MasukKevin mencengkeram erat pinggul Chika, membantu Chika menekan dirinya lebih dalam. Rambut panjang Chika yang berantakan menempel di wajahnya, tanda betapa kerasnya mereka bercinta. Chika merasakan guncangan hebat di seluruh tubuhnya, sensasi hangat menjalar dari bawah perutnya, dan ia mengerang keras, melengkungkan punggungnya, mencapai klimaks yang memabukkan. Kevin merasakan kontraksi tubuh Chika di sekitarnya, dan tak lama kemudian, ia pun menyusul Chika, berteriak memanggil nama Chika saat pelepasan panas itu mengaliri dirinya.
Setelah badai gairah mereda, Chika ambruk di dada Kevin, napas mereka terengah-engah dan tubuh mereka berkeringat. Kevin memeluk Chika erat, membiarkan tubuh mungil itu bersandar padanya.
Perlahan, Chika menggeliat, berbalik menghadap Kevin, dan mereka berdua bergeser ke posisi spooning, saling memeluk dari belakang.
Kevin menyelipkan tangannya di pinggang Chika, menariknya mendekat hingga punggung Chika menempel sempurna di dadanya.
Kehangatan tubuh mereka saling beradu, dan detak jantung mereka yang masih berdebar kencang terasa damai dalam keheningan kamar. Chika menyandarkan kepalanya di lengan Kevin, menikmati pelukan nyaman itu, perlahan-lahan hanyut dalam kelelahan yang memuaskan.
Chika dan Kevin masih terbaring dalam posisi spooning yang hangat dan intim, tubuh mereka saling menempel di ranjang hotel yang sudah berantakan. Napas Chika mulai tenang, tapi Kevin merasakan hasratnya bangkit kembali. Ia mencium leher Chika lembut, tangannya merayap ke payudara Chika yang lembut, meremasnya pelan sambil bisik, "Chika... aku belum puas. Aku mau kamu lagi." Chika tersenyum genit, berbalik menghadap Kevin, matanya berbinar penuh godaan. "Kalau gitu, gantian dong. Aku mau kamu yang di atas," katanya sambil mendorong Kevin agar berganti posisi.
Kevin tak menunggu lama. Dengan gerakan cepat tapi lembut, ia membalikkan tubuh Chika hingga telentang di ranjang. Chika membuka kakinya lebar-lebar, mengundang Kevin dengan tatapan penuh nafsu. Kevin berlutut di antara paha Chika, memandang tubuh telanjang gadis 21 tahun itu—kulitnya yang mulus, perut rata, dan pusar mungil yang menggoda. Ia menunduk, mencium bibir Chika dalam ciuman panjang yang penuh lidah, tangannya menjelajahi setiap inci tubuh Chika. Jari-jarinya menyusuri lekuk pinggang, naik ke payudara yang kencang, memilin putingnya hingga mengeras. Chika mengerang di mulut Kevin, "Kevin... sentuh aku di bawah..."
Kevin tersenyum, turun lebih rendah. Ia mencium leher Chika, meninggalkan jejak gigitan ringan yang membuat Chika menggelinjang. Bibirnya menyusuri dada, mengisap puting kiri Chika dengan rakus, lidahnya berputar-putar di sekitar areola yang sensitif. Chika mencengkeram rambut Kevin, menekan kepalanya lebih dalam, "Ahh... ya, seperti itu... gigit pelan!" Kevin patuh, menggigit putingnya ringan sambil tangan kanannya merayap ke selangkangan Chika. Jari tengahnya menyentuh klitoris yang sudah basah, menggosoknya pelan dalam lingkaran kecil. Chika melengkungkan pinggangnya, desahannya semakin keras, "Kevin... masukin jari kamu... aku sudah basah banget!"
Tanpa ragu, Kevin memasukkan satu jari ke dalam liang keintiman Chika yang licin dan hangat. Ia bergerak maju mundur pelan, merasakan dinding dalam yang mengejang di sekitar jarinya. Chika menggeliat liar, kakinya mengapit pinggang Kevin, "Lebih dalam... tambah satu lagi!" Kevin menambahkan jari telunjuk, sekarang dua jari yang mengocok liang keintiman Chika dengan ritme stabil, sementara ibu jarinya terus menggosok klitoris. Cairan Chika membasahi tangan Kevin, suara kecipak basah memenuhi kamar. Chika mencakar punggung Kevin, "Kevin! Aku mau kamu sekarang... masukin batangmu!"
Kevin menarik jarinya, menjilat cairan Chika dari jarinya dengan nakal sambil memandang mata Chika. Batangnya sudah tegang maksimal, urat-uratnya menonjol, siap menyerbu. Ia memposisikan dirinya tepat di depan pintu masuk Chika, menggosok ujung kepalanya di bibir liang keintiman yang basah itu, menggoda. "Kamu siap, sayang?" tanya Kevin sambil tersenyum. Chika mengangguk cepat, "Iya, cepat! Aku gila kalau nunggu lagi!" Dengan satu dorongan kuat, Kevin memasukkan seluruh batangnya ke dalam Chika. Mereka berdua mengerang bersamaan—Chika karena sensasi penuh yang memenuhi rahimnya, Kevin karena kehangatan dan kepadatan liang keintiman Chika yang memerasnya.
Posisi misionaris dimulai dengan ritme lambat. Kevin menarik pinggulnya mundur hingga hampir keluar, lalu mendorong masuk lagi dalam-dalam, menyentuh titik G Chika berulang kali. Chika melingkarkan kakinya di pinggang Kevin, menariknya lebih dekat, "Lebih keras, Kevin! Hancurkan aku!" Kevin mempercepat, pinggulnya bergerak seperti piston, setiap hantaman membuat ranjang berderit keras. Tubuh Chika bergoyang naik-turun mengikuti dorongan Kevin, payudaranya melonjak-lonjak, tangannya mencengkeram sprei putih hotel. Kevin menunduk, mengisap puting Chika lagi sambil terus menggenjot, lidahnya menari di kulit basah itu.
Mereka berganti variasi kecil untuk menambah sensasi. Kevin mengangkat kaki kanan Chika ke bahunya, membuat sudut masuk lebih dalam. "Oh Tuhan... seperti itu! Kamu nyentuh rahimku!" jerit Chika, matanya berkaca-kaca karena kenikmatan. Kevin menggenggam betis Chika, mendorong dengan kekuatan penuh, bola-bolanya menampar pantat Chika setiap kali. Keringat menetes dari dahi Kevin ke dada Chika, mencampur dengan keringat gadis itu. Bau seks memenuhi udara—campuran feromon, cairan tubuh, dan parfum Chika yang manis.
Chika mulai meremas liang keintimanannya sengaja, memeras batang Kevin lebih ketat. "Kevin... aku mau keluar lagi... bareng yuk!" Kevin merasakan tekanan itu, hasratnya mendidih. Ia menurunkan kaki Chika, kembali ke posisi klasik misionaris, tapi sekarang ia menekan seluruh berat tubuhnya ke Chika, dada ke dada, bibir ke bibir. Mereka berciuman liar sambil Kevin menggenjot tanpa ampun—cepat, dalam, brutal. Chika menggigit bibir bawah Kevin, kuku-kukunya meninggalkan goresan merah di punggungnya. "Aku... datang... Kevin!!" jerit Chika, tubuhnya kejang hebat, liang keintimanannya berdenyut-denyut memeras Kevin hingga batasnya.
Kevin tak tahan lagi. Dengan dorongan terakhir yang dalam sekali, ia meledak di dalam Chika, menyemprotkan cairan panas yang membanjiri rahim gadis itu. "Chika... ahhh!" Mereka berdua ambruk, Kevin masih di atas Chika, batangnya berdenyut pelan di dalamnya.
Napas mereka tersengal, tubuh saling menempel lengket oleh keringat dan cairan cinta. Kevin mencium dahi Chika lembut, "Kamu luar biasa, Chika." Chika tersenyum lemah, memeluk leher Kevin, "Kamu juga... aku capek tapi bahagia."
Mereka berbaring seperti itu beberapa menit, menikmati afterglow. Kevin perlahan menarik diri, cairan campuran mereka mengalir keluar dari liang keintiman Chika yang merah dan bengkak. Chika mengusapnya pelan dengan jari, menjilatnya nakal sambil pandang Kevin. "Mau mandi bareng?" tawarnya.
Kevin mengangguk, menggendong Chika ke kamar mandi hotel, di mana air hangat siap membersihkan tubuh mereka.
Setelah sesi misionaris yang intens, Kevin mengangkat Chika dalam gendongan bridal style, melangkah menuju kamar mandi hotel.
Lantai marmer terasa dingin di telapak kaki mereka, kontras dengan panas tubuh mereka yang masih membara. Chika tertawa kecil saat Kevin menurunkannya perlahan di tepi bak mandi yang mewah, lengkap dengan jacuzzi. Kevin memutar keran, membiarkan air hangat mengalir deras, memenuhi bak mandi dengan uap yang menenangkan.
Benjamin mengangkat tangannya, bukan dalam posisi menyerang, tapi dalam posisi orang yang masih mencoba jalur lain sebelum jalur terakhir. "Kevin, dengarkan aku dulu. Aku adalah sahabat ayahmu. Aku kenal ayahmu bertahun-tahun—""Sahabat yang mengundang sahabatnya ke pesta kematian.""Itu bukan..." Benjamin menghela napas. "Itu bukan seperti yang kamu kira. Aku juga ditipu. Orang dari ibu kota itu, dia yang mengatur semuanya, dia yang menyuruh aku untuk mengundang ayahmu. Aku tidak tahu malam itu akan berakhir seperti itu."Kevin menatapnya."Aku takut, Kevin." Suara Benjamin turun setengah oktav, menjadi suara orang yang sedang mengakui sesuatu yang sudah lama ditutup rapat. "Orang dari ibu kota itu bukan orang biasa. Kalau aku tidak mengikuti instruksinya, aku yang menjadi sasaran berikutnya. Aku punya keluarga, aku punya anak, aku—""Saya ingat dengan sangat jelas ekspresi wajah Benjamin malam itu."Kalimat Kevin itu keluar dengan tenang, tapi membuat Benjamin berhenti berbicara."S
Malam itu langit Kota Alfa tidak memiliki banyak bintang. Awan tipis menutupi sebagian besar langit malam dan udara terasa lebih lembab dari biasanya, membawa serta bau hujan yang belum turun tapi sudah mengancam dari kejauhan.Mobil hitam itu berhenti di depan sebuah rumah di kawasan perumahan kelas menengah atas yang tidak terlalu mencolok dari luar. Bukan kawasan paling mewah di Kota Alfa, bukan kawasan paling sederhana, melainkan kawasan yang dipilih dengan pertimbangan bahwa tidak ada yang terlalu memperhatikan siapa yang keluar masuk di sini karena semua orang terlalu sibuk dengan urusan masing-masing.Benjamin turun dari mobilnya, memberikan isyarat kepada dua pengawalnya untuk tetap di luar, dan melangkah menuju pintu dengan langkah orang yang sudah sangat hafal dengan jalur ini. Kunci cadangan sudah lama dia simpan sendiri. Kebiasaan lama yang tidak pernah berubah.Pintu terbuka.Ruang tamu menyambutnya dengan lampu yang sudah menyala, seperti biasa. Dona selalu menyalakan la
Ferdi menatap Lady dengan ekspresi yang sulit diartikan dengan cepat. "Papa bilang mundur.""Mundur?" Lady menggeleng. "Tapi kamu sudah terlanjur bilang ke mereka—""Lady." Suara Ferdi sudah berubah nada, lebih rendah, lebih datar. "Bapak bilang ada masalah di saham perusahaan kita sekarang. Entah kenapa tiba-tiba ada tekanan. Ini bukan waktu yang tepat untuk buat masalah baru."Lady memandangi Ferdi, lalu ke arah Victoria, lalu kembali ke Ferdi. "Jadi kamu mau biarkan dia menang? Karena saham? Ferry, ini tentang harga diri—""Ini tentang perusahaan keluargaku," kata Ferdi, dan kali ini ada tepi dalam suaranya yang tidak ada sebelumnya. "Bukan harga dirimu."Lady terdiam."Kakek menelepon juga," lanjut Ferdi lebih pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri. "Dua kali."Di sudut ruangan, staf franchise yang sudah dari tadi berdiri dengan ekspresi orang yang ingin ada di tempat lain memilih saat ini untuk mulai membereskan dokumen di atas meja.Lady menoleh ke Victoria dengan tat
Victoria berdiri."Lady." Suaranya tidak naik, tidak gemetar, tapi ada sesuatu di dalamnya yang tidak terdengar tadi. "Saya tidak pernah melakukan apapun kepadamu.""Oh betulkah?" Lady menoleh dengan ekspresi yang sudah disiapkan. "Kamu ingat waktu SMA? Kamu dan keluarga Kivlanmu yang terkenal itu, semua orang berlomba-lomba dekat sama kamu. Dan aku? Aku tidak ada artinya di matamu.""Saya tidak pernah menginjakmu, Lady.""Tidak mengajakku bergabung sama saja dengan menginjak.""Saya tidak mau berteman dengan orang yang suka menjatuhkan siswa yang lebih lemah," kata Victoria. "Itu alasan saya menjaga jarak. Bukan karena keluargamu atau keluargaku. Tapi karena caramu memperlakukan orang lain."Lady mengeluarkan suara kecil. "Itulah. Merasa dirinya lebih baik dari semua orang.""Saya tidak merasa lebih baik. Saya tidak suka melihat orang diperlakukan buruk.""Itu sama saja." Lady berpaling ke staf franchise. "Jadi, Mas, bagaimana? Kami ambil semua kuota."Staf franchise itu melirik ke V
Pagi ini belum genap pukul enam ketika dua prajurit yang bertugas di dalam mobil pengawasan mereka dikejutkan oleh suara ketukan di kaca jendela sisi pengemudi.Bukan ketukan keras. Justru sangat pelan, hanya dua ketukan ringan dengan buku jari. Tapi di tengah keheningan gang sempit yang masih gelap dan di antara dua prajurit yang sudah menghabiskan semalam bergantian tidur setengah waspada, dua ketukan itu terasa seperti sirene.Prajurit yang duduk di kursi pengemudi, yang kebetulan sedang tidak tidur, memutar kepala ke arah jendela.Dan langsung menegakkan tubuhnya.Di luar jendela, berdiri Kevin. Tangan satu di saku, tangan lainnya baru saja selesai mengetuk, ekspresinya tenang seperti orang yang mengetuk pintu tetangga untuk meminjam garam.Prajurit di kursi penumpang yang tadinya setengah mengantuk langsung duduk tegak begitu melihat rekannya bereaksi.Kaca jendela diturunkan."Selamat pagi," kata Kevin.Dua prajurit itu menatapnya tanpa segera menemukan kata-kata yang tepat. Di
"Beliau adalah ketua dari keluarga Salim. Putranya adalah menteri aktif. Ini bukan tawaran biasa, kami ingin bisa menghubungimu untuk mengucapkan terima kasih secara layak. Ada hadiah yang—""Tidak perlu hadiah," kata Kevin. Suaranya tidak kasar, tapi tidak membuka ruang diskusi.Marcos menatapnya. "Kami tidak bisa membiarkan jasa seperti ini berlalu begitu saja tanpa—""Saya ada keperluan lain," kata Kevin. "Permisi."Marcos tidak menghalangi langkahnya kali ini.Kevin keluar dari kamar 712, melewati penjaga yang masih berdiri di luar dengan ekspresi orang yang tidak sepenuhnya memahami apa yang baru saja terjadi di dalam, dan berjalan kembali ke arah koridor menuju bangsal C lantai tiga.---Bu Ratna sudah duduk di tepi ranjangnya saat Kevin tiba, sudah mengenakan baju yang dibawa Sarah dan sudah memegang tas kecilnya di pangkuan dengan ekspresi orang yang sudah siap keluar dari rumah sakit sejak setengah jam lalu tapi masih menunggu proses administrasi."Lama sekali," kata Bu Ratna
Kevin terus menggenjot Sarah dengan ritme yang stabil dan penuh perhitungan dalam gaya *spooning*. Tangannye melingkari pinggang Sarah, menariknye semakin erat ke tubuhnye, memastikan setiap dorongan mengenai titik kenikmatan Sarah. Bibirnye mengecup leher Sarah, menjilat telinganye, membisikkan ka
Chika bersandar di dada Kevin, kepalanya di bahu Kevin, saat air mulai membasahi tubuh mereka. Kevin menyalakan tombol jacuzzi, dan gelembung-gelembung mulai berdesir, memijat kulit mereka dengan lembut. Chika memejamkan mata, merasakan relaksasi menjalar ke seluruh tubuhnya. Kevin meraih sabun cai
Langkah kaki lima orang terdengar mendekat. Kevin berhenti, berbalik dengan ekspresi datar.Gadis yang menjadi juru bicara itu berdiri dengan tangan terlipat di depan dada, postur tubuhnya tegak dengan kepercayaan diri yang terasa seperti sudah dilatih sejak kecil untuk selalu merasa paling benar d
Kapal feri itu merapat perlahan ke dermaga Kota Alfa tepat saat matahari mulai condong ke barat, melukis langit dengan warna jingga yang memantul di permukaan laut. Di antara penumpang yang berdesakan menuju pintu keluar, seorang pemuda berdiri diam di dekat pagar buritan, menatap garis pantai yang







