MasukTepatnya hari senin, Anggara dan relasinya melakukan pertemuan bisnis. Acara ini bisa disebut pesta. 'Pesta pebisnis'. Keenan berdiri gagah di samping Anggara. Stelan formal itu sangat mencitrakan statusnya yang seorang pewaris satu-satunya. Namun, berbeda dengan Dhara, justru gadis ini duduk seorang diri di depan meja kaca yang dibalut kain putih gading dengan brokat berwarna emas di pinggirannya. Ia hanya tersenyum sesekali kepada semua orang yang tanpa sengaja beradu panjang. Selain itu, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Ia hanya duduk dengan canggung. "Kalau kaya gini harusnya saya tidak ikut," keluhnya dengan tatapan kesal tertuju pada Keenan yang berada cukup jauh. Ia menarik udara cukup panjang, lalu menoleh ke arah kiri berharap sedikit mencairkan rasa canggungnya. Deg!Sepasang mata bak berlian berhenti tepat ke arah lelaki yang juga sedang memandanginya, tersenyum lembut padanya, dan seolah lalu lalang manusia tidak pernah ada. "Langit!" Dhara tidak bisa menahan
Dhara berdiri di depan jendela, menatap taman luas yang dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter. Di sana, beberapa pria bersetelan jas hitam tampak berjaga dengan alat komunikasi di telinga mereka. Awalnya, Keenan meyakinkannya bahwa itu adalah protokol keamanan standar untuk melindungi keluarganya dari sisa-sisa musuh politik ayahnya. Namun, seperti ada kejanggalan. Mungkin senjata-senjata itu tidak hanya diarahkan ke luar, tetapi juga ke dalam—kepadanya? Aturan pertama yang dibuat Keenan adalah tidak boleh ada nama Langit di rumah ini. Dan hari ini Dhara kehilangan no kontak sahabatnya. Ia juga selalu mengingat kata-kata terakhir Keenan sebelum ayahnya memanggilnya ke kantor. 'Membuat seorang istri patuh'. Itu sangat tabu untuk Dhara. Patuh seperti apa yang suaminya maksud? Kini, Dhara sedang merindukan ayahnya, ia mengambil tas tangannya. Setelah menemukan ruangan mencurigakan tempo hari, hatinya tidak tenang. Ia perlu bicara dengan ayahnya secara langsung, tanpa melalu
Matahari naik perlahan dan bumi mulai terasa lebih hangat di setiap jamnya. Dhara duduk di kursi kayu di taman. Di hadapannya hamparan taman bunga yang tak terhitung jumlahnya, lalu kupu-kupu dan burung-burung kecil datang dan pergi silih berganti.Sejenak, lehernya memutar ke arah belakang, menatap bangunan mewah yang menjadi atap barunya. “Ini seperti mimpi, tapi saya tidak pernah terbangun.”Kehidupannya sekarang bukan impiannya, tapi hanya dianggap sebagai pengganti kehidupan yang hilang karena direnggut Anggara. Namun, Dhara belum menanamkan keyakinan tentang itu karena harusnya kehidupan sempurna milik keluarga Wira jauh lebih indah dibandingkan ini.“Masalah Papa udah selesai, tapi gimana sama Mama? Di mana Mama sekarang?” Rasa rindu menjalar, berakhir membuncai di kepala Dhara.Ia segera beringsut dari duduknya. Lalu menatap terpaku ke arah bangunan yang mungkin banyak menyimpan rahasia. “Mungkin, petunjuk tentang Mama ada di sini!”Langkah kecilnya menyusuri pinggiran rumah h
Pagi harinya Dhara tampil bak permainsuri. Pakaian indah, perhiasan, aksesoris mahal. Semua ia kenakan. Dan semua ini pemberian dari Keenan, yang sudah tersedia di dalam kamar. Ia hanya perlu memilih yang disukai, lalu suaminya akan membuang semua yang tidak ia sukai.Ruang makan diisi oleh keluarga inti saja. Anggara-sebagai pemimpin rumah sekalian ‘Raja’, lalu sang Omega yaitu Liana, Keenan-si anak tunggal, terakhir-menantu yang entah disayangi atau dibenci. Dhara tidak tahu apapun tentang mertuanya, kecuali Anggara yang jelas membencinya.Pagi ini Liana memasak menu spesial, kedua tangannya sangat sibuk walaupun dua orang pelayan membantu.Maka, situasi ini membuat Dhara kikuk. Ia berbisik pada Keenan yang selalu duduk di sampingnya, “Mungkin saya harus bantu mama kamu.” Tatapannya mengharapkan jawaban relevan.“Duduk aja.” Keenan tersenyum teduh. Bahkan ia mengucurkan teh hangat ke gelas Dhara yang membuat gadis itu semakin kikuk dan hidup tidak tenang.Anggara memperhatikan menan
Suasana di kamar itu tidak terasa seperti malam pertama yang penuh bunga dan romansa. Sebaliknya, udara terasa berat oleh otoritas yang tak kasat mata.Keenan tidak tampak seperti lelaki yang beberapa hari lalu yang mengusahakan Dhara sekaligus meminta maaf atas dosa ayahnya.Ada aura dingin yang menyelimuti dirinya—aura seorang Wijaya yang kini menyadari sepenuhnya bahwa ia telah mewarisi kekuasaan absolut.Dhara sedikit berjengit saat kaitan gaunnya tersangkut. Ia menatap pantulan mata Keenan di cermin. Mata itu tidak lagi menunjukkan keraguan.Keenan berkata, suaranya rendah, serak, namun penuh penekanan. "Berhenti protes. Sekarang kita udah jadi suami istri."Bibir Dhara gemetaran hingga menghasilkan suara yang sedikit bergetar. "Kamu ... merusak gaunnya. Padahal ini gaun pernikahan yang harusnya dijaga buat kenang-kenangan seumur hidup."Keenan mendekat satu langkah. Langkah kakinya berat dan berirama, menciptakan tekanan psikologis yang membuat Dhara tertahan di tempatny
Rumah mewah milik keluarga Wijaya adalah atap baru untuk Dhara, dimulai sejak hari pernikahannya dengan Keenan. Ia duduk di ruangan keluarga yang sangat luas, masih dengan gaun pernikahannya. Namun, hal janggal segera menghantuinya. Bagaimana bisa ruangan seluas ini hanya diisi oleh dirinya sendiri? Padahal sejak di resepsi, keluarga Wijaya tidak terhitung jumlahnya. Seorang pelayan wanita membawakan jus anggur tanpa diminta. "Silakan, Nyonya," ucapnya santun seiring membungkuk sedalam yang ia bisa. Dhara tidak terbiasa melihat seseorang membungkuk di hadapannya. Ia segera meminta wanita itu berdiri dengan kata-kata yang kaku. Tetapi pelayan tetap meresponnya dengan sangat sopan. Kini, Dhara berkata lebih lancar walau sedikit gugup, "Di mana yang lain?" Pelayan menjawab dengan wajah menunduk, "Ijin menjawab, Nyonya. Semua pelayan berada di ruang tamu." "Ruang tamu? Kenapa?" Sepasang manik mata indah itu menatap tanpa henti, menanti jawaban. Wanita ini berdiri dengan po







