Mag-log inBara tidak langsung pulang ke hotel setelah dari toko mainan. Ia meminta Rudi mengantar ke rumah sakit lebih dulu, berniat menengok Nala sekalian menyerahkan hadiah. Kotak-kotak di jok belakang mobil terlihat rapi, boneka beruang stroberi berwarna merah muda, satu tablet khusus anak dengan casing biru tua, juga beberapa buku gambar dan pensil warna. Ia memborong banyak mainan.Bahkan rencananya, ia akan membuat kamar anak-anak untuk Nala dan Nathan di rumahnya. Sepanjang perjalanan, Bara tak bisa berhenti membayangkan wajah Nala saat menerima boneka itu. Tawa Nathan ketika melihat tablet barunya. Hatinya hangat, penuh harap, seolah semua kesalahan di masa lalu bisa ia tebus dengan perhatian dan kehadiran.Namn, harapan itu runtuh begitu mereka tiba di rumah sakit. “Maaf, Pak,” kata perawat di bagian informasi dengan sopan. “Pasien atas nama Nala sudah diperbolehkan pulang siang tadi.”Bara terdiam. “Pulang?”“Iya. Nala sudah dibawa pulang oleh ibunya.”Akhirnya Bara dan Rudi pergi m
"Nathan! Ayo! Mau lihat Nala, kan?" Indira berbicara dengan tegas pada putranya itu. Seakan menyuruh Nathan segera menjauh dari Bara."Iya Ma."Bara tersenyum kaku, ia melambaikan tangannya pada Nathan.Indira dan Nathan melangkah masuk ke ruang rawat Nala. Pintu tertutup perlahan di belakang mereka, meninggalkan Bara yang masih berdiri kaku di koridor, seperti patung yang kehilangan arah. Dadanya terasa tidak nyaman, seolah ada tangan tak kasatmata yang terus menekan kuat dirinya.Pikirannya kembali pada obrolan semalam. Telepon itu. Nada suara Indira yang bergetar, bukan karena marah semata, melainkan karena luka lama yang kembali terbuka. Bara menelan ludah. Ia sadar, semua ini berawal dari ketidakpercayaannya sendiri. Dari keyakinannya yang buta pada Bella, pada bukti yang disodorkan tanpa pernah ia uji kebenarannya.Ia mengusap wajah, menarik napas panjang. Saat itulah langkah cepat mendekat. Rudi, asistennya, berhenti di hadapannya.“Pak Bara,” ujar Rudi pelan, menurunkan suara.
Perasaan Indira memburuk, setelah berbicara dengan Bara. Lagi-lagi pria itu mengecewakannya dengan rasa tidak percaya. Bara tetap membela cinta pertamanya. Wanita yang ia pikir, masih jadi istri pria itu."Ternyata cinta kamu begitu besar untuknya. Sampai kamu tidak bisa melihat kebenaran. Ya, kamu memang orang yang realistis, harus melihat bukti dulu, baru akan percaya, kan? Tapi dulu kamu semudah itu percaya kalau aku menggugurkan kandunganku. Hanya berdasarkan kertas persetujuan dan kata-kata bohong dari dokter itu."Wanita itu menggerutu, dengan dada yang sesak mengingat hal dulu. Di mana ia difitnah dengan kejam oleh dokter suruhan Bella. Ketiga adiknya dibunuh dengan biadab. Bara, saat itu bukan menghiburnya, tapi malah menyudutkan dirinya. Menghinanya.Tanpa sadar air matanya kembali mengalir, mengingat kenangan buruk itu. Pembicaraan dengan Bara barusan, membuka luka lamanya."Andi, Elin, Risa ...kakak kangen kalian. Kakak kangen," lirih Indira dengan hati pedih.***Sementara
Indira masih berdiri terpaku beberapa detik setelah pintu tertutup di belakang Dewa. Jantungnya berdentum keras, seolah menolak kembali ke ritme semula. Ujung jarinya gemetar saat ia menggenggam gagang pintu, lalu perlahan melepaskannya. Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, namun bayangan bibir yang tanpa sengaja bersentuhan itu kembali menyelinap, membuat dadanya terasa hangat sekaligus sesak.“Kenapa bisa begitu?" gumamnya pelan, menggigit bibir dengan gugup.Ia berbalik dan melangkah cepat ke kamar mandi. Air dingin dari keran membasuh wajahnya, mengalir turun seakan membawa serta kegelisahan yang menumpuk. Indira menatap pantulan dirinya di cermin, mata berkaca-kaca, pipi sedikit memerah. Ia menghela napas, mengusap wajah, lalu menegakkan bahu.'Aku harus tenang. Ini nggak sengaja'Namun, bahkan kata-kata itu terdengar rapuh di kepalanya sendiri.Baru saja ia menutup keran dan mengeringkan tangan, ponselnya bergetar di atas wastafel. Nomor tak dikenal. Indira me
Mayang melangkah pergi dengan langkah cepat, suara sepatunya beradu keras dengan lantai marmer mansion itu. Dadanya naik turun, bukan karena lelah, melainkan karena amarah dan penyangkalan yang terus ia pelihara selama bertahun-tahun.Kata-kata Celine tentang Bara dan Indira bagai duri yang menusuk tepat ke jantung egonya.Tidak. Tidak mungkin putranya mencintai wanita itu sedalam itu. Bella kan cinta pertamanya? Sedangkan Indira, hanya wanita pemuas ranjangnya saja. Main-main.Mayang berhenti sejenak di ujung lorong, menekan dadanya sendiri, lalu menggeleng keras seakan ingin menepis bayangan wajah Indira yang entah kenapa selalu hadir saat nama itu disebut. Ia kembali melangkah, kali ini lebih cepat, meninggalkan ruang tengah tanpa menoleh lagi.Di ruang tengah, Radit dan Celine masih duduk di sofa besar berwarna krem. Keheningan terasa canggung. Celine menurunkan kakinya yang sejak tadi bergoyang-goyang, lalu menatap Radit dengan wajah sendu."Papa,” ucapnya pelan. “Papa tahu kabar
Rasa cemburu panas membakar dada Bara, saat melihat betapa dekatnya Indira dengan Dewa. Membayangkan betapa selama ini mereka berdua sangat dekat dibelakangnya dan ia tidak tahu apa-apa.Bahkan Dewa sering kali bertemu dengannya, tapi lelaki itu tidak mengatakan apa-apa tentang Indira.Bara meraih kerah pakaian Dewa dan menatap lelaki itu seakan ia musuh yang harus disingkirkan."Kamu apa-apaan Pak Bara? Siapa yang milikmu?" tanya Indira seraya mendorong dada Bara menjauh dari Dewa.Melihat kilatan kebencian dan kemarahan di mata Bara untuk Dewa, membuat Indira takut kalau kedua pria ini akan terlibat perkelahian."Kamu milikku, Indira. Itu sudah jelas. Kamu dan anak-anak kita." Bara mengatakannya tanpa ragu."Jangan asal bicara! Aku sama anak-anakku, bukan milik kamu!" seru Indira tegas. Ia tidak suka dengan kata-kata Bara yang mengklaim kalau ia dan si kembar adalah miliknya.Indira mendengus keras. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan gemetar yang berasal dari amarah dan kegel







