Share

Dendam Qarin Ibu
Dendam Qarin Ibu
Author: Ainun Bell

Bab 1

"Seorang ibu tewas terbakar bersama ketiga anaknya di rumah mereka. Diduga, api berasal dari kompor yang dinyalakan sang anak dan menyambar kain lap yang ada di dekat kompor tersebut. Suami korban saat itu sedang bepergian setelah menjemput anak pertamanya dan menitipkan sang anak ke rumah neneknya. Saat ini, polisi masih mengusut tuntas kasus tersebut."

***

"Ibuuuu! Ibuuuu! Kenapa Ibu dan adik-adik pergiiii ...!" Seorang anak berusia 13 tahun menangis dan meraung-raung ketika jenazah ibu dan ketiga adiknya diantar oleh ambulans ke rumah sang nenek.

Kamelia meninggal dalam kebakaran yang melanda rumah mereka dua hari lalu. Bersama Kamelia, tiga anaknya juga ikut menjadi korban. Mereka adalah Fahri 4 tahun, Delisa 2 tahun, dan Rani yang baru berumur satu bulan. Anak pertama mereka, Arumi, selamat karena saat kejadian, si sulung sedang berada di rumah neneknya.

Sementara itu, Rozi, ayahnya Arumi, juga turut sedih dan menangis di sisi putrinya. Dia merasa menyesal, sangat-sangat menyesal. Karena semua ini salahnya. Namun, penyesalan itu sudah terlambat.

***

Tiga hari yang lalu, sehari sebelum kejadian.

Rozi meremas rambutnya, lelaki itu serasa ingin menghantuk-hantukkan kepalanya ke dinding karena stres. Sementara, kedua anaknya yang kecil menangis berbarengan.

"Coba jangan nanges bisa gak!" bentak Rozi kepada anak-anaknya. Sementara itu tangannya kini sedang memegang mangkuk berisi kocokan telur yang akan dia goreng sebentar lagi.

Tiba-saja Delisa menarik celana Rozi sehingga melorot dan refleks sang ayah pun ingin menarik kembali celananya agar tidak terbuka. Alhasil kocokan telur siap goreng itu tertumpah ke lantai.

PRAAANG!

Bunyi mangkuk stainless berdentang keras karena berbenturan dengan keramik. Tragedi itu membuat bayi kecilnya yang sedang tertidur di kamar pun menangis kencang.

"Aaaargh! Ini semua gara-gara kalian! Diam bisa gak! Diaaaaam!" Rozi kembali membentak dan hampir saja memukul Delisa.

Bocah-bocah kecil itu sontak mundur, mereka tahu, sedang ada bahaya berada di depan mereka. Ada sebab mengapa mereka sampai menangis. Hal itu karena sudah hampir tengah hari dan mereka belum makan-minum sejak bangun tadi pagi.

Sadar akan sang bayi yang menangis kencang, Rozi menghambur ke dalam kamar, di mana istri dan bayinya itu tengah berbaring. Dia menatap sekilas ke arah Kamelia yang seakan hendak menangis di sana. Namun, tidak ia pedulikan dan langsung meraih bayinya yang baru berumur satu bulan tersebut, lalu membawanya keluar.

Sejak Kamelia terserang stroke, rumah itu seakan lumpuh. Anak-anak tidak terurus, ekonomi pun berantakan. Bagaimana tidak, dia adalah ibu rumah tangga yang menjalani hampir semua peran. Dia yang selalu mengurus rumah, sekaligus membantu mencari uang.

Ketika ia sehat, semua terurus dengan baik. Anak-anaknya tenang dan makannya terjamin. Subuh pukul 4 Kamelia sudah bangun, kemudian memasak. Baju-baju ia cuci bersih. Si sulung pergi ke sekolah dengan senyuman. Anak yang lain kenyang dan rapi.

Sedangkan sang suami, pria itu bangun pukul 6.30, lalu mengantar Arumi sekolah, kemudian tidur lagi hingga jam 9. Setelah itu baru ia berangkat untuk bekerja. Pulang kerja tinggal makan, main handphone, dan menjalankan hobinya memancing, lalu tidur. Begitu saja terus sampai lima belas tahun usia pernikahan mereka.

Bukan tidak ditegur oleh Kamelia. Sudah berbusa-busa mulutnya, tapi lelaki itu tetap saja bengal. Shalat tidak, puasa tidak, bermain bersama anak pun tidak. Entah maunya apa?

Kamelia bahkan menjemput anaknya sepulang sekolah. Ia lalu mengambil pakaian kotor dari rumah langganannya dan mencuci-seterika semua hingga selesai. Tanpa tangisan, tanpa rengekan. Semua teratur. Semua mengikuti alur yang seharusnya.

Bagaikan badai yang tiba-tiba melanda, Kamelia sang tulang punggung keluarga terkena stroke, sehingga membuatnya tak berdaya. Sejak hari itu, kapal rumah tangga mereka terombang-ambing di lautan kehidupan. Rozi yang selama ini menjadi raja di dalam kapal, yang hanya sibuk bersantai dan menjalani hobi sepulang kerja, tidak tahu caranya mengendalikan kemudi. Bahtera itu pun seakan melaju tanpa panduan, menabrak karang, dan akhirnya hampir-hampir karam.

Dua anaknya kembali menangis. Rozi menatap tajam ke arah Delisa yang terus menggelayut di kakinya.

"Bapak lagi nidurin Rani, diem gak! Diem! Kalau gak, nanti Bapak hajar!" ancam Rozi. "Fahri! Bawa adik main dulu. Nih, duit!" Rozi memberikan uang 2 ribuan dan Fahri pun membawa sang adik perempuannya ke warung depan rumah untuk jajan.

Rozi sibuk mengayun bayi kecilnya agar kembali tertidur. Ingin rasanya dia marah dan memaki, tetapi lelaki itu masih menahan diri. Mengapa rasanya sulit sekali mengurus anak-anak? Padahal selama ini dia melihat mereka anteng bersama ibunya.

Setelah Rani senyap, Rozi langsung melap bekas tumpahan telur dan membuatkan yang baru. Dia menggoreng telur tersebut dengan cepat dan menyajikan nasi.

Sementara itu di kamar, Kamelia telah menangis. Dia juga stres melihat betapa kacaunya rumah mereka sejak dirinya tidak berdaya. 'Ya Allah, kenapa ujian ini begitu berat? Kasian anak-anakku ya Allah, kasihanilah mereka, berilah kesembuhan padaku!' Dia membatin.

Air mata wanita itu berlinang. Yang sanggup dia lakukan saat ini hanyalah menangis. Ingin rasanya dia mengambil alih semuanya, entah mengapa Allah memberikan ujian seberat ini. Suaminya takkan bisa melakukan semua sendirian. Tidak akan bisa! Ia merutuk di dalam hati.

Rozi masuk ke kamar, lalu ia melihat istrinya yang menangis. Pria itu hanya melirik sekejap, kemudian membuka lemari dan mengambil baju, lalu dia keluar lagi. Kamelia tidak dipedulikan olehnya sama sekali.

Semakin perih hati Kamelia. Sebegitu tidak berharga dirinya kini di mata sang suami. Jangankan untuk merawat, melirik saja dia enggan. Lagi-lagi wanita itu memaki takdir, mengutuk semua yang terjadi kepadanya.

Rozi melihat kedua anaknya yang sudah tenang. Delisa sudah berganti popok dan memakai baju, Rani juga tidur di dekat sang ibu, sedangkan Fahri juga sudah mandi dan bersih. Rozi menghela napas lega. Dia pikir semua sudah tenang. Kedua anaknya anteng makan telur dan nasi yang sudah dia siapkan. Ini waktu yang tepat bagi Rozi melepas lelah, dia berpikir akan pergi memancing saja.

Joran dia tenteng. Lalu lelaki itu berpesan pada Fahri, anak keduanya. "Jaga adik-adik ya, Bapak mau mancing dulu, ngilangin stres!" ujar Rozi kepada Fahri. Kemudian laki-laki itu pergi dan mengunci pintu dari luar.

Anak umur 4 tahun itu hanya bisa diam, dia tidak begitu mengerti. Namun, semesta akan menjalankan skenarionya setelah ini, sebuah peristiwa yang akan membuat kehidupan mereka semua berubah.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status