เข้าสู่ระบบMalam semakin larut ketika Al memarkirkan mobilnya di depan gerbang kayu kosan Reva yang sederhana. Jalanan gang sudah sepi, hanya terdengar suara jangkrik dari semak-semak di pinggir jalan.
Al mematikan mesin mobilnya, melepaskan sabuk pengaman, lalu menoleh ke arah Reva. Gadis itu menguap karena menahan kantuk, terlihat sangat kelelahan setelah seharian berkutat dengan revisi skripsi. "Udah sampai," ucap Al lembut sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Reva. "Langsung cuci muka, gosok gigi, terus tidur, ya? Jangan begadang lagi buka laptop." Reva tersenyum dan mengangguk patuh. "Iya, Bawel. Kamu juga hati-hati pulangnya. Jangan ngebut." "Pasti." Al mendekatkan wajahnya, mengecup lembut kening Reva dalam waktu yang cukup lama, seolah-olah menyalurkan seluruh perasaannya. "Mimpi indah, perempuanku." "Kamu juga, Al." Reva membuka pintu mobil, melangkah keluar dan melambaikan tangannya dari balik pagar kosan. Ia terus menatap mobil sport hitam itu hingga menghilang di belokan gang. Setelah memastikan mobil Al tak terlihat lagi, Reva menghela napas lega, senyum kebahagiaan terukir jelas di bibirnya. Merasa sangat dicintai oleh pria seperti Aldebaran adalah anugerah terbesar dalam hidupnya yang selama ini terasa berat. Ia membalikkan badan, melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan hati berbunga-bunga, merangkai harapan tentang masa depan indah yang baru saja dijanjikan oleh sang kekasih. Namun, di waktu yang sama, di dalam mobil sport hitam yang melaju membelah jalanan sepi ibu kota, senyum di wajah Aldebaran perlahan lenyap. Ponselnya yang terhubung dengan layar dasbor mobil tiba-tiba berdering nyaring memecah keheningan. Tertera nama 'Papa' di layar yang bersinar terang. Al mendesah kasar, firasat buruk seketika menyergap dadanya. Dengan enggan, ia menekan tombol hijau di kemudi. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, suara berat dan dingin dari seberang sana sudah lebih dulu menggema di seluruh penjuru kabin mobil, membawa kabar mutlak yang seketika menghancurkan seluruh rencana masa depan yang baru saja ia bangun bersama Reva. "Pulang sekarang, Aldebaran. Keluarga Pranoto sudah menunggu di ruang tamu. Malam ini, kita akan membicarakan tanggal pernikahanmu dengan Elena." *** "Kamu terlambat lima belas menit, Aldebaran." Suara berat dan dingin itu menyambut Al tepat saat kakinya melangkah melewati pintu ganda kayu jati rumahnya. Di ruang tamu utama yang didominasi warna emas dan putih serta lampu gantung dari kristal chandelier, tiga pasang mata menatapnya dengan intensitas yang berbeda. Al menghela napas panjang, berusaha meredam detak jantungnya yang mulai memburu. Ia menyerahkan kunci mobil pada pelayan yang menunduk hormat, lalu berjalan mendekat. "Jalanan macet, Pa. Ada perbaikan gorong-gorong di jalan memutar dekat kampus." "Duduklah. Om Hadi dan Elena sudah menunggu dari tadi," titah Satria Kusuma, pria paruh baya itu duduk angkuh di sofa single berbalut beludru. Matanya menatap tajam wajah kuyu Aldebaran, tidak menerima alasan apa pun. Al mengalihkan pandangannya ke sofa panjang di sebelah kanan. Di sana, Hadi Pranoto tersenyum hangat—senyum khas pebisnis kawakan yang sedang menghitung prospek keuntungan. Di sebelahnya, duduk Elena Salsabila Pranoto. Perempuan berusia dua puluh empat tahun itu terlihat sempurna dan mengintimidasi. Balutan gaun midi berwarna navy mencetak tubuhnya dengan pas, rambutnya digelung rapi ke atas, dan pulasan lipstik merah gelapnya menyiratkan kekuasaan yang mendominasi. Wanita itu adalah kakak tingkatnya dulu di kampus, dan kini menjelma menjadi eksekutif muda yang sangat ambisius di jajaran direksi Pranoto Corp. "Malam, Om Hadi. Malam, El," sapa Al kaku seraya menduduki sofa kosong di seberang mereka. "Malam, Al," balas Elena dengan suara lembut yang terdengar terlalu dibuat-buat di telinga Al. "Kudengar kamu sedang sibuk-sibuknya mengurus bab akhir skripsi. Maaf, ya, kami jadi mengganggu waktu istirahatmu malam-malam begini." "Bukan masalah. Ada keperluan mendesak apa sampai Om Hadi dan Elena repot-repot datang?" tanya Al langsung ke intinya. Ia sangat benci basa-basi, apalagi jika firasatnya sudah berteriak memeringatkan bahaya. Satria meletakkan cangkir tehnya di atas meja marmer. Bunyi denting porselen yang beradu dengan meja terdengar pelan dan mengintimidasi. "Tidak usah berbasa-basi. Seperti yang sudah Papa sampaikan di telepon tadi, kami sedang membicarakan tanggal pernikahanmu dengan Elena." Jantung Al serasa berhenti berdetak selama sekian detik. Cengkeramannya pada lutut mengerat. "Pernikahan? Papa bercanda? Aku baru dua puluh dua tahun, Pa. Lulus saja belum!" Hadi Pranoto tertawa renyah, seolah-olah penolakan keras Al hanyalah rajukan anak kecil yang menggemaskan. "Usia itu hanya deretan angka, Al. Lagipula, ini bukan sekadar pernikahan biasa. Ini adalah penggabungan dua kekuatan bisnis besar. Kusuma Group dan Pranoto Corp butuh stabilitas mutlak di kuartal ketiga tahun ini. Saham gabungan kita akan melonjak tajam setelah pengumuman resmi pertunangan kalian minggu depan disiarkan." "Aku tidak peduli dengan angka saham, Om," desis Al, menahan nada suaranya agar tidak terlalu meninggi di hadapan tamu. "Aku tidak pernah setuju dengan rencana perjodohan ini. Dari dulu aku sudah berulang kali bilang sama Papa, aku mau memilih pasanganku sendiri." "Aldebaran!" bentak Satria, membuat suasana ruang tamu mendadak senyap dan beku. "Jaga nada bicaramu di depan calon mertuamu!" Al menatap ayahnya dengan sorot tak percaya. "Calon mertua? Pa, aku nggak cinta sama Elena. Elena juga sama sekali nggak cinta sama aku. Kita berdua ini cuma pion di atas papan catur bisnis kalian!" Elena akhirnya angkat bicara. Perempuan itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menaruh cangkir tehnya dengan anggun, dan menatap Al dengan senyum simpul yang tak pernah menyentuh matanya. "Cinta itu bisa ditumbuhkan seiring berjalannya waktu, Al. Lagipula, kita sudah saling kenal sejak masa orientasi di kampus, kan? Aku tahu seberapa besar kapasitasmu memimpin, dan kamu tahu rekam jejakku. Kita akan jadi power couple yang tidak tertandingi di dunia bisnis. Pernikahan ini sangat menguntungkan kita berdua secara finansial dan kekuasaan. Kenapa harus didramatisir seperti adegan sinetron?" "Keuntungan buat ambisi kamu, mungkin iya. Tapi buatku, ini penjara seumur hidup, El," balas Al tajam, benar-benar mengabaikan tatapan membunuh ayahnya. "Al, cukup!" bentak Satria dan berdiri seketika, wajahnya memerah menahan amarah yang hampir meledak. "Hadi, Elena, maafkan kelancangan dan ketidaksopanan anak ini. Tolong nikmati teh kalian. Biar saya bicara empat mata dulu dengannya." Hadi mengangguk maklum, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Silakan, Satria. Anak muda memang kadang butuh waktu luang untuk mencerna tanggung jawab besar." Satria berjalan cepat, mencengkeram lengan Al dengan tenaga penuh, lalu menyeret anak semata wayangnya itu menuju ruang kerja pribadinya yang kedap suara di dekat tangga. Begitu pintu kayu jati tebal itu ditutup rapat, tangan Satria terangkat dan hendak menampar Aldebaran. Namun, sengaja ia dihentikan hanya beberapa sentimeter dari pipi Al. Satria menarik napas panjang, berusaha keras menahan diri untuk tidak memukul aset berharganya. "Kamu mau mempermalukan Papa di depan Hadi Pranoto, hah?!" desis Satria dengan penekanan di setiap suku kata. "Papa yang mempermalukan aku! Mengatur hidupku seolah-olah aku ini robot yang nggak punya perasaan dan kehendak!" balas Al tak kalah sengit, urat-urat di lehernya mulai menonjol. "Aku punya pacar, Pa. Aku mencintai perempuan lain, dan aku berencana menikahinya setelah aku lulus dan bekerja nanti." Satria mendengkus sinis. Pria itu berjalan lambat menuju meja kerjanya yang luas, membuka sebuah laci, dan mengeluarkan sebuah map cokelat tebal. Ia melemparkan map itu ke atas meja hingga menimbulkan bunyi gedebuk yang cukup keras. "Perempuan lain yang kamu maksud itu Revalina Putri Gunawan, kan?" Tubuh Al menegang kaku seolah- olah baru saja disambar petir. Matanya membelalak lebar menatap map di atas meja, lalu menatap wajah ayahnya dengan tatapan ngeri. "Darimana Papa tahu?"Lampu kristal raksasa yang menggantung di langit-langit grand ballroom sebuah hotel mewah di Jakarta memancarkan cahaya yang angkuh, memayungi pesta pernikahan yang disebut-sebut sebagai merger terbesar dekade ini. Aliansi strategis antara Kusuma Group dan Pranoto Corp resmi dikunci di atas pelaminan hari itu. Di atas pelaminan yang didekorasi dengan ribuan mawar putih impor kelas premium, Aldebaran Kusuma berdiri tegap. Ia tampak gagah, tetapi tubuhnya kaku bagai patung lilin di dalam setelan tuxedo hitam klasik rancangan desainer Eropa.Di sampingnya, Elena Salsabila Pranoto tersenyum anggun ke arah puluhan kamera wartawan bisnis yang tak henti-hentinya memancarkan lampu kilat. Elena tampil memukau dengan gaun pengantin bertabur kristal Swarovski yang menyapu lantai marmer, memancarkan aura kemenangan seorang putri mahkota konglomerat yang baru saja mengamankan aset terbaiknya. Pernikahan itu, bagi Elena adalah kemenangan mutlak atas egonya dan validasi kekuasaannya di mata dewan di
Keesokan paginya, Al mendatangi gedung administrasi pusat universitasnya. Ia mengabaikan semua mata mahasiswa yang menatapnya penuh gunjing terkait berita pertunangannya dengan Elena. Fokusnya hanya satu: melacak jejak akademis Reva."Maaf, Mas Aldebaran Kusuma," ucap petugas administrasi wanita paruh baya itu dengan raut wajah sungkan setelah memeriksa data di komputer. "Mahasiswi atas nama Revalina Putri Gunawan dari Fakultas Ekonomi sudah resmi mengajukan surat pengunduran diri dan pencabutan berkas beasiswa dua minggu yang lalu."Al membelalak, dadanya mendadak terasa sesak seolah-olah dihantam benda tumpal. "Mengundurkan diri? Maksud Ibu, dia bukan ambil cuti akademik?""Bukan cuti, Mas. Berkasnya benar-benar dicabut secara permanen. Beliau menandatangani surat pernyataan keluar dari universitas ini," jelas petugas itu lagi sambil menunjukkan salinan dokumen di atas meja.Al menatap tanda tangan Reva di atas meterai pada lembaran kertas itu. Goresan penanya tampak tegas, mencermi
Reva meraih dompetnya, memeriksa sisa uang tabungannya yang tidak seberapa. Cukup untuk membeli tiket kereta kelas ekonomi menuju kota tempat tinggal kakaknya, Keisha."Mbak Keisha," ucap Reva terisak lirih. Air mata kembali luruh membasahi pipinya yang pucat saat menggumamkan nama satu-satunya keluarga yang dimiliki. "Reva mau pulang, Mbak."Malam itu juga, di bawah guyuran hujan deras yang akhirnya mengguyur Jakarta, Reva melangkah keluar dari indekost dengan membawa satu koper berukuran sedang dan tas ransel lusuhnya. Ia menyerahkan kunci kamar pada pemilik kos dengan alasan ada urusan keluarga darurat yang membuatnya harus pulang kampung dalam waktu lama.***Tiga minggu berlalu sejak malam yang menghancurkan itu.Acara pertunangan megah antara Aldebaran Kusuma dan Elena Salsabila Pranoto telah sukses digelar di salah satu hotel bintang lima termewah di Jakarta. Foto-foto kemesraan palsu mereka menghiasi berbagai majalah bisnis dan infotainment selama berhari-hari. Di depan kamer
Al tidak membalas. Ia tetap bergeming sambil membuang muka, tidak berani menatap mata Reva karena tahu pertahanannya akan runtuh jika melihat air mata perempuan yang teramat dicintainya itu. "Mulai sekarang, jangan pernah cari aku lagi. Anggap kita nggak pernah kenal," ucap Al final. Ia berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Reva sendirian yang langsung merosot, menangis histeris sambil memeluk lututnya sendiri. Al berjalan cepat menjauhi area pohon rindang itu. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya lolos begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya. Dadanya terasa begitu sesak hingga kesulitan bernapas. 'Maafkan aku, Reva. Maafkan aku harus melakukan ini demi melindungi kamu,' jerit Al dalam hati. Namun, langkah kaki Al mendadak terhenti ketika mendengar suara bisik-bisik yang tiba-tiba berdengung di sepanjang koridor kampus. Beberapa mahasiswa tampak berkumpul, menatap layar ponsel mereka dengan heboh, lalu menatap ke arah Al dengan pandangan penuh selidik dan keter
Elena meringis pelan saat cengkeraman tangan Al mengencang di lengannya. Namun, senyum sinisnya sama sekali tidak pudar. Ia menatap tangan Al yang mencengkeramnya, lalu beralih menatap langsung ke mata pemuda itu."Lepaskan tanganmu, Al. Sakit," ucap Elena dingin. Begitu Al mengempaskan tangannya dengan gusar, Elena merapikan lengan gaunnya yang sedikit kusut. "Mauku sederhana. Aku cuma mau memastikan calon suamiku tidak bertingkah bodoh dan merusak acara penting kita minggu depan."Elena menunjuk amplop cokelat di atas kasur dengan ujung kuku telunjuknya yang dicat merah. "Kamu tahu apa isi di dalam ini? Ini adalah salinan kartu hasil studi milik kekasih gembelmu itu. Revalina. IPK tiga koma sembilan puluh delapan. Luar biasa pintar untuk ukuran anak yatim piatu. Sayang banget, ya, kalau riwayat akademis sebersih ini harus ternoda di semester akhir."Darah Al seolah-olah berhenti mengalir. Wajahnya memucat, berganti dengan rasa ngeri yang menjalar di sekujur tubuhnya. "Jangan berani-
"Kamu pikir kamu bisa menyembunyikan sesuatu dari pengawasan Papa, Al? Anak perempuan yatim piatu, mahasiswi beasiswa kelas bawah yang hidupnya mengandalkan belas kasihan rektorat kampus untuk makan sehari-hari." Satria tersenyum meremehkan, seakan menyebut nama Reva saja sudah mengotori lidahnya. "Kamu pikir Papa akan diam saja dan membiarkan pewaris tunggal Kusuma Group membawa gembel ke dalam silsilah keluarga kita?""Jaga mulut Papa!" Al maju selangkah, amarahnya benar-benar terpancing hingga ke ubun-ubun. "Reva perempuan baik-baik! Dia punya harga diri dan dia jauh lebih berharga dari semua kolega bisnis Papa yang bermuka dua!""Baik-baik atau tidak, dia tetap hama di mata bisnis kita!" sentak Satria dengan suara menggelegar, memantul di dinding ruang kerja yang kedap suara. "Dengar baik-baik, Aldebaran. Papa sudah menyuruh orang menyelidiki semuanya tentang gadis itu sampai ke akar-akarnya. Kakak perempuannya yang tinggal di luar kota itu, Keisha, saat ini sedang terlilit utang







