แชร์

Bab 87. Rindu Dan Cemburu

ผู้เขียน: Sulistiani
last update วันที่เผยแพร่: 2026-05-25 05:24:03

"Coba tebak dari siapa?" tanya Friska sambil tersenyum.

"Duh, kakak gak mau tebak-tebakan. Bilang aja dari siapa, penting apa enggak?" tanya Frans.

"Kalau buat aku sih gak terlalu penting, tapi kayanya kalau untuk kakak penting banget," ucap Friska sambil terkekeh.

Frans mengerutkan keningnya, sang adik tak juga memberikan ponsel itu hingga mereka tiba di sebuah supermarket. Friska dan anaknya turun dari mobil hendak berjalan memasuki supermarket tersebut.

"Nih, pesan dari pujaan hati kakak," u
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 87. Rindu Dan Cemburu

    "Coba tebak dari siapa?" tanya Friska sambil tersenyum."Duh, kakak gak mau tebak-tebakan. Bilang aja dari siapa, penting apa enggak?" tanya Frans."Kalau buat aku sih gak terlalu penting, tapi kayanya kalau untuk kakak penting banget," ucap Friska sambil terkekeh.Frans mengerutkan keningnya, sang adik tak juga memberikan ponsel itu hingga mereka tiba di sebuah supermarket. Friska dan anaknya turun dari mobil hendak berjalan memasuki supermarket tersebut."Nih, pesan dari pujaan hati kakak," ucap Friska sambil memberikan ponsel itu pada kakaknya. Frans melebarkan bola matanya, lalu bergegas memeriksa ponsel miliknya tersebut. Friska tersenyum puas lalu mengajak anaknya memasuki supermarket, membiarkan kakaknya menunggunya di mobil."Arnie," gumam Frans saat melihat isi pesannya.Ternyata tak cuma satu, Arnie beberapa kali mengirim pesan seolah penasaran siapa wanita yang berfoto dengan nya.(Betah ya disana, ditemani perempuan cantik.)(Apakah itu klien kamu, atau pacar kamu?)(Sibu

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 86. Menguji

    "Kak Natasya bikin aku kaget aja," ucap Arnie.Natasya tersenyum lalu duduk di hadapan Arnie, ia memesan makanan dan makan bersama calon adik iparnya itu."Frans bilang berapa hari disana?" tanya Natasya."Belum tahu, Kak. Waktu pergi dia bilang sampai kasus yang dia tangani selesai, jadi gak pasti kapan," ucap Arnie."Pasti kamu merasa kehilangan, biasanya setiap hari makan bareng dia. Sekarang jadi sendirian," ucap Natasya.Arnie tersenyum menunduk, ia pun tak bisa memungkiri apa yang dikatakan calon kakak iparnya benar. Selama setahun ini Frans selalu menemaninya, membuat harinya tidak terasa sepi. Bahkan perhatian dan kasih sayang pengacara tampan itu tanpa sadar menyembuhkan luka hati Arnie secara perlahan-lahan."Frans itu ganteng, baik, dan bertanggung jawab. Banyak perempuan yang suka sama dia, tapi heran dia gak pernah tertarik sama perempuan-perempuan itu. Dulu aku pikir dia gay, ternyata setelah ketemu kamu pikiranku berubah," ucap Natasya."Kakak udah lama ya kenal Frans?"

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 85. Rindu Berat

    "Mama kenapa kesini?" tanya Daren saat mendongakkan kepala dan melihat sang mama mendatangi nya."Kamu sudah hampir sebulan tidak pulang, setelah pulang tidak langsung ke rumah. Mama khawatir dan tadi mendatangi kantor kamu, tapi Soni bilang kamu kesini," ucap Murni lalu berjongkok di samping Daren.Mbok Inah yang menemani Murni dari rumah pun ikut berjongkok di depan makam Dena dan Dimas, ia melihat kelopak bunga yang masih segar nampaknya baru saja di taburkan diatas kedua makam tersebut."Maaf membuat Mama khawatir," ucap Daren dengan suara pelan."Mama sudah kehilangan papa, Dimas, dan Dena. Sekarang mama cuma punya kamu," ucap Murni seraya meneteskan air mata.Daren menatap sang mama begitu lama, penolakan Arnie membuat dirinya putus asa dan hampir menyerah untuk hidup. Namun, ucapan sang mama barusan membuat Daren tersadar jika ia masih harus hidup demi mama nya."Aku gagal mendapatkan maaf dari Arnie, Mah. Dia malah semakin membenci aku," ucap Daren dengan hati terasa teriris.

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 84. Tenggelam Dalam Penyesalan.

    "Hah? Enggak ...." Arnie bingung harus mengatakan apa, ia sendiri pun tidak mengerti mengapa ada rasa tak nyaman saat Frans mengatakan jika ia akan pergi keluar kota selama beberapa hari. Rasanya berat dan tak ingin melepaskan Frans, padahal lelaki itu hanya melakukan tugas sebagai pengacara dan pasti akan kembali lagi. Dulu setiap kali Daren pergi keluar kota untuk urusan bisnis, Arnie tidak merasakan hal seperti itu."Kakak hati-hati saat disana ya, kalau gak banyak kerjaan hubungi aku," ucap Arnie.Frans menganggukan kepala dan mencubit kecil hidung Arnie. "Sesibuk apapun aku disana, pasti aku sempatkan menghubungi kamu. Aku pasti akan kangen banget sama kamu," ucap Frans.Pengacara tampan itu sudah mengungkapkan perasaannya, sehingga kini bisa berbicara secara blak-blakan kepada Arnie dan hal itu membuat Arnie sedikit salah tingkah.Jam istirahat berakhir, Arnie dan Frans kembali ke kantor masing-masing.Sementara disisi lain.Daren sudah bersiap mengemas semua barang-barangnya di

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 83. Penolakan Lagi

    "Arnie maaf, aku tidak bermaksud merendahkan mu, semua yang ku katakan kemarin hanya karena aku cemburu melihat kamu dekat dengan lelaki lain," ucap Daren. Arnie menggelengkan kepalanya mendengar penjelasan Daren, tetapi sebanyak apapun Daren menjelaskan hati Arnie tetap mati. Ia sudah tidak ingin memberi kesempatan pada lelaki yang sudah berkali-kali menyakitinya secara fisik maupun mental."Sudahlah, Daren. Aku lelah mendengar kata maafmu hampir setiap hari, apa yang terjadi diantara kita sangat sulit untuk di perbaiki. Aku tidak ingin melihatmu lagi, aku tidak ingin kau ganggu lagi," ucap Arnie."Arnie ...." Daren tidak bisa melanjutkan ucapannya, hatinya sangat perih mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Arnie."Seribu kata maafmu tidak akan bisa merubah masa lalu, luka di hatiku tidak mudah sembuh secepat itu. Pergilah, aku benar-benar sudah tidak menginginkan mu!" Setelah mengatakan itu, Arnie menarik tangan Frans dan mereka berjalan meninggalkan Daren. Buket bunga mawa

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 82. Penolakan

    "Maaf, Daren. Aku tidak bisa membantumu lagi," ucap Wira dengan suara pelan namun tegas."Wira, kamu satu-satunya sahabatku.""Ya, aku satu-satunya sahabatmu. Dulu aku paling banyak membantumu termasuk urusan tender besar, tapi saat aku butuh bantuanmu ... Kau tidak membantuku," ucap Wira.Kenyataan yang diucapkan Wira membuat kerongkongan Daren terasa kering, Wira berdiri di depan jendela apartemen, matanya menatap lampu-lampu kota, tetapi pandangannya kosong. Teringat bagaimana saat ia benar-benar terpuruk dan ditinggalkan semua orang termasuk Daren, ia pikir itu adalah akhir hidupnya sampai akhirnya anak buah Arga menyelamatkan nya dan Wira pun memulai hidup baru."Wira ... Aku–""Sudahlah, Daren!" Wira memotong ucapan Daren. "Lebih baik kamu lepaskan dan lupakan Arnie, dia jauh lebih bahagia tanpa kamu. Kembalilah ke jakarta, jalani hidup baru, disana banyak wanita yang mau denganmu."Daren menganggukan kepala, ia benar-benar tidak bisa melepaskan dan melupakan Arnie. Lelaki itu m

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 16. Kebenaran Yang Ditutupi

    Arnie sangat terkejut saat melihat rekaman cctv yang ada di ponsel Arga, dari rekaman itu terlihat jelas Dena sedang berjalan di trotoar, tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Tak lama kemudian seorang wanita keluar dari mobil lalu menarik tangan Dena, hingga terlihat sebuah pertengkaran.Se

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 15. Pertemuan

    "Aku mau informasi lengkap tentang kematian wanita bernama Dena itu! Selanjutnya harus tunggu Arnie dulu, dia mau seperti apa," ucap Arga."Baik, Pak. Saya akan cari informasi secepatnya," ucap Fadli.Setelah itu Fadli pun pergi dari ruangan Arga, bukan hal sulit bagi Arga mencari tahu tentang sese

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 13. Pergi Ke Mall

    "Hallo." Arnie mengangkat panggilan telepon."Arnie, apa kamu sedang sibuk?" tanya Arga di sebrang sambungan telepon."Lumayan, aku lagi cari bukti-bukti tentang Dena. Udah hampir seharian, gak nemuin apa-apa," ucap Arnie."Masalah itu nanti kakak bantu, sekarang dengarkan kakak!" ucap Arga.Arnie

  • Dendam Dan Penyesalan Sang Mantan    Bab 12. Mencari

    "Sudah bangun?!" tanya Daren dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Iya, kenapa aku bisa tidur di sini. Rasanya tadi malam aku tidur di sofa," ucap Arnie. "Kamu tidur sambil berjalan, sampai gak sadar," ucap Daren lalu turun dari ranjang. Arnie duduk dan mengerutkan keningnya, seumur hid

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status