Share

3. Jangan Tutupi

Author: MessiAjh 02
last update Last Updated: 2025-07-17 12:42:34

Alex kini menggiring Malika masuk lebih dalam ke apartemen. Langkah kakinya pelan, tapi penuh wibawa.

Setiap sudut ruangan tampak mahal, bergaya minimalis monokrom, jendela kaca besar menghadap gemerlap lampu kota.

Mereka berhenti di depan sebuah pintu kamar. Alex membuka pintu itu perlahan, menyingkap kamar tidur utama yang luas. Tempat tidur king size dengan seprai hitam kelam, lampu gantung modern, dan aroma kayu mahal bercampur parfum maskulin yang membuat kepala Malika sedikit pusing.

Malika berdiri kaku di ambang pintu, telapak tangannya basah oleh keringat dingin.

“Masuk.” Ucap Alex pelan, nyaris berbisik, tapi justru membuatnya terdengar semakin mengancam.

Malika menurut, langkahnya berat. Setiap sentimeter terasa menambah berat beban napasnya.

Pintu kamar tertutup di belakang mereka. Kini hanya ada mereka berdua dan sunyi yang menekan dada Malika.

Alex melepaskan dasi perlahan, matanya tak pernah lepas dari wajah Malika. Gerakannya santai, seperti harimau yang tahu mangsanya takkan ke mana-mana.

“Kau gemetar.” Suaranya datar, menahan tawa tipis.

“Tak perlu pura-pura polos. Kau sudah memilih jalan ini sendiri.” Lanjutnya

Malika menunduk, suaranya serak, nyaris tak terdengar, “Aku… aku melakukannya demi Ibu saya, Tuan.”

Alex menyipitkan mata, lalu melangkah mendekat hingga gadis itu bisa merasakan panas napasnya.

“Jangan pernah sebut alasanmu di depanku.” Bisiknya pelan tapi tajam.

“Aku tidak peduli. Yang kubayar hanya tubuhmu. Bukan ceritamu.”

Malika menahan isak. Matanya berkaca-kaca, tapi ia menahan air mata itu. Tangannya mengepal di sisi tubuh.

Alex mengangkat tangannya, ujung jarinya menyusuri garis rahang Malika hingga dagu, mengangkat wajah gadis itu agar menatapnya.

“Aku suka matamu. Bahkan saat takut, masih berani menatapku.” Gumam Alex pelan, suaranya berat.

Tangan besarnya kemudian meraih pundak Malika, mendorongnya perlahan ke arah tempat tidur. Gadis itu melangkah mundur, tubuhnya nyaris goyah, hingga lututnya menyentuh sisi ranjang.

“Duduk.” Perintah Alex.

Malika menurut, duduk di tepi ranjang, kepalanya sedikit tertunduk.

Alex berdiri di hadapannya, melepas jas sepenuhnya dan melemparkannya ke kursi. Lalu mulai membuka kancing kemeja, dua teratas. Gerakannya pelan, tapi tegas, dan setiap kancing yang lepas membuat dada Malika semakin sesak.

“Aku akan bertanya satu kali.” Suara Alex terdengar dingin.

“Kau benar-benar masih pe-ra-wan?”

Malika terkejut, bahunya menegang. Tapi ia mengangguk cepat, suara seraknya pecah, “I-iya, Tuan… Saya… belum pernah melakukan.”

Alex menunduk sedikit, menatapnya lekat. Nafasnya terasa di kulit wajah Malika.

“Bagus.” Gumamnya rendah. “Karena aku takkan segan menghancurkanmu kalau kau berbohong.”

Tangannya terulur, mengusap pipi Malika dengan kasar, lalu turun ke dagu, memaksa gadis itu menengadah.

“Kau tahu, Baby,” Bisiknya, suara rendah, nyaris serak. “Aku ingin melihat ketakutanmu. Aku ingin setiap luka pertamamu mengingatku. Karena kau kubeli. Dan malam ini, tubuhmu hanya milikku.”

Mata Malika memanas, air mata akhirnya tumpah. Tapi ia tetap tak menjauh.

Alex mengelus bibir bawah Malika dengan ibu jarinya, menahan senyum tipis.

“Kau bahkan menangis sebelum kusentuh lebih jauh. Manis sekali.” Bisiknya, nafasnya panas di wajah gadis itu.

Kemudian, tangan Alex bergerak ke pundak Malika, menarik resleting gaun perlahan. Suara resleting yang turun terdengar begitu keras di antara kesunyian.

Malika meremang, tubuhnya gemetar. Rasa malu, takut, dan rasa bersalah pada ibunya bercampur menjadi satu.

Alex menatapnya lama, menahan napas. Dadanya terasa aneh, berat, seolah ada sesuatu yang bergetar di balik dinding baja hatinya. Tapi ia mengabaikannya.

“Berdiri!” Perintahnya, lebih rendah, lebih serak.

Malika berdiri perlahan, gaunnya melorot ke lantai, menampakkan kulit putih mulus dan pakaian dalam sederhana.

Alex menarik napas panjang. Tatapannya tajam, panas, dan ada sesuatu di matanya yang tak bisa Malika baca, antara kagum dan haus.

“Jangan menangis.” Bisiknya, mendekat. “Karena semakin kau menangis, maka aku semakin ingin menghancurkanmu.”

Tangan dingin itu kemudian melingkari pinggang Malika, menarik gadis itu mendekat, hingga da-da mereka nyaris bersentuhan.

“Aku ingin mendengar tangismu, era-ngan-mu… semuanya. Tapi satu hal, kau tak boleh berpaling dariku. Malam ini, fukusmu hanya aku.”

Malika menggigit bibir, air mata jatuh tak tertahan. Tapi ia mengangguk.

Alex menyeringai tipis. Tangannya naik, mengusap sudut mata Malika.

“Bagus, Baby.” Bisiknya, suaranya terdengar seperti dosa yang dibungkus sutra.

Alex kemudian mendudukkan dirinya di sofa panjang berlapis kulit hitam, tubuhnya santai bersandar. Satu kakinya sedikit tertekuk, memberi kesan arogan dan superior. Dengan satu gerakan cepat, ia menarik tangan Malika yang gemetar, memaksa gadis itu berdiri tepat di depannya, hanya dengan pakaian dalam tipis yang nyaris tak mampu menutupi apapun.

Nafas Malika terputus-putus. Kulitnya meremang seolah disayat udara dingin, apalagi saat menyadari sorot mata Alex yang tak berkedip, menguliti tiap lekuk tubuhnya.

Mata pria itu gelap, dalam, menyapu dari pundak ramping, dada yang naik turun cepat karena panik, perut rata, hingga ke pa-ha putih yang tegang karena takut.

Senyum tipis Alex muncul, namun bukan senyum hangat, melainkan senyum puas milik pemilik yang baru saja membeli barang paling langka.

“Tubuhmu sangat perfect.” Ucapnya rendah, suaranya berat bagaikan geraman halus. “Aku suka.”

Malika menggigit bibir, kepalanya menunduk, rambut panjangnya jatuh menutupi pipi yang memerah.

“Tapi,” Lanjut Alex, suaranya mendadak dingin, “bukan berarti aku tertarik padamu.”

Ucapan itu menampar hati Malika. Ia tahu sejak awal, ia bukan apa-apa di mata pria ini, hanya barang dagangan. Tapi tetap saja, ada semburat perih yang menyesakkan.

Tubuhnya bergetar makin hebat. Malika menunduk lebih dalam, tak berani menatap matanya.

“Tatap aku!” Perintah Alex, suaranya terangkat sedikit.

Tubuh Malika refleks menegang. Ia buru-buru mengangkat wajah, menatap pria itu dengan mata sendu yang masih basah oleh sisa air mata.

Alex menyeringai tipis. Tangannya yang besar terulur, mencengkram pergelangan tangan Malika dan menariknya kasar. Tubuh gadis itu terhuyung, lalu jatuh terduduk di pangkuan Alex, persis seperti yang dia inginkannya.

Malika kaget, tubuhnya kaku, lututnya menyentuh sisi pa-ha pria itu. Dadanya naik turun cepat. Detak jantungnya berdegup terlalu kencang hingga terasa di telinganya.

Alex menaikkan satu tangannya, meraih dagu Malika. Dengan gerakan ringan namun memaksa, ia mendongakkan wajah gadis itu agar mata mereka bertemu.

“Kau tahu?” Bisiknya, suara itu terlalu dekat, napasnya hangat di pipi Malika. “Selama ini, saat tidur dengan gadis pe-ra-wan lainnya, aku tidak pernah banyak bicara.”

Jari Alex mengusap lembut pipi Malika, kontras dengan sorot matanya yang keras.

“Aku bahkan tak pernah melakukan pemanasan.” Ia melanjutkan, nada bicaranya seperti seorang penguasa yang tengah membacakan vonis. “Aku tak pernah repot membuka pakaian mereka, bahkan pakaianku sendiri. Semuanya hanya formalitas singkat. Satu jam. Hanya untuk melampiaskan has-rat-ku.”

Mata Malika membulat sedikit. Tubuhnya kaku, tapi di sudut hatinya muncul secercah harap. Hanya satu jam… ia bisa bertahan demi Ibunya. Hanya satu jam, pikirnya.

Alex menambahkan, “Aku juga tidak pernah mau capek, Baby. Karena mereka kubeli untuk me-muas-kan-ku, bukan aku yang me-muas-kan mereka.”

Gemetar, Malika mencuri pandang ke arah jam dinding di atas pintu. Jarum jam terus berdetak, namun rasanya seperti menggantungkan nyawa.

Alex memperhatikan gerakan itu. Bibirnya melengkung, lalu ia tertawa. Bukan tawa mengejek, melainkan tawa rendah, serak, yang entah kenapa justru menambah wibawa dinginnya.

Tawa yang jarang muncul, bahkan bagi dirinya sendiri.

Sekilas, Malika terpaku. Di balik tawa itu, wajah Alex berubah. Bukan hanya dingin, melainkan nyaris menawan. Senyum itu seolah menghapus kilasan kebuasannya, meski hanya sesaat.

Detik berikutnya, Malika sadar diri. Ia menunduk lagi, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdebar tak karuan.

“Jangan pernah melihat jam.” Suara Alex mendadak datar, tapi nadanya seperti cambuk.

Malika menahan napas.

Alex mencondongkan tubuhnya sedikit, wajah mereka kini sangat dekat. Tatapan matanya tajam, menusuk.

“Karena kau akan disini sampai pagi.”

Deg.

Bagai disambar petir, tubuh Malika membeku. Pupus sudah harapannya hanya akan “dipakai” satu jam. Hatinya terasa hancur, tenggorokannya kering, dan kepalanya berputar.

Alex menatapnya lama. Senyum tipis itu muncul lagi, “Aku sudah bilang, kau berbeda dari gadis lainnya.”

Suara itu begitu yakin, dingin, namun ada sedikit kekaguman yang tak ia sadari sendiri.

“Dan… bayaranmu berkali-kali lipat dari mereka.” Lanjutnya. “Kau seharusnya bangga, Baby. Kau mahal.”

Malika menelan ludah susah payah. Ia sadar… tubuhnya, malam ini, bukan lagi miliknya.

Alex perlahan menyandarkan punggung ke sofa. Satu tangan masih menahan pinggang Malika di pangkuannya.

“Sekarang…” Bisiknya, suaranya turun menjadi lebih rendah, hampir seperti geraman. “Layani aku.”

Mata Malika berkaca-kaca. Napasnya terputus-putus. Lututnya nyaris goyah.

Tapi ia ingat Ibunya. Ingat seratus juta yang sudah ia terima di awal. Dan ingat tanggung jawab.

Dengan jemari yang bergetar, ia menoleh sedikit, menatap wajah pria itu yang separuh tertutup bayangan lampu temaram. Dan dengan napas tercekat, Malika hanya bisa mengangguk pelan. Hatinya seperti diremas, takut, tapi juga pasrah.

Jemarinya yang dingin dan bergetar perlahan terulur, menyentuh dada Alex yang tertutup kemeja hitam pas badan. Ia tidak tahu harus mulai dari mana, tak pernah membayangkan harus melakukan ini, apalagi di depan mata pria asing yang membelinya.

Alex mengamati setiap gerakan Malika. Senyum tipis, penuh rasa menang, tersungging di bibirnya.

“Gemetarmu… manis sekali.” Gumamnya rendah, seperti memuji, namun terdengar seperti ejekan yang pedih.

Malika menggigit bibirnya, menahan rasa malu. Tangan kirinya bergerak kikuk, membuka satu demi satu kancing kemeja Alex. Setiap kancing terbuka, setiap helai kulit keras dan hangat yang terkuak, membuat napas Malika semakin berat. Jari-jarinya nyaris tak terkoordinasi, terlalu gemetar untuk bekerja cepat.

Alex mengamati wajah Malika dengan kepala sedikit miring. “Lambat sekali.” Bisiknya. Tangannya terulur, mendarat di pinggang Malika, menarik tubuh gadis itu lebih dekat, hingga dadanya menempel ke da-da Alex.

“Kau seperti anak rusa yang kutangkap di hutan. Takut, tapi tak punya pilihan selain tunduk.”

Kata-kata itu menusuk dada Malika. Air mata panas menggenang lagi di pelupuk matanya. Tapi ia tidak boleh menyerah. Demi Ibu. Demi satu-satunya keluarga yang ia punya.

Malika menarik napas dalam, membuka kancing terakhir. Ia menatap dada Alex yang keras, bidang, dengan garis otot yang terukir tegas. Sesaat ia tercenung, dan Alex melihat itu.

“Kau suka?” Tanya Alex, setengah mengejek.

DEG…

“A-aku…,” Malika menunduk, suaranya patah. “M-maaf…”

Alex mengangkat dagu Malika lagi, memaksa matanya terkunci di matanya sendiri.

“Jangan pernah minta maaf. Aku membelimu untuk ini. Kau milikku malam ini.”

Tangannya yang besar kemudian menelusup ke belakang, membuka kait bra Malika dengan mudah, membuat gadis itu terlonjak kaget.

Kain tipis itu jatuh ke lantai, mengekspos da-da Malika yang bergetar hebat.

Wajah Malika memerah. Lututnya lemas. Ia refleks menutup dada dengan tangannya sendiri, tubuhnya memutar sedikit, seperti ingin lari.

“Jangan tutupi.” Suara Alex lebih rendah, tapi menggigit. “Aku membayar mahal untuk melihat semuanya.”

Perlahan, dengan tangan gemetar, Malika menurunkan lengannya.

Mata Alex menelusuri lekuk itu tanpa rasa bersalah, tatapannya membuat darah Malika serasa mendidih, bercampur rasa malu dan takut.

“Indah.” Gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. Lalu ia menatap tepat ke mata Malika. “Tapi sekali lagi, bukan berarti aku menyukaimu, Baby.”

Kalimat itu lagi-lagi menohok, tapi anehnya Malika malah lebih lega. Ia tidak perlu membuat pria ini jatuh cinta, ia hanya harus bertahan malam ini.

Tangan Alex naik, menggenggam tengkuk Malika. Ia menarik gadis itu, hingga bibir mereka hanya terpisah beberapa senti.

“Aku tak suka gadis yang kaku seperti batang kayu. Bergeraklah.”

Malika menelan ludah. Jemarinya ragu-ragu naik ke bahu Alex, lalu turun menyentuh dadanya, menggambar garis-garis ototnya. Tubuhnya sendiri gemetar seperti demam.

“Lebih, Baby.” Desak Alex, napasnya berat, suara rendahnya bagai membelai kulit Malika.

Perlahan, Malika membiarkan dirinya mendekat, hampir menyentuh hidung mereka.

Alex tiba-tiba mencium pipinya. Lembut, tapi hanya sebentar, seolah untuk menguji reaksi.

Tubuh Malika seketika tegang, napasnya tertahan.

“Gerak lembek.” Desis Alex. “Kau gadis paling polos yang pernah kudapatkan, tapi juga, paling membuatku kesal.”

Malika tak mengerti harus menjawab apa.

Tangannya mengusap dada Alex, turun ke perutnya. Pria itu masih duduk, membiarkan Malika memegang kendali semu yang tetap diatur olehnya.

“Cukup.” Suara Alex menghentikan gerakan Malika.

Dengan satu gerakan, Alex mengangkat tubuh Malika, membawanya duduk mengangkang di pangkuannya. Posisi itu membuat da-da mereka menempel erat, panas tubuhnya membuat Malika hampir kehilangan kesadaran.

Tangan Alex menelusup ke rambut panjang Malika, menariknya ke belakang. Leher putih itu kini terekspos, rentan, tak berdaya.

“Kau tahu, Baby?” Bisiknya di telinga Malika, suaranya serak dan rendah. “Aku biasanya tidak peduli gadis pe-ra-wan menangis kesakitan. Mereka kubayar, mereka harus rela.”

Malika menahan napas, tubuhnya gemetar hebat.

“Tapi denganmu… entah kenapa,” Alex mendekatkan bibirnya, “aku ingin jadi luka pertamamu, dan yang tak akan kau sembuhkan seumur hidup.”

DEG…

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    63. Dendam Malika Terbalaskan.

    Begitu Alex, Xander, dan Mira keluar dari markas, suasana luar begitu kontras dengan kekacauan di dalam. Malika yang duduk di mobil, nafasnya masih tercekat, tubuhnya bergetar antara lega dan ketegangan yang belum sepenuhnya hilang. Matanya menatap pintu markas yang tertutup, menunggu kabar dari Alex.Anak buah Alex segera menutup pintu mobil dan memberikan isyarat agar Malika tetap di tempat. Malika mengangguk perlahan, tangannya menggenggam erat sabuk pengaman. Hatinya masih berdebar, tapi ada perasaan lega yang mendalam. Dia tahu, ayahnya tidak akan bisa menyakiti dirinya dan ibunya lagi, setidaknya untuk saat ini.Alex menoleh ke Malika saat mereka memasuki mobil. Wajahnya dingin, namun ada garis lembut yang hanya ditujukan untuk istrinya. Tanpa kata, ia meraih pinggang Malika dan memeluknya erat, mengecup pelipisnya dengan lembut. Malika menutup mata, membiarkan tubuhnya menempel pada suami yang belakangan ini menjadi pelindungnya. Nafasnya

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    62. Sisakan Hanya Nafasnya Saja

    Begitu pintu tertutup setelah Malika dibawa keluar oleh anak buah Alex dan ayahnya, seketika keheningan di dalam Markas itu mendadak menggantung. Tegang. Padat. Sampai-sampai juragan Opi bahkan tak berani bernafas terlalu keras.Alex berdiri tegak. Tidak berteriak.Tidak bergerak cepat. Namun auranya lebih mematikan daripada tombak yang diarahkan tepat ke dada.Dia melepas jas hitam yang tadi ia pakai, menyerahkannya pada anak buah di sampingnya, lalu menggulung lengan kemejanya perlahan, sangat perlahan.Itu saja sudah cukup membuat para penagih hutang memucat.Pedro mendongak dengan tubuh gemetar, masih terjatuh di kursi dengan pipi yang membiru akibat balok yang tadi dilempar Mira.Xander berdiri tepat di sisi Mira, tangan besar prianya menyentuh punggung Mira pelan, bukan menenangkan, tapi lebih ke memberi kode kalau ia akan menjaganya.Juragan Opi menggigil semakin keras.Alex menatap Pedro lama, sampai Pedro hampir merangkak mundur.“Sudah puas menyakiti Istri dan Ibu mertuaku s

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    61. Balas Dendam Malika dan Ibunya

    Alex dan Xander menatap Malika bingung. Mereka takut menikah berubah pikiran. Sementara Pedro tersenyum. Ia pikir Malika iba padanya dan berusaha menghentikan suaminya. Namun senyum di wajah Pedro seketika hilang begitu Malika mendekat dengan tatapan membunuh. “Baby…” panggil Alex. Dia takut Malika kenapa-kenapa saat mendekati Pedro. Malika mengangkat tangannya tanda meminta Alex percaya padanya. Alex mengangguk, namun tetap setia berdiri tepat di belakang Malika. Ia siap kapan pun melindungi istrinya itu. Malika berhenti di depan Pedro . Ia menatapnya. Tatapannya gelap penuh luka yang tidak bisa sembuh dalam semalam. “Aku nggak mau buang waktu,” ucap Malika pelan. Tapi ketenangan itu lebih menakutkan daripada teriakan. Pedro berkedip. “Malika, Ayah–..” “BERHENTI!” Malika mengangkat tangan. “Jangan panggil aku pakai sebutan itu. Kamu nggak pantas?”

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    60. Dia Layak Mati

    Alex, Xander, Mira dan Malika kini sudah tiba di markas tempat Alex menyekap Pedro, juragan Opi dan dua penagih hutang yang sering menyakiti Malika dan ibunya. Begitu turun dari mobil, Malika dan ibunya sedikit merinding melihat di sekitar tempat itu penuh dengan hutan. Dan hanya markas itu satu-satunya bangunan yang berdiri tempat di sana. “Ayo, Baby.” Ajak Alex. “Kamu sama Ibu nggak perlu takut. Tempat ini sengaja dibuat jauh dari perkotaan agar tidak ada musuh yang bisa melacaknya.” Lanjutnya Malika mengangguk. Dia pun mulai menenangkan dirinya. Begitu juga dengan ibunya. Alex menggandeng Malika, mereka berjalan setelah dua anak buah Alex lebih dulu berjalan di depan mereka. Xander dan Mira mengikuti di belakang. Xander juga memegang lengan Mira agar wanita itu tidak takut. “Selamat datang Bos.” Sapa anak buah Alex yang berja

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    59. Pembalasan Dimulai

    Satu minggu berlalu sejak pernikahan Alex dan Malika.Dalam waktu sesingkat itu, dinamika keluarga kecil mereka berubah drastis.Alex dan Malika semakin dekat, hubungan mereka tidak lagi sekaku hari-hari pertama.Alex lebih lembut, lebih protektif, dan Malika mulai membalas perhatian itu dengan cara yang membuat hati pria itu luluh setiap hari.Sementara di sisi lain, Xander dan Mira pun ikut berubah, dari dua orang asing yang sama-sama membawa luka, menjadi dua sosok yang semakin nyaman satu sama lain.Kini, Mira memanggil Xander dengan sebutan Mas. Panggilan sederhana, namun cukup membuat telinga Xander memanas setiap kali mendengarnya.Ia sama sekali tidak menyangka wanita selembut itu akan menaruh begitu banyak hormat padanya. Dan setiap kali Mira melakukan hal itu, Xander merasa dihargai. Bahkan mungkin dibutuhkan.Seperti siang ini, begitu Mira dan Malika tiba di mansion setelah kontrol rumah sakit, Xander sudah menunggu mereka di ruang tengah.Ia seperti tidak sabar, duduk deng

  • Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan    58. Nyaman

    “Aku serius, Baby. Aku yang menggantikan peranmu untuk memenuhi kebutuhan Ibu.” Ucap Alex mantap.Malika terdiam. Matanya berkedip cepat, mencoba mengusir air mata yang hendak jatuh. Ia mendongak pelan, menatap wajah tegas suaminya yang terasa begitu dekat.Alex mengusap pelan pipinya dengan ibu jari. “Kita udah jadi satu, Baby. Uangku juga uangmu. Dan tanggung jawabmu juga tanggung jawabku.”Malika menelan ludah. Dadanya bergetar.“Jangankan untuk menanggung biaya hidup Ibu, bahkan membuat hidup Ibu mewah dan membelikan rumah dan segalanya untuk Ibu, aku juga sanggup, Baby.”Kemudian Alex tersenyum nakal.“Ibu makannya sedikit. Sangat gampang ditanggung.”Mira langsung tersenyum malu, sementara Malika memukul pelan lengan Alex.“Kamu ih…”Aku jujur sayang.” Alex terkekeh pelan. “Ibu terlalu makan sedikit. Ibu harus makan banyak biar cepat sembuh. Biar kita bisa bawa ibu menemui mantan suaminya yang tidak tahu diri itu.”Mira mengangguk, matanya berbinar penuh semangat.“Iya Nak Alex.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status