Share

6 Mandi Bersama

Author: Lembean
last update publish date: 2026-05-11 16:45:34

Chika bersandar di dada Kevin, kepalanya di bahu Kevin, saat air mulai membasahi tubuh mereka. Kevin menyalakan tombol jacuzzi, dan gelembung-gelembung mulai berdesir, memijat kulit mereka dengan lembut. Chika memejamkan mata, merasakan relaksasi menjalar ke seluruh tubuhnya. Kevin meraih sabun cair beraroma lavender, memompanya ke telapak tangannya, lalu mulai menggosok punggung Chika.

"Rasanya enak, kan?" bisik Kevin, sambil jari-jarinya menelusuri tulang punggung Chika, naik ke bahu, lalu turun lagi ke pinggang. Chika mengangguk, menyandarkan kepalanya ke belakang, menikmati sentuhan Kevin. "Hmm... enak banget. Kamu tukang pijat yang handal." Kevin tertawa pelan, lalu membalikkan tubuh Chika agar menghadapnya.

Ia mulai menyabuni bagian depan tubuh Chika, dari leher hingga perut, lalu turun ke pangkal paha. Gerakan tangannya lembut namun sensual, membuat Chika merinding. Mata mereka bertemu, dan Kevin melihat gairah yang kembali menyala di mata Chika. Chika mengambil sabun, balas menyabuni tubuh Kevin. Ia memusatkan perhatian pada dada Kevin yang bidang, mengusap bulu-bulu halus di sana, lalu turun ke perut dan selangkangan Kevin. Jari-jarinya bermain di sekitar batang Kevin yang sudah mulai mengeras lagi di bawah air.

"Nakalnya," goda Kevin, suaranya serak. Chika hanya tersenyum, lalu mendekatkan wajahnya, mencium Kevin di bawah guyuran air. Ciuman mereka basah dan penuh gairah, air di sekitar mereka berdesir seolah ikut menari. Kevin mengangkat Chika, memposisikannya duduk di pangkuannya di dalam bak mandi. Kaki Chika melingkari pinggang Kevin, dan air hangat menyelimuti tubuh mereka.

Sentuhan kulit ke kulit di bawah air terasa lebih intens. Kevin merasakan denyutan batang Chika yang semakin keras di dalam dirinya. Chika menggosok-gosokkan pinggulnya, menciptakan gesekan yang menyenangkan. Kevin mencium leher Chika, lalu turun ke pundak, mengecup setiap tetes air yang menempel di sana. Chika memejamkan mata, mendesah pelan.

"Kevin... aku mau lagi," bisik Chika, dan Kevin tahu apa yang dimaksudnya. Ia memposisikan Chika lebih dekat, dan perlahan, ia memasuki Chika lagi di bawah air. Sensasi air yang mengalir di sekitar mereka menambah kenikmatan, membuat setiap dorongan terasa lebih licin dan dalam. Mereka bergerak pelan, menikmati keintiman dan kehangatan yang menyelubungi. Suara cipratan air berbaur dengan desahan mereka, menciptakan melodi gairah yang memenuhi kamar mandi.

Setelah air mulai mendingin dan tubuh mereka kembali merasakan kepuasan, Kevin mematikan jacuzzi. Mereka berdua keluar dari bak mandi, mengambil handuk dan saling mengeringkan.

Kevin memeluk Chika dari belakang, menggosok-gosokkan handuk ke rambutnya yang basah, lalu ke seluruh tubuhnya. Chika bersandar padanya, merasakan kehangatan dan kenyamanan. Mereka berdua merasa segar dan puas, siap untuk sisa malam yang tenang di kamar hotel.

***

Pintu kamar hotel itu tertutup tanpa suara.

Kevin berdiri di koridor yang sepi, ranselnya sudah tersampir di bahu, koper birunya berdiri di samping kakinya. Di balik pintu itu Chika mungkin masih tidur, atau mungkin sudah terbangun dan mendapati sisi ranjang yang kosong. Kevin tidak menunggu untuk mengetahuinya.

Dia melangkah menuju lift.

Bukan penyesalan yang dia rasakan saat lift itu membawanya turun ke lobi. Lebih kepada sesuatu yang terasa seperti konfirmasi atas apa yang sudah dia curigai sejak Chika mengajaknya naik ke mobilnya di pelabuhan tadi. Gadis itu cantik, tidak diragukan lagi, dan cara dia bersikap manis sepanjang makan malam tadi memang cukup terampil. Tapi Kevin sudah cukup lama belajar membaca manusia dari Pak Soma untuk mengerti bahwa kemanisan itu bukan sepenuhnya tulus.

Chika ingin sesuatu.

Nama Mastermind adalah kunci yang ingin dia genggam, dan tubuhnya adalah harga yang dia pikir setimpal untuk ditukar dengan akses ke kunci itu. Kalkulasi yang cukup dingin untuk gadis yang tadi terlihat begitu hangat dan bersemangat.

Kevin tidak marah kepadanya. Chika hanyalah produk dari lingkungan yang membesarkannya, lingkungan di mana segalanya memiliki nilai tukar dan tubuh perempuan sudah lama dimasukkan dalam daftar aset yang bisa dinegosiasikan. Dia tidak jahat. Dia hanya tumbuh dengan cara berpikir yang salah.

Dan Kevin, yang datang ke kota ini dengan agenda yang jauh lebih berat dari sekadar urusan pasar saham, tidak punya waktu maupun minat untuk menjadi sarana seseorang mencapai tujuannya. Kalau ada yang menjadi permainan di antara mereka berdua tadi, itu bukan Kevin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   33 Nama yang Disebutkan Benyamin

    Benjamin mengangkat tangannya, bukan dalam posisi menyerang, tapi dalam posisi orang yang masih mencoba jalur lain sebelum jalur terakhir. "Kevin, dengarkan aku dulu. Aku adalah sahabat ayahmu. Aku kenal ayahmu bertahun-tahun—""Sahabat yang mengundang sahabatnya ke pesta kematian.""Itu bukan..." Benjamin menghela napas. "Itu bukan seperti yang kamu kira. Aku juga ditipu. Orang dari ibu kota itu, dia yang mengatur semuanya, dia yang menyuruh aku untuk mengundang ayahmu. Aku tidak tahu malam itu akan berakhir seperti itu."Kevin menatapnya."Aku takut, Kevin." Suara Benjamin turun setengah oktav, menjadi suara orang yang sedang mengakui sesuatu yang sudah lama ditutup rapat. "Orang dari ibu kota itu bukan orang biasa. Kalau aku tidak mengikuti instruksinya, aku yang menjadi sasaran berikutnya. Aku punya keluarga, aku punya anak, aku—""Saya ingat dengan sangat jelas ekspresi wajah Benjamin malam itu."Kalimat Kevin itu keluar dengan tenang, tapi membuat Benjamin berhenti berbicara."S

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   32 Benjamin

    Malam itu langit Kota Alfa tidak memiliki banyak bintang. Awan tipis menutupi sebagian besar langit malam dan udara terasa lebih lembab dari biasanya, membawa serta bau hujan yang belum turun tapi sudah mengancam dari kejauhan.Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah di kawasan perumahan kelas menengah atas yang tidak terlalu mencolok dari luar. Bukan kawasan paling mewah di Kota Alfa, bukan kawasan paling sederhana, melainkan kawasan yang dipilih dengan pertimbangan bahwa tidak ada yang terlalu memperhatikan siapa yang keluar masuk di sini karena semua orang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.Benjamin turun dari mobilnya, memberikan isyarat kepada dua pengawalnya untuk tetap di luar, dan melangkah menuju pintu dengan langkah orang yang sudah sangat hafal dengan jalur ini. Kunci cadangan sudah lama dia simpan sendiri. Kebiasaan lama yang tidak pernah berubah.Pintu terbuka.Ruang tamu menyambutnya dengan lampu yang sudah menyala, seperti biasa. Dona selalu menyalakan la

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   31 Cukup Tahu Bahwa Kamu Ada

    Ferdi menatap Lady dengan ekspresi yang sulit diartikan dengan cepat. "Papa bilang mundur.""Mundur?" Lady menggeleng. "Tapi kamu sudah terlanjur bilang ke mereka—""Lady." Suara Ferdi sudah berubah nada, lebih rendah, lebih datar. "Bapak bilang ada masalah di saham perusahaan kita sekarang. Entah kenapa tiba-tiba ada tekanan. Ini bukan waktu yang tepat untuk buat masalah baru."Lady memandangi Ferdi, lalu ke arah Victoria, lalu kembali ke Ferdi. "Jadi kamu mau biarkan dia menang? Karena saham? Ferry, ini tentang harga diri—""Ini tentang perusahaan keluargaku," kata Ferdi, dan kali ini ada tepi dalam suaranya yang tidak ada sebelumnya. "Bukan harga dirimu."Lady terdiam."Kakek menelepon juga," lanjut Ferdi lebih pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Dua kali."Di sudut ruangan, staf franchise yang sudah dari tadi berdiri dengan ekspresi orang yang ingin ada di tempat lain memilih saat ini untuk mulai membereskan dokumen di atas meja.Lady menoleh ke Victoria dengan tat

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   30 Musuh Lama Victoria

    Victoria berdiri."Lady." Suaranya tidak naik, tidak gemetar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak terdengar tadi. "Saya tidak pernah melakukan apapun kepadamu.""Oh betulkah?" Lady menoleh dengan ekspresi yang sudah disiapkan. "Kamu ingat waktu SMA? Kamu dan keluarga Kivlanmu yang terkenal itu, semua orang berlomba-lomba dekat sama kamu. Dan aku? Aku tidak ada artinya di matamu.""Saya tidak pernah menginjakmu, Lady.""Tidak mengajakku bergabung sama saja dengan menginjak.""Saya tidak mau berteman dengan orang yang suka menjatuhkan siswa yang lebih lemah," kata Victoria. "Itu alasan saya menjaga jarak. Bukan karena keluargamu atau keluargaku. Tapi karena caramu memperlakukan orang lain."Lady mengeluarkan suara kecil. "Itulah. Merasa dirinya lebih baik dari semua orang.""Saya tidak merasa lebih baik. Saya tidak suka melihat orang diperlakukan buruk.""Itu sama saja." Lady berpaling ke staf franchise. "Jadi, Mas, bagaimana? Kami ambil semua kuota."Staf franchise itu melirik ke V

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   29 Jangan Sisakan untuk Orang Lain

    Pagi ini belum genap pukul enam ketika dua prajurit yang bertugas di dalam mobil pengawasan mereka dikejutkan oleh suara ketukan di kaca jendela sisi pengemudi.Bukan ketukan keras. Justru sangat pelan, hanya dua ketukan ringan dengan buku jari. Tapi di tengah keheningan gang sempit yang masih gelap dan di antara dua prajurit yang sudah menghabiskan semalam bergantian tidur setengah waspada, dua ketukan itu terasa seperti sirene.Prajurit yang duduk di kursi pengemudi, yang kebetulan sedang tidak tidur, memutar kepala ke arah jendela.Dan langsung menegakkan tubuhnya.Di luar jendela, berdiri Kevin. Tangan satu di saku, tangan lainnya baru saja selesai mengetuk, ekspresinya tenang seperti orang yang mengetuk pintu tetangga untuk meminjam garam.Prajurit di kursi penumpang yang tadinya setengah mengantuk langsung duduk tegak begitu melihat rekannya bereaksi.Kaca jendela diturunkan."Selamat pagi," kata Kevin.Dua prajurit itu menatapnya tanpa segera menemukan kata-kata yang tepat. Di

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   28 Dibuntuti dan Dilindungi

    "Beliau adalah ketua dari keluarga Salim. Putranya adalah menteri aktif. Ini bukan tawaran biasa, kami ingin bisa menghubungimu untuk mengucapkan terima kasih secara layak. Ada hadiah yang—""Tidak perlu hadiah," kata Kevin. Suaranya tidak kasar, tapi tidak membuka ruang diskusi.Marcos menatapnya. "Kami tidak bisa membiarkan jasa seperti ini berlalu begitu saja tanpa—""Saya ada keperluan lain," kata Kevin. "Permisi."Marcos tidak menghalangi langkahnya kali ini.Kevin keluar dari kamar 712, melewati penjaga yang masih berdiri di luar dengan ekspresi orang yang tidak sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi di dalam, dan berjalan kembali ke arah koridor menuju bangsal C lantai tiga.---Bu Ratna sudah duduk di tepi ranjangnya saat Kevin tiba, sudah mengenakan baju yang dibawa Sarah dan sudah memegang tas kecilnya di pangkuan dengan ekspresi orang yang sudah siap keluar dari rumah sakit sejak setengah jam lalu tapi masih menunggu proses administrasi."Lama sekali," kata Bu Ratna

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   5 Chika di Atas Kevin

    Kevin mencengkeram erat pinggul Chika, membantu Chika menekan dirinya lebih dalam. Rambut panjang Chika yang berantakan menempel di wajahnya, tanda betapa kerasnya mereka bercinta. Chika merasakan guncangan hebat di seluruh tubuhnya, sensasi hangat menjalar dari bawah perutnya, dan ia mengerang ker

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   4 Panas di Kamar Hotel

    Kevin menghela napas dalam, tangannya menyentuh rambut Chika, jari-jarinya menyelip di antara helai-helai hitam itu, membiarkan gadis itu mengambil alih ritme lambat ini.Chika menarik boxer turun, membebaskan batang kemaluan Kevin yang kini tegak penuh, vena-vena menonjol di permukaannya yang halu

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   3 Diantar Chika

    Kevin berhenti. Bukan karena namanya dipanggil, dia tidak ingat memberitahu siapa namanya. Dia berhenti karena dia penasaran dari mana gadis ini tahu namanya, sebelum kemudian menyadari bahwa mungkin salah satu petugas tadi menyebutkan namanya saat prosedur klarifikasi."Tolong berhenti," kata Chik

  • Dewa Beladiri Menuntut Balas   2 Mastermind

    Langkah kaki lima orang terdengar mendekat. Kevin berhenti, berbalik dengan ekspresi datar.Gadis yang menjadi juru bicara itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, postur tubuhnya tegak dengan kepercayaan diri yang terasa seperti sudah dilatih sejak kecil untuk selalu merasa paling benar d

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status