Share

Bab 14. Berbohong

Author: Sulistiani
last update Last Updated: 2026-02-27 04:28:54

Jantung Daren berdegup keras. Tangannya mengepal. Siapa lelaki itu? gumamnya dalam hati. Napasnya terasa sesak. Berkali-kali ia menekan tombol panggil pada nama "Arnie" di ponselnya.

"Nomor yang Anda tuju sedang sibuk." suara operator yang dingin terdengar berulang kali.

"Kenapa nggak diangkat?!" Daren menggeram pelan.

Ia mencoba lagi, lagi, dan lagi. Tetap tak ada jawaban. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.

Tanpa pikir panjang, lelaki tampan itu pergi meninggalkan perusahaan. Daren
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 15. Pertemuan

    "Aku mau informasi lengkap tentang kematian wanita bernama Dena itu! Selanjutnya harus tunggu Arnie dulu, dia mau seperti apa," ucap Arga."Baik, Pak. Saya akan cari informasi secepatnya," ucap Fadli.Setelah itu Fadli pun pergi dari ruangan Arga, bukan hal sulit bagi Arga mencari tahu tentang seseorang. Dengan uang dan kuasa yang ia miliki, informasi apapun bisa ia dapatkan dengan cepat. Namun, ia tidak ingin bertindak lebih jauh sebelum adiknya meminta.Disisi lain.Di kamar Daren sedang memeriksa lemari pakaian Arnie, ia tak melihat ada yang berbeda. Tak ada barang belanjaan, baju baru, atau apapun layaknya wanita yang baru pulang shopping. Hanya ada baju dan barang-barang lama Arnie yang tersimpan di lemari tua itu."Mungkin orang yang di foto itu memang bukan Arnie, buktinya tidak ada barang baru," gumam Daren.Lelaki itu masih sangat percaya diri, ia yakin Arnie sangat mencintainya, tak pernah berbohong padanya, juga tak mungkin kenal dengan lelaki yang lebih kaya darinya.Padah

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 14. Berbohong

    Jantung Daren berdegup keras. Tangannya mengepal. Siapa lelaki itu? gumamnya dalam hati. Napasnya terasa sesak. Berkali-kali ia menekan tombol panggil pada nama "Arnie" di ponselnya."Nomor yang Anda tuju sedang sibuk." suara operator yang dingin terdengar berulang kali."Kenapa nggak diangkat?!" Daren menggeram pelan.Ia mencoba lagi, lagi, dan lagi. Tetap tak ada jawaban. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya.Tanpa pikir panjang, lelaki tampan itu pergi meninggalkan perusahaan. Daren menyalakan mesin mobil dan melaju kencang menuju rumah. Emosinya bercampur dengan cemas yang membuncah.Sesampainya di rumah menjelang senja, ia membuka pintu dengan kasar. Aroma masakan hangat langsung menyeruak. Daren terhenti sejenak. Di dapur, Arnie terlihat tenang memotong sayur, wajahnya berseri seperti biasa."Mas Daren?" sapa Arnie, tersenyum kecil, seolah tak ada apa-apa. "Kok pulang cepat?"Daren hanya menatapnya tajam. Ia menahan diri agar tidak langsung meledak. Dengan suara berat ia

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 13. Pergi Ke Mall

    "Hallo." Arnie mengangkat panggilan telepon."Arnie, apa kamu sedang sibuk?" tanya Arga di sebrang sambungan telepon."Lumayan, aku lagi cari bukti-bukti tentang Dena. Udah hampir seharian, gak nemuin apa-apa," ucap Arnie."Masalah itu nanti kakak bantu, sekarang dengarkan kakak!" ucap Arga.Arnie mengangguk dan memberikan Arga kesempatan untuk menjelaskan hal penting yang membuat Arga menelponnya."Kedua orang tua angkat ku sudah sampai di kota ini, mereka ingin bertemu kamu, Ibu, dan Ayah. Aku sudah atur waktu untuk kalian bertemu, lusa di salah satu restoran mewah," ucap Arga.Arnie tidak bisa menolak permintaan Arga, meskipun Ia sekarang sedang fokus mencari bukti kematian Dena. Namun, ia terpaksa untuk menyampingkan hal itu terlebih dahulu. Keesokan harinya.Arga ingin ayah, ibu, dan adiknya tampil pantas dan maksimal di depan kedua orang tua angkatnya, ia pun akhirnya mengajak ayah, ibu, dan adiknya ke mall untuk berbelanja baju dan keperluan lainnya.Begitu memasuki mall terbe

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 12. Mencari

    "Sudah bangun?!" tanya Daren dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Iya, kenapa aku bisa tidur di sini. Rasanya tadi malam aku tidur di sofa," ucap Arnie. "Kamu tidur sambil berjalan, sampai gak sadar," ucap Daren lalu turun dari ranjang. Arnie duduk dan mengerutkan keningnya, seumur hidup ia tidak pernah berjalan saat tidur. Sikap Daren pun terasa aneh sejak Arnie mulai meminta cerai, biasanya Daren akan marah besar jika Arnie naik ke ranjangnya, pagi ini lelaki itu terlihat biasa saja. Arnie menyiapkan baju kerja untuk Daren seperti biasa, lalu berjalan ke dapur untuk membuatkan sarapan. Meskipun malas untuk melayani keluarga itu, tapi Arnie tidak mau ada drama pertengkaran hari ini. Ia ingin suami, mertua, dan kakak iparnya cepat-cepat pergi dari rumah itu dan ia bisa kembali ke kamar Dena. "Sudah masak kamu? Sudah di cobain belum rasanya, jangan sampai seperti kemarin lagi," ucap Murni. "Sudah, Mah. Hari ini aku gak mual, jadi makanannya pasti enak," jawab Arnie.

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 11. Gelisah

    "Aku ingin bebas dari neraka kehidupan ini, Mas. Mana ada istri yang tahan di perlakukan lebih buruk dari pada binatang?!" ucap Arnie seraya meneteskan air mata.Daren mengeratkan giginya, biasanya ia akan merasa puas saat melihat Arnie menangis. Namun, kali ini entah mengapa hatinya malah ikut terasa sesak."Sebenarnya apa salahku sampai kamu dan keluargamu begitu kejam padaku?" Arnie sengaja bertanya seperti itu, ia ingin melihat seperti apa jawaban Daren. Selama ini Daren tak pernah mengatakan secara langsung padanya tentang dendam atas kematian Dena, ia baru tahu saat tak sengaja mendengar percakapan Daren dan mama nya."Diam! Kesalahanmu sangat fatal dan kau tak pernah menyadarinya. Jadi sampai mati pun aku tidak akan menceraikan mu, kau harus menebus kesalahanmu dengan diam di sisiku, menuruti aku, seumur hidupmu."Setelah mengatakan itu Daren mendorong Arnie hingga jatuh ke lantai, lalu ia pergi meninggalkan rumah itu begitu saja.Arnie hanya bisa menghela nafas melihat kepergi

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 10. Kebakaran Jenggot

    Arga meninggalkan rumah mewah itu dengan hati tidak rela, bertahun-tahun ia berpisah dengan keluarganya. Namun, saat bertemu kembali mendengar adiknya dalam masalah ia merasa kesal.Arga meraih ponselnya, lalu menelpon seseorang. "Cari informasi selengkap-lengkapnya tentang orang bernama Daren Hadi Prasetya."Setelah itu ia kembali melajukan mobilnya menuju hotel yang ia tinggali.Sementara di sisi lain.Arnie baru saja selesai mandi, saat ia hendak memakai baju tiba-tiba pintu kamar di buka dengan kasar hingga menimbulkan suara kencang.Brak ..."Astaghfirullah. Mas Daren, kamu sudah pulang?" tanya Arnie terkejut melihat Daren diujung pintu.Tanpa menjawab pertanyaan Arnie, Daren melempar tas kerjanya keatas ranjang lalu berjalan kearah Arnie dengan tatapan mata yang tajam."Dari mana kamu hari ini?!" tanya Daren dengan nada ketus."Dia tahu aku keluar rumah? Apa mbok Inah yang bilang? Tapi gak mungkin, selama ini kalau aku diam-diam ke rumah ibu, mbok Inah gak pernah bilang ke mas D

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status