Beranda / Romansa / Desahan di Kamar Pembantu / Bab 5. Wanita Jalang

Share

Bab 5. Wanita Jalang

Penulis: Davian
last update Terakhir Diperbarui: 2025-09-13 12:04:30

Sontak saja wajah Bara dan Indira memucat, usai mereka mendengar suara yang ada di depan pintu.

Mereka lebih terkejut lagi saat melihat seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan tersebut dan tiba-tiba wanita itu berada di tengah-tengah mereka.

"Apa sudah mulai ada kabar baik, Bar? Apa mantu mamih sudah mengandung?" tanya Mayang seraya menatap ke arah putranya. Dengan tatapan berbinar-binar yang penuh dengan harapan.

Bara buru-buru menepis pertanyaan dari Mayang. Sebelum wanita itu kembali berharap akan datangnya seorang cucu darinya dan Bella. "Tidak Mih. Bukan begitu."

Kemudian tatapan Mayang tertuju tajam ke arah Indira. Seorang wanita asing yang sedang bersama dengan putranya, di dalam ruangan yang tertutup.

"Dan kamu—siapa? Kenapa kamu bisa bersama dengan anak saya di sini?" tanyanya dengan nada yang datar.

Sebelum Bara menjawabnya. Indira menjawab lebih dulu pertanyaan dari Mayang. "Sa-saya pembantu baru di rumah ini, Nyonya. Nama saya Indira."

"Oh ... jadi kamu pembantu baru yang menggantikan mbok Yeni, ya?"

Indira menganggukkan kepalanya.

"Lantas kenapa kamu ada di sini? Berduaan sama anak saya lagi?" Mayang tampak curiga.

"Mamih jangan salah paham. Aku sama Indira cuma membicarakan masalah pekerjaan. Karena dia pembantu baru di rumah ini." Bara menjelaskannya dengan tenang. Guna menghilangkan kecurigaan ibunya.

"Terus tadi ada kata mengandung? Mengandung apa, Bara?"

"Aku bilang sama Indira, kalau dia harus memasak, masakan yang mengandung protein, biar sehat gitu, Mih."

Mayang tidak bertanya lagi setelahnya. Ia pun menyuruh Indira untuk bekerja dengan baik, jangan sampai membuat Bara menyesal sudah menerima Indira di sini.

"Ya sudah. Kamu keluar. Lakukan pekerjaan kamu, atau istirahat sana!" ujar Mayang.

"Baik, Nyonya." Indira melirik ke arah Bara sebelum ia pergi dari ruangan ini. Bara juga mengisyaratkan pada Indira, kalau mereka akan bicara lagi nanti.

Setelah Indira pergi, hanya tinggal Bara dan mamihnya yang ada di dalam ruangan tersebut.

"Ada apa malam-malam mamih datang kemari?" tanya Bara.

"Mami ke sini tadinya mau ketemu sama Bella. Tapi kata mbok Tuti ...Bella keluar negeri lagi, ya?"

Bara menghela napasnya berat, wajahnya menunjukkan kekecewaan.

"Gimana kalian mau punya anak kalau Bella terus keluar negeri? Dia punya niat punya anak gak sih? Sudah 10 tahun kalian menikah. Apa kalian tidak mau memberikan mamih cucu?"

"Usiamu juga sudah mau kepala empat. Orang-orang seumuran kamu sudah punya dua atau tiga anak, Bara!"

Omelan dari Mayang memang sudah biasa Bara dengar. Namun, kali ini Bara merasakan hatinya berdenyut sakit. Bukan ia yang tidak mau punya anak dan memberikan ibunya seorang cucu. Tapi Bella, istrinya belum mau hamil dan selalu mengatakan belum siap. Bella takut kalau bentuk tubuhnya akan berubah, takut kalau karirnya akan redup jika ia hamil.

"Apa jangan-jangan Bella tidak mau memberikan Mamih, cucu?" Pertanyaan sang ibu sontak saja membuat Bara tercengang.

"Bukan begitu ,Mih."

"Bener bukan begitu?" tanya Mayang tak percaya.

"Bella bukan nggak mau, dia cuma mau menunda saja, Mih." Bara tak tahu harus bicara apalagi untuk meyakinkan ibunya. Ia tau, apa yang dikatakannya terdengar seperti pembelaan. Ia tak mau Bella disalahkan.

"Kalau misalkan Bella tidak mau memberikan kamu anak. Lebih baik kamu cari wanita lain saja yang mau mengandung anakmu."

Kedua mata Bara memerah, ia pun berkata dengan lantang. "Mih! Aku tidak akan pernah mencari wanita lain!"

"Percuma cantik, berpendidikan, terkenal, tapi dia tidak mau menjadi seorang ibu, tidak mau menjadi ibu rumah tangga dan seorang istri yang penurut. Ternyata semua itu tidak cukup."

Mayang tampak menunjukkan kekecewaannya kali ini. Ia tidak menutupinya lagi.

"Kalau Mamih datang ke sini cuma untuk membicarakan Bella. Lebih baik Mamih pulang!" ujar Bara sambil menahan emosinya agar tidak meledak-ledak.

Mayang menghela napasnya gusar. "Mamih ke sini bukan hanya membicarakan Bella. Tapi mamih mau titip Celine sama kamu dan Bella, untuk tinggal di rumah ini sementara waktu."

"Celine? Kenapa?"

Celine adalah gadis kecil berusia 8 tahun, keponakan Bara dari kakak sepupu Bara. Celine sudah kehilangan ibunya sejak bayi.

"Iya. Radit lagi ada urusan bisnis di Amerika. Dia gak bisa bawa Celine ke sana, karena Celine kan sekolah di sini. Jadi Mamih minta sama kamu dan Bella untuk mengurusnya dulu sampai dia kembali."

"Bella nggak akan setuju, Mih." Bara mendengus, tak setuju dengan keputusan ibunya.

"Mamih yang akan bilang sama Bella, nanti. Lagian sekalian kamu dan Bella latihan belajar ngasuh anak."

Keputusan Mayang tak bisa diganggu gugat. Bara tak bisa menolaknya. Namun, ia memikirkan bagaimana reaksi Bella saat pulang nanti? Bella tak suka anak kecil, bahkan secara terang-terangan Bella selalu menyebut kalau anak kecil itu merepotkan, menyebalkan.

***

"Wah, hebat banget kakak bisa sulap! Celine mau diajarin juga sama kakak, hehe." Gadis kecil dengan rambut kepang dua itu tampak tersenyum senang sambil bertepuk tangan, setelah melihat aksi sulap sederhana Indira.

"Bisa dong. Nanti kakak ajarin sulap ya," jawab Indira sambil tersenyum lembut.

Mayang dan Bara melihat mereka saat turun dari lantai dua. Bibir Mayang tersenyum kala melihat senyuman di bibir Celine.

"Jarang sekali melihat Celine tersenyum, bahkan tertawa seperti itu."

Bara terdiam dan membenarkan ucapan ibunya. Celine, anak itu adalah anak pendiam, tapi usil, namun ia bukan anak ceria seperti anak-anak pada umumnya. Akan tetapi, bersama Indira, gadis kecil itu tertawa. Bahkan, pengasuh yang selama ini mengasuh Celine, tidak tahan dengan sikap Celine yang usil.

"Pekerjakan dia sebagai pengasuh Celine saja, Bar. Mamih yakin dia akan cocok."

Bara hanya menganggukkan kepalanya, tidak membantah ibunya. Lantas, ibu dan anak itu pun mendekat ke arah Indira dan Celine. Indira buru-buru berdiri dan menundukkan kepalanya.

"Tolong jaga cucu saya ya, Indira. Saya percayakan dia sama kamu."

"I-iya Nyonya?" Indira terlihat bingung dengan kata-kata Mayang.

"Mulai hari ini tugasmu tidak hanya mengurus lantai dua, tapi menjadi pengasuh Celine. Keponakan saya." Bara memperjelas ucapan ibunya. Sehingga Indira langsung mengerti apa tugasnya.

Sejak saat itu, Indira menjadi pengasuh Celine sekaligus mengurus lantai dua. Indira juga sudah mengirimkan uang kepada bapaknya intuk biaya operasi ibunya di kampung. Ia merasa berterima kasih pada Bara atas pertolongan lelaki itu. Maka ia pun rela tidak digaji dan melupakan apa yang terjadi malam itu, demi membalas budi pada Bara.

"Indira. Celine mana? Apa dia sudah siap?" tanya Bara pada Indira yang sedang membantu Tuti menyiapkan sarapan di atas meja.

"Sudah Tuan. Non Celine sudah mandi, berpakaian. Saya akan memanggilnya."

"Oke. Suruh dia sarapan."

Indira menganggukkan kepalanya dan melangkah pergi ke kamar Celine. Namun, tiba-tiba saja ia merasa kepalanya pusing.

"Indira!" Bara melihat Indira hampir jatuh, dengan sigap ia menopang tubuh Indira. Sehingga posisi mereka seperti berpelukan.

"Terima kasih Tuan."

"DASAR WANITA JALANG KURANG AJAR!" Teriakan itu sontak saja membuat Indira dan Bara tercengang.

Bersambung...

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 200. Calon Mantu Saya!

    Mendengar kalimat Hendri, Safira seperti tersambar petir di siang bolong. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Nafasnya memburu, antara marah dan takut."Kamu gila, Hendri! Aku sekarang istri orang! Lagi hamil pula! Kamu nggak punya perasaan apa?!" desis Safira, berusaha sekeras mungkin menjaga volume suaranya agar tak terdengar siapapun.Terutama Sherry dan Reina yang setahunya sedang tidur. Tawa Hendri kembali terdengar, panjang dan menyebalkan. "Perasaan? Sayang, dulu saat kamu meninggalkan aku demi Dewa, apa kamu pakai perasaan? Kamu tinggalin aku dan anak kita, Sherry, demi mengejar pria lain. Sekarang jangan sok suci di hadapanku."Safira menggigit bibirnya. Setiap kata Hendri adalah tusukan pisau tepat di ulu hatinya. Kenangan masa lalu yang pahit itu kembali terkuak. Ya, ia memang pergi meninggalkan Hendri karena tak tahan dengan sikap kasar mantan suaminya itu. Tapi ia membawa Sherry serta. Ia tidak meninggalkan anaknya."Tapi sekarang aku bawa

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 199. Menghangatkanku

    Malam di rumah Safira dan Dewa terasa lebih dingin dari biasanya. Udara tidak bersahabat, atau mungkin hanya perasaan Dewa saja yang membeku sejak ia melangkahkan kaki masuk ke rumahnya sendiri.Vas bunga itu meleset. Pecahan kaca berserakan di dekat kaki Dewa, berkilauan terkena lampu ruang tamu. Safira berdiri di hadapannya dengan dada naik turun, matanya memerah, tangannya masih gemetar. Suasana menjadi panas mendadak. Bukan dingin lagi."Ngaku! Kamu selingkuh sama dia itu, kan?! Indira!" suara Safira melengking, memecah keheningan malam.Dewa menghela napas panjang. Lelah. Bukan hanya lelah fisik karena semalam suntuk menemani ibunya di rumah sakit, tapi lelah hati. Ia meletakkan kunci mobilnya di meja, lalu duduk di sofa tanpa menggubris amukan istrinya."Aku ngomong sama kamu, Dewa!"Dewa membuka dasi yang masih melingkar di lehernya. "Safira, aku capek. Jangan bikin ribut.""Jangan bikin ribut?!" Safira tertawa miris. "Suamiku ketahuan ngobrol mesra sama mantan tunangannya di r

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 198. Bukan Anak Haram

    Nathan duduk di samping, diam. Ia menatap Bara yang ikut duduk di lantai kamar."Pa... Nathan bukan anak haram, kan?" tanyanya lagi. Kali ini nadanya lebih lirih.Bara menarik napas dalam. Ia mendekat, duduk di depan Nathan, lalu menatap mata bocah itu dengan serius. "Denger ya, Nak. Kamu itu anak Papa. Papa sayang banget sama kamu. Kamu dan Nala itu anak Papa dan Mama. Titik."Nathan mengangguk pelan. Tapi matanya masih menyimpan tanda tanya. Luka itu sudah terlanjur menggores.***Malam semakin larut. Indira akhirnya bisa menidurkan kedua anaknya setelah membacakan dua dongeng dan menyanyikan satu lagu. Bara menunggu di ruang tamu, duduk diam dengan segelas air putih yang sudah habis sejak setengah jam lalu."Udah tidur?" tanyanya saat Indira turun."Udah," jawab Indira lemas. Ia duduk di sofa, memejamkan mata. "Makasih, Mas. Udah bantuin tadi.""Bukan Masalah. Nathan Nala kan anakku juga.""Kalau gitu aku pulang dulu ya. Kalau ada apa-apa, kabarin aku," kata Bara kemudian pamit. Ha

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 197. Emosi

    Tubuh Nathan menegang. Bocah kecil itu menatap Bira dengan sorot mata yang tidak biasa, bukan sekadar marah, tapi ada luka yang menganga di sana. Nala merapat ke samping kakak kembarnya, tangannya meraih lengan Nathan dengan erat."Ka-kakak... aku takut..." bisik Nala, matanya mulai berkaca-kaca meski ia belum sepenuhnya mengerti apa arti kata itu. "Suster Bira jadi jahat."Bira tersentak. Ia sendiri kaget dengan kata-kata yang baru saja meluncur dari mulutnya. Tapi ego dan kekesalannya sudah terlanjur memuncak. Selama ini ia merasa direndahkan, dianggap hanya sebagai pembantu, sementara Indira, wanita yang menurutnya hanya 'bekas istri orang kaya raya', hidup dengan segala kemewahan dan perhatian dari Bara."Kalian pikir kalian siapa? Sok tahu, sok mandiri. Suster ini capek ngurusin kalian dari pagi, tapi kalian gak pernah dengerin omongan suster!" Bira membentak, melampiaskan kekesalannya pada dua anak kecil di depannya.Nathan mengepalkan tangannya. Dadanya naik turun. "Kami bukan

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 196. Permintaan Mayang

    Ruang rawat ICU terasa lebih hangat dari biasanya. Mesin monitor masih berbunyi pelan, selang infus tergantung di sisi tempat tidur, dan aroma obat-obatan menguar memenuhi udara. Namun bagi Bara, semua itu tak lagi menakutkan saat ia melihat sepasang mata yang sangat ia kenal perlahan menatap ke arahnya.“Mama…” suara Bara bergetar.Mayang tersenyum lemah. Wajahnya pucat, pipinya sedikit tirus, namun sorot matanya hidup. Indira berdiri di samping Bara, menahan haru yang mendadak menyeruak.“Bara…” bisik Mayang lirih.Tanpa menunggu lagi, Bara mendekat dan memeluk tubuh ibunya dengan hati-hati. Ia menunduk, mencium tangan Mayang lama sekali.“Alhamdulillah… Mama masih di sini. Aku takut, Ma…” suaranya pecah, tak lagi setegar biasanya.Mayang mengusap kepala putranya pelan. “Mama belum mau pergi. Belum lihat kamu bahagia. Mana bisa Mama pergi dan membiarkan kamu kesepian?"Indira menunduk, dadanya terasa sesak. Ia tak pernah menyangka akan melihat momen seharu ini. Mayang menoleh padany

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 195. Bertemu Mantan

    Pintu lift rumah sakit terbuka pelan.Dewa melangkah keluar dengan wajah lelah. Kemeja yang tadi pagi masih rapi kini kusut, rambutnya sedikit berantakan. Ia benar-benar kembali ke rumah sakit, setelah hanya mengambil bajunya di rumah. Ia berjalan menyusuri lorong ICU, niatnya hanya satu, mengecek kondisi pasien yang ia titipkan pada dokter jaga.Namun langkahnya terhenti. Beberapa meter di depannya, di bawah lampu lorong yang temaram, Indira berdiri memeluk Bara. Bukan pelukan biasa, melainkan pelukan yang penuh kelelahan, ketakutan, dan kebutuhan.Indira menyandarkan kepalanya di dada Bara. Tangan Bara melingkar protektif di punggung Indira. Seolah dunia mereka hanya berdua.Dewa terpaku, dadanya seperti diremas sesuatu yang tak terlihat. Melihat adegan di depannya itu.Ia tak punya hak apa-apa untuk cemburu. Ia bukan siapa-siapa lagi di hidup Indira. Tapi kenapa hatinya sakit seperti ini?Indira yang pertama menyadari kehadiran Dewa. Tubuhnya sedikit menegang. Perlahan ia melepask

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status