Share

Di Balik Akad Rahasia
Di Balik Akad Rahasia
Author: Nawasena

Bab 1

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-07-09 19:27:33

Sore itu, langit di atas kampus dipenuhi sapuan warna jingga yang hangat. Angin berembus pelan, menyibakkan beberapa helai rambut Revalina yang sengaja diikat asal-asalan. Gadis itu duduk bersila di bawah pohon rindang dekat fakultasnya. Matanya tak lepas dari layar laptop yang menyala. Jari-jarinya menari lincah di atas keyboard, mengetik deretan kalimat untuk bab empat skripsinya.

Di depannya, Aldebaran Kusuma—pewaris tunggal Kusuma Group yang namanya selalu diagungkan di koridor kampus—justru mengabaikan setumpuk jurnal di pangkuannya. Pemuda itu menopang dagu dengan satu tangan, menatap Reva dengan senyum tipis yang tak kunjung pudar. Bagi Al, melihat Reva mengerutkan kening karena pusing memikirkan skripsi jauh lebih menarik daripada membedah laporan keuangan perusahaan ayahnya.

"Kamu mau terus-terusan ngeliatin aku kayak gitu, Al?" tegur Reva tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Skripsi kamu nggak akan beres kalau kamu cuma senyum-senyum sendiri."

Al tertawa pelan, suara baritonnya terdengar sangat renyah. "Skripsiku udah di-acc dosen pembimbing dua hari yang lalu, Yang. Kamu lupa, ya?"

Reva mendengkus pelan. Ia akhirnya menatap laki-laki di hadapannya. "Oh iya, Tuan Muda Kusuma yang otaknya encer. Lupa aku kalau pacarku ini serba bisa."

"Bukan serba bisa," sahut Al sambil mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu menyelipkan sehelai rambut Reva ke belakang telinganya. "Aku cuma mau cepat lulus, biar bisa cepat nikahin kamu."

Pipi Reva merona seketika. Meskipun mereka sudah berpacaran hampir tiga tahun sejak awal masuk kuliah, gombalan Al selalu sukses membuat perutnya dipenuhi kepakan sayap kupu-kupu. Reva memukul lengan Al pelan dengan buku catatannya.

"Ngawur. Lulus aja belum, udah ngomongin nikah. Lagian, masa pewaris Kusuma Group nikahnya sama cewek miskin kayak aku? Nanti papa kamu bisa jantungan, Al," ucap Reva setengah bercanda, meski ada kilat keraguan di matanya.

Mendengar nama ayahnya disebut, senyum di bibir Al sedikit memudar. Namun, ia buru-buru menutupinya. Tangannya terulur, menggenggam tangan Reva yang berada di atas pangkuan, lalu mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya.

"Aku nggak peduli sama apa kata Papa, Reva. Hidupku selama dua puluh dua tahun ini udah cukup diatur-atur sama beliau. Masuk jurusan bisnis, berteman sama anak-anak kolega bisnisnya, sampai datang ke acara-acara elit yang isinya cuma orang-orang palsu yang suka menjilat. Papa bilang semuanya demi Kusuma Group," ucap Al, suaranya berubah sedikit lebih berat. "Tapi kamu? Kamu itu duniaku yang asli, Reva. Cuma sama kamu aku ngerasa jadi Aldebaran, bukan aset perusahaan."

Hati Reva mencelos mendengar pengakuan itu. Ia tahu betul bagaimana tersiksanya Al di balik semua kemewahan yang melekat padanya. Di balik setelan bermerek dan mobil mewah yang selalu mengantar, Al sering kali bercerita betapa sepinya rumah bak istana yang ia tinggali.

Reva membalas genggaman tangan Al dengan lebih erat. "Aku di sini, Al. Aku bakal terus nemenin kamu. Tapi kamu juga harus janji, selesaikan tanggung jawab kamu dulu di kampus. Oke?"

Al tersenyum lebar, kelegaan terpancar jelas di wajahnya yang tampan. "Siap, Bos. Sekarang, karena kamu udah ngetik tanpa henti selama tiga jam, gimana kalau kita makan? Aku lapar."

"Mau makan di mana?" tanya Reva sambil mulai mematikan laptop dan memasukkan ke dalam tas ransel lusuhnya. "Kamu jangan ngajak makan di restoran mahal lagi, ya? Uang beasiswaku belum turun. Aku nggak bisa patungan."

"Astaga, siapa yang minta kamu patungan, Yang?" tanya Al sambil menggelengkan kepala karena tak habis pikir. "Aku pacar kamu, Reva. Masa aku biarin kamu ikutan bayar?"

"Aku nggak mau kebiasaan dibayarin, Aldebaran. Nanti aku dikira cewek matre yang manfaatin kekayaan kamu."

"Yang berani ngomong gitu, aku beli mulutnya!" sungut Al dengan nada posesif yang selalu menjadi ciri khasnya jika menyangkut Reva. "Udah, kita makan pecel lele di pertigaan gang kosan kamu aja, gimana? Udah lama, kan, aku nggak makan sambel terasinya Cak Jo?"

Mata Reva berbinar. "Serius? Kamu mau makan di pinggir jalan? Nanti perut kamu sakit lagi kayak bulan lalu."

"Itu, kan, karena aku pesen yang level dewa pedesnya," elak Al sambil berdiri, lalu mengambil alih tas ransel Reva dan menyampirkan di bahu kirinya. "Udah, ayo! Keburu ramai nanti kita nggak dapat tempat duduk."

Mereka berjalan beriringan menyusuri koridor kampus yang mulai sepi. Al sengaja memarkirkan mobil sport keluaran terbarunya agak jauh agar tidak terlalu menarik perhatian. Meskipun pada akhirnya, sosok Al yang jangkung dan tampan, berjalan bersisian dengan Reva yang sederhana, tetap saja mengundang tatapan dari beberapa mahasiswa yang lewat. Reva terkadang merasa risi, tetapi genggaman tangan Al yang erat seolah-olah menjadi penangkal dari segala rasa rendah diri.

Sesampainya di warung tenda pecel lele Cak Jo, suasana sudah lumayan ramai. Aroma lele goreng dan sambal tomat menguar tajam menggugah selera. Al dengan kemeja kasualnya yang jelas bernilai jutaan rupiah, sama sekali tidak canggung duduk di atas kursi plastik merah yang sedikit goyang. Ia mengambil tisu di atas meja, lalu membersihkan meja di depan Reva dengan telaten.

"Cak, pecel lelenya dua! Sambelnya yang satu sedang, yang satu nggak pedes sama sekali!" teriak Al memesan makanan.

Cak Jo yang sedang membalik gorengan menoleh sambil tersenyum semringah. "Siap, Mas Al! Tumben baru mampir lagi. Sibuk skripsi, tah?"

"Iya, Cak. Ini nemenin Nyonya Besar ngejar deadline," sahut Al santai hingga sukses membuat wajah Reva bersemu merah.

"Kamu, tuh, kebiasaan banget manggil gitu di depan orang," bisik Reva sambil mencubit pelan pinggang Al.

Al menggeliat sambil terkekeh, lalu meraih gelas es teh manis yang baru saja diantarkan oleh pegawai warung. Ia menyodorkan salah satunya kepada Reva. "Biarin aja. Hitung-hitung latihan buat masa depan."

Sambil menunggu makanan datang, Reva menatap lekat wajah laki-laki di depannya. Ada garis kelelahan di bawah mata Al, kemungkinan besar karena begadang mengurus beberapa dokumen perusahaan yang mulai dilimpahkan oleh ayahnya. Reva menghela napas pelan.

"Al, setelah lulus nanti kamu bakal langsung diangkat jadi direktur?" tanya Reva hati-hati.

Al menghentikan kegiatannya mengaduk es teh, lalu menatap Reva dengan pandangan serius. "Kemungkinan besar iya. Papa udah mulai menekan aku untuk masuk jajaran direksi bulan depan. Makanya aku ngebut ngerjain skripsi biar urusan kampus cepat selesai."

"Terus ... kita gimana?" tanya Reva dengan suara lirih. Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Reva. Terdengar rapuh dan sarat akan ketakutan. "Dunia kamu bakal makin sibuk, Al. Kamu bakal dikelilingi orang-orang hebat seperti kolega bisnis papa kamu. Apa kamu masih punya waktu buat mampir ke kosanku? Apa kamu nggak akan malu ngenalin aku ke lingkungan baru kamu nanti?"

Al terdiam sejenak. Ia meraih kedua tangan Reva di atas meja yang sedikit lengket, kemudian menggenggamnya dengan penuh keyakinan. Matanya langsung menatap tajam ke manik mata Reva.

"Dengerin aku, Revalina Putri Gunawan," ucap Al dengan suara pelan, tetapi terasa sangat tegas. "Aku nggak peduli sehebat apa orang-orang di luar sana. Aku nggak peduli sama semua kolega bisnis Papa. Dari awal kita pacaran, aku udah milih kamu. Setelah aku resmi menjabat di perusahaan nanti, hal pertama yang bakal aku lakuin adalah bawa kamu ke rumah. Aku bakal kenalin kamu secara resmi ke Papa."

"Tapi, Al ...."

"Nggak ada tapi-tapian," potong Al cepat. "Aku yang jalani hidup ini, Reva. Bukan Papa. Kamu cuma perlu percaya sama aku. Bertahan sama aku. Janji?"

Reva menatap mata cokelat terang milik Al. Ada ketulusan yang luar biasa di sana. Cinta yang begitu besar dan posesif hingga rasanya Reva bisa tenggelam di dalamnya. Perlahan, gadis itu mengangguk, mengukir senyum manis yang selalu berhasil menenangkan badai di kepala Al.

"Janji," bisik Reva pelan tanpa tahu jika Tuhan akan memutar garis takdirnya seratus delapan puluh derajat.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 134

    Dengan gerakan gesit, Arkananta mendribel bola melewati Aletta, melompat tinggi, dan memasukkan bola ke dalam ring dengan sangat mulus. "Curang! Arkan, kan, badannya lebih tinggi!" protes Aletta sambil berkacak pinggang, bibirnya mengerucut sebal. Arkananta hanya tertawa terbahak-bahak. Ia berjalan menghampiri Aletta, mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Siapa suruh kau malas minum susu peninggi badan? Tapi tenang saja, meski kau pendek, kau tetap superhero terhebatku." Aletta mendengkus kesal, meski senyuman lebar akhirnya terbit di wajah cantiknya. Sampai detik ini, ikatan batin antara kedua saudara itu tidak pernah putus. Mereka saling melindungi, saling menggoda, dan tumbuh dalam kasih sayang yang setara. Tiba-tiba, sebuah suara cadel yang melengking memecah perdebatan kecil mereka. "Kakak Ale! Kakak Alka! Cini, main cama Aksa!" Dari arah pintu kaca paviliun, seorang balita laki-laki berusia tiga tahun berlari terhuyung-huyung dengan kaki kecilnya yang m

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 133

    Al turun lebih dulu. Tanpa memedulikan tatapan puluhan stafnya, pria bertubuh atletis itu langsung membungkuk dan menggendong Reva dengan gaya bridal style keluar dari mobil, mengabaikan fakta bahwa Reva sudah bisa berjalan pelan. "Al, turunkan aku! Malu dilihat banyak orang!" protes Reva dengan pipi yang merona merah padam seraya memukul pelan dada bidang suaminya. "Biarkan saja mereka melihat. Aku sedang menggendong istriku sendiri, bukan menggendong patung," jawab Al santai tanpa merasa berdosa sedikit pun. Sementara itu, para pengasuh dengan sigap membantu Aletta dan Arkananta turun dari mobil. Kedua bocah itu langsung berlarian kecil dengan wajah ceria menuju pintu utama, tak sabar ingin melihat rumah mereka lagi. Begitu Al melangkah masuk membawa Reva ke dalam mansion, napas Reva seketika tercekat. Matanya melebar sempurna melihat perubahan luar biasa yang terjadi di dalam rumah raksasa tersebut. Warna-warna gelap, muram, dan perabotan bergaya gotik berlebihan yang dul

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 132

    Satu minggu telah berlalu sejak malam panjang yang mempertaruhkan hidup dan mati di ruang operasi Rumah Sakit Medika Pusat. Udara pagi yang menyusup masuk melalui celah ventilasi kamar VVIP Presidential Suite terasa jauh lebih segar dan menenangkan. Ketegangan yang sebelumnya menggantung pekat bagai kabut beracun kini telah menguap tak bersisa, digantikan oleh aroma manis dari buket bunga lili putih yang tertata rapi di atas meja nakas. Atas perintah mutlak Aldebaran Kusuma, dinding pembatas antara dua kamar suite terbaik di rumah sakit itu telah dibongkar dalam waktu semalam. Pria itu mengubahnya menjadi satu ruangan perawatan raksasa yang mewah agar seluruh keluarganya bisa berkumpul dalam satu pandangan matanya. Di sisi kiri, Revalina berbaring di atas ranjang dengan raut wajah yang kian memancarkan rona kehidupan, ditemani oleh Aletta yang tengah duduk santai di sofa sembari mewarnai buku gambar. Di sisi kanan, Arkananta terbaring dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari w

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 131

    "Papa akan menemanimu masuk. Papa tidak akan melepaskan tanganmu," ucap Al, mengusap pipi Aletta dengan ibu jarinya yang bergetar. "Papa jangan sedih lagi," ucap Aletta sambil mengulurkan tangannya yang mungil, membelai rahang ayahnya yang mengeras. "Aletta, kan, superhero. Setelah ini, Arkan pasti bisa lari-lari lagi di taman sama Aletta." Aldebaran memaksakan sebuah senyuman, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Ya, Sayang. Kau adalah superhero terhebat yang pernah Papa kenal." Ruang operasi itu terang benderang, dipenuhi aroma antiseptik yang tajam dan bunyi dengungan pelan dari berbagai mesin penyokong kehidupan. Suhunya sengaja dibuat sangat dingin untuk menjaga kesterilan. Namun bagi Aldebaran, dinginnya ruangan itu tak sebanding dengan kebekuan di dalam hatinya. Aletta sudah berbaring telungkup di atas meja operasi yang dilapisi selimut pemanas. Tubuh kecilnya terlihat sangat rapuh di tengah kepungan peralatan medis berbahan logam yang mengilap. Aldebaran duduk di ku

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 130

    "Aletta, prosedur itu bukan cuma suntik biasa, Sayang. Itu akan sangat menyakitkan. Tulang belakangmu nanti akan disuntik dengan jarum yang ... ah, Papa tidak akan sanggup melihatmu kesakitan, Nak," ucap Reva dengan tangis yang akhirnya pecah. Ia memeluk putrinya erat-erat, menciumi puncak kepalanya dengan penuh keputusasaan. "Ibu juga tidak sanggup. Kami sangat menyayangimu." "Tapi kalau Arkan mati, Papa bakal sedih terus! Ibu juga nangis terus!" bantah Aletta, suaranya melengking karena frustrasi yang kekanak-kanakan. "Aletta nggak mau sendirian, Ibu! Aletta mau main sama Arkan lagi! Aletta mau nahan sakit sebentar, asal kita semua bisa ketawa lagi!" Di tengah momen yang begitu memilukan itu, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka lebar dengan kasar. Aldebaran melangkah masuk. Pria itu baru saja berlari dari koridor bangsal steril setelah memerintahkan Dimas untuk mencari opsi ke seluruh benua. Niat awalnya adalah untuk memeriksa keadaan Reva, mencari sedikit ketenangan dari sa

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 129

    Pintu bangsal steril terbuka, dan Dokter Bisma melangkah keluar dengan wajah yang dipenuhi peluh. Ia melepas masker medisnya, menatap Aldebaran dengan pandangan mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus keletihan yang luar biasa. "Tuan Besar Kusuma." Dokter Bisma menjeda kalimatnya, membungkuk sedalam mungkin di hadapan Al. "Maafkan kami. Kami berhasil mengembalikan ritme jantung Tuan Muda untuk sementara waktu. Tapi ini hanya solusi jangka pendek yang sangat rapuh. Perdarahan internalnya belum sepenuhnya berhenti karena faktor pembekuan darahnya sudah tidak berfungsi sama sekali akibat anemia aplastik tingkat akhir ini." "Aku tidak butuh permintaan maafmu, Dokter! Aku butuh solusi!" bentak Al, suaranya menggelegar di koridor yang sepi itu, membuat Dokter Bisma tersentak mundur. "Aku membayar kalian dengan fasilitas terbaik di negeri ini! Cari cara! Datangkan obat apa saja! Sialan, apa gunanya semua gelarmu jika menyelamatkan satu anak kecil saja kau tidak mampu?!" Dokter B

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status