Masuk
***
Tamparan keras tiba-tiba saja mendarat di pipi Savana yang malam ini berlapiskan blush on tipis tersebut. Tamparan itu berasal dari seorang perempuan berparas cantik yang tampak marah di depannya.
“Dasar murahan! Mau saja kamu jadi selingkuhan tunanganku!” maki perempuan pemilik rambut panjang lurus itu kepada Savana.
Jangan kira seorang Savana akan berlinangan air mata atau menyesali perbuatannya. Senyum sinis justru muncul di antara sudut bibir perempuan Dua Puluh Enam tahun itu. Ia sama sekali tidak merasa bersalah telah menjadi orang Ketiga dalam hubungan Liana dan Ravano. Justru Savana senang melihat wajah Liana yang memerah karena marah. “Sekarang kamu pilih, Ava! Aku atau perempuan ini?” Mengabaikan makian Liana, Savana melayangkan tanya kepada Ravano atau yang akrab disapa Ava itu.
Ava mendengus sebal. Jika ditanya seperti itu, maka dia jelas akan memilih Liana. Bukan karena sangat mencintainya, tetapi Ava terlalu pengecut sebagai seorang pria. Dia takut karirnya akan hancur jika memilih Savana. “Liana tunanganku, dan kami akan segera menikah!” ujarnya.
Harga diri Savana seolah terinjak mendengar pilihan Ava. Amarahnya memuncak, itu dibuktikan dari telunjuknya yang semakin garang mengarah pada Ava. “Bajingan!” makinya tidak terima.
“Terima saja, Savana, kamu memang bukan tandinganku,” sindir Liana. Meskipun harga dirinya sempat jatuh lantaran Ava menyelingkuhinya dengan Savana, tetapi kini ia merasa berada jauh di atas puncak dibandingkan Savana.
“Diam kamu, Liana! Ava tidak mencintaimu!” bentak Savana membalas Liana. “Dan, kamu Ava!” telunjuknya kembali mengarah pada sang kekasih yang sebentar lagi akan menjadi mantan. “Dasar pengecut yang hanya mementingkan karir saja!” sinisnya.
Pertengkaran di sebuah club malam bergengsi itu menarik banyak mata untuk memperhatikan mereka. Ketiganya seolah lupa siapa mereka sebenarnya. Sampai-sampai kehadiran wartawan tak lagi mereka pedulikan.
Kehebohan itu juga menyita perhatian seorang lelaki tampan bernama Leonal Vadas Smith. "Siapa mereka, David?" Ia lantas bertanya kepada bawahannya.
"Lelaki itu bernama Ravano Pradikta, seorang aktor yang berasal dari Liana's Agency, pemiliknya perempuan berambut panjang lurus di sebelahnya," jawab David.
Leon mengernyit heran. Ternyata yang bertengkar di sana adalah seorang aktor terkenal yang diketahui telah lama bertunangan dengan perempuan berambut panjang tersebut. Liana namanya. "Lalu wanita pemarah itu siapa?" tanya Leon lagi. Dagunya menunjuk perempuan bergaun merah yang sedang menunjuk wajah Ravano si aktor.
David menelan ludah dengan susah payah. "Namanya Savana. Dia dari The Blue Agency, Pak Leon," terangnya.
"Apa?" Leon dengan cepat menoleh pada David. Seorang Aktor di bawah agency orang lain saja sudah membuatnya terkejut, dan apa kata David tadi? Perempuan bergaun merah pemarah itu dari …
Leon tak sempat melanjutkan pergumulan dalam benaknya lagi saat melihat asistennya bersikap pasrah.
David menghela napas lalu mengangguk. "Iya. Dia dari agency kita Pak Leon," ucapnya sembari menunjukan media sosial milik Savana. David yakin bosnya tak tahu soal Savana karena selama ini sang pemilik agency sibuk dengan perusahaannya sendiri. Sementara The Blue Agency adalah perusahaan yang baru saja jatuh ke tangannya setelah diwariskan oleh mendiang kakeknya. Bahkan hari ini adalah hari pertama Leon bekerja.
Sebagai aktris yang masih cukup baru, Leon pun belum tentu mengenal Savana, meski karir Savana melejit cukup cepat untuk seorang aktris yang belum lama debut. Bahkan dia kini menjadi anak emas The Blue Agency.
Leon terlihat terkejut sekaligus marah. "Kau sedang tidak mengada-ada, bukan?" tanyanya. "Ini akan menjadi skandal besar!" ujarnya melanjutkan. Bagaimana tidak? Savana ketahuan menjadi selingkuhan dan sedang bertengkar hebat bersama Liana dan Ravano Pradikta.
David ingin sekali membantah dan meluruskan bahwa Savana tidak begitu, tetapi bagaimana mungkin ia menutupi skandal ini? Pada akhirnya David hanya bisa mengiakan dengan anggukan kepala.
Tidak salah lagi, skandal besar akan menimpa Savana. Tentu hal itu juga akan berimbas pada agensi mereka.
Leon mendesis di depan David. Ia mengalihkan perhatian pada Savana sekali lagi. "Sial!" makinya kala melihat beberapa wartawan mulai memotret Savana, Liana dan Ravano. "Lakukan sesuatu!" perintahnya pada David.
Leon tak ingin agensi yang baru saja jatuh ke tangannya itu hancur karena ulah Satu orang. Dia masih harus melaksanakan amanah sang kakek tentang The Blue Agency.
David mengangguk singkat, lalu bergegas melakukan apapun yang ia bisa. David berlari menghampiri Savana. "Pergi dari sini!" ujarnya dengan nada menakutkan sembari membawa Savana menjauh dari keramaian.
Namun, tentu saja usaha yang David lakukan sia-sia, sebab wartawan terlanjur menyimak pertengkaran malam itu.
Alhasil, pagi harinya nama Savana, Ravano Pradikta dan Liana memenuhi majalah dan layar kaca per televisian.
Savana benar-benar frustrasi, begitu juga dengan Ava. Mereka tak menyangka hubungan mereka yang penuh dengan rahasia akhirnya diketahui oleh publik.
Nama Liana pun ikut terseret di dalamnya. Liana menjadi orang yang paling tersakiti. Sementara Savana di cap sebagai perebut tunangan orang. Seketika nama baik sang aktris yang belum lama diperbincangkan karena prestasinya itu mengalami krisis.
Leon sang CEO benar-benar marah. Di dalam ruang kerja barunya Leon menatap David dengan tajam. "Apa yang kau lakukan, David? Kenapa masalah ini tak bisa kau selesaikan?" tanyanya dengan suara yang terlampau dingin.
David terdiam. Ia sudah berusaha memblokir beberapa wartawan yang terlibat, tetapi nyatanya masih ada media yang luput darinya hingga berita ini naik ke permukaan.
"David!" bentak Leon.
"Maafkan saya Pak Leon. Tetapi, Savana dan agensi tak bisa terselamatkan dari kritikan. Orang-orang mulai menyalahkan kita karena tak mendidik attitude Savana dengan baik," Suara David mulai bergetar. Bos barunya ini memang terkenal dingin dan kejam. Tak heran bila sekarang terlihat sangat marah.
"Sial! Wanita itu pasti akan menghinaku bila sampai berita ini dia dengar!"
David tahu siapa yang Leon maksud. Wanita yang dia sebut adalah Clara Ravanda Smith, istri muda kakeknya yang gila harta.
Sekadar informasi, The Blue Agency diperebutkan oleh Clara juga. Beruntung sang Kakek mewariskan The Blue Agency kepada Leonal Vadas Smith sebelum beliau meninggal dunia Tiga bulan lalu.
"Aku mempunyai satu cara!" ujar Leon secara tiba-tiba.
"Apa itu, Pak?" tanya David.
Leon tersenyum sinis. Ingat! Apapun akan dirinya lakukan untuk mempertahankan The Blue Agency agar tetap berada di tangannya dengan aman. "Aku akan menikah secara kontrak dengan Savana!" tegasnya.
David benar-benar terkejut mendengarnya. "Maksud Anda, Pak?" tanyanya sekali lagi.
"Hanya dengan menikahinya maka semua pemberitaan tentang perselingkuhan itu akan berakhir. Kau urus kerjasama dengan agensi Ava dan Liana, buat mereka untung hingga lupa pada masalah ini!" perintah Leon usai menjelaskan maksudnya pada David.
Pupil mata David melebar. "Tapi Pak ... " Sungguh dirinya tak setuju. Namun, dengan mata tajam Leon menghentikan apapun yang ingin ia ucapkan.
"B-baik Pak." Pada akhirnya David hanya bisa mengiakan perintah Leon dengan pasrah. Entah apakah ia harus memaksa Savana menikah dengan Leon atau membiarkan Savana pergi dari agency.
David mendengus sebal ketika sudah keluar dari ruangan Leon. “Sial!” makinya. Jika ia berani melawan perintah Leon, maka semua yang selama ini direncanakannya akan berakhir sia-sia.
To be continued.
***“A-apa maksudmu?” tanya Dyana gugup. Meskipun dia paham apa yang David inginkan, tapi dirinya pun harus mencari tahu lebih dalam.David berdecak kesal. Tanpa menjawab pertanyaan Dyana, David menarik Dyana dalam sekali hentakan. Terang saja hal itu membuat Dyana terkejut.“Apa yang kau lakukan?” pekiknya.“Kau terlalu banyak berpikir. Aku yakin kau menyukaiku!” ujar David percaya diri, tapi dia tak salah juga karena Dyana memang menyukainya.“Lepaskan aku! Kau …”“Diamlah jika tak ingin kucium!”“Apa?!”Sesungguhnya Dyana ingin sekali David melakukan itu padanya, tapi dia terlalu gengsi untuk berharap. Dyana memilih mematung agar David tak melaksanakan ancamannya.“Kau bisa diam juga ternyata,” kekeh David sedikit melonggarkan pelukannya. Pria itu menatap lekat wajah Dyana. “Ternyata kau cukup cantik,” pujinya seakan tersadarkan akan pesona manager adiknya itu.Dyana salah tingkah. Dia tak berani membalas tatapan David. Khawatir tiba-tiba dirinya menerkam bibir pria itu.“Dyana, ka
***“Dasar mesum! Kau tak tahu tempat!” ujar Savana sembari merapikan rambutnya.Hukuman yang Leon maksud nyatanya tak sesederhana yang Savana pikirkan. Suaminya itu tak peduli di mana mereka sedang berada. “Kau tetap membuka celanaku, padahal kita sedang di basemant,” deliknya.Leon terkekeh. “Jangan salahkan aku. Kau yang selalu membuatku tergoda untuk melakukannya,” balasnya terlampau tenang.Tck!Savana benar-benar malu. Namun, dia juga menikmati setiap perlakuan yang Leon berikan kepadanya tadi.“Ayo pulang. Aku mulai merasa tidak nyaman,” protesnya.Leon mengacak rambutnya, membuat wanita itu kembali mendelikkan mata. “Aku baru saja merapikan rambutku, Leon!” ujarnya.Leon memilih acuh. Dia menghidupkan mesin mobil mewahnya, lalu menekan pedal gasnya. Kendaraan roda Empat itu pun bergerak perlahan. Meninggalkan parkiran apartemen. Selisih lima menit tamu yang Savana undang tiba dengan menaiki driver online yang Savana pesankan.Dyana, dia yang Savana maksud. Wanita itu menggerut
***David mengalihkan perhatiannya pada Savana. Kepalanya menggeleng untuk menjawab kekhawatiran adik semata wayangnya.“Aku terguncang, tapi aku tidak akan tinggal diam. Hans benar-benar telah mempermainkan kita!” ujarnya dengan tangan yang semakin kencang terkepal.“Tenanglah, David. Kita harus mengumpulkan bukti yang kuat untuk menjebloskan pria tua itu ke dalam penjara. Aku tak sudi dia berkeliaran di dunia ini tanpa rasa bersalah!” Leon membalas tajam, seolah dapat membaca isi pikiran David saat ini.Benar, tadinya David akan menemui Hans lalu menghajarnya. Memaksa pria tua itu mengakui perbuatannya.Jika Leon tak menyadarkannya, mereka pasti telah kehilangan kesempatan untuk membuat Hans membayar mahal perbuatannya.“Aku tahu apa yang kau pikirkan, tapi tolong jangan gegabah. Aku sedang mencari bukti untuk membuat Hans dan Clara tak bisa mengelak lagi.”“Kau juga belum menemukan asal peluru yang menembus kulit kakek Jordan hari itu, kan?” tanya Leon.David mengiyakan meskipun da
***“Apa maksudmu?” tanya Leon dengan rahang yang mengeras.Savana mulai khawatir. Dia kembali menggenggam tangan Leon. Wajahnya tampak sedih. “Sayang itu semua hanya salah paham, aku yakin,” ucapnya.“Mana mungkin salah paham, Savana? Aku dengar sendiri kalau kematian Benjamin berkaitan denganku,” sahut David cepat. Nadanya mulai gelisah, tak seangkuh tadi.Membuat Leon semakin penasaran. Namun, ada yang harus dirinya lakukan terlebih dahulu sebelum bertanya lebih lanjut tentang masalah ini.“Jangan khawatir, aku akan membuka apapun yang pernah menjadi rahasia di masa lalu kakek kita. Aku tidak akan menelan mentah-mentah informasi yang aku terima. Tenanglah, Sayang,” ucapnya karena sadar Savana sednag mengkhawatirkan kepercayaannya.Savana akhirnya dapat menghembuskan napasnya dengan lega. Dia mengangguk sambil terus mengeratkan genggaman tangannya pada Leon.“Ayo aku antar kau beristirahat di kamarmu,”“Aku tidak mau, aku ingin tetap berada di sini, Leon.” Savana menolak saat Leon m
***Tak lekang David memandang Leon dengan tatapan tajamnya. Terlihat jelas pria itu teramat tidak menyukai keturunan Smith tersebut. Dia juga melirik Savana yang secara terang-terangan lebih membela Leon. Adiknya itu bahkan telah berpindah tempat duduk di samping Leon.“Katakan!” ujarnya terdengar malas.Savana ingin protes melihat cara kakaknya berbicara dengan Leon. Namun, dengan cepat Leon menghentikannya. Kepala pria itu menggeleng, sementara bibirnya tersenyum lembut.“Tenang dan dengarkan saja aku dan kakakmu bicara, Sayang,” ucapnya.Savana menghela napasnya, namun dia mengiyakan dengan anggukkan kepala. Melihat itu membuat David mendengus kesal. Dia tak suka adiknya menjadi penurut di depan Leon.“Bolehkah aku memanggilmu kakak ipar?” tanya Leon setelah perhatiannya terfokus pada David.“Kau tak pantas!” jawab David, yang lagi-lagi membuat Savana ingin mengeluarkan sumpah serapahnya. Akan tetapi, wanita itu ingat janjinya pada Leon. Dia hanya akan menjadi pendengar yang baik h
***“Apa kau mendengarku, Savana?” Suara David yang jauh berbeda dari bisanya membuat Savana paham betapa marahnya sang kakak saat ini.Savana tak berani menolak. Namun, Leon tak bisa menahan kekesalannya lagi. Pria itu mengabaikan permohonan Savana yang memintanya agar tetap diam.“Kau tak bisa membawanya pergi begitu saja, David.”Sejenak Savana memejamkan matanya. Ego seorang pria yang terluka memang tidak bisa dikendalikan. Lihat saja sekarang, Leon telah kehilangan kesabaran.“Aku bisa!” David membalas, keras dan terdengar tidak bersahabat.“Dia istriku!” balas Leon.David mendengus. “Kau mungkin baru kemarin mengetahui ikatan yang sebenarnya di antara kami berdua, tapi seumur hidupnya Savana adalah adik kandungku. Aku lebih berhak darimu!” ujarnya.Tentu saja Leon semakin kesal mendengar itu. “Tapi dia mencintaiku. Jangan memaksanya ikut denganmu,” ucapnya tak ingin kalah.“Kau pikir darah lebih kental dari ikatan semua istri kontrak kalian berdua?”“Kami sudah merobek kontrak i







