Short
Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru

Bunga yang Gugur, Mekar Kembali di Musim Baru

By:  AniCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
24Chapters
1views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Saat usia kehamilan Rania Kavi menginjak empat bulan, suaminya, Aris Wijaya, tiba-tiba membawa sekretaris mudanya pulang ke rumah. "Rania, keluarganya Ghea lagi ada masalah. Aku nggak tenang kalau dia sendirian di rumah, jadi biar dia menginap di sini dulu beberapa hari. Kamu 'kan lagi hamil empat bulan, dia juga sudah tujuh bulan. Kalian bisa saling nemenin." Gadis itu tampak baru berusia awal dua puluhan, wajahnya sangat cantik dengan sepasang mata jernih yang menatap Rania dengan perasaan sungkan. Rania setuju. Selama dua bulan berikutnya, Rania memperlakukannya dengan sangat baik hingga gadis itu merasa sangat terharu. "Kak Rania, kamu baik sekali. Krim wajah sebagus ini pun kamu berikan padaku." "Tentu saja, kita 'kan sudah seperti saudara. Kalau punya barang bagus, ya harus dibagi, 'kan?" Akan tetapi, Rania tidak pernah menyangka bahwa maksud berbagi bagi Ghea Pandya ternyata mencakup suaminya sendiri, Aris. Rania menyaksikan adegan memuakkan itu di area parkir rumahnya sendiri. Kaca mobil itu setengah terbuka. Seorang wanita tampak duduk di pangkuan Aris dengan gerakan yang begitu liar. Melihat ekspresi penuh gairah di wajah suaminya, Rania mematung di tempat. Dia nyaris tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. Aris selingkuh?

View More

Chapter 1

Bab 1

Saat usia kehamilan Rania Kavi menginjak empat bulan, suaminya, Aris Wijaya, tiba-tiba membawa sekretaris mudanya yang juga sedang hamil pulang ke rumah.

"Rania, suaminya Ghea Pandya baru saja meninggal. Aku nggak tenang kalau dia sendirian di rumah, jadi biar dia menginap di sini dulu beberapa hari. Kamu hamil empat bulan, dia tujuh bulan. Kalian berdua bisa saling nemenin."

Rania sangat memercayai Aris. Dia tidak berpikir macam-macam, hatinya luluh dan langsung setuju.

Selama dua bulan berikutnya, Rania memperlakukan gadis itu dengan sangat tulus. Mulai dari krim wajah khusus ibu hamil sampai sarang burung walet untuk suplemen, Rania tidak pernah pelit.

Sampai sore itu, dia sengaja pergi ke area parkir untuk menjemput Aris, tetapi malah memergoki adegan yang menjijikkan.

Mobil Aris terparkir di tempatnya dengan kaca jendela yang terbuka setengah. Seorang wanita tampak duduk di pangkuan Aris dengan pakaian yang sudah berantakan ....

Juga, ekspresi penuh gairah serta tenggelam dalam nikmat di wajah Aris itu adalah ekspresi yang tidak pernah Rania lihat lagi sejak dia hamil.

Seluruh darahnya terasa membeku. Di otak Rania hanya tersisa satu pikiran, Aris selingkuh.

Dia melangkahkan kaki dengan kaku, berjalan mendekat selangkah demi selangkah karena ingin melihat jelas siapa wanita itu.

Tiba-tiba, wanita di dalam mobil itu mengibaskan rambutnya, memperlihatkan profil samping wajah yang sangat Rania kenali.

Ternyata itu Ghea! Sekretaris yang baru direkrut Aris belum genap setahun.

Ternyata Ghea, orang yang sudah tinggal di rumahnya selama dua bulan dan selalu memanggilnya Kak Rania dengan manis!

Air mata mengalir deras dari pelupuk matanya. Rania menggigit bibirnya kuat-kuat, merasakan jantungnya yang berdenyut sakit, bahkan perutnya pun mulai ikut terasa nyeri.

"Aris, kamu kapan mau bilang ke istrimu kalau anak di perutku ini anakmu?"

Ghea mengulurkan tangan, menarik dasi pria itu dengan suara yang terdengar sangat manja. "Aku sekarang sudah hamil delapan bulan, lho, sebentar lagi mau melahirkan! Kalau terus disembunyikan, lama-lama juga bakal ketahuan."

Aris mengangkat tangannya, mengelus pipi wanita itu dengan nada bicara yang sangat lembut.

"Sebentar lagi. Dia sekarang lagi hamil, nggak boleh kena stimulasi. Nanti kalau anakmu dan anak dia sudah lahir semua, baru aku kasih tahu. Saat waktu itu tiba, dia juga nggak bakal bisa apa-apa."

"Bener juga sih, dia 'kan cinta banget sama kamu. Walaupun tahu anak di perutku ini anakmu, dia nggak bakal berbuat macam-macam." Wanita itu menarik sudut bibirnya, lalu tertawa. "Terus menurutmu, siapa yang lebih hebat? Aku atau dia? Kata dia, sejak dia hamil, kamu nggak pernah sentuh dia, tapi kenapa kamu malah sentuh aku? Aku 'kan sudah mau melahirkan, tapi masih saja kamu siksa begini!"

"Ya jelas kamu yang lebih hebat. Aku suka banget sama kamu, itu karena badanmu bagus. Kamu lihat dia, baru hamil empat bulan saja sudah kayak bola."

Pantas saja. Pantas saja setelah Rania hamil, Aris tidak pernah lagi menyentuhnya. Ternyata Aris merasa jijik padanya!

Akan tetapi, Ghea sudah hamil delapan bulan, sudah mau melahirkan, dan mereka masih sempat-sempatnya selingkuh di dalam mobil!

Hatinya hancur berkeping-keping saat itu juga. Rania merasa dunianya seolah berputar hebat, seakan dia akan jatuh terjerembab ke lantai.

Dia segera berpegangan pada pilar di sampingnya agar bisa tetap berdiri tegak.

Rasa mual khas awal kehamilan tiba-tiba menyerang, membuatnya langsung mual dan ingin muntah.

Suara gaduh itu sontak menarik perhatian Aris dan Ghea.

Begitu melihat sosok Rania, wajah keduanya langsung berubah pucat.

Aris buru-buru merapikan pakaiannya dan berlari menghampiri dengan nada panik.

"Rania, kamu nggak apa-apa? Kamu ngapain di sini? 'Kan sudah aku bilang di luar dingin, tunggu aku pulang di rumah saja!"

"Iya, Kak Rania. Tadi aku 'kan sudah bilang kalau Pak Aris ada urusan malam ini dan bakal pulang agak telat."

Saat mereka berdua mendekat, bahkan celana Aris pun belum terkancing dengan benar.

Ghea berjalan mendekat dengan santai sambil sengaja membusungkan perut buncitnya, benar-benar menunjukkan gestur seorang pemenang.

Melihat Rania yang mualnya makin parah, Aris melangkah maju hendak memegangnya, tetapi Rania mendadak mundur selangkah.

"Jangan sentuh aku!"

Aris baru saja berhubungan dengan wanita lain, Rania merasa suaminya itu sangat kotor!

"Rania, dengarkan aku dulu." Aris takut istrinya akan makin syok, jadi dia langsung berusaha menjelaskan. "Ini cuma kecelakaan. Ghea hamil anakku, aku nggak mungkin lepas tangan. Kalian berdua sama-sama hamil, jadi ada teman, 'kan? Ini hal bagus. Aku lihat selama ini kalian juga akrab-akrab saja."

"Ada teman?"

Rania menatap pria di depannya dengan penuh keterkejutan. Bagaimana bisa Aris mengucapkan kata-kata sejahat itu?

"Kamu sudah gila, ya? Kamu sadar nggak sih ngomong apa? Kamu selingkuh, menghamili orang lain, terus dengan nggak tahu malunya bilang kalau ini supaya aku ada teman? Aku lagi mengandung anakmu, Aris! Sudah enam bulan, tapi ini cara kamu memperlakukan aku?"

"Aduh, Kak Rania, kok ngomongnya gitu? Aku saja nggak masalah, kok. Aku juga nggak bakal rebut posisi kamu sebagai Nyonya Wijaya. Aku cuma mau dampingi Kak Aris dalam diam dan membesarkan anaknya, itu saja sudah cukup buat aku. Jadi, Kak Rania jangan marah lagi, ya?"

Ghea melangkah maju dan tiba-tiba mencengkeram lenganku.

"Pergi kamu! Ghea, aku sudah anggap kamu kayak saudara sendiri, tapi kamu malah tega begini? Kamu senang ya lihat aku kayak orang bodoh yang kamu permainkan terus?"

Rania menepis tangan Ghea, tetapi tiba-tiba Ghea malah terjatuh ke belakang.

Ghea menjerit kesakitan, "Ah! Aris, perutku sakit banget. Apa aku bakal keguguran? Huhu, aku takut ...."

"Jangan takut, Ghea. Aku antar kamu ke rumah sakit sekarang, anak kita pasti nggak apa-apa."

Aris segera menggendong Ghea ke dalam mobil. Sebelum pergi, dia sempat memelototi Rania dengan tajam.

"Rania, 'kan sudah dibilang ini cuma kecelakaan! Kamu mau ribut sampai kapan, sih? Aku peringatkan ya, kamu berdoa saja supaya anak ini nggak kenapa-kenapa! Kalau sampai terjadi sesuatu, aku akan menceraikanmu!"

Cerai? Heh, itu memang yang dia harapkan.

Melihat mobil itu melesat pergi, Rania teringat kembali hari pertama dia bertemu dengan Aris.

Waktu itu dia ikut kakaknya pergi ke sebuah perjamuan bisnis dan melihat Aris yang memakai kemeja putih sedang membawa proposal proyek perusahaannya, sibuk mencari orang untuk berinvestasi.

Akan tetapi, setiap bos besar yang Aris temui selalu memandang rendah perusahaan kecilnya dan menolak mentah-mentah.

Walaupun sudah ditolak berkali-kali, Aris tetap tidak mau menyerah.

Rania sempat menghitungnya. Malam itu, Aris mendatangi total 35 bos besar, tetapi yang mau bicara dengannya bahkan tidak sampai lima orang.

Lalu, kakaknya menghampiri, menyadari arah pandangannya, dan bertanya penasaran, "Kenapa? Kamu suka?"

"Aku rasa dia orang yang menarik. Kak, bukannya kakak balik ke sini memang mau investasi di beberapa perusahaan kecil? Kasih dia kesempatan, ya?"

Setelah itu, kakaknya berinisiatif mendatangi Aris dan memberikan kartu namanya.

Beberapa bulan kemudian, kakaknya bilang padanya kalau pemuda ini sangat hebat dan berbakat.

Karena sudah jatuh hati, Rania mulai menyembunyikan identitas aslinya dan bekerja di perusahaan Aris.

Selama tahun-tahun tersulit perusahaan, Rania selalu mendampingi Aris melewatinya.

Di hari perusahaan Grup Wijaya resmi melantai di bursa saham, Aris berlutut di hadapan Rania di depan semua orang di kantor.

"Rania, kamu mau nggak menikah denganku, jadi Nyonya Wijaya seumur hidup? Aku bersumpah! Seumur hidup aku nggak akan pernah menceraikanmu! Kalau aku langgar, biarkan aku disambar petir dan biarkan perusahaan yang aku bangun ini hancur jadi debu!"

Masa-masa setelah menikah benar-benar terasa bahagia, sampai akhirnya Rania didiagnosis menderita penyakit lambung. Aris menyuruhnya beristirahat di rumah, melarangnya pergi bekerja ke kantor lagi, dan merekrut seorang sekretaris baru.

Awalnya Aris sangat perhatian, jadi Rania tidak ambil pusing.

Akan tetapi, lama-kelamaan, Aris pulang makin larut dan aroma parfum di tubuhnya tercium makin menyengat.

Meski begitu, Rania tidak pernah mencurigainya. Dia hanya berpikir Aris sedang sibuk menjamu klien, jadi hal-hal seperti itu tidak terelakkan.

Bahkan sampai Aris membawa Ghea ke rumah pun, Rania tetap memercayainya.

Selama dua bulan itu, ada beberapa malam di mana Aris tiba-tiba menghilang. Rania hanya mengira suaminya sedang sibuk mengurus pekerjaan.

Akan tetapi, kalau dipikir-pikir sekarang, suara-suara mesra yang dia dengar di tengah malam itu jelas-jelas suara Aris dan Ghea yang sedang bercumbu di berbagai sudut rumah mereka!

Dia memang terlalu bodoh. Kakaknya pernah bilang kalau menikah dengan laki-laki panjat sosial tidak akan berakhir baik, tetapi Rania tidak mau dengar. Sekarang, Rania kena batunya.

Karena Aris sendiri yang minta cerai, ya sudah, cerai saja.

Bahkan anak di dalam kandungannya ini pun, Rania sudah tidak mau lagi!

Sambil menahan rasa sakit di hatinya, Rania mengeluarkan ponsel dan melakukan dua panggilan telepon.

Panggilan pertama, ditujukan kepada kakaknya yang merupakan seorang konglomerat di luar negeri. "Kak, Aris selingkuh. Aku mau cerai, aku mau ke tempat Kakak."

Panggilan kedua, ditujukan ke rumah sakit. "Aku mau buat janji jadwalkan operasi aborsi secepatnya."

Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
24 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status