LOGINSuhu tubuh Keenan meningkat sengit karena sentuhan insten dengan Dhara. Embusan udaranya menghangat, menyapu leher dan daun telinga si gadis.
Di luar hujan sangat deras, tetapi sunyi di dalam. Hal itu membuat isi kepala keduanya sangat liar. Mereka memandangi satu sama lain dengan sayu.
Perlahan, selimut ditarik ke atas oleh Keenan hingga mengubur mereka. Di atas sopa sempit ini keduanya mulai mencoba melakukan hal gila. Degupan jantung yang seolah saling bertaberakan, embusan udara hangat, sentuhan panas.
“Dhara!” seru seorang lelaki dari balik kaca yang tertutup tirai.
“Langit?” gumam Dhara seiring dorongan kecil yang membuat Keenan bangkit. “Kayanya itu Langit.” Panik di bola matanya sangat kontras.
“Ck!”
Segera Dhara beringsut dari sofa, merapikan pakaian yang kusut dan rambutnya yang berantakan. “Keenan, pakai baju kamu!” paniknya.
“Buka saja pintunya!” Keenan tidak peduli, ia hanya bersantai di atas sofa dengan kedua tangan terlentang dan satu kaki terangkat.
“Pakai dulu baju kamu. Nanti gimana kalau Langit mikir aneh-aneh!”
Lehernya hanya memutar kecil. “Buka saja pintunya.” Wajahnya datar dan dingin.
Ujung kuku digigit oleh Dhara yang sedang diselimuti perasaan gelisah. Kakinya terpaku, tetapi ketukan pintu semakin brutal dan memaksanya untuk meladeni seseorang di luar sana.
Decitan pintu belum selesai karena Langit segera menenggelamkan Dhara dalam pelukannya yang hangat, aman dan nyaman. Perasaan ini tidak pernah bisa disangkal oleh si gadis.
“Kamu baik-baik saja, kan?” Embusan udara ini sangat hangat, tetapi berbeda makna dengan Keenan. Perasaan Langit selalu dipenuhi ketulusan.
Dhara mulai menggeliat kecil hingga berhasil keluar dari pelukan Langit yang tidak pernah mengandung paksaan, obsesi dan semacamnya. Ia menjawab dengan anggukan kecil. “Ya.”
Saat ini Dhara tidak memiliki keberanian beradu tatapan dengan Langit, justru ia sibuk merapikan rambutnya yang sudah rapi.
Sejenak, Langit bingung dengan sikap aneh Dhara. Namun, ada hal yang lebih penting. “Mana Keenan?” Dengusan tipisnya mengudara.
Sekejap lirikan Dhara mengarah pada ruang tengah. “Keenan ..., mungkin tidur lagi.” Lalu mendongak dengan senyuman palsu yang dibalut cemas.
Wajah Langit dibuang. Cemburu sangat kontras di permukaan wajahnya. “Kenapa dia masih di sini?”
“Hujan. Kan?” Senyuman alakadarnya merusak aura cantik Dhara.
Saya rela basah buat kamu.
Hati Langit terbelah karena Keenan sudah menggeser posisinya.
“Kok kamu balik lagi?” Sepasang bola mata indah ini menatap netra yang dipenuhi dengan ketulusan. Pun, saat ini ia baru menyadari jika semua pakaian Langit sudah terguyur hujan. “Langit, kamu kehujanan? Gimana kalau kamu masuk angin ..., gimana kalau kamu sakit!”
Dengan sigap, Dhara menarik tangan kanan Langit, menggiringnya masuk. “Tunggu ya, saya ambilkan baju kering. Ada baju Papa yang muat buat kamu.”
Seketika senyuman bahagia diukir Langit saat kembali mendapatkan perhatian Dhara yang sudah banyak dicuri oleh Keenan.
Namun, saat ini juga hatinya dihancurkan oleh rivalnya kala lelaki itu muncul dengan bertelanjang dada. “Celana dalam Dhara cute banget!” Seringainya sangat licik dan dipenuhi kemenangan.
Buk!
Suara benda jatuh membuat Dhara berlari tergesa dari kamar ayahnya. Seketika mulutnya menganga saat mendapati Langit yang memukuli Keenan tanpa ampun, bahkan setelah hidungnya mengalirkan darah segar.
Tatapan Langit beralih pada Dhara. Tatapan yang sangat berkebalikan dari biasanya. Kecewa, kebencian, jijik. Bercampur jadi satu.
Buk!
Langit terjungkal setelah menerima tendangan Keenan hingga ia membalikan keadaan. Setiap pukulan berisi rasa puas. Kemenangan yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.
Namun, Langit menerimanya tanpa perlawanan. Ujung matanya selalu bergeser ke arah Dhara. Tatapan nanar yang tidak pernah dilihat oleh si gadis.
“Berhenti ....” Suaranya bergetar. “Jangan seperti ini ....” Dhara ambruk bersamaan dengan air mata yang menetes untuk Langit.
Pukulan Keenan berakhir dan menyisakan Langit yang memandang kosong langit-langit dengan tubuh terkulai.
Dhara terduduk layu menatap Langit yang hancur. Tetapi Keenan tidak membiarkan pasangannya larut. Ia segera menggendongnya dan membawanya ke kamar.
“Kenapa kamu pukuli Langit?” Bibirnya masih bergetar dengan air mata membendung.
“Salah?”
“Jangan begitu ....”
“Dia pukul saya duluan.” Ekspresinya sangat tenang seiring mengusap darah segar yang masih mengucur.
“Langit tidak akan pukul kamu tanpa alasan. Saya tahu gimana Langit.” Matanya tidak dapat berbohong jika Dhara sangat peduli pada lelaki yang selalu berkorban untuknya.
Dengan lembut, Keenan mengusap air mata yang membendung. Berharap butiran itu tidak jatuh untuk Langit. “Saya cuma bilang celana dalam kamu cute. Tapi dia emosional.” Seringai kecil menjadi penutup kalimat liciknya.
Kedua tangan Dhara meremas celana panjangnya saat menahan kecewa. “Kenapa kamu bilang gitu, Keenan? Langit pasti berpikir kita sudah melakukan hal dewasa. Padahal kita ....” Keenan mengusap lembut bibirnya dan berhasil menghentikan kalimatnya.
“Ini cara lelaki bersaing.”
Dhara hendak keluar dari kamar, tetapi langkahnya terhenti kala Keenan menahannya dengan pelukan. Lalu berbisik dingin, “Siapa yang kamu pilih. Orang yang kamu cintai atau orang yang mencintai kamu?”
Cinta kamu palsu, tapi kamu tidak suka saya berlari buat Langit! Kenapa?
“Jangan membuat pilihan licik.” Suaranya hampir hilang karena menahan tangis.
Alih-alih melepaskan Dhara, justru Keenan semakin menenggelamkannya. Intonasi suaranya melembut. “Saya mau menikah sama kamu, saya mau hidup sama kamu. Tapi dia belum tentu. Dia suka kamu karena kalian sering bersama. Jangan salah mengartikan perasaan lelaki.”
Dhara memang tidak terlalu paham urusan hati, bahkan cinta pertamanya saja tidak pernah terlihat mencintainya, justru Keenan sering mengabaikannya. Jadi, bagaimana cara mendevinisikan cinta jika yang didapatnya selalu rasa sakit?
Begitupun tentang ketulusan Langit. Apa ada alasan tertentu, apa ada udang di balik batu?
Bersambung ....
Dering telepon mengagetkan Dhara hingga hampir saja handphone dalam genggamannya terjatuh.Suaranya menggema di seluruh ruangan, tetapi sekali pun ia belum pernah menggunakan alat komunikasi satu itu. Gagang telepon diraih dengan gugup, “Ya, siapa? Ini kediamanan keluarga Wijaya,” ucap kakunya.Suara tidak asing mengisi seluruh ruang dengar Dhara. Lembut, tetapi seakan menusuk. “Kamu bicara apa, Sayang ... ayo makan. Mama tunggu.”Deg!Mama!“I-iya, Ma,” jawab paniknya. Gagang telepon disimpan perlahan dengan telapak tangan berkeringat. Ia segera mengeluh, “Kirain mamanya Keenan tidak di rumah ....”Sikap Liana tadi pagi masih menyerang mentalnya yang belum stabil. Namun, Dhara tidak memiliki pilihan. Maka langkahnya tetap tertuju pada ruang makan yang diisi oleh mertuanya.Dhara menatap mertuanya canggung dengan langkah perlahan. “Siang, Ma.”Liana sudah duduk elegan dengan sendok dan pisau di tangannya. “Jangan lupa makan, bibi bilang kamu langsung ke kamar.” Suaranya lembut, tetapi
Hari ini, pertemuan tanpa sengaja Dhara dan Langit terulang. Namun, berbeda dengan kemarin karena kali ini si gadis memilih menghindar walaupun mereka sempat beradu tatapan dengan jarak pemisah sekitar dua puluh langkah. Ia melangkah cepat saat memilih lorong lain. "Semoga kamu tidak kena masalah." Perasaan gelisah mengantui Dhara disetiap langkah. Hingga akhirnya ia berhenti setelah dirasa cukup jauh, menoleh ke arah belakang hanya untuk memastikan mereka sangat berjarak. Udara panjang dibuang. "Kalau aja takdir berkata lain. Kalau aja sakit ini tidak pernah ada. Saya dan Langit pasti menikah walaupun ...." Kalimatnya dijeda dengan penuh penyesalan, "cuma Langit yang cinta." Tangannya mengepal di depan dada. "Tapi, hidup saya tidak akan tertekan. Entah kenapa, rasanya saya tidak nyaman bersama keluarga Keenan. Dan ... mulai tidak nyaman dengan Keenan." Bibirnya bergetar. Rasa takut perlahan merasukinya, membuncai di kepalanya. Keenan dan keluarganya seperti kumpulan psikopat! D
Kali ini berbeda dari sebelumnya, Keenan tidak pernah merobek gaun Dhara, justru dengan sabar ia menunggu walau gestur tubuhnya sangat brutal. Meremas, menggulum dua puncak yang gembul, menjilati perut rata Dhara. Semua ia lakukan, seakan menunjukan kepemilikan mutlak terhadap gadis yang hingga saat ini masih diincar rivalnya. Ia memasukan miliknya dengan penuh gairah, di tempat luas, tetapi sangat sunyi. Tidak akan ada yang mengganggu mereka di tempat terbuka ini karena aturan adalah aturan. Keenan melarang siapapun memasuki areanya kecuali atas perintah dan permintaannya. Tubuh Dhara terpapar oleh keringat Keenan sekalian oleh AC, tetapi anehnya ia tidak merasakan dingin karena terlalu akrab dengan gairah meledak-ledak suaminya. Hampir semua bagian tubuhnya berwarna merah, Keenan hanya menyisakan bagian belakang saja. Dhara berbaring di atas ranjang luas setelah suaminya menyelesaikan gairahnya. Ia bermain brutal dan memiliki durasi yang membuat gadis ini lemas. "Tidur n
Mobil mewah berhenti di halaman rumah, jaraknya hanya beberapa senti meter dari teras luas ini. Waktu menunjukan pukul sembilan malam, Keenan dan Dhara kembali 2 jam lebih awal."Emang tidak apa-apa kita pulang duluan? Mama sama Papa masih di sana, kan?" tanya Dhara seiring memandangi Keenan dan nada suara seperti biasanya. Namun, kali ini berbeda dengan sebelumnya. Keenan tidak membalas, bahkan tidak menatap Dhara sedikit pun. Padahal selama perjalanan, hubungan mereka masih sangat hangat. Dhara mengunci mulutnya, berpikir jika Keenan terlalu. Bahkan ia dengan sengaja membuka pintu mobil tanpa bantuan suaminya. Tetapi, perhatian Dhara segera tercuri saat melihat Keenan yang segera masuk ke dalam rumah, seolah ia tidak ada. Kenapa? Apa karena pertemuan dengan Langit? Gadis ini tidak lupa. Apalagi ... tentang sorot mata Keenan yang tidak biasa!Langkah pendeknya mengikuti Keenan hingga lift. Di dalam ruangan sempit ini, tatapan Dhara selalu mencari tahu keadaan suaminya, tetapi s
Tepatnya hari senin, Anggara dan relasinya melakukan pertemuan bisnis. Acara ini bisa disebut pesta. 'Pesta pebisnis'. Keenan berdiri gagah di samping Anggara. Stelan formal itu sangat mencitrakan statusnya yang seorang pewaris satu-satunya. Namun, berbeda dengan Dhara, justru gadis ini duduk seorang diri di depan meja kaca yang dibalut kain putih gading dengan brokat berwarna emas di pinggirannya. Ia hanya tersenyum sesekali kepada semua orang yang tanpa sengaja beradu panjang. Selain itu, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Ia hanya duduk dengan canggung. "Kalau kaya gini harusnya saya tidak ikut," keluhnya dengan tatapan kesal tertuju pada Keenan yang berada cukup jauh. Ia menarik udara cukup panjang, lalu menoleh ke arah kiri berharap sedikit mencairkan rasa canggungnya. Deg!Sepasang mata bak berlian berhenti tepat ke arah lelaki yang juga sedang memandanginya, tersenyum lembut padanya, dan seolah lalu lalang manusia tidak pernah ada. "Langit!" Dhara tidak bisa menahan
Dhara berdiri di depan jendela, menatap taman luas yang dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter. Di sana, beberapa pria bersetelan jas hitam tampak berjaga dengan alat komunikasi di telinga mereka. Awalnya, Keenan meyakinkannya bahwa itu adalah protokol keamanan standar untuk melindungi keluarganya dari sisa-sisa musuh politik ayahnya. Namun, seperti ada kejanggalan. Mungkin senjata-senjata itu tidak hanya diarahkan ke luar, tetapi juga ke dalam—kepadanya? Aturan pertama yang dibuat Keenan adalah tidak boleh ada nama Langit di rumah ini. Dan hari ini Dhara kehilangan no kontak sahabatnya. Ia juga selalu mengingat kata-kata terakhir Keenan sebelum ayahnya memanggilnya ke kantor. 'Membuat seorang istri patuh'. Itu sangat tabu untuk Dhara. Patuh seperti apa yang suaminya maksud? Kini, Dhara sedang merindukan ayahnya, ia mengambil tas tangannya. Setelah menemukan ruangan mencurigakan tempo hari, hatinya tidak tenang. Ia perlu bicara dengan ayahnya secara langsung, tanpa melalu







