LOGINEvan bergerak seperti bayangan maut menuju mansion utama. Penjaga-penjaga berjatuhan satu per satu tanpa sempat berteriak. Mata robotiknya merekam segalanya, Dr. Reema dan tim peneliti di VVIC menyaksikan dengan tegang.
Alarm belum sempat berbunyi ketika Evan sudah mencapai lantai tiga. Dua orang berseragam hitam menghadangnya di koridor.
"Berhenti! Identitas apa...?"
Evan bergerak sebelum mereka menyelesaikan kalimat. Tangan kanannya mencengkeram tenggorokan penjaga pertama, mengangkatnya hingga kaki tidak menyentuh lantai. Penjaga kedua mencoba mengeluarkan pistol, tapi Evan sudah menendang pergelangan tangannya hingga patah.
KRAK!
Leher penjaga pertama patah. Tubuhnya merosot lemas. Penjaga kedua yang tangannya patah mencoba berteriak, tapi Evan sudah membekap mulutnya dan memutar kepalanya dengan keras.
Mereka tidak bertahan lama.
Pintu ruang kerja Lorenzo berlapis besi menghadang di ujung koridor. Evan memasang bom plastik di engsel pintu. Ledakan kecil yang teredam membuat pintu roboh ke dalam dengan suara gemuruh.
"Matilah kau, Keparat!" Lorenzo berteriak sambil menarik pelatuk senapan mesinnya.
Godfather gemuk mengenakan jas ungu itu berdiri di balik meja kayu jati, mata melotot penuh kemarahan. Peluru-peluru otomatis menghujani tempat Evan berdiri. Ia menghindar dengan kecepatan yang tak bisa diikuti mata biasa, melompat dari satu sisi ruangan ke sisi lain. Hingga akhirnya peluru sang Godfather habis.
Tiba-tiba, kaca jendela di sisi kanan ruangan pecah berkeping-keping. Sosok Elara melompat masuk dengan gerakan akrobatik yang sempurna, mendarat dengan posisi jongkok sebelum bangkit dengan elegan.
"Tunggu!" Lorenzo tiba-tiba menurunkan senjatanya, mengangkat kedua tangannya. "Jangan terburu-buru! Mari kita bicarakan ini dengan kepala dingin."
Evan dan Elara sama-sama berhenti, meski tetap waspada. Lorenzo menyeka keringat di dahinya dengan sapu tangan sutra.
"Kalian berdua terlalu berbakat untuk sekadar menjadi pembunuh upahan," Lorenzo berkata dengan nada persuasif. "Aku tahu apa yang kalian butuhkan."
"Kami tidak membutuhkan apa-apa dari sampah sepertimu," Evan menjawab dingin.
"Oh, tapi kau salah, Anak Muda." Lorenzo bergeser, tangannya bergerak mencari sesuatu di bawah meja. "Aku bisa melihat masa lalumu dari matamu. Ada dendam yang membara di sana. Ada kemarahan yang ingin kau lampiaskan."
Mata Evan menyipit. Bagaimana pria ini bisa tahu?
Diam-diam, jari Lorenzo menekan tombol merah kecil yang tersembunyi di bawah meja. Tombol darurat yang terhubung langsung dengan saudara kembarnya, Oscar.
"Bergabunglah denganku!" Lorenzo melanjutkan sambil menatap mata Evan dengan tajam. "Aku akan memberikan separuh kartelku kepadamu. Bayangkan, dengan menguasai setengah operasiku, kau akan menjadi gembong mafia yang kaya raya. Kau bisa mendapatkan apapun yang kau inginkan, termasuk kekuatan untuk menghancurkan musuh-musuhmu."
Lorenzo memiliki kemampuan khusus membaca pikiran melalui tatapan mata. Dia bisa melihat kilatan-kilatan memori dalam mata Evan. Penjara. Penyiksaan. Pengkhianatan keluarga.
"Aku tahu kau memiliki masa lalu gelap dan dendam kesumat," Lorenzo tersenyum licik. "Jika kau bekerja sama denganku dan aku angkat sebagai saudara, aku akan membantumu membalaskan dendam. Kau bisa menghancurkan semua musuhmu tanpa tersentuh hukum, karena akulah yang mengendalikan hukum itu."
Evan terkejut. "Bagaimana kau tahu tentang masa laluku?"
"Aku bisa membaca pikiran dari tatapan mata," Lorenzo menyeringai. "Dan sekarang aku bisa melihat bahwa hatimu goyah. Antara menerima penawaranku atau membunuhku demi menunaikan misi."
Lorenzo melangkah lebih dekat. "Pikirkan baik-baik! Jika kau menunaikan misi, kau tidak mendapat apa-apa. Hanya menjadi budak VVIC dan pemerintah selamanya. Tapi bersamaku, kau memiliki kesempatan mengendalikan dunia dalam satu tangan. Aku akan memberikan support yang luar biasa."
Evan terdiam sejenak, seolah mempertimbangkan. Kemudian dia tersenyum tipis. "Ide yang menarik. Aku suka."
Lorenzo melihat ke dalam mata Evan dan di sana ia melihat keserakahan dan keinginan menguasai dunia. Mata pembaca pikiran itu mengira dirinya menang.
"Sebagai tes kesetiaan pada kartelku," Lorenzo memerintah dengan penuh percaya diri, "bunuh wanita itu!"
Evan mengangguk dan tiba-tiba menyerang Elara. Elara melompat menghindar dengan lincah, mata hijau zamrudnya berkilat terkejut.
"Apa yang kau lakukan?" Elara mendengus marah bercampur kaget sambil menghindar dari pukulan Evan.
Mereka terlibat pertarungan singkat. Evan melancarkan serangan yang terlihat serius, sementara Elara menghindar dengan gerakan akrobatik. Elara meloloskan belati dari balik sepatu boot-nya.
Tapi tiba-tiba, tanpa diduga oleh Lorenzo, Evan menangkap pergelangan tangan Elara yang memegang pisau, mengambil senjata itu, dan melemparkannya dengan kekuatan penuh.
Pisau meluncur dengan kecepatan luar biasa, mengenai lengan kiri Lorenzo dan menancap begitu dalam hingga menembus tembok di belakangnya. Kekuatan lemparan itu begitu dahsyat sehingga seluruh lengan Lorenzo ikut terseret dan menempel di dinding.
"AAAAHHHHH!" Lorenzo berteriak kesakitan, matanya melotot tidak percaya.
"Kau pikir aku bodoh?" Evan berdiri dengan tenang. "Aku sengaja menggunakan Cermin Jiwa dalam alam pikiran untuk memantulkan kembali serangan mentalmu. Yang kau baca adalah ilusi yang kucipta, bukan pikiran asalku."
Lorenzo yang tersiksa kesakitan berusaha mencabut pisau yang menancap di lengannya, tapi tubuhnya yang gemuk dan rasa sakit yang mendera membuatnya kesulitan bergerak.
"Sekarang bersiaplah untuk mati!" Evan berjalan mendekat dengan mata robotik yang menyala merah.
"Boss, kami datang!" teriak suara dari luar ruangan.
Lima sosok besar mendobrak masuk ke ruangan dengan gerakan yang terkoordinasi. Mereka mengenakan pakaian tradisional dengan simbol harimau di dada.
Lorenzo tertawa meski masih kesakitan dengan pisau yang menancap di lengannya tembus hingga ke tembok. Darah terus mengalir membasahi jas ungunya. "Hari ini adalah kematianmu, Bocah sombong! Mereka adalah Lima Harimau dari Gunung Vandar yang mengabdi pada saudaraku, Oscar!"
Pemimpin kelima kultivator itu, seorang pria bertubuh tegap dengan wajah persegi, maju dengan gagah. Matanya yang dingin menatap Evan dengan tatapan meremehkan.
"Kau sudah berani mengotori mansion dan menganiaya Bos Lorenzo," dengus Red dengan wajah merah padam. "Sekarang bersiaplah untuk mati!"
Red mundur beberapa langkah, mengisyaratkan ketiga saudaranya untuk maju terlebih dahulu. "Rock, Stone, Black, tunjukkan padanya siapa itu Lima Harimau Vandar!"
Evan menganalisis lawan-lawannya dengan Mata Naga. Data mulai muncul dalam visinya:
*Red - Kultivator tingkat ketiga atas. Spesialisasi: Tinju Api Penghancur Sukma. Kelemahan: Serangan terlalu fokus pada kekuatan, kurang fleksibel.*
*Black - Kultivator tingkat ketiga tengah. Spesialisasi: Perisai Harimau. Tubuh seperti baja hidup, hampir tidak bisa ditembus.*
*Stone - Kultivator tingkat ketiga tengah. Spesialisasi: Darah Harimau Penyerang. Berbahaya ketika terluka.*
*Rock - Kultivator tingkat ketiga bawah. Spesialisasi: Bayangan Harimau Pembunuh. Master penyerangan dari bayangan.*
*Green - Kultivator tingkat ketiga bawah. Spesialisasi: Harimau Halilintar Menyerang. Serangan tercepat di antara lima harimau.*
"Satu tingkat di atas kemampuanku yang baru mencapai tingkat kedua Sirkulasi Naga," Evan bergumam dalam hati sambil memposisikan diri siaga. "Dan mereka bergerak dalam formasi. Ini akan sangat sulit."
Sementara Elara Phoenix duduk dengan santai di atas kursi direktur, menonton pertarungan yang akan terjadi dengan mata berbinar penasaran.
Patrick sempat mundur, terkejut dengan ledakan emosi atasannya."Pak Eric," Patrick berkata hati-hati, "saya tahu Bapak menyukai Bu Anna. Tapi situasi ini...""Diam!" Eric memotong dengan nada berbisa. "Aku tidak butuh simpatimu."Keheningan mencekam selama beberapa detik. Eric berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu seperti singa yang terkurung. Otaknya bekerja keras mencari jalan keluar dari situasi yang semakin rumit.Evan Wijaya. Nama itu sudah menjadi duri dalam dagingnya sejak pria itu menginjakkan kaki di Penjara Inferium. Pertama, ia mengalahkan Boris dengan satu serangan. Kedua, dia berani mengancam Eric secara langsung. Dan sekarang, berani merebut wanita yang selama ini Eric inginkan."Aku harus menyingkirkannya," Eric bergumam dengan mata menerawang. "Harus. Bagaimanapun caranya."Patrick berdehem pelan. "Pak Eric, kalau boleh saya memberi usul..."Eric menoleh dengan pandangan tajam. "Apa?""Selama ada Bu Anna dan Ivan di penjara Inferium ini, kita tidak akan pernah
Anna menghela napas. Ia bangkit, mulai mengumpulkan pakaiannya yang berserakan. Blus yang robek tidak bisa dipakai lagi. Ia terpaksa mengenakan jaket yang tadi ia sampirkan di bahunya."Aku akan mengirimkan baju ganti untukmu," Anna berkata sambil merapikan rambutnya. "Dan... terima kasih.""Untuk apa?""Untuk tidak memanfaatkan situasi tadi," Anna menatap Evan dengan pandangan baru. "Kau bisa saja menyakitiku. Tapi kau tidak melakukannya."Evan berdiri, tubuh atletisnya menjulang di atas Anna. "Aku bukan monster, Anna. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup."Anna mengangguk pelan. Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti."Evan," ia berkata tanpa menoleh. "Berhati-hatilah. Ada banyak orang di penjara ini yang menginginkan kematianmu.""Aku tahu.""Dan aku tidak akan selalu bisa melindungimu."Evan tersenyum di balik punggung Anna. "Siapa bilang aku butuh perlindungan?"Anna membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Pintu besi tertutup dengan bu
Evan terdiam sesaat. Alisnya terangkat sedikit."Hukuman macam apa itu?" Evan bertanya dengan nada geli.Wajah Anna memerah. Rasa malu bercampur nafsu membuat matanya memanas."Kau bilang akan melakukan apa yang kumau," Anna berbisik, suaranya lebih mirip desahan. "Ini yang kumau."Tangannya yang masih bisa bergerak sedikit, meraih tangan Evan. Ia meletakkan telapak tangan pria itu di dadanya yang membusung, tepat di atas jantungnya yang berdegup liar."Kau bisa merasakannya?" Anna menatap mata Evan tanpa berkedip. "Sejak pertama kali kau berani melawanku di ruang kerjaku, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Kau membuatku gila."Evan merasakan detak jantung Anna yang cepat di bawah telapak tangannya. Kehangatan tubuh wanita itu menjalar melalui kain blus tipis yang memisahkan mereka."Kau yakin tidak akan menyesal?" Evan bertanya dengan suara rendah, "bercinta dengan seorang napi?""Tidak," Anna tersenyum menantang. "bagaimana denganmu?"Tangan Evan bergerak, jari-jarinya mencengker
Evan duduk bersila di tengah lantai dingin ruang isolasi. Matanya terpejam. Napasnya teratur, dalam dan lambat. Energi naga mengalir di setiap pembuluh darahnya, berputar seperti arus sungai emas yang menenangkan.Dalam kegelapan meditasinya, ia merasakan denyut jantung naganya semakin kuat. Inti energi di pusat dantiannya bersinar terang, memancarkan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Setiap tarikan napas membawa energi murni masuk. Setiap hembusan membuang racun emosional yang mengendap.Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki di koridor. Langkah yang tegas tapi ringan. Hak sepatu wanita berdetak di lantai beton. Evan tidak membuka mata, tapi bibirnya membentuk senyum tipis.Pintu besi berderit terbuka.Aroma parfum mawar bercampur kayu cendana menyeruak masuk. Aroma yang sudah ia kenali sejak hari pertama di penjara ini.Anna Tanzil berdiri di ambang pintu dengan cambuk kulit di tangan kanannya. Cahaya koridor menerangi siluet tubuhnya dari belakang."Evan Wijaya,
Ivan menarik kotak itu dengan tangan gemetar. Debu beterbangan ketika dia meletakkannya di meja baca di tengah ruangan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Dengan gerakan perlahan, ia membuka tutup kotak.Mata Ivan langsung berkaca-kaca.Di atas tumpukan dokumen tergeletak sebuah foto. Foto seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dengan mata yang jernih dan senyum polos. Evan Pendragon, kakaknya."Kakak..." Ivan mengambil foto itu dengan tangan bergetar. "Apakah benar kau sudah mati? Atau masih hidup dan berada di penjara ini?"Air mata mulai mengalir di pipinya. Iaa mengusap permukaan foto dengan jempol, seolah bisa merasakan kehangatan kakaknya yang sudah lama hilang.Di bawah foto, Ivan menemukan novel Harry Potter edisi lama dengan sampul yang sudah lusuh. Dia ingat betul novel ini. Ini adalah buku favorit kakaknya yang selalu dibaca ulang berkali-kali.Di halaman dalam sampul, tertulis dengan tulisan tangan kakaknya: Untuk Evan Pendragon, hadiah ulang tahun ke-16. Dari Papa dan M
Ruang isolasi berukuran 2x3 meter tanpa jendela. Hanya ada kasur tipis di sudut, toilet kotor, dan bola lampu 25 watt yang menyala redup. Dindingnya kedap suara sehingga tidak ada yang bisa mendengar apa yang terjadi di dalam."Masuk!" Eric mendorong Evan ke dalam.Sesampainya di dalam, Eric menutup pintu tapi tidak mengunci. Dia mendekat ke Evan dengan mata menyala jahat."Akhirnya kita bisa berbicara empat mata," Eric mengeluarkan pisau lipat yang tadi dijadikan bukti. "Sudah lama aku ingin menghabisimu."Evan duduk di kasur tipis dengan tenang. "Silakan coba!""Pak Eric," Patrick yang berdiri di pintu berbisik. "Kalau Tuan Ivan mencari...""Dia tidak akan tahu apa-apa," Eric menjawab sambil menggenggam pisau erat-erat. "Kita akan bilang Evan bunuh diri karena depresi.""Tapi CCTV basement tidak berfungsi," Sam menambahkan. "Kalau ada investigasi..."Eric terdiam, menimbang risiko. Membunuh Evan sekarang memang menggoda, tapi terlalu berisiko dengan kehadiran Ivan yang bisa menyelid







