Beranda / Romansa / Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan / 4. Tubuhmu, Milikku Sepenuhnya

Share

4. Tubuhmu, Milikku Sepenuhnya

Penulis: MessiAjh 02
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-19 12:35:10

“Aku ingin menjadi luka pertamamu.”

Jantung Malika seolah berhenti berdetak.

Alex kemudian menggeser wajahnya, mengecup bi-bir Malika sekali. Hanya sekejap.

Tapi cukup untuk membakar napasnya, cukup untuk meruntuhkan sisa pertahanan Malika.

“Baiklah.” Suara Alex terdengar rendah, nyaris seperti geraman binatang lapar. “Karena kau lambat dan tidak tahu cara menyenangkanku, maka kali ini aku yang akan ambil kendali.”

Nada suaranya begitu dingin, tanpa ampun, membuat tengkuk Malika meremang. Ia hanya mampu mengangguk, bibirnya menggigit dirinya sendiri, tubuhnya gemetar hebat.

Tanpa memberi waktu untuk berpikir, Alex menarik keras pinggang Malika, menyeretnya lebih dekat, lalu melumat bi-birnya. Ciu-ma-nnya kasar, lapar, mendesak, tidak ada ruang untuk bernapas, tidak ada ruang untuk menolak.

Malika nyaris terjatuh jika saja tangan Alex tak menahan punggungnya. Napasnya tercekat, jantungnya nyaris meledak.

“Bi-bir-mu, lehermu. Ini hanya untukku, Baby.” Bisik Alex, suaranya parau penuh gejolak. “Aku tidak pernah melakukan ini pada gadis lainnya. Hanya bi-bir dan tubuhmu yang pernah aku ci-um.”

Detak jantung Malika seolah berhenti. Ada kehangatan aneh yang menjalar, rasa entah seperti apa, dia pun tak tah. Namun cepat-cepat ia tepis. Apa gunanya? Dia bukan gadis pertama Alex.

Alex mencengkeram dagu Malika, menatap matanya yang basah. “Harusnya kamu bangga, Baby. Respon aku. Imbangi permainanku. Gunakan tanganmu. Be-lai-lah aku.”

Tangan Malika terulur, gemetar, menyentuh punggung lebar Alex. Sentuhan lembutnya seperti percikan listrik di kulit pria itu.

Sekejap, Alex menahan napas. Matanya yang gelap berkedip, seperti terkejut. Tak pernah ada gadis yang menyentuhnya seperti ini. Pelan, tulus, dan tidak agresif. Ada kehangatan aneh yang menohok dadanya.

Senyum miringnya kembali muncul. “Bagus, Baby. Sangat bagus.”

Napas Alex semakin berat. Tangannya meremas pinggang Malika, lalu turun, menelusuri lekuk tubuhnya. Bi-birnya melata, menyusuri le-her jenjang, bahu halus, hingga da-da yang bergetar hebat.

“Indah…” Desisnya, sebelum bi-birnya menutup gundukan lembut itu.

Tubuh Malika melengkung, napasnya terputus. “Ahh…”

Jeritan kecil itu memecah udara, menambah kobaran api di mata Alex.

Ia berganti sisi, mulutnya melahap, me-ngi-sap, meng-gi-git pelan hingga meninggalkan jejak merah. Satu tangannya me-re-mas yang lain, menambah sensasi panas di tubuh Malika.

Setiap tarikan napas Malika disertai isakan lirih. Matanya berembun, kepalanya terlempar ke belakang.

“Suaramu indah, Baby. Jangan pernah ditahan.” Gumam Alex serak, lidahnya terus bermain.

Tangan Malika tak sengaja mencengkeram rambut Alex. Tubuhnya bergetar, dadanya naik turun cepat.

Alex tersenyum puas, tatapannya li-ar. “Kau ternyata menikmatinya.”

Tangan besar Alex turun, mengusap lembut perut rata Malika, melintasi garis pinggang, hingga ke pa-ha yang mengejang. Kepala Alex kini ada di antara kedua pa-ha Malika yang gemetar hebat.

“Sekarang… aku akan mencicipinya.” Bisiknya. “Aku belum pernah melakukan ini pada siapapun. Hanya kau.”

Malika menahan napas, bibirnya terbuka, wajahnya pucat ketakutan.

Alex mendongak, menatapnya sambil menyeringai. “Kau harusnya merasa terhormat, Baby.”

Dan saat berikutnya, Malika terlonjak. Sentuhan hangat dan basah Alex di inti dirinya membuat tubuhnya menegang, napasnya memburu.

“A-aaa… ahhh…” Jeritnya lirih.

Tangan Alex mencengkeram pa-ha Malika agar tak menutup, lidahnya mengeksplorasi, sesekali meng-gi-git pelan, memaksa Malika merasakan gelombang panas aneh yang belum pernah ia kenal.

Alex bergumam parau, “Nik-mat.. dan sempit…” Satu jarinya menyusup, perlahan keluar-masuk, memancing jeritan lain dari Malika.

Tubuh Malika menggeliat, kepalanya bergerak tak teratur. Rasa panas menjalar dari perut ke seluruh tubuhnya.

Alex semakin cepat, senyumnya semakin kejam. “Jangan tahan, Baby… lepaskan.”

Saat Malika hampir mencapai puncaknya, Alex justru berhenti.

Malika terengah, tubuhnya basah keringat, pandangannya buram oleh air mata dan gejolak yang terputus.

Alex berdiri, menanggalkan celana panjangnya.

Mata Malika membulat saat melihat pria itu sepenuhnya. Rasa takut membanjiri tubuhnya. “T-tidak… itu terlalu besar…” Gumamnya.

Alex tertawa pelan, tapi tatapannya gelap. Ia menggenggam tangan Malika, menuntunnya menyentuh bagian paling keras dan menakutkan itu.

“Manjakan dia, Baby.” Bisiknya.

Tangan Malika gemetar, hampir tak berani menyentuh. Tapi ia melakukannya. Sentuhannya gugup, dingin, namun justru membuat Alex mendesis pelan.

“Bagus. Sekarang, seperti kau menikmati es krim.”

Wajah Malika memucat. “T-tidak… aku…”

Belum sempat menolak, Alex menekan lembut belakang kepalanya, dan saat berikutnya, ia merasakan bagian pria itu menyentuh bi-birnya.

Malika menutup mata, air matanya jatuh. Napasnya memburu, tubuhnya bergidik ngeri. Namun ia menurut, perlahan, hingga Alex menggeram puas.

“Bagus… Baby. Mulutmu juga nik-mat. ” Bisiknya serak, napasnya berat.

Setelah cukup, Alex menarik tubuh Malika berdiri, lalu dengan satu gerakan mendorongnya hingga rebah di ranjang. Tubuh Malika terhempas di atas seprai mahal.

Alex menindihnya, menatap dalam matanya. Nafas mereka sama-sama berat, penuh sengatan listrik yang menegangkan udara.

“Sekarang, giliranku sepenuhnya.” Bisik Alex.

Tangannya mencengkeram pinggang Malika, posisinya mantap. Tatapannya li-ar, pupilnya melebar.

Perih pun langsung menjalar tajam saat Alex berhasil masuk setelah beberapa kali gagal saat mencoba masuk. Malika memekik keras, tubuhnya menegang, air mata deras mengalir.

“S-sakit… ahhh…” Jeritnya.

Alex mencengkeram lebih erat. “Jangan tahan suaramu, Baby. Aku ingin dengar jeritanmu… panggil namaku…”

Malika menggigit bi-bir, tapi rasa perih terlalu hebat. Napasnya putus-putus. “A-Alex… sakit…” Lirihnya lirih, nyaris patah.

Lebih keras!” Desis Alex, gerakannya semakin dalam, semakin cepat. “Kau sangat nik-mat, Baby. Ini terlalu sempit.” Racau Alex “Lebih keras!” Racaunya

“Alex… pelan!” Tangis Malika, jeritannya tercampur sakit dan rasa tak terjelaskan.

Ranjang bergoyang, suara napas dan era-ngan mereka memenuhi ruangan. Malika mencoba mendorong dada Alex, tapi tubuhnya lemah, tak ada tenaga.

Perihnya membakar, seperti terbelah. Tapi Alex tak peduli, justru semakin keras, semakin li-ar.

Tubuh Malika berkali-kali terhentak. Suaranya pecah, memohon, “P-please… pelan… Alex.”

Namun Alex hanya menyeringai. “Jangan berhenti. Panggil terus namaku, Baby…”

“A-Alex…! Ahhh…”

Perih bercampur panas aneh. Malika menjerit lebih keras, hingga suaranya serak. Air matanya membasahi pipi, tapi Alex tampak makin terpuaskan.

Setiap tangis dan jerit Malika justru membuat Alex semakin gila, gerakannya semakin menghukum, semakin menuntut.

Hingga akhirnya, tubuh mereka sama-sama tegang, napas terputus. Malika terjatuh di ranjang, tubuhnya lemas, berkeringat, jantungnya berpacu tak terkendali.

Alex menunduk, napasnya kasar. Ia menatap wajah Malika yang masih berlinang air mata, tubuhnya yang gemetar tak berdaya.

“Aku sudah bilang…” Bisiknya, suaranya lebih pelan namun tetap tajam. “Kau berbeda, Baby. Dan sekarang… kau sudah sepenuhnya milikku. Dan kau tau? Ini pertama kalinya aku tidak memakai pengaman.”

Malika hanya terisak, napasnya berat. Tubuhnya remuk, hatinya pun begitu.

Malam baru saja dimulai, dan ia tahu, luka itu tak akan pernah sembuh.

Sekitar lima menit, tubuh Alex masih menindih tubuh Malika. Nafasnya yang tadi berat dan panas, kini mulai teratur. Hanya ada suara detak jantung keduanya, bercampur aroma keringat dan jejak gairah yang masih melayang di udara.

Alex perlahan menarik tubuhnya, duduk di sisi ranjang. Ia menghela napas panjang, kepalanya sedikit menunduk. Dari sudut matanya, ia sempat melirik Malika yang masih gemetar dengan rambut acak-acakan dan pipi basah.

Tanpa bicara, Alex bangkit. Tubuhnya yang kokoh berjalan ke arah kamar mandi, langkahnya santai namun penuh wibawa. Sebelum melangkah masuk, tangannya meraih handuk putih di gantungan.

Begitu pintu kamar mandi menutup, Malika memejamkan mata. Air matanya kembali pecah, tangannya menutup mulut agar tangisnya tak terdengar.

“Maaf Bu… maafin Lika…” Gumamnya di sela sesenggukan. Suaranya parau, lelah, penuh rasa bersalah yang menyesakkan dada.

Tubuhnya masih nyeri, rasa perih di bagian terdalam begitu nyata, bukti kesucian yang ia gadaikan demi nyawa ibunya.

Sekitar sepuluh menit, Alex keluar lagi dari kamar mandi. Tubuhnya basah, hanya dililit handuk putih di pinggang. Tetesan air menuruni dada bidangnya, membasahi garis otot perut yang kencang.

Melihat itu, Malika buru-buru mengusap air matanya dengan punggung tangan. Ia tak ingin pria itu tahu ia menangis.

Alex melemparkan pandangan dingin padanya. “Bersihkan tubuhmu.” Ucapnya singkat, suaranya dalam, datar.

Malika mengangguk cepat. Tangannya meraih selimut, menutup tubuh polosnya yang gemetar.

Tanpa banyak bicara, Alex mengambil handuk lain dari lemari dan melemparkannya ke arah Malika. “Pakai itu.”

Malika menangkapnya dengan tangan gemetar. Ia melilitkan handuk itu ke tubuhnya, berusaha menutupi rasa malu yang membakar kulitnya. Perlahan, ia berdiri dari ranjang.

Saat telapak kakinya menyentuh lantai dingin, rasa nyeri menjalar tiba-tiba. Terutama di bagian intimnya yang baru saja dihancurkan Alex.

“Awww…” Ringisnya lirih.

Alex yang hendak berjalan ke walk-in closet menoleh sekilas. Senyum miring muncul di sudut bibirnya. Senyum yang membuat Malika bergidik.

Langkahnya berat, seperti robot, jalannya agak mengangkang karena perih menusuk setiap kali ia bergerak. Ia berusaha menahan isak dan masuk ke kamar mandi.

Begitu pintu kamar mandi tertutup, Malika berjalan cepat ke arah shower. Tangannya memutar keran, dan air hangat langsung membasahi tubuhnya.

Dan saat itu juga, ia tak sanggup lagi menahan segalanya. Tangisnya pecah.

“Maaf Bu… maaf… Lika nggak punya pilihan. Lika cuma ingin Ibu selamat…” Suaranya parau, putus, nyaris tak terdengar.

Air mata bercampur air shower yang menetes di wajahnya. Tubuhnya gemetar hebat, memeluk dirinya sendiri. Ia merasa kotor dan rusak.

Sementara itu, Alex berdiri di walk-in closet. Tangannya menyentuh gantungan kaos hitam. Nafasnya masih belum teratur sepenuhnya.

Ia menyenderkan bahu ke lemari kayu mahal itu. Kepalanya sedikit mendongak, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca besar di depannya.

“Kau sangat nik-mat. Aku menyukai semua yang ada pada tubuhmu.” Gumamnya, nyaris tak terdengar.

Senyumnya samar, namun cepat lenyap. Tatapannya mengeras.

“Aku nggak pernah kayak gini sebelumnya. Ada apa ini? Nggak mungkin aku… menyukainya, kan?” Gumamnya lagi, napasnya berat.

Ia buru-buru menggeleng keras, menepis pikirannya sendiri. “Nggak! Aku nggak boleh jatuh cinta. Semua wanita sama. Mereka hanya mengincar harta pria. Setelah pria itu nggak punya apa-apa, mereka akan pergi tanpa menoleh.”

Hening sesaat.

Kenangan lama muncul. Wajah ayahnya, lelaki yang dulu Alex kagumi, akhirnya hancur hanya karena satu perempuan.

“Nggak. Aku nggak mau bernasib sama dengan Papa.” Bisiknya parau. Matanya berkaca-kaca, tapi cepat ia usap dengan punggung tangan.

Ia menunduk, menghela napas panjang. Tangannya gemetar saat meraih kaos hitam. “Sudahlah… wanita hanya untuk dimiliki satu malam, lalu dibuang.”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    63. Dendam Malika Terbalaskan.

    Begitu Alex, Xander, dan Mira keluar dari markas, suasana luar begitu kontras dengan kekacauan di dalam. Malika yang duduk di mobil, nafasnya masih tercekat, tubuhnya bergetar antara lega dan ketegangan yang belum sepenuhnya hilang. Matanya menatap pintu markas yang tertutup, menunggu kabar dari Alex.Anak buah Alex segera menutup pintu mobil dan memberikan isyarat agar Malika tetap di tempat. Malika mengangguk perlahan, tangannya menggenggam erat sabuk pengaman. Hatinya masih berdebar, tapi ada perasaan lega yang mendalam. Dia tahu, ayahnya tidak akan bisa menyakiti dirinya dan ibunya lagi, setidaknya untuk saat ini.Alex menoleh ke Malika saat mereka memasuki mobil. Wajahnya dingin, namun ada garis lembut yang hanya ditujukan untuk istrinya. Tanpa kata, ia meraih pinggang Malika dan memeluknya erat, mengecup pelipisnya dengan lembut. Malika menutup mata, membiarkan tubuhnya menempel pada suami yang belakangan ini menjadi pelindungnya. Nafasnya

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    62. Sisakan Hanya Nafasnya Saja

    Begitu pintu tertutup setelah Malika dibawa keluar oleh anak buah Alex dan ayahnya, seketika keheningan di dalam Markas itu mendadak menggantung. Tegang. Padat. Sampai-sampai juragan Opi bahkan tak berani bernafas terlalu keras.Alex berdiri tegak. Tidak berteriak.Tidak bergerak cepat. Namun auranya lebih mematikan daripada tombak yang diarahkan tepat ke dada.Dia melepas jas hitam yang tadi ia pakai, menyerahkannya pada anak buah di sampingnya, lalu menggulung lengan kemejanya perlahan, sangat perlahan.Itu saja sudah cukup membuat para penagih hutang memucat.Pedro mendongak dengan tubuh gemetar, masih terjatuh di kursi dengan pipi yang membiru akibat balok yang tadi dilempar Mira.Xander berdiri tepat di sisi Mira, tangan besar prianya menyentuh punggung Mira pelan, bukan menenangkan, tapi lebih ke memberi kode kalau ia akan menjaganya.Juragan Opi menggigil semakin keras.Alex menatap Pedro lama, sampai Pedro hampir merangkak mundur.“Sudah puas menyakiti Istri dan Ibu mertuaku s

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    61. Balas Dendam Malika dan Ibunya

    Alex dan Xander menatap Malika bingung. Mereka takut menikah berubah pikiran. Sementara Pedro tersenyum. Ia pikir Malika iba padanya dan berusaha menghentikan suaminya. Namun senyum di wajah Pedro seketika hilang begitu Malika mendekat dengan tatapan membunuh. “Baby…” panggil Alex. Dia takut Malika kenapa-kenapa saat mendekati Pedro. Malika mengangkat tangannya tanda meminta Alex percaya padanya. Alex mengangguk, namun tetap setia berdiri tepat di belakang Malika. Ia siap kapan pun melindungi istrinya itu. Malika berhenti di depan Pedro . Ia menatapnya. Tatapannya gelap penuh luka yang tidak bisa sembuh dalam semalam. “Aku nggak mau buang waktu,” ucap Malika pelan. Tapi ketenangan itu lebih menakutkan daripada teriakan. Pedro berkedip. “Malika, Ayah–..” “BERHENTI!” Malika mengangkat tangan. “Jangan panggil aku pakai sebutan itu. Kamu nggak pantas?”

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    60. Dia Layak Mati

    Alex, Xander, Mira dan Malika kini sudah tiba di markas tempat Alex menyekap Pedro, juragan Opi dan dua penagih hutang yang sering menyakiti Malika dan ibunya. Begitu turun dari mobil, Malika dan ibunya sedikit merinding melihat di sekitar tempat itu penuh dengan hutan. Dan hanya markas itu satu-satunya bangunan yang berdiri tempat di sana. “Ayo, Baby.” Ajak Alex. “Kamu sama Ibu nggak perlu takut. Tempat ini sengaja dibuat jauh dari perkotaan agar tidak ada musuh yang bisa melacaknya.” Lanjutnya Malika mengangguk. Dia pun mulai menenangkan dirinya. Begitu juga dengan ibunya. Alex menggandeng Malika, mereka berjalan setelah dua anak buah Alex lebih dulu berjalan di depan mereka. Xander dan Mira mengikuti di belakang. Xander juga memegang lengan Mira agar wanita itu tidak takut. “Selamat datang Bos.” Sapa anak buah Alex yang berja

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    59. Pembalasan Dimulai

    Satu minggu berlalu sejak pernikahan Alex dan Malika.Dalam waktu sesingkat itu, dinamika keluarga kecil mereka berubah drastis.Alex dan Malika semakin dekat, hubungan mereka tidak lagi sekaku hari-hari pertama.Alex lebih lembut, lebih protektif, dan Malika mulai membalas perhatian itu dengan cara yang membuat hati pria itu luluh setiap hari.Sementara di sisi lain, Xander dan Mira pun ikut berubah, dari dua orang asing yang sama-sama membawa luka, menjadi dua sosok yang semakin nyaman satu sama lain.Kini, Mira memanggil Xander dengan sebutan Mas. Panggilan sederhana, namun cukup membuat telinga Xander memanas setiap kali mendengarnya.Ia sama sekali tidak menyangka wanita selembut itu akan menaruh begitu banyak hormat padanya. Dan setiap kali Mira melakukan hal itu, Xander merasa dihargai. Bahkan mungkin dibutuhkan.Seperti siang ini, begitu Mira dan Malika tiba di mansion setelah kontrol rumah sakit, Xander sudah menunggu mereka di ruang tengah.Ia seperti tidak sabar, duduk deng

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    58. Nyaman

    “Aku serius, Baby. Aku yang menggantikan peranmu untuk memenuhi kebutuhan Ibu.” Ucap Alex mantap.Malika terdiam. Matanya berkedip cepat, mencoba mengusir air mata yang hendak jatuh. Ia mendongak pelan, menatap wajah tegas suaminya yang terasa begitu dekat.Alex mengusap pelan pipinya dengan ibu jari. “Kita udah jadi satu, Baby. Uangku juga uangmu. Dan tanggung jawabmu juga tanggung jawabku.”Malika menelan ludah. Dadanya bergetar.“Jangankan untuk menanggung biaya hidup Ibu, bahkan membuat hidup Ibu mewah dan membelikan rumah dan segalanya untuk Ibu, aku juga sanggup, Baby.”Kemudian Alex tersenyum nakal.“Ibu makannya sedikit. Sangat gampang ditanggung.”Mira langsung tersenyum malu, sementara Malika memukul pelan lengan Alex.“Kamu ih…”Aku jujur sayang.” Alex terkekeh pelan. “Ibu terlalu makan sedikit. Ibu harus makan banyak biar cepat sembuh. Biar kita bisa bawa ibu menemui mantan suaminya yang tidak tahu diri itu.”Mira mengangguk, matanya berbinar penuh semangat.“Iya Nak Alex.

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status