LOGINBlack maju pertama kali. Tubuhnya berubah berwarna keabu-abuan metalik, seperti ada besi hidup yang melapisi kulitnya. "Rasakan ini, Bocah!"
Tinju keras mengarah ke wajah Evan. Sang Pendragon Junior menghindar dengan memiringkan kepala, tapi serangan kedua sudah menyusul. Siku Black menghantam rusuk kiri Evan dengan bunyi benturan logam.
"Argh!" Evan terpental beberapa meter, merasakan tulang rusuknya teramat ngilu.
"Hahaha!" Black tertawa puas. "Asal kau tahu, Tinju besi Harimau Vandar bukan main-main!"
Rock muncul dari bayangan di belakang Evan seperti hantu. Pisau panjang di tangannya berkilat mengarah ke punggung. Evan berputar cepat, menangkis dengan lengan kiri. Ia meringis saat lengannya tergores hingga siku.
"Kau terlalu lambat seperti nenek-nenek!" Rock menyeringai sadis.
Green melompat dari atas meja direktur, kaki kanannya menendang kepala Evan dengan kekuatan penuh. Evan terjatuh ke lantai marmer, mata berkunang-kunang. Kalau manusia biasa, mungkin kepalanya sudah pecah.
"Bangun, Bocah!" Green mengejek. "Pertunjukan baru dimulai!"
Ketiga kultivator itu mengeroyok Evan tanpa ampun. Black dengan tinju baja, Stone dengan serangan bayangan, dan Green dengan tendangan brutal. Setiap pukulan mengirimkan rasa sakit yang menusuk tulang.
"Kenapa tubuhmu sekeras ini?" Black tak habis pikir ketika tinjunya yang biasanya bisa menghancurkan batu hanya membuat Evan terlempar tanpa luka fatal.
"Dia bukan manusia biasa," Rock mendesis dan mengayunkan pisau. "Tapi tetap saja akan mati di tanganku!"
Evan terjatuh untuk kesekian kalinya, darah mengotori pakaiannya. Napasnya tersengal, mata robotiknya berkedip tidak stabil karena guncangan di kepala.
Red menggeleng dari kejauhan. "Dasar pemuda payah. Sangat mengecewakan untuk seseorang yang berani menantang Tuan Lorenzo."
Stone yang belum bergerak mulai kehilangan kesabaran. "Abang Red, biarkan aku ikut! Mereka bermain terlalu lama!"
"Belum perlu," Red melipat tangan di dada. "Tiga orang sudah cukup untuk menghabisi sampah ini."
Sementara itu, Elara Phoenix dengan diam-diam menghampiri Lorenzo yang berulang kali berusaha mencabut pisau yang masih menancap di pergelangan tangannya. Darah masih mengalir, membuat pria gemuk itu terlihat pucat dan lemah.
"Biarkan aku membantumu," Elara tersenyum manis sambil mencabut pisau dengan gerakan cepat.
"AAAAHHH!" Lorenzo menjerit kesakitan.
Sebelum dia sempat berterima kasih, bilah pisau sudah menempel di lehernya. Mata Elara berubah dingin seperti predator.
"List Serigala Hitam," Elara berbisik di telinga Lorenzo. "Di mana kau menyimpannya?"
"Apa?" Lorenzo tersentak. "Kau... kau siapa sebenarnya?"
Elara menekan pisau lebih dalam, menggores kulit leher hingga darah menetes. "Jangan buang waktuku! Aku tahu kau menyimpan daftar lengkap anggota organisasi itu."
"Tidak ada!" Lorenzo berbohong dengan suara gemetar. "Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan!"
Elara menekan pisau hingga luka di leher semakin dalam. "Bohong. Saudaramu Oscar adalah salah satu pemimpin Serigala Hitam. Tentu saja kau punya backup data mereka."
"Kumohon..." Lorenzo mulai menangis karena kesakitan. "Jangan bunuh aku..."
"Kalau begitu katakan di mana!" Elara mendesis tajam.
Lorenzo menunjuk ke sebuah lukisan besar di dinding sebelah kanan dengan tangan gemetar. "Di... di balik lukisan itu. Ada brankas rahasia."
"Bagus," Elara menarik kerah belakang Lorenzo dan menyeretnya ke arah lukisan. "Buka!"
Kembali ke medan pertarungan, Evan terbaring di lantai dengan tubuh penuh luka. Black, Green, dan Rock berdiri di sekelilingnya dengan wajah puas.
"Sudah selesai?" Black menendang rusuk Evan. "Terlalu mudah."
"Harusnya kita main-main lebih lama," Green menyesal. "Jarang ada mainan yang tubuhnya sekeras ini."
"Ayo kita sudahi!" Rock mengangkat pisau. "Abang Red sudah menunggu terlalu lama."
Tapi dalam tubuh Evan yang tergeletak, sesuatu yang luar biasa sedang terjadi. Setiap pukulan, setiap tendangan, setiap siksaan justru memompa aliran darah dan jantung naganya dengan intensitas tinggi.
Energi Naga Bumi Pendragon berputar semakin cepat dalam pembuluh darahnya. Sirkulasi yang sebelumnya tingkat kedua mulai berubah, molekul energi bertransformasi ke level yang lebih tinggi, tingkat tiga.
"Hei, kenapa dia tidak mati-mati?" Green bingung melihat Evan masih bernapas meski telah dihajar habis-habisan.
"Mungkin dia seperti kucing," Black tertawa. "Memiliki sembilan nyawa."
Rock mengangkat pisau tinggi-tinggi, "Sekali tusuk di jantung pasti langsung beres!"
Pisau meluncur ke arah dada Evan. Tapi dalam detik terakhir, mata Evan terbuka. Bukan lagi mata manusia biasa. Mata Naga yang berpendar emas dengan intensitas mengerikan.
"Apa...?" Rock membeku di tempat.
Tangan Evan bergerak secepat kilat, menangkap pergelangan tangan Rock dan memutarnya hingga tulangnya patah dan lengannya berubah posisi dengan bunyi KRAK yang mengerikan.
"AAAHHH!" Rock menjerit histeris.
Evan bangkit berdiri dengan sekali lompatan. Auranya telah berubah total. Energi Naga tingkat ketiga memancar dari seluruh tubuhnya, membuat udara di ruangan terasa berat dan mencekam.
"Apa yang terjadi?" Black syok dan refleks mundur beberapa langkah. "Bagaimana bisa...."
"Sepertinya dia mengalami peningkatan energi secara drastis!" Green mengenali level kultivasi Evan. "Anehnya mengapa di tengah pertarungan?"
Evan memutar leher Rock hingga patah, tubuh kultivator itu pun roboh. "Sekarang giliran kalian merasakan siksaan yang sesungguhnya."
Black melancarkan tinjunya yang dilapisi energi baja. "Jangan sombong! Aku masih bisa menghancurkanmu!"
Tinju baja mengarah ke wajah Evan. Tapi Evan menangkapnya dengan satu tangan, lalu meremas hingga seluruh tangan Black hancur seperti kertas yang diremas.
Black berteriak ngeri menyaksikan lengannya lunglai ke bawah.
Evan melanjutkan dengan uppercut yang menghantam dagu Black. Kekuatan pukulan itu begitu dahsyat hingga membuat kultivator konon bertubuh baja itu terbang menabrak dinding dan tidak bangun lagi.
Green melihat kedua rekannya tumbang, mulai panik dan meminta bantuan. "Abang Red! Stone! Bantu aku!"
Tapi sebelum kedua rekannya bergerak, Evan sudah berada di hadapan Green. Kecepatan geraknya bahkan tak mampu dideteksi sang Kultivator dari Gunung Vandar.
"Kemampuan Darah Harimau tidak berguna…," Evan mencengkeram tenggorokan Green. "... jika lawanmu sudah melampaui level yang bisa kau tangani."
Evan mengangkat Green tinggi-tinggi, lalu membantingnya ke lantai marmer hingga retak. Sekali... dua kali... tiga kali...
Hingga Green tidak bergerak lagi, tulang leher dan punggungnya hancur.
Red dan Stone yang menyaksikan kematian ketiga rekan mereka hanya bisa menelan ludah. Keringat dingin mengalir di punggung keduanya.
"Siapa sebenarnya bocah ini?" Stone bergumam ketakutan. “Dia seperti monster pembunuh daripada tentara biasa.”
"Kekuatannya tadi di bawah kita," Red menganalisis dengan mata menyipit. "Tapi tiba-tiba saja naik pesat setelah dihajar sampai setengah mati. Ada sesuatu yang berbeda dari energinya."
Evan berbalik menghadapi dua kultivator terakhir. Mata Naganya berpendar dengan intensitas yang membuat mereka berdua mundur tanpa sadar.
"Sekarang saatnya kalian berdua merasakan apa yang dilakukan rekan-rekan kalian padaku," Evan tersenyum dingin. "Tapi aku tidak akan semurahan mereka. Kalian akan mati perlahan."
Stone yang terkenal sebagai yang tercepat mencoba kabur menuju jendela. Tapi Evan bergerak lebih cepat, menangkap pergelangan kakinya dan menarik kembali.
"Mau lari?" Evan menyeret Stone kembali ke tengah ruangan. "Permainan baru saja dimulai!"
Evan mematahkan kaki kiri. Tulang berderak, kultivator itu menjerit kesakitan. Ia jatuh ke lantai dan mengerang kesakitan.
"Sekarang coba lari lagi!" Evan mengejek.
Red maju dengan semua kekuatannya. Api kultivasi membakar kedua tangannya, suhu ruangan naik drastis. "Tinju Api Penghancur Sukma!"
Patrick sempat mundur, terkejut dengan ledakan emosi atasannya."Pak Eric," Patrick berkata hati-hati, "saya tahu Bapak menyukai Bu Anna. Tapi situasi ini...""Diam!" Eric memotong dengan nada berbisa. "Aku tidak butuh simpatimu."Keheningan mencekam selama beberapa detik. Eric berjalan mondar-mandir di ruangan sempit itu seperti singa yang terkurung. Otaknya bekerja keras mencari jalan keluar dari situasi yang semakin rumit.Evan Wijaya. Nama itu sudah menjadi duri dalam dagingnya sejak pria itu menginjakkan kaki di Penjara Inferium. Pertama, ia mengalahkan Boris dengan satu serangan. Kedua, dia berani mengancam Eric secara langsung. Dan sekarang, berani merebut wanita yang selama ini Eric inginkan."Aku harus menyingkirkannya," Eric bergumam dengan mata menerawang. "Harus. Bagaimanapun caranya."Patrick berdehem pelan. "Pak Eric, kalau boleh saya memberi usul..."Eric menoleh dengan pandangan tajam. "Apa?""Selama ada Bu Anna dan Ivan di penjara Inferium ini, kita tidak akan pernah
Anna menghela napas. Ia bangkit, mulai mengumpulkan pakaiannya yang berserakan. Blus yang robek tidak bisa dipakai lagi. Ia terpaksa mengenakan jaket yang tadi ia sampirkan di bahunya."Aku akan mengirimkan baju ganti untukmu," Anna berkata sambil merapikan rambutnya. "Dan... terima kasih.""Untuk apa?""Untuk tidak memanfaatkan situasi tadi," Anna menatap Evan dengan pandangan baru. "Kau bisa saja menyakitiku. Tapi kau tidak melakukannya."Evan berdiri, tubuh atletisnya menjulang di atas Anna. "Aku bukan monster, Anna. Aku hanya melakukan apa yang harus dilakukan untuk bertahan hidup."Anna mengangguk pelan. Ia berjalan menuju pintu, lalu berhenti."Evan," ia berkata tanpa menoleh. "Berhati-hatilah. Ada banyak orang di penjara ini yang menginginkan kematianmu.""Aku tahu.""Dan aku tidak akan selalu bisa melindungimu."Evan tersenyum di balik punggung Anna. "Siapa bilang aku butuh perlindungan?"Anna membuka pintu dan melangkah keluar tanpa menoleh lagi. Pintu besi tertutup dengan bu
Evan terdiam sesaat. Alisnya terangkat sedikit."Hukuman macam apa itu?" Evan bertanya dengan nada geli.Wajah Anna memerah. Rasa malu bercampur nafsu membuat matanya memanas."Kau bilang akan melakukan apa yang kumau," Anna berbisik, suaranya lebih mirip desahan. "Ini yang kumau."Tangannya yang masih bisa bergerak sedikit, meraih tangan Evan. Ia meletakkan telapak tangan pria itu di dadanya yang membusung, tepat di atas jantungnya yang berdegup liar."Kau bisa merasakannya?" Anna menatap mata Evan tanpa berkedip. "Sejak pertama kali kau berani melawanku di ruang kerjaku, aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Kau membuatku gila."Evan merasakan detak jantung Anna yang cepat di bawah telapak tangannya. Kehangatan tubuh wanita itu menjalar melalui kain blus tipis yang memisahkan mereka."Kau yakin tidak akan menyesal?" Evan bertanya dengan suara rendah, "bercinta dengan seorang napi?""Tidak," Anna tersenyum menantang. "bagaimana denganmu?"Tangan Evan bergerak, jari-jarinya mencengker
Evan duduk bersila di tengah lantai dingin ruang isolasi. Matanya terpejam. Napasnya teratur, dalam dan lambat. Energi naga mengalir di setiap pembuluh darahnya, berputar seperti arus sungai emas yang menenangkan.Dalam kegelapan meditasinya, ia merasakan denyut jantung naganya semakin kuat. Inti energi di pusat dantiannya bersinar terang, memancarkan kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh. Setiap tarikan napas membawa energi murni masuk. Setiap hembusan membuang racun emosional yang mengendap.Tiba-tiba telinganya menangkap suara langkah kaki di koridor. Langkah yang tegas tapi ringan. Hak sepatu wanita berdetak di lantai beton. Evan tidak membuka mata, tapi bibirnya membentuk senyum tipis.Pintu besi berderit terbuka.Aroma parfum mawar bercampur kayu cendana menyeruak masuk. Aroma yang sudah ia kenali sejak hari pertama di penjara ini.Anna Tanzil berdiri di ambang pintu dengan cambuk kulit di tangan kanannya. Cahaya koridor menerangi siluet tubuhnya dari belakang."Evan Wijaya,
Ivan menarik kotak itu dengan tangan gemetar. Debu beterbangan ketika dia meletakkannya di meja baca di tengah ruangan. Napasnya tercekat di tenggorokan.Dengan gerakan perlahan, ia membuka tutup kotak.Mata Ivan langsung berkaca-kaca.Di atas tumpukan dokumen tergeletak sebuah foto. Foto seorang remaja laki-laki berusia 17 tahun dengan mata yang jernih dan senyum polos. Evan Pendragon, kakaknya."Kakak..." Ivan mengambil foto itu dengan tangan bergetar. "Apakah benar kau sudah mati? Atau masih hidup dan berada di penjara ini?"Air mata mulai mengalir di pipinya. Iaa mengusap permukaan foto dengan jempol, seolah bisa merasakan kehangatan kakaknya yang sudah lama hilang.Di bawah foto, Ivan menemukan novel Harry Potter edisi lama dengan sampul yang sudah lusuh. Dia ingat betul novel ini. Ini adalah buku favorit kakaknya yang selalu dibaca ulang berkali-kali.Di halaman dalam sampul, tertulis dengan tulisan tangan kakaknya: Untuk Evan Pendragon, hadiah ulang tahun ke-16. Dari Papa dan M
Ruang isolasi berukuran 2x3 meter tanpa jendela. Hanya ada kasur tipis di sudut, toilet kotor, dan bola lampu 25 watt yang menyala redup. Dindingnya kedap suara sehingga tidak ada yang bisa mendengar apa yang terjadi di dalam."Masuk!" Eric mendorong Evan ke dalam.Sesampainya di dalam, Eric menutup pintu tapi tidak mengunci. Dia mendekat ke Evan dengan mata menyala jahat."Akhirnya kita bisa berbicara empat mata," Eric mengeluarkan pisau lipat yang tadi dijadikan bukti. "Sudah lama aku ingin menghabisimu."Evan duduk di kasur tipis dengan tenang. "Silakan coba!""Pak Eric," Patrick yang berdiri di pintu berbisik. "Kalau Tuan Ivan mencari...""Dia tidak akan tahu apa-apa," Eric menjawab sambil menggenggam pisau erat-erat. "Kita akan bilang Evan bunuh diri karena depresi.""Tapi CCTV basement tidak berfungsi," Sam menambahkan. "Kalau ada investigasi..."Eric terdiam, menimbang risiko. Membunuh Evan sekarang memang menggoda, tapi terlalu berisiko dengan kehadiran Ivan yang bisa menyelid







