Se connecterDhara sedang mencuci piring ketika Keenan kembali ke dalam rumah. “Hari ini saya kuliah, tapi tidak mungkin saya tinggalkan kamu.” Dia berdiri di sisi kiri Dhara, memandanginya.
Garis senyuman di mata Dhara sangat kontras. “Kuliah saja, saya tidak apa-apa kok.”
Sejenak, Keenan mengalihkan tatapannya ke lantai. “Saya juga harus pulang.” Suaranya sedikit menipis dan mendesah berat. “Papa udah telepon.”
Dhara mengerjap kecil, memandangi Keenan dengan gelisah. “Apa Papa kamu marah karena 5 hari kamu tidak pulang?”
Dengusan itu tipis, tetapi sangat jelas. “Bukan.” Langkahnya menuju meja, helm diraih. “Sorry ya, saya harus tinggalin kamu.”
Hati Keenan hanya untuk mantan kekasihnya, tetapi kini tatapan penuh kekhawatiran dimiliki oleh Dhara.
Lagi, senyuman Dhara mengudara bahkan sangat indah. “Pulang saja. Kapan-kapan kesini lagi, ya.”
Senyuman seperti itu sering didapatkan Keenan dari Asyifa, maka senyuman Dhara-- bukan apa-apa!
Pintu dibuka, sedikit berdecit karena gaya tarikan dengan angin ketika langit menghitam bersamaan dengan petir.
“Keenan, kayanya kamu jangan pulang sekarang deh!” Wajah cemas Dhara mendominasi di balik rambutnya yang tersibak angin.
Keenan menatap Dhara lewat bahunya, wajahnya datar. “Ya.” Namun, senyuman kecil melengkung singkat setelahnya.
Perapian dinyalakan. Ruangan ini cukup kecil, tetapi sangat hangat karena hawa api yang terperangkap.
Dua orang manusia duduk di atas sofa, di bawah selimut yang sama.
“Maaf ya ... karena rumah saya mungkin tidak sehangat dan senyaman rumah kamu,” ujar Dhara dengan polos yang membuat Keenan terkekeh.
“Apanya yang tidak sehangat rumah saya? Kita pakai selimut yang sama, ini hangat banget!”
Bias merah di pipi Dhara mulai muncul. Apalagi saat ini bahu mereka bersentuhan.
Kaki mereka menyentuh karpet tipis, tetapi Dhara merasa telapak kakinya terlalu panas karena Keenan selalu memandanginya dengan insten.
Pun, sesekali Dhara memutar bola matanya ke sudut, mencoba mencari tahu sedang apa Keenan sekarang?
Kenapa Keenan terus ngeliatin ...?
Gelisah. Dhara mulai berkeringat dingin, ini kali pertama Keenan memperlakukannya seperti ini.Apa Keenan ... mulai suka saya? Ah, tidak mungkin!
Reflek, Dhara menepuk satu sisi kepalanya.
"Kenapa?" Sebelah alis Keenan terangkat dengan sedikit kekeh.
Bias kemerahan mulai merusuh di permukaan wajah Dhara. "Tidak apa-apa!"
Tangan hangat Keenan mengusap sebelah pipi Dhara tanpa mengatakan apapun. Hanya menatap. Tatapan yang tidak dapat ditebak.
Saat ini degupan jantung Dhara sudah lebih dari sekedar tidak karuan. Ini ... sangat kacau!
Apa Keenan mau cium?
Wajahnya sudah semerah tomat.
Namun, Keenan menarik kembali tangannya. Wajahnya terlihat kesal, tapi lagi-lagi Dhara tidak mampu mengartikan.
"Kapan kamu siap menikah?"
Pertanyaan Keenan membuat jiwa Dhara seakan keluar dari raganya karena terlalu mengejutkan.
"Be-lum tahu ... lagian Papa belum pulang. Terus ...." Bibir Dhara mulai bergetar.
Keenan hanya menunggu kalimat selanjutnya tanpa memotong.
Kini Dhara yang menatap, tentu saja tatapan yang mudah ditebak oleh Keenan.
"Saya serius mau menikah sama kamu."
Kalimat Keenan sangat romantis, tetapi wajahnya sama sekali tidak selaras hingga akhirnya Dhara mengerti. Pun, percakapan Keenan dan Langit kembali menari di pikirannya. Itu tidak akan pernah hilang!
"Jangan terburu-buru." Ujung bibirnya digigit perih. "Ini akan mengejutkan orangtua kita. Terutama orangtua kamu."
Saat ini Keenan tidak berhasil menebak isi kepala Dhara, jadi dia sangat berhati-hati. "Kamu berubah pikiran?"
Dhara terkekeh renyah. "Hari ini cuacanya dingin banget."
Ujung mata hitam legam itu memicing tanpa membalas ucapan Dhara. Dan seketika suasana berubah hening.
Alih-alih menenangkan, justru Dhara merasa tidak nyaman. “Saya mau ke toilet dulu,” alasannya.
Satu tangan dengan urat-urat menonjol di permukaannya menahan lengan Dhara. “Jangan kemana-mana.” Pun, pelukan hangat di bahu didapatkan si gadis dari lelaki yang selama ini tidak pernah mencintainya.
“Anggap saja saya sedang menebus dosa-dosa saya ke kamu.”
Dhara mengerjap mendengar kalimat yang rasanya tidak mungkin diucapkan oleh Keenan-si manusia dingin.
“Selama ini saya sudah keterlaluan. Saya minta maaf untuk semuanya.” Sejak tadi tatapan Keenan mengarah pada Dhara walaupun tidak berhasil menatap wajah si gadis yang selalu menunduk, tetapi jemarinya membelai sebelah pipi Dhara dengan lembut.
Kamu cuma kasian sama saya, tapi kenapa kamu rela berkorban sejauh ini? Orang yang terlalu baik pun tidak akan mengambil resiko sebesar ini. Apa untungnya buat kamu menikahi saya. Keenan ....
Dhara berkata dengan suara yang hampir tenggelam, “Kamu tidak usah minta maaf.”
“Pokoknya, apapun yang terjadi saya akan menikahi kamu dan tidak akan biarkan kamu menikah sama temen kamu itu. Ck!”
Dhara mendongak kaget, menatap bingung, “Kenapa jadi bahas Langit?”
“Dia suka kamu!” Wajah cemberut sangat nyata, lalu di baliknya terdapat rasa cemburu dan kekhawatiran yang Dhara pikir itu mustahil.
Dhara terkekeh renyah. “Kita berteman dari kecil.” Seakan perasaan Langit bukan apa-apa, tetapi sebenarnya Dhara merasa telah sengaja melukai orang yang selalu ada untuknya kapanpun dan di mana pun.
“Cowok cuma ngerespon cewek yang dia suka!” Tatapan Keenan berubah sangat sengit seolah Dhara adalah mangsanya, hanya miliknya.
Dhara tersenyum kaku mendengar ucapan Keenan. Dia juga menggaruk kepala tidak gatal.
Kedua bahu Dhara dipegangi oleh kedua telapak tangan kekar Keenan hingga hampir membuatnya melonjak. “Dengar, kita akan menikah apapun yang terjadi. Saya akan mengatur semuanya, kita cuma butuh dukungan orangtua, dan kamu tidak perlu melakukan apapun.”
Kini, puncak bahu itu diremas cukup kencang hingga membuat Dhara mengeluarkan erangan kecil.
Hanya kurang dari satu detik salah satu telapak tangan Keenan sudah menopang bagian belakang kepala Dhara, lalu menyatukan bibir mereka dengan lembut tetapi Keenan melakukannya penuh gairah.
Bersambung ....
Dering telepon mengagetkan Dhara hingga hampir saja handphone dalam genggamannya terjatuh.Suaranya menggema di seluruh ruangan, tetapi sekali pun ia belum pernah menggunakan alat komunikasi satu itu. Gagang telepon diraih dengan gugup, “Ya, siapa? Ini kediamanan keluarga Wijaya,” ucap kakunya.Suara tidak asing mengisi seluruh ruang dengar Dhara. Lembut, tetapi seakan menusuk. “Kamu bicara apa, Sayang ... ayo makan. Mama tunggu.”Deg!Mama!“I-iya, Ma,” jawab paniknya. Gagang telepon disimpan perlahan dengan telapak tangan berkeringat. Ia segera mengeluh, “Kirain mamanya Keenan tidak di rumah ....”Sikap Liana tadi pagi masih menyerang mentalnya yang belum stabil. Namun, Dhara tidak memiliki pilihan. Maka langkahnya tetap tertuju pada ruang makan yang diisi oleh mertuanya.Dhara menatap mertuanya canggung dengan langkah perlahan. “Siang, Ma.”Liana sudah duduk elegan dengan sendok dan pisau di tangannya. “Jangan lupa makan, bibi bilang kamu langsung ke kamar.” Suaranya lembut, tetapi
Hari ini, pertemuan tanpa sengaja Dhara dan Langit terulang. Namun, berbeda dengan kemarin karena kali ini si gadis memilih menghindar walaupun mereka sempat beradu tatapan dengan jarak pemisah sekitar dua puluh langkah. Ia melangkah cepat saat memilih lorong lain. "Semoga kamu tidak kena masalah." Perasaan gelisah mengantui Dhara disetiap langkah. Hingga akhirnya ia berhenti setelah dirasa cukup jauh, menoleh ke arah belakang hanya untuk memastikan mereka sangat berjarak. Udara panjang dibuang. "Kalau aja takdir berkata lain. Kalau aja sakit ini tidak pernah ada. Saya dan Langit pasti menikah walaupun ...." Kalimatnya dijeda dengan penuh penyesalan, "cuma Langit yang cinta." Tangannya mengepal di depan dada. "Tapi, hidup saya tidak akan tertekan. Entah kenapa, rasanya saya tidak nyaman bersama keluarga Keenan. Dan ... mulai tidak nyaman dengan Keenan." Bibirnya bergetar. Rasa takut perlahan merasukinya, membuncai di kepalanya. Keenan dan keluarganya seperti kumpulan psikopat! D
Kali ini berbeda dari sebelumnya, Keenan tidak pernah merobek gaun Dhara, justru dengan sabar ia menunggu walau gestur tubuhnya sangat brutal. Meremas, menggulum dua puncak yang gembul, menjilati perut rata Dhara. Semua ia lakukan, seakan menunjukan kepemilikan mutlak terhadap gadis yang hingga saat ini masih diincar rivalnya. Ia memasukan miliknya dengan penuh gairah, di tempat luas, tetapi sangat sunyi. Tidak akan ada yang mengganggu mereka di tempat terbuka ini karena aturan adalah aturan. Keenan melarang siapapun memasuki areanya kecuali atas perintah dan permintaannya. Tubuh Dhara terpapar oleh keringat Keenan sekalian oleh AC, tetapi anehnya ia tidak merasakan dingin karena terlalu akrab dengan gairah meledak-ledak suaminya. Hampir semua bagian tubuhnya berwarna merah, Keenan hanya menyisakan bagian belakang saja. Dhara berbaring di atas ranjang luas setelah suaminya menyelesaikan gairahnya. Ia bermain brutal dan memiliki durasi yang membuat gadis ini lemas. "Tidur n
Mobil mewah berhenti di halaman rumah, jaraknya hanya beberapa senti meter dari teras luas ini. Waktu menunjukan pukul sembilan malam, Keenan dan Dhara kembali 2 jam lebih awal."Emang tidak apa-apa kita pulang duluan? Mama sama Papa masih di sana, kan?" tanya Dhara seiring memandangi Keenan dan nada suara seperti biasanya. Namun, kali ini berbeda dengan sebelumnya. Keenan tidak membalas, bahkan tidak menatap Dhara sedikit pun. Padahal selama perjalanan, hubungan mereka masih sangat hangat. Dhara mengunci mulutnya, berpikir jika Keenan terlalu. Bahkan ia dengan sengaja membuka pintu mobil tanpa bantuan suaminya. Tetapi, perhatian Dhara segera tercuri saat melihat Keenan yang segera masuk ke dalam rumah, seolah ia tidak ada. Kenapa? Apa karena pertemuan dengan Langit? Gadis ini tidak lupa. Apalagi ... tentang sorot mata Keenan yang tidak biasa!Langkah pendeknya mengikuti Keenan hingga lift. Di dalam ruangan sempit ini, tatapan Dhara selalu mencari tahu keadaan suaminya, tetapi s
Tepatnya hari senin, Anggara dan relasinya melakukan pertemuan bisnis. Acara ini bisa disebut pesta. 'Pesta pebisnis'. Keenan berdiri gagah di samping Anggara. Stelan formal itu sangat mencitrakan statusnya yang seorang pewaris satu-satunya. Namun, berbeda dengan Dhara, justru gadis ini duduk seorang diri di depan meja kaca yang dibalut kain putih gading dengan brokat berwarna emas di pinggirannya. Ia hanya tersenyum sesekali kepada semua orang yang tanpa sengaja beradu panjang. Selain itu, tidak ada lagi yang bisa dilakukannya. Ia hanya duduk dengan canggung. "Kalau kaya gini harusnya saya tidak ikut," keluhnya dengan tatapan kesal tertuju pada Keenan yang berada cukup jauh. Ia menarik udara cukup panjang, lalu menoleh ke arah kiri berharap sedikit mencairkan rasa canggungnya. Deg!Sepasang mata bak berlian berhenti tepat ke arah lelaki yang juga sedang memandanginya, tersenyum lembut padanya, dan seolah lalu lalang manusia tidak pernah ada. "Langit!" Dhara tidak bisa menahan
Dhara berdiri di depan jendela, menatap taman luas yang dikelilingi pagar besi setinggi tiga meter. Di sana, beberapa pria bersetelan jas hitam tampak berjaga dengan alat komunikasi di telinga mereka. Awalnya, Keenan meyakinkannya bahwa itu adalah protokol keamanan standar untuk melindungi keluarganya dari sisa-sisa musuh politik ayahnya. Namun, seperti ada kejanggalan. Mungkin senjata-senjata itu tidak hanya diarahkan ke luar, tetapi juga ke dalam—kepadanya? Aturan pertama yang dibuat Keenan adalah tidak boleh ada nama Langit di rumah ini. Dan hari ini Dhara kehilangan no kontak sahabatnya. Ia juga selalu mengingat kata-kata terakhir Keenan sebelum ayahnya memanggilnya ke kantor. 'Membuat seorang istri patuh'. Itu sangat tabu untuk Dhara. Patuh seperti apa yang suaminya maksud? Kini, Dhara sedang merindukan ayahnya, ia mengambil tas tangannya. Setelah menemukan ruangan mencurigakan tempo hari, hatinya tidak tenang. Ia perlu bicara dengan ayahnya secara langsung, tanpa melalu







