Home / Romansa / Desahan di Kamar Pembantu / Bab 95. Rasa Bersalah

Share

Bab 95. Rasa Bersalah

Author: Davian
last update Last Updated: 2026-01-02 23:10:57

Perasaan Indira memburuk, setelah berbicara dengan Bara. Lagi-lagi pria itu mengecewakannya dengan rasa tidak percaya. Bara tetap membela cinta pertamanya. Wanita yang ia pikir, masih jadi istri pria itu.

"Ternyata cinta kamu begitu besar untuknya. Sampai kamu tidak bisa melihat kebenaran. Ya, kamu memang orang yang realistis, harus melihat bukti dulu, baru akan percaya, kan? Tapi dulu kamu semudah itu percaya kalau aku menggugurkan kandunganku. Hanya berdasarkan kertas persetujuan dan kata-kata bohong dari dokter itu."

Wanita itu menggerutu, dengan dada yang sesak mengingat hal dulu. Di mana ia difitnah dengan kejam oleh dokter suruhan Bella. Ketiga adiknya dibunuh dengan biadab. Bara, saat itu bukan menghiburnya, tapi malah menyudutkan dirinya. Menghinanya.

Tanpa sadar air matanya kembali mengalir, mengingat kenangan buruk itu. Pembicaraan dengan Bara barusan, membuka luka lamanya.

"Andi, Elin, Risa ...kakak kangen kalian. Kakak kangen," lirih Indira dengan hati pedih.

***

Sementara
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (3)
goodnovel comment avatar
Davian
Ada kakak, tapi belum muncul
goodnovel comment avatar
Natashya
Malam ni tak de ke
goodnovel comment avatar
Yuliani Padaunan
bikin makin gregetan, lanjut kak
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 108. Tidak Akan Menyerah

    Dewa masih mematung beberapa detik setelah ucapan Indira meluncur begitu saja, jujur, tanpa ragu. Jantungnya berdegup keras, bahkan rasa panas di tubuhnya seakan kalah oleh hangat yang menjalar di dadanya.“Dira…” suara Dewa serak. “Kamu serius?”Indira mengangguk pelan, tatapannya lurus. “Serius, Mas.”Reina menutup mulutnya, matanya berkaca-kaca. “Ya Allah… akhirnya!” Ia hampir meloncat kegirangan sebelum memeluk Indira erat. “Aku nggak salah kan bilang ke Kak Dewa, Kak Dira itu cuma nunggu waktu dan keyakinan buat perasaannya."Dewa tersenyum lebar, senyum yang jarang sekali ia perlihatkan. “Kalau begitu…” Ia menarik napas dalam, menatap Indira penuh makna. “Aku akan melamar kamu lagi. Dengan cara yang nggak akan pernah kamu bayangkan.”Indira terkesiap kecil, pipinya merona. “Mas…”Reina langsung bersorak pelan. “Fix! Aku siap jadi tim sukses lamaran Kak Dewa!” katanya riang, lalu buru-buru pamit keluar kamar. “Aku ke dapur dulu, pura-pura nggak dengar apa-apa. Kalian romantis rom

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 108. Secepatnya

    Senyum Indira memudar, kala ia melihat wanita yang membukakan pintu rumah Dewa untuknya. Kedua matanya melebar melihat wanita itu. Namun, sedetik kemudian, ia kembali tersenyum. Menatap wanita cantik itu dengan lekat."Oh my god! Kak Dira! Ini beneran kakak?"Wanita cantik itu memeluk Indira, layaknya seorang adik memeluk kakaknya. Ia terlihat senang melihat Indira."I miss you so much Kak," kata wanita itu dengan senyuman di bibirnya."Kakak juga kangen sama kamu Rei. Udah lama ya kita nggak ketemu? Kenapa kamu nggak bilang kalau kamu udah ada di Indonesia, hem? Apa kamu menetap di sini sekarang?" tanya Indira lembut. Ia juga merasakan kerinduan yang sama pada Reina, adik dari Dewa.Ia dan Reina juga cukup dekat, selama dua tahun, Reina dan Indira pernah hidup satu rumah. Reina yang membantunya mengurus si kembar, sebelum Reina pergi ke New York untuk menggapai cita-citanya menjadi chef terkenal.Reina sudah seperti adik sendiri."Iya Kak. Aku udah sebulan lalu di sini dan aku akan m

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 106. Masa Lalu

    Pintu terbuka perlahan.Seorang wanita melangkah masuk. Wajahnya lebih kurus dari yang Dewa ingat, tapi matanya, mata itu masih sama. Menatapnya dengan tatapan yang sendu dan penuh perasaan.“Dewa,” ucap Safira pelan.Dewa menatapnya lama, dadanya sesak. Tak bisa dipungkiri kalau jantungnya berdegup kencang saat melihat sosok bernama Safira itu. Wanita cantik berkulit putih dengan tinggi semampai, bak model papan atas. “Kenapa sekarang?” tanyanya lirih. “Setelah semua yang terjadi. Ada apa kamu menemui saya?" tanya Dewa dingin.Safira menggigit bibir bawahnya, kedua tangannya mengepal disamping tubuh mencengkram sisi dress berwarna merah yang dikenakannya. Memperlihatkan kegugupannya."Kalau kamu diam saja, silahkan pergi—"Belum sempat Dewa melanjutkan ucapannya, wanita itu sudah lebih dulu memeluknya dan membuat Dewa tersentak kaget. "Kamu apa-apaan? Kamu—"Saat Dewa akan melepaskan pelukan Safira, wanita itu malah semakin mengeratkan pelukannya. "Safira!" bentak Dewa."Maafin aku D

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 105. Video Call

    Mayang terdiam lama setelah pengakuan itu meluncur dari bibir Bara. Dadanya terasa sesak. Selama ini ia mengira semua yang Bara lakukan hanya karena rasa tanggung jawab pada anak-anak. Tapi cinta? Itu di luar perhitungannya.“Bara…” lirih Mayang, suaranya nyaris tak terdengar. “Kamu yakin dengan perasaan kamu sendiri?”Bara mengangguk tanpa ragu. “Yakin, Ma. Dari dulu mungkin aku sudah peduli, cuma tertutup ego dan kesalahpahaman. Sekarang aku nggak mau lari lagi.”Mayang memalingkan wajah ke jendela mobil. Lampu jalanan malam berkelebat cepat, tapi pikirannya jauh lebih kacau. Ia ingin marah, ingin berteriak, tapi ia tahu, melawan Bara sekarang hanya akan membuat putranya semakin menjauh. Dalam hati, ia memaki Indira habis-habisan. Wanita itu, bagaimanapun caranya, tidak boleh menjadi istri Bara.Tenang, Mayang. Kamu masih punya banyak cara, batinnya dingin.***Di tempat lain, malam terasa lebih sunyi bagi Indira. Setelah selesai membersihkan diri di kamar mandi, ia akhirnya merebah

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 104. Jatuh Cinta

    Indira berdiri tegak di ambang pintu, sorot matanya dingin. Tangannya refleks merangkul bahu Nala dan Nathan yang berdiri di belakangnya, seolah menjadi perisai.“Mau apa kalian ke sini?” ulang Indira, nadanya datar tapi tegas.Bara menelan ludah. Ia tahu, kedatangannya bersama Mayang bukan hal yang mudah diterima. “Aku… aku mau ketemu kamu, Indira. Dan anak-anak,” jawabnya jujur. “Mama juga… ingin ikut.”Mayang akhirnya tersadar dari keterkejutannya. Pandangannya tak bisa lepas dari wajah Nathan, wajah kecil itu seperti potongan masa lalu yang hidup. Hidung, alis, bahkan sorot mata anak itu, terlalu mirip dengan Bara saat kecil. Dadanya berdesir aneh.“Assalamu’alaikum,” sapa Mayang akhirnya, suaranya dibuat selembut mungkin. “Indira…”Indira hanya mengangguk singkat. Tidak ada balasan hangat. Tidak ada senyum. Tatapannya jelas mengatakan satu hal: ia tidak menyambut Mayang dengan tulus.“Silakan masuk,” ucap Indira akhirnya, membuka pintu lebih lebar. “Anak-anak, masuk dulu.”Nala d

  • Desahan di Kamar Pembantu   Bab 103. Cucu yang masih hidup

    "Kamu bilang apa barusan?" Mayang menatap Bara dengan intens. Ditengah keterkejutannya mendengar ucapan putranya barusan."Anak-anak kami, masih hidup. Cucu-cucu Mama."Bara memperjelas ucapannya, hingga membuat Mayang terdiam. Ia menutup mulutnya sendiri, seolah tak percaya."Bagaimana mungkin masih hidup? Bukankah dokter itu sudah mengaborsinya? Di pernyataan itu ...dia sudah menandatanganinya juga," gumam Mayang pelan. Ia tidak percaya.Pasalnya, enam tahun lalu, ia sudah memastikan dokter itu mengaborsi kandungan Indira."Mama bilang apa barusan?"Mayang tersentak kaget. "Mama nggak bilang apa-apa kok. Mama cuma kaget. Ta-tapi, a-apa kamu yakin mereka anak-anakmu?" ucap Mayang membalikkan topik pembicaraan. Ia lega karena Bara tak mendengar ucapannya barusan."Mama tidak akan bertanya seperti ini, kalau Mama melihat mereka secara langsung," ucap Bara yang membuat Mayang berpikir.Tangannya gemetar, bibirnya juga. Ia berusaha menahan perasaan gugup ini. "Mama mau lihat mereka, Bara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status