Melihat Jonatan pada saat itu, aku sangat terkejut. Dengan agak kehabisan kata-kata, aku menghubungi Sistem. "Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Jonatan bisa ada di sini?"[Jonatan bunuh diri di depan makam Anda. Saya juga tidak menyangka dia akan muncul di sini.]Aku mengerutkan dahi. "Dia gila? Bunuh diri di depan makamku?"[Benar, dia memilih mengiris pergelangan tangannya. Darahnya mengalir memenuhi tanah sampai membuat pengelola pemakaman umum ketakutan setengah mati. Sebelum mati, dia terus menyebut nama Anda, lalu jiwanya ikut menyeberang ke sini.]"Jadi sekarang statusnya apa? Orang yang hidup atau mati?"[Orang yang hidup. Saat menyeberang antar-dunia, Sistem mengalokasikan tubuh baru untuknya. Tapi di dunia ini, dia tidak punya informasi identitas atau aset apa pun, setara dengan orang tanpa identitas yang tidak punya apa-apa.]Aku menatap wajah Jonatan yang terasa familiar sekaligus asing itu. "Bagaimana dia bisa menyusul ke sini dan menemu

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 15

    Jonatan tidak membantahnya, bahkan tidak mau berpura-pura lagi. Dia merangkul wanita di belakangnya, lalu merapikan kerah bajunya dengan santai."Bukannya dari dulu kamu mau jadi pacarku? Sekarang kamu sudah jadi pacarku." "Tapi penderitaan yang harus ditanggung seorang pacar, kamu juga harus menanggungnya semuanya!"Dia sedikit memiringkan kepalanya menatap Tania. "Dulu saat Anita melihatku dekat denganmu, apa yang dirasakannya? Sekarang kamu harus merasakannya juga."Bibir Tania bergetar hebat. "Jadi selama ini, kamu terus memikirkan Anita?"Jonatan menjawab dengan dingin, "Aku mencintainya, tentu saja aku memikirkannya. Kamu yang merencanakan penculikan itu sampai aku kehilangan dia selamanya. Kamu pantas mendapatkannya.""Pantas?" Tania tertawa histeris sambil meneteskan air mata. "Jonatan, walaupun aku yang merencanakan penculikan itu, memangnya kenapa? Kalau saja saat itu kamu mantap memilih Anita, dia nggak akan mati! Kamu yang membunuhnya!" "Orang yang paling pantas meneri

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status