MasukVictoria berdiri."Lady." Suaranya tidak naik, tidak gemetar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak terdengar tadi. "Saya tidak pernah melakukan apapun kepadamu.""Oh betulkah?" Lady menoleh dengan ekspresi yang sudah disiapkan. "Kamu ingat waktu SMA? Kamu dan keluarga Kivlanmu yang terkenal itu, semua orang berlomba-lomba dekat sama kamu. Dan aku? Aku tidak ada artinya di matamu.""Saya tidak pernah menginjakmu, Lady.""Tidak mengajakku bergabung sama saja dengan menginjak.""Saya tidak mau berteman dengan orang yang suka menjatuhkan siswa yang lebih lemah," kata Victoria. "Itu alasan saya menjaga jarak. Bukan karena keluargamu atau keluargaku. Tapi karena caramu memperlakukan orang lain."Lady mengeluarkan suara kecil. "Itulah. Merasa dirinya lebih baik dari semua orang.""Saya tidak merasa lebih baik. Saya tidak suka melihat orang diperlakukan buruk.""Itu sama saja." Lady berpaling ke staf franchise. "Jadi, Mas, bagaimana? Kami ambil semua kuota."Staf franchise itu melirik ke V
Pagi ini belum genap pukul enam ketika dua prajurit yang bertugas di dalam mobil pengawasan mereka dikejutkan oleh suara ketukan di kaca jendela sisi pengemudi.Bukan ketukan keras. Justru sangat pelan, hanya dua ketukan ringan dengan buku jari. Tapi di tengah keheningan gang sempit yang masih gelap dan di antara dua prajurit yang sudah menghabiskan semalam bergantian tidur setengah waspada, dua ketukan itu terasa seperti sirene.Prajurit yang duduk di kursi pengemudi, yang kebetulan sedang tidak tidur, memutar kepala ke arah jendela.Dan langsung menegakkan tubuhnya.Di luar jendela, berdiri Kevin. Tangan satu di saku, tangan lainnya baru saja selesai mengetuk, ekspresinya tenang seperti orang yang mengetuk pintu tetangga untuk meminjam garam.Prajurit di kursi penumpang yang tadinya setengah mengantuk langsung duduk tegak begitu melihat rekannya bereaksi.Kaca jendela diturunkan."Selamat pagi," kata Kevin.Dua prajurit itu menatapnya tanpa segera menemukan kata-kata yang tepat. Di
"Beliau adalah ketua dari keluarga Salim. Putranya adalah menteri aktif. Ini bukan tawaran biasa, kami ingin bisa menghubungimu untuk mengucapkan terima kasih secara layak. Ada hadiah yang—""Tidak perlu hadiah," kata Kevin. Suaranya tidak kasar, tapi tidak membuka ruang diskusi.Marcos menatapnya. "Kami tidak bisa membiarkan jasa seperti ini berlalu begitu saja tanpa—""Saya ada keperluan lain," kata Kevin. "Permisi."Marcos tidak menghalangi langkahnya kali ini.Kevin keluar dari kamar 712, melewati penjaga yang masih berdiri di luar dengan ekspresi orang yang tidak sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi di dalam, dan berjalan kembali ke arah koridor menuju bangsal C lantai tiga.---Bu Ratna sudah duduk di tepi ranjangnya saat Kevin tiba, sudah mengenakan baju yang dibawa Sarah dan sudah memegang tas kecilnya di pangkuan dengan ekspresi orang yang sudah siap keluar dari rumah sakit sejak setengah jam lalu tapi masih menunggu proses administrasi."Lama sekali," kata Bu Ratna
Dari dekat, yang Kevin rasakan bukan sekadar tubuh orang tua yang sakit.Ada sesuatu di dalam sana yang berbeda dari kondisi medis biasa. Sesuatu yang sudah lama Kevin pelajari untuk dibedakan dari kerusakan fisik murni, semacam distorsi yang terasa seperti nada yang salah dalam simfoni yang seharusnya terdengar dengan cara tertentu. Tubuh manusia memiliki ritmenya sendiri yang bisa dibaca oleh seseorang yang cukup terlatih, dan ritme Richard Salim sudah lama terganggu bukan oleh kerusakan organ tapi oleh sesuatu yang lebih dalam dan lebih tua dari itu.Kevin menutup matanya.Dengan hawa murni yang mengalir keluar dari tangannya yang berada beberapa sentimeter di atas dada sang pasien, dia mulai memetakan apa yang sebenarnya terjadi.Penyakitnya bukan di paru-paru meski gejalanya kadang menyerupai masalah pernapasan. Bukan di jantung meski monitornya kadang mencatat irama yang tidak teratur. Bukan di ginjal meski beberapa hasil darah menunjukkan angka yang tidak normal.Di bawah semu
Rumah sakit pada pagi hari selalu punya ritmenya sendiri. Lorong-lorong yang mulai ramai dengan langkah perawat dan kereta dorong, bau antiseptik yang bercampur dengan aroma sarapan dari kafetaria lantai bawah, dan suara-suara rendah yang menggantung di udara seperti lapisan kabut yang tidak kemana-mana.Kevin berjalan di samping Sarah menuju bangsal perawatan tempat Bu Ratna menunggu kepulangannya. Sarah membawa kantong plastik berisi pakaian ganti dan beberapa makanan kesukaan Bu Ratna yang sudah disiapkan sejak semalam, melangkah dengan ringan seperti orang yang sudah lama menunggu hari ini.Mereka melewati sebuah koridor yang menghubungkan bangsal biasa dengan sayap VVIP di sisi timur gedung. Koridor itu lebih sepi, lebih tenang, dengan pencahayaan yang sedikit lebih redup dan karpet tipis di lantainya yang meredam suara langkah.Kevin memperlambat langkahnya.Bukan karena ada yang menghalanginya. Bukan karena sesuatu yang terlihat. Tapi di balik salah satu pintu kamar VVIP yang
Kevin terus menggenjot Sarah dari belakang di bawah *shower*, tubuh mereka bergesekan licin oleh air dan sabun yang mulai mengalir. Namun, Kevin ingin Sarah merasakan variasi lain dari gaya berdiri. Dengan satu gerakan halus, Kevin memutar tubuh Sarah agar mereka berhadapan, kaki Sarah masih melingkari pinggangnya. Batangnya tetap tertanam dalam-dalam di Sarah, menciptakan sensasi yang berbeda saat tubuh mereka saling menempel dari depan. "Sekarang kita berhadapan," bisik Kevin di telinga Sarah, mencium bibirnya yang basah oleh air *shower*. "Rasakan bagaimana setiap dorongan ini membuat kita semakin dekat." Kevin mulai menggenjot dengan ritme yang lebih dalam, pinggulnya menghantam pinggul Sarah. Tangan Kevin melingkari punggung Sarah, menariknya semakin erat, sementara tangan Sarah mencengkeram bahu Kevin, menopang tubuhnya. Air hangat terus mengguyur mereka, membasahi wajah dan rambut, membuat suasana semakin erotis. Kevin menatap mata Sarah, melihat gairah yang membara di sana.







