แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Puri
Jonatan berlari ke hadapanku dengan mata memerah, tetapi dia tidak sanggup mengeluarkan kata-kata.

"Dia kenapa?" tanyaku pada Sistem.

[Tania merekayasa aksi penculikan karena dia hamil. Dia tidak ingin Jonatan menikah, dan sebentar lagi dia akan menyuruh orang untuk menculik Anda juga.]

[Apakah ingin memulai proses pemulangan sekarang? Kebetulan bisa mengurangi satu masalah.]

Masalah?

Belum tentu.

"Ada masalah apa?" Aku memegang tangan Jonatan dengan penuh perhatian.

Napasnya memburu, suaranya terdengar serak. "Tania diculik. Anita, pernikahan hari ini mungkin ...."

"Nggak apa-apa, kamu cari Nona Tania dulu. Nyawa manusia lebih penting, pernikahan kita bisa ditunda."

Jonatan memelukku erat dengan tatapan penuh rasa terima kasih. "Terima kasih, Anita. Setelah menyelamatkan Tania, aku pasti bakal memberikan ganti rugi yang setimpal buat kamu!"

Setelah dia pergi, acara pernikahan dibatalkan.

Dalam perjalanan kembali ke tempat tinggalku, seseorang memukulku hingga pingsan.

Saat terbangun kembali, aku sudah diikat bersama Tania.

Penculik memegang pisau yang dimainkan di area leherku dan Tania, menatap Jonatan dengan senyum licik.

"Uang 20 miliar di tanganmu cuma bisa untuk menebus satu orang. Kamu mau pilih sahabatmu atau calon istrimu?"

Jonatan mengepalkan tangannya rapat-rapat, matanya memerah.

Sebelum dia sempat berbicara, Tania sudah berteriak sambil menangis histeris.

"Jonatan, aku hamil! Ini anakmu! Kamu tega lihat kami berdua mati bersama?"

"Kamu hamil?" Jonatan sangat terkejut.

Tania mengangguk cepat. "Jonatan, perutku sakit banget. Tolong selamatkan anak kita!"

Saat dia kembali menatapku, matanya penuh dengan penderitaan. Penculik yang hilang kesabaran, menekan pisau ke leherku hingga butiran darah segar merembes keluar.

"Bertele-tele banget. Aku hitung sampai sepuluh, kalau kamu masih belum pilih, aku yang bakal memilihkan buat kamu. Dua-duanya nggak usah diselamatkan!"

Jonatan menggeleng frustrasi.

"Aku pilih Tania!"

Wajahnya pucat pasi saat beralih menatapku.

"Maafkan aku, perut Tania sakit, aku harus membawanya ke rumah sakit dulu. Anita, kamu tenang saja, aku pasti bakal kembali untuk menyelamatkanmu!"

"Jonatan!"

Aku berteriak histeris sambil menangis terisak, berjuang sekuat tenaga hingga pergelangan tanganku berdarah tergesek tali penjerat.

"Aku ... aku nggak mau mati! Kamu 'kan pacarku!"

"Kenapa kamu nggak pilih aku dan tega membiarkan aku mati di sini?"

Air mataku menetes deras, bibirku gemetar hingga hampir tidak bisa merangkai kata secara utuh.

Namun seberapa keras pun aku memohon, Jonatan tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

Dengan kepala tertunduk dan tubuh gemetar, dia menyerahkan uang 20 miliar itu kepada penculik.

Kemudian dia menggendong Tania lalu menatapku.

"Maafkan aku, Anita. Aku bakal mengganti rugi semuanya, apa pun yang kamu mau, bakal aku beri!"

Pilihannya sejak awal selalu mantap, tidak peduli apa yang terjadi. Yang paling penting baginya tetaplah Tania.

Aku tersenyum getir, mataku dipenuhi keputusasaan, lalu bertanya kepada Jonatan dengan suara gemetar, "Kalau aku minta perusahaanmu, kamu juga bakal setuju?"

"Kamu cuma membodohi dan membohongiku. Kamu pilih Tania dan membiarkanku mati. Jonatan, kamu sama sekali nggak mencintaiku!"

Jonatan berkata dengan mata memerah, "Aku dari dulu sudah menetapkanmu sebagai istriku. Kalau perusahaan kuberikan padamu, memangnya kenapa? Aku saja milikmu, semua yang kupunya tentu saja jadi milikmu juga."

"Cuma kali ini saja, Anita, cuma kali ini. Aku janji pasti bakal kembali untuk menebusmu. Tunggu aku!"

Tania bersandar di pelukannya, wajahnya terbenam di dada Jonatan dengan bahu yang masih terguncang terisak.

Namun pada detik ketika kepalanya berpaling, dia melengkungkan sudut bibirnya ke arahku tanpa suara.

Sementara itu, Jonatan menatapku untuk terakhir kalinya, lalu berjalan pergi tanpa menoleh lagi.

Aku menghapus raut kesedihan di wajahku, meninggalkan tatapan yang asing dan dingin.

"Jonatan, aku nggak mau bersamamu lagi!"

Tubuhnya bergetar seketika, lalu melangkah makin cepat hingga menghilang dari pandangan.

"Sistem, mulai proses pemulangan."

Akhirnya aku bisa pulang ke rumah.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 20

    Aku tersenyum dan mengiyakannya. Malam harinya, kami duduk di balkon sambil menikmati embusan angin malam. Di hadapan kami, berjajar botol-botol minuman yang sudah kosong.Dia agak mabuk, bersandar di pagar sambil berkata dengan penuh rasa haru. "Anita, coba kamu pikir, kenapa dulu kamu bisa suka sama pria macam begitu? Sudah bajingan, plin-plan pula, masih lebih baik anjing di pinggir jalan."Aku mengaduk minumanku di dalam gelas, cairan merah di dalamnya memancarkan kilauan indah di bawah sinar rembulan. "Namanya juga masih muda dan polos, aku pikir cinta itu hal paling besar di dunia. Sekarang baru sadar, sebesar-besarnya cinta di dunia ini, uang tetap yang nomor satu."Sahabatku tertawa sampai menepuk meja. "Bagus! Ayo, kita bersulang demi uang yang banyak!" Kami bersulang, mendongakkan kepala lalu meminum minuman kami sampai habis.Setelah bersulang, sahabatku menuangkan satu gelas lagi untuk dirinya sendiri. Dia tidak terburu-buru meminumnya, tapi memiringkan kepala menatapku

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 19

    Aku memalingkan kepala menatapnya. Mata Farel sangat bersih, begitu jernih hingga aku bisa melihat dasarnya."Kak, ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu." Dia menarik napas dalam-dalam, melangkah maju ke hadapanku."Aku tahu, mungkin Kakak cuma menganggapku menarik dan penurut, makanya membiarkanku tetap ada di sisimu." "Aku juga tahu, kalau Kakak pernah terluka dulu, dan nggak begitu percaya pada perasaan cinta lagi." "Tapi Kak ... aku serius."Dia melangkah maju sejenak, berdiri sangat dekat denganku. Begitu dekat hingga aku bisa melihat dengan jelas bulu matanya yang bergetar pelan."Bukan karena Kakak kaya raya, bukan karena Kakak cantik, tapi karena ...." "Aku suka padamu."Lampu di tepi jalan menyala terang, memancarkan cahaya kuning hangat yang menyelimuti tubuhnya, membingkai siluetnya menjadi lembut dan hangat. Setelah mengucapkan kalimat itu, dia menundukkan kepala dengan gugup. Seolah-olah sedang menunggu sebuah putusan hukuman.Melihat penampilannya yang seperti in

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 18

    Perasaanku campur aduk. Aku segera menghubungi ambulans. Pada saat tubuhnya diangkat ke dalam mobil ambulans, Jonatan tersenyum tipis padaku. "Aku mencintaimu, Anita."Aku berdiri di luar mobil ambulans, memperhatikan tubuhnya yang didorong masuk. Darah terus mengucur deras dari luka di lehernya, membasahi seluruh tandunya. Tangannya terkulai dari tepi tandu, menggapai lemas ke arahku seolah ingin meraih sesuatu.Suaranya sudah sangat pelan hingga hampir tidak terdengar lagi, bibirnya bergerak-gerak, tiap kata seolah dikeluarkannya dengan mengerahkan sisa seluruh tenaganya. "Kehidupan selanjutnya ... aku pasti ... nggak akan membuatmu menderita lagi ...."Menatap pandangan matanya yang perlahan membuyar, dadaku sempat merasakan nyeri sejenak. Bukan karena cinta. Melainkan karena rasa kasihan. Kasihan karena dia baru menyadarinya saat semuanya saat sudah terlambat. Kasihan karena hal-hal yang ditebusnya dengan nyawa ini, sudah lama tidak bernilai lagi bagiku."Jonatan." Aku meman

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 17

    Jonatan akhirnya paham apa yang kurasakan dulu, saat melihat kemesraannya dengan Tania. Sangat menyakitkan. Bagaikan ada orang yang mencabut jantungnya dari dalam dada, lalu menggilasnya berulang kali di atas tanah.Setiap suara yang terdengar dari celah pintu, bagaikan pisau tumpul yang menggergaji sarafnya bolak-balik. Dia teringat pada Anita, yang dulu pernah berada di posisi yang sama. Mendengarkan gelak tawanya bersama Tania di balik pintu, melihat unggahan ambigu Tania di ponsel, hingga melihatnya mencium wanita lain di tengah sorak-sorai kerumunan orang.Saat itu, dia menganggap wanita itu berlebihan. Menganggapnya tidak dewasa, terlalu sensitif, rapuh, dan histeris. Kini dia akhirnya mengerti. Bukan karena wanita itu terlalu lemah. Melainkan karena rasa sakit seperti ini, tidak akan sanggup ditanggung oleh manusia mana pun."Maafkan aku, Anita, maafkan aku!" Dia berdiri di depan pintu sambil menangis histeris.Aku tidak mau memedulikannya dan memilih untuk fokus membawa b

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 16

    "Pergi! Jangan sentuh istriku!" Melihat Jonatan pada saat itu, aku sangat terkejut. Dengan agak kehabisan kata-kata, aku menghubungi Sistem. "Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Jonatan bisa ada di sini?"[Jonatan bunuh diri di depan makam Anda. Saya juga tidak menyangka dia akan muncul di sini.]Aku mengerutkan dahi. "Dia gila? Bunuh diri di depan makamku?"[Benar, dia memilih mengiris pergelangan tangannya. Darahnya mengalir memenuhi tanah sampai membuat pengelola pemakaman umum ketakutan setengah mati. Sebelum mati, dia terus menyebut nama Anda, lalu jiwanya ikut menyeberang ke sini.]"Jadi sekarang statusnya apa? Orang yang hidup atau mati?"[Orang yang hidup. Saat menyeberang antar-dunia, Sistem mengalokasikan tubuh baru untuknya. Tapi di dunia ini, dia tidak punya informasi identitas atau aset apa pun, setara dengan orang tanpa identitas yang tidak punya apa-apa.]Aku menatap wajah Jonatan yang terasa familiar sekaligus asing itu. "Bagaimana dia bisa menyusul ke sini dan menemu

  • Demi Hartanya, Aku Rela Melihatnya Selingkuh   Bab 15

    Jonatan tidak membantahnya, bahkan tidak mau berpura-pura lagi. Dia merangkul wanita di belakangnya, lalu merapikan kerah bajunya dengan santai."Bukannya dari dulu kamu mau jadi pacarku? Sekarang kamu sudah jadi pacarku." "Tapi penderitaan yang harus ditanggung seorang pacar, kamu juga harus menanggungnya semuanya!"Dia sedikit memiringkan kepalanya menatap Tania. "Dulu saat Anita melihatku dekat denganmu, apa yang dirasakannya? Sekarang kamu harus merasakannya juga."Bibir Tania bergetar hebat. "Jadi selama ini, kamu terus memikirkan Anita?"Jonatan menjawab dengan dingin, "Aku mencintainya, tentu saja aku memikirkannya. Kamu yang merencanakan penculikan itu sampai aku kehilangan dia selamanya. Kamu pantas mendapatkannya.""Pantas?" Tania tertawa histeris sambil meneteskan air mata. "Jonatan, walaupun aku yang merencanakan penculikan itu, memangnya kenapa? Kalau saja saat itu kamu mantap memilih Anita, dia nggak akan mati! Kamu yang membunuhnya!" "Orang yang paling pantas meneri

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status