Share

Bab 5

Author: Puri
Tania terdiam sejenak, menahan napas karena kesakitan.

"Nyuruh kamu datang saja, aku jadi banyak omong begini. Ya sudahlah, kalau nggak mau datang, ya sudah. Lagi pula, aku bukan cuma punya satu sahabat kayak kamu, orang lain jauh lebih baik daripada kamu!"

Jonatan seketika berkerut dahi. "Aku ke sana."

Aku tersenyum padanya, bahkan dengan perhatian mengambilkan jaket untuknya.

"Cepat pergi dan cepat kembali, ya."

Jonatan tertegun. Dia mengamati raut wajahku dengan teliti. Setelah tidak menemukan keanehan, barulah dia menerima jaket itu.

"Aku bakal kembali dalam setengah jam."

Dia pergi.

Setengah jam berubah menjadi satu jam, dan satu jam berubah menjadi semalam suntuk.

Keesokan paginya, dia mengirim pesan yang mengabarkan bahwa sakit pinggang Tania terlalu parah sehingga harus ke rumah sakit, dan dia menemani Tania sepanjang malam di sana.

Aku membalas dengan stiker ucapan [Terima kasih atas kerja keras Anda].

Layar ponselku menyala sekilas.

[Rekening dengan nomor xxxxxx890 telah menerima transfer senilai Rp200.000.000.000 pada tanggal xx bulan xx.]

Aku tersenyum dengan suasana hati yang menyenangkan, lalu melihat unggahan terbaru di media sosial.

Tania baru saja memperbarui unggahannya tiga menit yang lalu.

Foto itu memperlihatkan Jonatan yang tertidur di samping ranjang rumah sakit, dahinya berkerut rapat dengan jenggot tipis di dagunya.

Sudut pandang khas seorang kekasih, menciptakan nuansa yang intim sekaligus ambigu.

Keterangan foto itu berbunyi [Sahabatku begadang untuk mengurusku. Terharu banget sampai mau nangis. Tapi kenapa pas nempelkan koyo, tangannya malah meluncur ke bawah terus? Pinggangku 'kan bukan di pantat, dasar nggak tahu malu!]

Deretan komentar bermunculan di bawahnya.

[Tania, kamu nikmati saja kesenangan ini. Di seluruh Kota Savana, siapa lagi yang dapat perlakuan kayak kamu?]

[Haha! Kak Jonatan benar-benar memanjakanmu!]

[Astaga, apa pacar galak di rumahnya nggak keberatan?]

Aku menguap pelan, melemparkan ponsel ke samping bantal, lalu membalikkan badan untuk melanjutkan tidur cantik.

Ketika aku terbangun, hari sudah siang. Jonatan duduk di tepi ranjang, entah sudah berapa lama dia kembali.

Dia langsung menggenggam tanganku.

"Anita, maaf soal semalam ...."

"Nggak apa-apa."

Aku memotong ucapannya, lalu duduk sambil meregangkan badan. "Uangnya sudah masuk, terima kasih, sayangku!"

Nada suaraku santai seolah sedang membahas cuaca hari ini.

Jonatan membuka mulutnya, ragu hendak berbicara, tetapi pada akhirnya hanya menghela napas dan menarikku ke dalam pelukannya.

"Anita, ke depannya nggak bakal begini lagi, aku janji!"

Jonatan mulai mempersiapkan pernikahan kami.

Jujur saja, tingkat kepeduliannya melampaui perkiraanku.

Gaun pengantin dipesannya secara pribadi dengan terbang ke luar negeri, dan dia mendampingiku sepanjang proses pengukuran baju. Lokasi pernikahan telah dia survei tidak kurang dari sepuluh tempat, hingga akhirnya dia memilih sebuah kastel tua di tepi pantai.

Dia bahkan menyuruh seseorang memeriksa seluruh akun media sosialku. Lalu mendokumentasikan semua konsep dekorasi bunga, hidangan penutup, serta gaya penataan yang pernah kusukai, untuk diserahkan kepada tim perencana pernikahan agar diwujudkan secara persis.

Jonatan ini, kalau sedang baik padaku, memang bisa membuat orang berhalusinasi seolah-olah sedang dimanja oleh seluruh dunia.

"Tuan berpesan, setiap barang yang disukai Nyonya harus ada di dalam acara pernikahan."

Asistennya membetulkan posisi kacamata, nada suaranya menyelipkan sedikit rasa kagum.

Asisten itu memegang daftar mahar dan membacakannya selama setengah jam penuh.

"Nyonya, Tuan benar-benar sangat baik pada Anda. Beliau memberikan mahar sebanyak ini, bahkan putri kerajaan pun belum tentu dapat separuh dari yang Anda terima."

Aku hanya tersenyum tanpa menjawab, lalu bertanya kepada Sistem di dalam pikiranku.

"Barang-barang yang tercantum atas namaku ini, bisa kubawa pergi juga, 'kan?"

[Bisa, Tuan. Ada satu hal yang perlu saya sampaikan. Tingkat rasa cinta Jonatan telah naik 5%.]

"Oh."

Lalu memangnya kenapa?

Aku melirik daftar tersebut, lalu menatap asisten Jonatan sambil tersenyum.

"Barang-barang ini, aku sangat suka."

Jonatan, kamu benar-benar mesin ATM paling dermawan yang pernah kutemui!

Pada hari pernikahan, aku sedang ragu apakah harus langsung menghilang di hadapan Jonatan untuk membuatnya jantungan.

Namun, Jonatan mendadak menerobos masuk dengan raut wajah panik.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 20

    Aku tersenyum dan mengiyakannya. Malam harinya, kami duduk di balkon sambil menikmati embusan angin malam. Di hadapan kami, berjajar botol-botol minuman yang sudah kosong.Dia agak mabuk, bersandar di pagar sambil berkata dengan penuh rasa haru. "Anita, coba kamu pikir, kenapa dulu kamu bisa suka sama pria macam begitu? Sudah bajingan, plin-plan pula, masih lebih baik anjing di pinggir jalan."Aku mengaduk minumanku di dalam gelas, cairan merah di dalamnya memancarkan kilauan indah di bawah sinar rembulan. "Namanya juga masih muda dan polos, aku pikir cinta itu hal paling besar di dunia. Sekarang baru sadar, sebesar-besarnya cinta di dunia ini, uang tetap yang nomor satu."Sahabatku tertawa sampai menepuk meja. "Bagus! Ayo, kita bersulang demi uang yang banyak!" Kami bersulang, mendongakkan kepala lalu meminum minuman kami sampai habis.Setelah bersulang, sahabatku menuangkan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri. Dia tidak terburu-buru meminumnya, tapi memiringkan kepala menatapku

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 19

    Aku memalingkan kepala menatapnya. Mata Farel sangat bersih, begitu jernih hingga aku bisa melihat dasarnya."Kak, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Dia menarik napas dalam-dalam, melangkah maju ke hadapanku."Aku tahu, mungkin Kakak cuma menganggapku menarik dan penurut, makanya membiarkanku tetap ada di sisimu." "Aku juga tahu, kalau Kakak pernah terluka dulu, dan nggak begitu percaya pada perasaan cinta lagi." "Tapi Kak ... aku serius."Dia melangkah maju sejenak, berdiri sangat dekat denganku. Begitu dekat hingga aku bisa melihat dengan jelas bulu matanya yang bergetar pelan."Bukan karena Kakak kaya raya, bukan karena Kakak cantik, tapi karena ...." "Aku suka padamu."Lampu di tepi jalan menyala terang, memancarkan cahaya kuning hangat yang menyelimuti tubuhnya, membingkai siluetnya menjadi lembut dan hangat. Setelah mengucapkan kalimat itu, dia menundukkan kepala dengan gugup. Seolah-olah sedang menunggu sebuah putusan hukuman.Melihat penampilannya yang seperti in

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 18

    Perasaanku campur aduk. Aku segera menghubungi ambulans. Pada saat tubuhnya diangkat ke dalam mobil ambulans, Jonatan tersenyum tipis padaku. "Aku mencintaimu, Anita."Aku berdiri di luar mobil ambulans, memperhatikan tubuhnya yang didorong masuk. Darah terus mengucur deras dari luka di lehernya, membasahi seluruh tandunya. Tangannya terkulai dari tepi tandu, menggapai lemas ke arahku seolah ingin meraih sesuatu.Suaranya sudah sangat pelan hingga hampir tidak terdengar lagi, bibirnya bergerak-gerak, tiap kata seolah dikeluarkannya dengan mengerahkan sisa seluruh tenaganya. "Kehidupan selanjutnya ... aku pasti ... nggak akan membuatmu menderita lagi ...."Menatap pandangan matanya yang perlahan membuyar, dadaku sempat merasakan nyeri sejenak. Bukan karena cinta. Melainkan karena rasa kasihan. Kasihan karena dia baru menyadarinya saat semuanya saat sudah terlambat. Kasihan karena hal-hal yang ditebusnya dengan nyawa ini, sudah lama tidak bernilai lagi bagiku."Jonatan." Aku meman

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 17

    Jonatan akhirnya paham apa yang kurasakan dulu, saat melihat kemesraannya dengan Tania. Sangat menyakitkan. Bagaikan ada orang yang mencabut jantungnya dari dalam dada, lalu menggilasnya berulang kali di atas tanah.Setiap suara yang terdengar dari celah pintu, bagaikan pisau tumpul yang menggergaji sarafnya bolak-balik. Dia teringat pada Anita, yang dulu pernah berada di posisi yang sama. Mendengarkan gelak tawanya bersama Tania di balik pintu, melihat unggahan ambigu Tania di ponsel, hingga melihatnya mencium wanita lain di tengah sorak-sorai kerumunan orang.Saat itu, dia menganggap wanita itu berlebihan. Menganggapnya tidak dewasa, terlalu sensitif, rapuh, dan histeris. Kini dia akhirnya mengerti. Bukan karena wanita itu terlalu lemah. Melainkan karena rasa sakit seperti ini, tidak akan sanggup ditanggung oleh manusia mana pun."Maafkan aku, Anita, maafkan aku!" Dia berdiri di depan pintu sambil menangis histeris.Aku tidak mau memedulikannya dan memilih untuk fokus membawa b

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 16

    "Pergi! Jangan sentuh istriku!" Melihat Jonatan pada saat itu, aku sangat terkejut. Dengan agak kehabisan kata-kata, aku menghubungi Sistem. "Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Jonatan bisa ada di sini?"[Jonatan bunuh diri di depan makam Anda. Saya juga tidak menyangka dia akan muncul di sini.]Aku mengerutkan dahi. "Dia gila? Bunuh diri di depan makamku?"[Benar, dia memilih mengiris pergelangan tangannya. Darahnya mengalir memenuhi tanah sampai membuat pengelola pemakaman umum ketakutan setengah mati. Sebelum mati, dia terus menyebut nama Anda, lalu jiwanya ikut menyeberang ke sini.]"Jadi sekarang statusnya apa? Orang yang hidup atau mati?"[Orang yang hidup. Saat menyeberang antar-dunia, Sistem mengalokasikan tubuh baru untuknya. Tapi di dunia ini, dia tidak punya informasi identitas atau aset apa pun, setara dengan orang tanpa identitas yang tidak punya apa-apa.]Aku menatap wajah Jonatan yang terasa familiar sekaligus asing itu. "Bagaimana dia bisa menyusul ke sini dan menemu

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 15

    Jonatan tidak membantahnya, bahkan tidak mau berpura-pura lagi. Dia merangkul wanita di belakangnya, lalu merapikan kerah bajunya dengan santai."Bukannya dari dulu kamu mau jadi pacarku? Sekarang kamu sudah jadi pacarku." "Tapi penderitaan yang harus ditanggung seorang pacar, kamu juga harus menanggungnya semuanya!"Dia sedikit memiringkan kepalanya menatap Tania. "Dulu saat Anita melihatku dekat denganmu, apa yang dirasakannya? Sekarang kamu harus merasakannya juga."Bibir Tania bergetar hebat. "Jadi selama ini, kamu terus memikirkan Anita?"Jonatan menjawab dengan dingin, "Aku mencintainya, tentu saja aku memikirkannya. Kamu yang merencanakan penculikan itu sampai aku kehilangan dia selamanya. Kamu pantas mendapatkannya.""Pantas?" Tania tertawa histeris sambil meneteskan air mata. "Jonatan, walaupun aku yang merencanakan penculikan itu, memangnya kenapa? Kalau saja saat itu kamu mantap memilih Anita, dia nggak akan mati! Kamu yang membunuhnya!" "Orang yang paling pantas meneri

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status