Masuk***
David menatap tajam pada wanita berusia Dua Puluh Enam tahun yang semalam ketahuan berbuat ulah itu. "Apa yang kau lakukan, Savana?" tanyanya dengan nada suara yang sangat amat menakutkan.
Savana mengkerut. Ia tahu telah melakukan kesalahan fatal. "M-maafkan aku. Semalam aku ... "
"Diam! Kau tidak berhak membela diri. Kau tahu telah melakukan kesalahan besar. Kau menghancurkan semuanya!" bentak David.
Savana tampak ketakutan. Ia akui kali ini dirinya sudah sangat keterlaluan. Sudah tahu Ava milik Liana, tetapi nekat ikut memilikinya karena dendam pada perempuan itu. Kini, semua berantakan. David sangat marah hingga sulit untuk dibujuk lagi.
"Sekarang kita harus mengubah rencana!" ujar David.
"Kau harus menikah dengan Leon. Kita akan memikirkan cara selanjutnya setelah kalian menjadi suami istri!"
"Maksud Kakak?" Akhirnya Savana menyebut siapa David sebenarnya. Wajahnya sangat panik saat David memintanya menikah dengan Leonal Vadas Smith. Mereka berdua tahu siapa pria dingin itu.
"Apa ucapanku kurang jelas, Ana?"
Savana menggeleng. Namun, tetap saja ia tak mengerti. "Kita sama-sama tahu siapa Leon, siapa The Blue Agency, Kak. Mana mungkin aku menikah dengannya?" Savana meminta penjelasan lebih kepada David.
"Itulah kenapa aku memberimu peringatan untuk tak membuat masalah, Savana! Sekarang kau harus mengikuti perintah karena keputusan ini dibuat sendiri oleh Leon atas dasar melindungi nama baik Agency."
Bagaimanapun juga Savana tidak terima dinikahi oleh Leon yang merupakan cucu dari musuh kakeknya sendiri. Entah apakah Savana memiliki cara menghindari pernikahan ini atau tidak? Namun, Leon harus tahu bahwa Savana bukan wanita yang mudah untuk ia taklukan.
“Savana? Apa kau mendengarku?” David mendesak adik semata wayangnya itu.
Savanna menghela napas dengan berat. Menikah dengan Leon sama saja dengan bunuh diri. Pertama kali melihat pria itu saja Savana merasa tidak bisa berkutik.
“Mana mungkin aku sanggup hidup di bawah atap yang sama dengan pria itu, Kak!”
“Kau masih menolak perintah, Ana?” David terlihat sangat geram.
“Bukan begitu, tapi … ”
“Kau jangan membuatku pusing! Rencana kita sudah berantakan gara-gara ulahmu!” David dengan tegas memotong ucapan sang adik.
Savana tahu kesalahannya, tapi kenapa David tak memikirkan cara lain untuk mengatasi masalah ini? Kenapa dirinya yang harus berkorban dan menikah dengan Leon? Ini sungguh membuatnya kesal.
Melihat Savana terdiam membuat David tahu adik semata wayangnya itu tidak setuju dengan rencana Leon. Sesungguhnya dia pun tidak rela Savana terjebak bersama pria itu. Hanya saja, membela Savana sama saja dengan membuka kedok siapa mereka sebenarnya.
Leon itu adalah pria yang cerdas. Tak mungkin hubungan darahnya bersama Savana dapat disembunyikan lagi bila Leon mencari tahu.
“Baiklah, apakah kau memiliki rencana lain, Savana? Jika ada dan bisa mengatasi skandal yang kau ciptakan bersama Ravano Pradikta, maka lakukan sesukamu. Aku tidak akan ikut campur!” ujar David memberi pilihan pada Savana.
Mulut Savana terbuka lalu tertutup kembali karena apa yang ia pikirkan bukan solusi yang dapat membantah rumor perselingkuhannya dengan Ava. “Sial!” makinya teruntuk diri sendiri dan keadaan yang tengah mempersulitnya ini.
David tersenyum licik. “Apa kau menemukan solusi?” tanyanya.
Terang saja dengusan yang Savana berikan. “No!” kesalnya.
“Kalau begitu ikuti perintahku!” tegas David.
Pada akhirnya Savana hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tak memiliki kekuatan untuk melawan perintah kakaknya. Ditambah sekarang itu semua adalah perintah Leonal Vadas Smith, pemilik baru The Blue Agency.
***
Pria pemilik rahang tegas itu tampak memandang aktris yang saat ini namanya tengah hangat diperbincangkan karena skandal cinta segi tiga. Tidak ada senyum ramah apalagi sapaan hangat dalam pertemuan itu. Membuat sang aktris terlihat kikuk dan menyesal telah menciptakan skandal.
“Apa kau sudah mengatakan padanya tentang rencanaku?” tanya Leon pada David setelah puas menatap Savana dengan penuh selidik.
David melirik Savana sebentar sebelum mengalihkan perhatian sepenuhnya pada Leon. “Sudah, Pak! Savana setuju menikah dengan Anda,” jawabnya.
Ingin sekali Savana menyanggah pernyataan itu dari mulut David, tetapi ia takut David semakin marah padanya.
“Baiklah,” Leon mengangguk. Ia kembali melirik Savana dengan tatapan yang sama sekali tidak bersahabat. Kebencian menyeruak dalam diri pria itu karena Savana berpotensi menghancurkan The Blue Agency akibat dari skandal bodohnya. “Kau hanya perlu mengikuti semua sandiwaraku jika masih ingin berada di sini!” ujarnya tertuju pada si aktris.
Sebelum masuk ke ruangan ini, Savana telah diberi peringatan oleh David untuk bersikap sopan dan lunak, tetapi seorang Savana yang keperibadiannya menyebalkan mana bisa menuruti itu dalam sekali perintah atau peringatan.
Lihat saja sekarang, mata Savana membalas tatapan tajam yang Leon berikan.
“Savana apa kau mengerti yang Pak Leon katakan?” tegur David yang mulai sadar akan gelagat adiknya itu.
Ketika Savana menoleh pada David, Savana mendapatkan delikan tajam dari sang Kakak. “Mengerti K … ” Hampir saja wanita itu memanggil David dengan cara yang biasa ia lakukan. Beruntung David dengan cepat mendelik lebih tajam sebagai peringatan. “Aku mengerti Pak David.” Savana berhasil mengendalikan dirinya sesuai dengan yang David inginkan.
“Bagus!” ujar Leon menyahuti.
“Tapi, aku punya pertanyaan!” Tiba-tiba saja Savana mengalihkan perhatiannya pada Leon dan berkata seperti itu.
David yang mendengarnya mengerutkan dahi. Apa lagi yang ingin adiknya tanyakan? Savana benar-benar akan ia beri pelajaran jika berniat mengacaukan rencananya. Ayolah! Semua sudah berjalan sejauh ini, betapa menyebalkannya jika amanat kakek mereka tak bisa terpenuhi seperti keinginannya.
“Apa itu?” Leon tampak tak suka.
Savana mendengus sebal. Sama tak sukanya pada sikap Leon yang otoriter. “Apakah kita akan tidur bersama setelah menikah?” Ini adalah kekhawatiran yang paling menyelimuti hatinya saat David memaksanya untuk menjadi istri Leon.
Sudut bibir Leon tertarik membentuk senyum sinis. “Kau tak perlu khawatir soal itu, aku tak akan pernah sudi menyentuhmu!” jawabnya dengan nada yang terdengar jijik pada Savana.
Ah, sial! Savana yakin Leon menilainya wanita paling nakal sejagat raya karena rela menjadi selingkuhan Ava. Padahal, demi apapun tak pernah Savana mengizinkan Ava menyentuhnya.
“Kau menghinaku?” Savana terlihat jengkel.
“Apa kau merasa terhina akan ucapanku?” Leon ikut bertanya.
David mengurut keningnya. Kenapa pernikahan yang akan terjadi antara Leon dan Savana akan terlihat sulit ke depannya? Belum resmi menjadi suami istri kontrak saja mereka sudah memiliki banyak perbedaan.
“Kau … ”
“Kenapa? Dasar pembuat onar!” potong Leon dengan cepat dan ketus.
Savana jelas tidak terima. Namun, baru saja ia akan membalas keketusan Leon, David sudah lebih dulu menghentikannya. “Apa kalian akan tetap bertengkar?” sindir lelaki itu. Keduanya lantas mengalihkan tatapan tajam mereka pada David. “Iya!” bentak mereka secara bersamaan.
Ya Tuhan …
David merasa rencananya benar-benar diambang kehancuran. Ia harus memikirkan alternative lain untuk membalaskan dendam mendiang kakeknya.
To be continued.
***“A-apa maksudmu?” tanya Dyana gugup. Meskipun dia paham apa yang David inginkan, tapi dirinya pun harus mencari tahu lebih dalam.David berdecak kesal. Tanpa menjawab pertanyaan Dyana, David menarik Dyana dalam sekali hentakan. Terang saja hal itu membuat Dyana terkejut.“Apa yang kau lakukan?” pekiknya.“Kau terlalu banyak berpikir. Aku yakin kau menyukaiku!” ujar David percaya diri, tapi dia tak salah juga karena Dyana memang menyukainya.“Lepaskan aku! Kau …”“Diamlah jika tak ingin kucium!”“Apa?!”Sesungguhnya Dyana ingin sekali David melakukan itu padanya, tapi dia terlalu gengsi untuk berharap. Dyana memilih mematung agar David tak melaksanakan ancamannya.“Kau bisa diam juga ternyata,” kekeh David sedikit melonggarkan pelukannya. Pria itu menatap lekat wajah Dyana. “Ternyata kau cukup cantik,” pujinya seakan tersadarkan akan pesona manager adiknya itu.Dyana salah tingkah. Dia tak berani membalas tatapan David. Khawatir tiba-tiba dirinya menerkam bibir pria itu.“Dyana, ka
***“Dasar mesum! Kau tak tahu tempat!” ujar Savana sembari merapikan rambutnya.Hukuman yang Leon maksud nyatanya tak sesederhana yang Savana pikirkan. Suaminya itu tak peduli di mana mereka sedang berada. “Kau tetap membuka celanaku, padahal kita sedang di basemant,” deliknya.Leon terkekeh. “Jangan salahkan aku. Kau yang selalu membuatku tergoda untuk melakukannya,” balasnya terlampau tenang.Tck!Savana benar-benar malu. Namun, dia juga menikmati setiap perlakuan yang Leon berikan kepadanya tadi.“Ayo pulang. Aku mulai merasa tidak nyaman,” protesnya.Leon mengacak rambutnya, membuat wanita itu kembali mendelikkan mata. “Aku baru saja merapikan rambutku, Leon!” ujarnya.Leon memilih acuh. Dia menghidupkan mesin mobil mewahnya, lalu menekan pedal gasnya. Kendaraan roda Empat itu pun bergerak perlahan. Meninggalkan parkiran apartemen. Selisih lima menit tamu yang Savana undang tiba dengan menaiki driver online yang Savana pesankan.Dyana, dia yang Savana maksud. Wanita itu menggerut
***David mengalihkan perhatiannya pada Savana. Kepalanya menggeleng untuk menjawab kekhawatiran adik semata wayangnya.“Aku terguncang, tapi aku tidak akan tinggal diam. Hans benar-benar telah mempermainkan kita!” ujarnya dengan tangan yang semakin kencang terkepal.“Tenanglah, David. Kita harus mengumpulkan bukti yang kuat untuk menjebloskan pria tua itu ke dalam penjara. Aku tak sudi dia berkeliaran di dunia ini tanpa rasa bersalah!” Leon membalas tajam, seolah dapat membaca isi pikiran David saat ini.Benar, tadinya David akan menemui Hans lalu menghajarnya. Memaksa pria tua itu mengakui perbuatannya.Jika Leon tak menyadarkannya, mereka pasti telah kehilangan kesempatan untuk membuat Hans membayar mahal perbuatannya.“Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi tolong jangan gegabah. Aku sedang mencari bukti untuk membuat Hans dan Clara tak bisa mengelak lagi.”“Kau juga belum menemukan asal peluru yang menembus kulit kakek Jordan hari itu, kan?” tanya Leon.David mengiyakan meskipun da
***“Apa maksudmu?” tanya Leon dengan rahang yang mengeras.Savana mulai khawatir. Dia kembali menggenggam tangan Leon. Wajahnya tampak sedih. “Sayang itu semua hanya salah paham, aku yakin,” ucapnya.“Mana mungkin salah paham, Savana? Aku dengar sendiri kalau kematian Benjamin berkaitan denganku,” sahut David cepat. Nadanya mulai gelisah, tak seangkuh tadi.Membuat Leon semakin penasaran. Namun, ada yang harus dirinya lakukan terlebih dahulu sebelum bertanya lebih lanjut tentang masalah ini.“Jangan khawatir, aku akan membuka apapun yang pernah menjadi rahasia di masa lalu kakek kita. Aku tidak akan menelan mentah-mentah informasi yang aku terima. Tenanglah, Sayang,” ucapnya karena sadar Savana sednag mengkhawatirkan kepercayaannya.Savana akhirnya dapat menghembuskan napasnya dengan lega. Dia mengangguk sambil terus mengeratkan genggaman tangannya pada Leon.“Ayo aku antar kau beristirahat di kamarmu,”“Aku tidak mau, aku ingin tetap berada di sini, Leon.” Savana menolak saat Leon m
***Tak lekang David memandang Leon dengan tatapan tajamnya. Terlihat jelas pria itu teramat tidak menyukai keturunan Smith tersebut. Dia juga melirik Savana yang secara terang-terangan lebih membela Leon. Adiknya itu bahkan telah berpindah tempat duduk di samping Leon.“Katakan!” ujarnya terdengar malas.Savana ingin protes melihat cara kakaknya berbicara dengan Leon. Namun, dengan cepat Leon menghentikannya. Kepala pria itu menggeleng, sementara bibirnya tersenyum lembut.“Tenang dan dengarkan saja aku dan kakakmu bicara, Sayang,” ucapnya.Savana menghela napasnya, namun dia mengiyakan dengan anggukkan kepala. Melihat itu membuat David mendengus kesal. Dia tak suka adiknya menjadi penurut di depan Leon.“Bolehkah aku memanggilmu kakak ipar?” tanya Leon setelah perhatiannya terfokus pada David.“Kau tak pantas!” jawab David, yang lagi-lagi membuat Savana ingin mengeluarkan sumpah serapahnya. Akan tetapi, wanita itu ingat janjinya pada Leon. Dia hanya akan menjadi pendengar yang baik h
***“Apa kau mendengarku, Savana?” Suara David yang jauh berbeda dari bisanya membuat Savana paham betapa marahnya sang kakak saat ini.Savana tak berani menolak. Namun, Leon tak bisa menahan kekesalannya lagi. Pria itu mengabaikan permohonan Savana yang memintanya agar tetap diam.“Kau tak bisa membawanya pergi begitu saja, David.”Sejenak Savana memejamkan matanya. Ego seorang pria yang terluka memang tidak bisa dikendalikan. Lihat saja sekarang, Leon telah kehilangan kesabaran.“Aku bisa!” David membalas, keras dan terdengar tidak bersahabat.“Dia istriku!” balas Leon.David mendengus. “Kau mungkin baru kemarin mengetahui ikatan yang sebenarnya di antara kami berdua, tapi seumur hidupnya Savana adalah adik kandungku. Aku lebih berhak darimu!” ujarnya.Tentu saja Leon semakin kesal mendengar itu. “Tapi dia mencintaiku. Jangan memaksanya ikut denganmu,” ucapnya tak ingin kalah.“Kau pikir darah lebih kental dari ikatan semua istri kontrak kalian berdua?”“Kami sudah merobek kontrak i







