Compartilhar

Bab 5

Autor: September
Mereka berbagi ranjang yang sama, namun menyimpan niat yang berbeda. Saat matahari terbit, Evelyn bangun pagi-pagi sekali.

Dia telah memesan jasa agen properti untuk menjual apartemennya saat ini.

Manajer properti sedang mengurus dokumen-dokumennya ketika dia tiba-tiba mendengar Devan dan Bianca sedang tertawa dan bercanda.

Sebuah tiang berdiri tepat di depan Evelyn, menghalangi pandangannya.

Dia ingin mengabaikan mereka, tapi tidak bisa menghindar dari suara yang begitu dekat.

Devan membisikkan janji-janji lembut, tatapannya penuh kasih sayang.

"Bianca, pilih apartemen mana pun yang kamu suka."

"Semua properti ini punyaku. Aku sudah janji mau memberimu apartemen sebagai hadiah ulang tahun."

Bianca tertawa malu-malu, menyuruh agen penjualan untuk menunjukkan properti dengan nilai terbaik.

Evelyn membeku seolah tersambar petir, tangannya gemetar tak terkendali.

Gedung apartemen ini adalah hadiah ulang tahun yang dia berikan kepada Devan.

Evelyn menghabiskan waktu dua tahun untuk mendesain properti ini dengan teliti.

Setiap desain yang dia buat adalah bukti cintanya yang mendalam.

Sekarang, Devan dengan santai menawarkannya pada wanita lain, seolah sudah lupa pada janji mereka.

Manajer itu menyadari perubahan dalam ekspresi Evelyn dan bertanya.

"Bu Evelyn, apa perlu saya ke sana mengingatkan?"

Evelyn mengibaskan tangannya, jantungnya terus berdegup kencang.

Mereka segera menyelesaikan dokumen-dokumen, sementara agen penjualan di belakang terus memuji tanpa henti.

"Bu Bianca, kamu memang beruntung punya suami yang nggak segan keluar uang banyak demi kamu."

Bianca bersandar di dada Devan, wajahnya bersinar dengan kegembiraan yang tak terkendali.

Proses pengurusan dokumen Evelyn selesai dengan cepat, dan dia diantar keluar oleh belasan orang.

Keributan itu menarik perhatian agen penjualan.

Wanita itu hanya melirik dengan acuh tak acuh sebelum berkomentar.

"Orang mau jual rumah. Kelihatan sekali, dia itu ibu rumah tangga yang sudah kusam, habis tenaganya buat mengurus keluarga."

Langkah Evelyn terhenti, wajahnya menjadi dingin.

Manajer di belakang Evelyn cepat-cepat menghampiri anak buahnya itu dan menampar wajahnya dengan keras.

"Beraninya kamu hina Bu Evelyn?"

"Pergi, nggak usah datang lagi. Kamu dipecat."

Agen penjualan itu langsung berlutut dan meratap pilu.

"Maaf, saya buta, nggak mengenali Bu Evelyn! Tolong maafkan saya!"

Evelyn tetap diam, tapi Devan bicara terlebih dahulu untuk mewakilinya.

"Dia nggak salah apa-apa. Jadi orang jangan terlalu keras. Kita semua juga sama-sama kerja cari nafkah."

Bianca juga melangkah maju dengan lembut untuk membela.

Sebelum dia sempat bicara, satu pandangan dari Evelyn membuatnya mundur.

Dia berkata dengan suaranya yang terdengar terluka.

"Kak Evelyn, kamu punya salah paham apa tentang aku?"

"Kasihan dia, nggak salah apa-apa tapi kena getahnya."

Devan tidak terlalu membela di depan banyak orang, mungkin karena takut Evelyn akan curiga.

Manajer bertindak cepat, memerintahkan agen penjualan itu untuk mengemasi barang-barangnya dan pergi.

Dia lalu menyerahkan semua kontrak kepada Evelyn dan pergi.

Devan mengerutkan kening, menatap kertas-kertas di tangan wanita itu, dan bertanya dengan bingung.

"Kamu jual rumah kita? Kenapa nggak kamu bicarakan dulu sama aku?"

"Terus kita tinggal di mana sekarang? Anak kita masih harus sekolah. Beri aku penjelasan yang masuk akal."

Kalimat terakhirnya mengandung kebingungan, diwarnai dengan nada menyalahkan.

Tatapan Evelyn tidak menunjukkan emosi apa-apa.

Suaranya datar.

"Aku sudah bosan tinggal di sini, mau cari suasana baru."

Devan terdiam kaku saat mendengar nada suaranya.

Sejak kapan tepatnya, Evelyn bahkan sudah tidak memiliki keinginan lagi untuk sekadar memberi penjelasan padanya?

Dia merasa bingung dan mengulurkan tangan untuk meraih Evelyn.

Tapi tanpa sengaja, dia melihat jari manis yang kosong.

Sejak kapan cincinnya dilepas?

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Di Atas Langit, Hatiku Hancur Lebur   Bab 24

    Setelah turun dari pesawat, Mutia sudah menunggu di luar.Begitu melihat Kenzo, dia berseru, "Cucuku sayang, kasihan sekali kamu."Meski dia tidak menyukai Evelyn, dia sangat sayang kepada cucu laki-laki satu-satunya ini.Dia meminta sopir membantu Devan masuk ke dalam mobil, sementara dia berjalan bersama Kenzo.Dia melihat Evelyn dari sudut matanya, tapi pura-pura tidak melihat dan segera berbalik pergi.Evelyn tentu saja juga menyadari gerak-geriknya.Yang membuatnya terkejut, dia melihat Bianca.Wanita itu terlihat lesu, acak-acakan, dan tidak terawat. Sangat berbeda dari dirinya yang dulu.Bianca berlari mengejar mobil yang mengejar Devan dan berteriak, "Berhenti!"Mutia turun dan sangat terkejut melihat penampilan Bianca saat ini.Bianca berlari tanpa peduli untuk menghampiri Devan."Devan, aku mohon, tolong aku. Tolong bawa aku pergi. Aku sudah lama menunggumu pulang. Aku mohon."Devan tidak tahu apa yang telah menimpa Bianca, tapi dia menolak permohonannya.Tak lama kemudian, s

  • Di Atas Langit, Hatiku Hancur Lebur   Bab 23

    Bianca terpaksa memesan tiket pesawat tercepat untuk pulang.Dia mengira badai sudah berlalu saat dia kembali, tapi dia tidak tahu bahwa kisahnya masih beredar.Dia membungkus dirinya dari kepala hingga kaki, tidak ingin ada orang yang melihat kondisinya.Orang-orang melihat penampilannya yang aneh dan secara naluriah menjauh.Setelah tiba di tujuan, dia pertama kali pergi ke kantor agen properti dan memilih properti di lokasi yang bagus.Saat menggesek kartu, dia baru sadar bahwa saldo kartunya tidak cukup.Kartu pemberian Devan hanya cukup untuk membeli properti dengan harga sedang.Kekesalannya meluap dan dia mencoba menelepon Devan, tapi panggilannya tidak dapat terhubung.Dia tidak sendirian di kantor penjualan properti. Seorang pria kaya dengan perut buncit juga sedang melihat-lihat di dekatnya.Dia melihat Bianca sedang berdiri gelisah.Meski tubuhnya dibungkus rapat, bentuk tubuhnya tetap menarik perhatian pria kaya itu.Setelah bertahun-tahun berkunjung ke tempat-tempat malam,

  • Di Atas Langit, Hatiku Hancur Lebur   Bab 22

    Evelyn tersenyum simpul. Bianca juga sedang memperingatkannya.Jika dia kembali bersama Devan, bayang-bayang Bianca akan selamanya mengganggu hidup mereka."Berhentilah mempermalukan diri sendiri. Kalian cuma membuatku semakin kesal."Dia mengambil tasnya dan pergi tanpa menoleh ke belakang, kepergiannya tegas dan tanpa ragu.Evelyn telah selesai menjelaskan semuanya. Freddie kebetulan baru selesai bekerja dan datang menjemput tepat pada saat itu.Devan dan anaknya belum menyadari hal ini sampai dua orang itu sudah pergi bersama.Bianca tiba-tiba muncul di hadapan mereka, suaranya lembut saat dia mengingatkan dengan lembut."Evelyn sudah pergi, ayo kita pulang juga."Kenzo tidak bisa menahan diri lagi dan menangis meraung-raung.Devan pun merasa kacau balau. Kakinya yang memang sudah sulit digerakkan kini mulai terasa nyeri lagi.Segala masalah seolah berkumpul menjadi satu, seakan-akan berteriak mengejek ke arahnya.Evelyn dan Freddie merencanakan jadwal pernikahan mereka, bersiap men

  • Di Atas Langit, Hatiku Hancur Lebur   Bab 21

    Devan dan anaknya duduk bersebelahan di ranjang rumah sakit.Suasana sangat sunyi, dan wajah keduanya diwarnai kesedihan yang mendalam.Kenzo menatap dengan iba. "Ayah, Mama beneran mau menikah dengan orang lain dan meninggalkan kita?"Devan mengepalkan tangannya dalam diam, lalu mengusap rambut Kenzo."Jangan khawatir, Ayah pasti bisa merebut Mama kembali."Kenzo menghela napas pelan, matanya tertuju pada kaki Devan yang terluka.Merasakan tatapan anaknya, Devan membuka mulut untuk menenangkan, tapi terputus oleh Bianca yang masuk dengan tergesa-gesa."Devan, aku akan merawatmu. Tenang saja, aku juga bisa ngurus Kenzo."Devan merasa sedikit kesal. Dan Kenzo, dengan sifatnya yang kekanak-kanakan, menunjukkan kekesalannya dengan lebih jelas."Aku sudah punya mama sendiri. Nggak usah repot-repot pura-pura."Bianca terdiam sejenak, dan orang-orang yang lewat di koridor mulai menatap.Devan tidak ingin menjadi tontonan orang, jadi dia biarkan Bianca membantunya pergi.Kenzo hanya bisa pasr

  • Di Atas Langit, Hatiku Hancur Lebur   Bab 20

    Devan menatap langit-langit dengan putus asa. Kakinya memang nyeri tak henti-henti.Tapi yang dia pikirkan hanya adegan saat Evelyn melindungi Freddie.Di rumah, Kenzo yang cerdas entah bagaimana mendengar kabar tentang ibunya.Tanpa menunggu, dia membeli tiket pesawat dan terbang ke luar negeri.Dia terus mencari kabar tentang Evelyn hingga akhirnya berhasil menghubungi asistennya."Di mana Mama? Dia belum meninggal, 'kan?""Dia cuma menghindar dariku, nggak mau ketemu aku dan Ayah.""Aku cuma mau tanya kenapa dia meninggalkanku."Air mata membanjiri pipinya. Asisten itu bingung harus berbuat apa menghadapi anak sekecil ini.Dia pertama-tama melapor kepada Evelyn dan baru berani bertindak setelah mendapat instruksi darinya.Dia membawa Kenzo ke rumah sakit untuk bertemu Evelyn yang ekspresinya dingin.Begitu melihatnya, Kenzo merasa seperti anak burung walet yang kembali ke sarangnya.Air matanya pecah lagi."Mama, kenapa Mama meninggalkanku?""Aku janji mulai sekarang nurut semua per

  • Di Atas Langit, Hatiku Hancur Lebur   Bab 19

    Akun Bianca diblokir, dan panggilan telepon membanjiri ponselnya.Dia menjawab panggilan Devan terlebih dahulu, hatinya terasa bersalah."Devan, aku bisa jelaskan. Aku cuma ingin membersihkan namamu.""Aku ingin membuat Evelyn mundur. Kamu nggak tahu, dia sudah punya pacar baru dan sudah nggak peduli padamu sama sekali."Dia tidak tahu apa yang dirasakan Devan, jadi dia hanya mengatakan apa saja yang menguntungkan dirinya.Ada keheningan yang panjang di ujung sana. Bianca jadi curiga teleponnya sudah ditutup."Bianca, aku sudah peringatkan kamu, jangan ikut campur urusanku dengan Evelyn.""Kenapa kamu nggak mau mendengarkan? Aku nggak mungkin punya apa-apa denganmu."Kata-kata itu telah menguras setiap tetes tenaga dari diri Devan.Air mata Bianca berderai. Dia benar-benar tidak punya apa-apa lagi.Jika Devan juga meninggalkannya, dia mungkin tidak punya keberanian lagi untuk terus hidup.Devan tidak ingin bicara dengannya lagi. Setelah buru-buru menutup telepon, dia memikirkan cara un

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status