Beranda / Romansa / Desahan di Kamar Pembantu / Bab 81. Lepaskan Saya Pak Bara!

Share

Bab 81. Lepaskan Saya Pak Bara!

Penulis: Davian
last update Terakhir Diperbarui: 2025-12-25 23:11:57

Pagi itu dimulai lebih cepat dari biasanya.

Ponsel Indira berdering saat jam dinding baru menunjukkan pukul enam. Ia yang sedang merapikan rambut Nala untuk sekolah refleks melirik layar. Nomor kantor. Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia menghela napas sebelum mengangkatnya.

“Selamat pagi, Indira,” suara bariton di seberang sana terdengar formal namun bersahabat. “Maaf mengganggu sepagi ini."

Indira menegakkan tubuhnya. Harold adalah pemimpin utama perusahaan tempatnya bekerja, pria asing yang jarang sekali menelepon langsung. “Pagi, Pak. Tidak apa-apa.”

“Ada rapat penting hari ini,” lanjut Harold. “Investor dan pimpinan dari perusahaan mitra luar negeri yang datang langsung ke kantor pusat Sydney. Mereka ingin melihat presentasi desain yang selama ini kamu tangani. Secara langsung. Kemarin kamu tidak hadir dan itu kurang memuaskan pimpinannya."

Tangan Indira sedikit mengencang menggenggam ponsel. “Harus saya, Pak?"

“Yes. Kamu kan kepala tim desain. Mereka ingin mendengar pen
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (12)
goodnovel comment avatar
Arumi Ayana
tapi terlalu lama, nunggu epesod selanjutnya,ceritanya lagi seru mlh bersambung,......
goodnovel comment avatar
Davian
Hari ini up malam yaa
goodnovel comment avatar
Davian
Hari ini up malam ya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 110. Kemarahan Bara

    Bara dan Dewa saling menatap tajam. Udara di antara mereka seolah menegang, penuh tekanan yang siap meledak kapan saja. Rahang Dewa mengeras, napasnya sedikit memburu, sementara Bara tampak seperti singa yang wilayahnya diganggu, penuh amarah dan posesif tanpa kendali. Seolah Indira adalah miliknya. “Apa katamu?” suara Dewa rendah, namun sarat peringatan. “Jangan pernah bilang Indira milik siapa pun.”Bara tertawa pendek, sinis. “Kamu pikir dengan sedikit perhatian dan drama sakit-sakitan, kamu bisa merebutnya dari saya? Dia mencintai saya!" katanya dengan percaya diri yang tinggi.Indira tercekat mendengar betapa percaya dirinya Bara. Dewa maju satu langkah. “Saya nggak merebut siapa pun dan Indira bukan barang. Dia yang memilih saya!" “Cukup!” Indira akhirnya berteriak. Suaranya bergetar, namun keras. Tangannya terangkat, seolah menjadi pembatas di antara dua pria itu. “Aku capek. Aku benar-benar capek dengan ini semua! Terutama kamu

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 109. Memaksa!

    "Om mau jemput Mama? Kenapa Om?" tanya Nala dengan wajah polosnya yang menggemaskan itu.Bara terdiam sejenak, sebelum ia menjawab. "Em, pengen aja. Sekalian Om ada urusan sama Mama kalian.""Tapi pasti Mama lagi sama Papih. Mending gak usah dijemput, Om. Mama pasti baik-baik aja, nanti juga pulang," celetuk Nathan dengan santainya. Seolah-olah Indira memang aman bersama dengan 'papihnya' itu.Entah kenapa Bara tak senang mendengarnya. Anak sulungnya ini, dari tadi terdengar memuji-muji Dewa dihadapannya. Papih yang sangat disayanginya."Kamu sesuka itu sama Dewa?" tanya Bara dengan tatapan datarnya."Suka. Papih baik sama Mama, sama aku dan Nala. Sama semua orang. Waktu kami sakit, Papih jagain kami," jawab Nathan jelas dengan santai. Tanpa memikirkan kalau ada hati yang membara, terbakar oleh rasa cemburu saat mendengarnya. Siapa lagi kalau bukan Bara."Mulai sekarang, Om juga akan jaga kalian. Lebih baik dari si Dewa itu," cetus Bara yang tak mau kalah.Nathan hanya tersenyum tipis

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 108. Tidak Akan Menyerah

    Dewa masih mematung beberapa detik setelah ucapan Indira meluncur begitu saja, jujur, tanpa ragu. Jantungnya berdegup keras, bahkan rasa panas di tubuhnya seakan kalah oleh hangat yang menjalar di dadanya.“Dira…” suara Dewa serak. “Kamu serius?”Indira mengangguk pelan, tatapannya lurus. “Serius, Mas.”Reina menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… akhirnya!” Ia hampir meloncat kegirangan sebelum memeluk Indira erat. “Aku nggak salah kan bilang ke Kak Dewa, Kak Dira itu cuma nunggu waktu dan keyakinan buat perasaannya."Dewa tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali ia perlihatkan. “Kalau begitu…” Ia menarik napas dalam, menatap Indira penuh makna. “Aku akan melamar kamu lagi. Dengan cara yang nggak akan pernah kamu bayangkan.”Indira terkesiap kecil, pipinya merona. “Mas…”Reina langsung bersorak pelan. “Fix! Aku siap jadi tim sukses lamaran Kak Dewa!” katanya riang, lalu buru-buru pamit keluar kamar. “Aku ke dapur dulu, pura-pura nggak dengar apa-apa. Kalian romantis rom

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 108. Secepatnya

    Senyum Indira memudar, kala ia melihat wanita yang membukakan pintu rumah Dewa untuknya. Kedua matanya melebar melihat wanita itu. Namun, sedetik kemudian, ia kembali tersenyum. Menatap wanita cantik itu dengan lekat."Oh my god! Kak Dira! Ini beneran kakak?"Wanita cantik itu memeluk Indira, layaknya seorang adik memeluk kakaknya. Ia terlihat senang melihat Indira."I miss you so much Kak," kata wanita itu dengan senyuman di bibirnya."Kakak juga kangen sama kamu Rei. Udah lama ya kita nggak ketemu? Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu udah ada di Indonesia, hem? Apa kamu menetap di sini sekarang?" tanya Indira lembut. Ia juga merasakan kerinduan yang sama pada Reina, adik dari Dewa.Ia dan Reina juga cukup dekat, selama dua tahun, Reina dan Indira pernah hidup satu rumah. Reina yang membantunya mengurus si kembar, sebelum Reina pergi ke New York untuk menggapai cita-citanya menjadi chef terkenal.Reina sudah seperti adik sendiri."Iya Kak. Aku udah sebulan lalu di sini dan aku akan m

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 106. Masa Lalu

    Pintu terbuka perlahan.Seorang wanita melangkah masuk. Wajahnya lebih kurus dari yang Dewa ingat, tapi matanya, mata itu masih sama. Menatapnya dengan tatapan yang sendu dan penuh perasaan.“Dewa,” ucap Safira pelan.Dewa menatapnya lama, dadanya sesak. Tak bisa dipungkiri kalau jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok bernama Safira itu. Wanita cantik berkulit putih dengan tinggi semampai, bak model papan atas. “Kenapa sekarang?” tanyanya lirih. “Setelah semua yang terjadi. Ada apa kamu menemui saya?" tanya Dewa dingin.Safira menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya mengepal disamping tubuh mencengkram sisi dress berwarna merah yang dikenakannya. Memperlihatkan kegugupannya."Kalau kamu diam saja, silahkan pergi—"Belum sempat Dewa melanjutkan ucapannya, wanita itu sudah lebih dulu memeluknya dan membuat Dewa tersentak kaget. "Kamu apa-apaan? Kamu—"Saat Dewa akan melepaskan pelukan Safira, wanita itu malah semakin mengeratkan pelukannya. "Safira!" bentak Dewa."Maafin aku D

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 105. Video Call

    Mayang terdiam lama setelah pengakuan itu meluncur dari bibir Bara. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia mengira semua yang Bara lakukan hanya karena rasa tanggung jawab pada anak-anak. Tapi cinta? Itu di luar perhitungannya.“Bara…” lirih Mayang, suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu yakin dengan perasaan kamu sendiri?”Bara mengangguk tanpa ragu. “Yakin, Ma. Dari dulu mungkin aku sudah peduli, cuma tertutup ego dan kesalahpahaman. Sekarang aku nggak mau lari lagi.”Mayang memalingkan wajah ke jendela mobil. Lampu jalanan malam berkelebat cepat, tapi pikirannya jauh lebih kacau. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi ia tahu, melawan Bara sekarang hanya akan membuat putranya semakin menjauh. Dalam hati, ia memaki Indira habis-habisan. Wanita itu, bagaimanapun caranya, tidak boleh menjadi istri Bara.Tenang, Mayang. Kamu masih punya banyak cara, batinnya dingin.***Di tempat lain, malam terasa lebih sunyi bagi Indira. Setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, ia akhirnya merebah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status