Share

Bab 2

Author: Nawasena
last update publish date: 2026-07-09 22:14:04

Malam semakin larut ketika Al memarkirkan mobilnya di depan gerbang kayu kosan Reva yang sederhana. Jalanan gang sudah sepi, hanya terdengar suara jangkrik dari semak-semak di pinggir jalan.

Al mematikan mesin mobilnya, melepaskan sabuk pengaman, lalu menoleh ke arah Reva. Gadis itu menguap karena menahan kantuk, terlihat sangat kelelahan setelah seharian berkutat dengan revisi skripsi.

"Udah sampai," ucap Al lembut sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Reva. "Langsung cuci muka, gosok gigi, terus tidur, ya? Jangan begadang lagi buka laptop."

Reva tersenyum dan mengangguk patuh. "Iya, Bawel. Kamu juga hati-hati pulangnya. Jangan ngebut."

"Pasti." Al mendekatkan wajahnya, mengecup lembut kening Reva dalam waktu yang cukup lama, seolah-olah menyalurkan seluruh perasaannya. "Mimpi indah, perempuanku."

"Kamu juga, Al." Reva membuka pintu mobil, melangkah keluar dan melambaikan tangannya dari balik pagar kosan. Ia terus menatap mobil sport hitam itu hingga menghilang di belokan gang.

Setelah memastikan mobil Al tak terlihat lagi, Reva menghela napas lega, senyum kebahagiaan terukir jelas di bibirnya. Merasa sangat dicintai oleh pria seperti Aldebaran adalah anugerah terbesar dalam hidupnya yang selama ini terasa berat. Ia membalikkan badan, melangkah masuk ke dalam kamarnya dengan hati berbunga-bunga, merangkai harapan tentang masa depan indah yang baru saja dijanjikan oleh sang kekasih.

Namun, di waktu yang sama, di dalam mobil sport hitam yang melaju membelah jalanan sepi ibu kota, senyum di wajah Aldebaran perlahan lenyap. Ponselnya yang terhubung dengan layar dasbor mobil tiba-tiba berdering nyaring memecah keheningan. Tertera nama 'Papa' di layar yang bersinar terang. Al mendesah kasar, firasat buruk seketika menyergap dadanya. Dengan enggan, ia menekan tombol hijau di kemudi. Belum sempat ia mengucapkan sepatah kata, suara berat dan dingin dari seberang sana sudah lebih dulu menggema di seluruh penjuru kabin mobil, membawa kabar mutlak yang seketika menghancurkan seluruh rencana masa depan yang baru saja ia bangun bersama Reva.

"Pulang sekarang, Aldebaran. Keluarga Pranoto sudah menunggu di ruang tamu. Malam ini, kita akan membicarakan tanggal pernikahanmu dengan Elena."

***

"Kamu terlambat lima belas menit, Aldebaran."

Suara berat dan dingin itu menyambut Al tepat saat kakinya melangkah melewati pintu ganda kayu jati rumahnya. Di ruang tamu utama yang didominasi warna emas dan putih serta lampu gantung dari kristal chandelier, tiga pasang mata menatapnya dengan intensitas yang berbeda.

Al menghela napas panjang, berusaha meredam detak jantungnya yang mulai memburu. Ia menyerahkan kunci mobil pada pelayan yang menunduk hormat, lalu berjalan mendekat. "Jalanan macet, Pa. Ada perbaikan gorong-gorong di jalan memutar dekat kampus."

"Duduklah. Om Hadi dan Elena sudah menunggu dari tadi," titah Satria Kusuma, pria paruh baya itu duduk angkuh di sofa single berbalut beludru. Matanya menatap tajam wajah kuyu Aldebaran, tidak menerima alasan apa pun.

Al mengalihkan pandangannya ke sofa panjang di sebelah kanan. Di sana, Hadi Pranoto tersenyum hangat—senyum khas pebisnis kawakan yang sedang menghitung prospek keuntungan. Di sebelahnya, duduk Elena Salsabila Pranoto. Perempuan berusia dua puluh empat tahun itu terlihat sempurna dan mengintimidasi. Balutan gaun midi berwarna navy mencetak tubuhnya dengan pas, rambutnya digelung rapi ke atas, dan pulasan lipstik merah gelapnya menyiratkan kekuasaan yang mendominasi. Wanita itu adalah kakak tingkatnya dulu di kampus, dan kini menjelma menjadi eksekutif muda yang sangat ambisius di jajaran direksi Pranoto Corp.

"Malam, Om Hadi. Malam, El," sapa Al kaku seraya menduduki sofa kosong di seberang mereka.

"Malam, Al," balas Elena dengan suara lembut yang terdengar terlalu dibuat-buat di telinga Al. "Kudengar kamu sedang sibuk-sibuknya mengurus bab akhir skripsi. Maaf, ya, kami jadi mengganggu waktu istirahatmu malam-malam begini."

"Bukan masalah. Ada keperluan mendesak apa sampai Om Hadi dan Elena repot-repot datang?" tanya Al langsung ke intinya. Ia sangat benci basa-basi, apalagi jika firasatnya sudah berteriak memeringatkan bahaya.

Satria meletakkan cangkir tehnya di atas meja marmer. Bunyi denting porselen yang beradu dengan meja terdengar pelan dan mengintimidasi. "Tidak usah berbasa-basi. Seperti yang sudah Papa sampaikan di telepon tadi, kami sedang membicarakan tanggal pernikahanmu dengan Elena."

Jantung Al serasa berhenti berdetak selama sekian detik. Cengkeramannya pada lutut mengerat. "Pernikahan? Papa bercanda? Aku baru dua puluh dua tahun, Pa. Lulus saja belum!"

Hadi Pranoto tertawa renyah, seolah-olah penolakan keras Al hanyalah rajukan anak kecil yang menggemaskan. "Usia itu hanya deretan angka, Al. Lagipula, ini bukan sekadar pernikahan biasa. Ini adalah penggabungan dua kekuatan bisnis besar. Kusuma Group dan Pranoto Corp butuh stabilitas mutlak di kuartal ketiga tahun ini. Saham gabungan kita akan melonjak tajam setelah pengumuman resmi pertunangan kalian minggu depan disiarkan."

"Aku tidak peduli dengan angka saham, Om," desis Al, menahan nada suaranya agar tidak terlalu meninggi di hadapan tamu. "Aku tidak pernah setuju dengan rencana perjodohan ini. Dari dulu aku sudah berulang kali bilang sama Papa, aku mau memilih pasanganku sendiri."

"Aldebaran!" bentak Satria, membuat suasana ruang tamu mendadak senyap dan beku. "Jaga nada bicaramu di depan calon mertuamu!"

Al menatap ayahnya dengan sorot tak percaya. "Calon mertua? Pa, aku nggak cinta sama Elena. Elena juga sama sekali nggak cinta sama aku. Kita berdua ini cuma pion di atas papan catur bisnis kalian!"

Elena akhirnya angkat bicara. Perempuan itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menaruh cangkir tehnya dengan anggun, dan menatap Al dengan senyum simpul yang tak pernah menyentuh matanya. "Cinta itu bisa ditumbuhkan seiring berjalannya waktu, Al. Lagipula, kita sudah saling kenal sejak masa orientasi di kampus, kan? Aku tahu seberapa besar kapasitasmu memimpin, dan kamu tahu rekam jejakku. Kita akan jadi power couple yang tidak tertandingi di dunia bisnis. Pernikahan ini sangat menguntungkan kita berdua secara finansial dan kekuasaan. Kenapa harus didramatisir seperti adegan sinetron?"

"Keuntungan buat ambisi kamu, mungkin iya. Tapi buatku, ini penjara seumur hidup, El," balas Al tajam, benar-benar mengabaikan tatapan membunuh ayahnya.

"Al, cukup!" bentak Satria dan berdiri seketika, wajahnya memerah menahan amarah yang hampir meledak. "Hadi, Elena, maafkan kelancangan dan ketidaksopanan anak ini. Tolong nikmati teh kalian. Biar saya bicara empat mata dulu dengannya."

Hadi mengangguk maklum, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Silakan, Satria. Anak muda memang kadang butuh waktu luang untuk mencerna tanggung jawab besar."

Satria berjalan cepat, mencengkeram lengan Al dengan tenaga penuh, lalu menyeret anak semata wayangnya itu menuju ruang kerja pribadinya yang kedap suara di dekat tangga. Begitu pintu kayu jati tebal itu ditutup rapat, tangan Satria terangkat dan hendak menampar Aldebaran. Namun, sengaja ia dihentikan hanya beberapa sentimeter dari pipi Al. Satria menarik napas panjang, berusaha keras menahan diri untuk tidak memukul aset berharganya.

"Kamu mau mempermalukan Papa di depan Hadi Pranoto, hah?!" desis Satria dengan penekanan di setiap suku kata.

"Papa yang mempermalukan aku! Mengatur hidupku seolah-olah aku ini robot yang nggak punya perasaan dan kehendak!" balas Al tak kalah sengit, urat-urat di lehernya mulai menonjol. "Aku punya pacar, Pa. Aku mencintai perempuan lain, dan aku berencana menikahinya setelah aku lulus dan bekerja nanti."

Satria mendengkus sinis. Pria itu berjalan lambat menuju meja kerjanya yang luas, membuka sebuah laci, dan mengeluarkan sebuah map cokelat tebal. Ia melemparkan map itu ke atas meja hingga menimbulkan bunyi gedebuk yang cukup keras.

"Perempuan lain yang kamu maksud itu Revalina Putri Gunawan, kan?"

Tubuh Al menegang kaku seolah- olah baru saja disambar petir. Matanya membelalak lebar menatap map di atas meja, lalu menatap wajah ayahnya dengan tatapan ngeri. "Darimana Papa tahu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 134

    Dengan gerakan gesit, Arkananta mendribel bola melewati Aletta, melompat tinggi, dan memasukkan bola ke dalam ring dengan sangat mulus. "Curang! Arkan, kan, badannya lebih tinggi!" protes Aletta sambil berkacak pinggang, bibirnya mengerucut sebal. Arkananta hanya tertawa terbahak-bahak. Ia berjalan menghampiri Aletta, mengacak-acak rambutnya dengan penuh kasih sayang. "Siapa suruh kau malas minum susu peninggi badan? Tapi tenang saja, meski kau pendek, kau tetap superhero terhebatku." Aletta mendengkus kesal, meski senyuman lebar akhirnya terbit di wajah cantiknya. Sampai detik ini, ikatan batin antara kedua saudara itu tidak pernah putus. Mereka saling melindungi, saling menggoda, dan tumbuh dalam kasih sayang yang setara. Tiba-tiba, sebuah suara cadel yang melengking memecah perdebatan kecil mereka. "Kakak Ale! Kakak Alka! Cini, main cama Aksa!" Dari arah pintu kaca paviliun, seorang balita laki-laki berusia tiga tahun berlari terhuyung-huyung dengan kaki kecilnya yang m

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 133

    Al turun lebih dulu. Tanpa memedulikan tatapan puluhan stafnya, pria bertubuh atletis itu langsung membungkuk dan menggendong Reva dengan gaya bridal style keluar dari mobil, mengabaikan fakta bahwa Reva sudah bisa berjalan pelan. "Al, turunkan aku! Malu dilihat banyak orang!" protes Reva dengan pipi yang merona merah padam seraya memukul pelan dada bidang suaminya. "Biarkan saja mereka melihat. Aku sedang menggendong istriku sendiri, bukan menggendong patung," jawab Al santai tanpa merasa berdosa sedikit pun. Sementara itu, para pengasuh dengan sigap membantu Aletta dan Arkananta turun dari mobil. Kedua bocah itu langsung berlarian kecil dengan wajah ceria menuju pintu utama, tak sabar ingin melihat rumah mereka lagi. Begitu Al melangkah masuk membawa Reva ke dalam mansion, napas Reva seketika tercekat. Matanya melebar sempurna melihat perubahan luar biasa yang terjadi di dalam rumah raksasa tersebut. Warna-warna gelap, muram, dan perabotan bergaya gotik berlebihan yang dul

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 132

    Satu minggu telah berlalu sejak malam panjang yang mempertaruhkan hidup dan mati di ruang operasi Rumah Sakit Medika Pusat. Udara pagi yang menyusup masuk melalui celah ventilasi kamar VVIP Presidential Suite terasa jauh lebih segar dan menenangkan. Ketegangan yang sebelumnya menggantung pekat bagai kabut beracun kini telah menguap tak bersisa, digantikan oleh aroma manis dari buket bunga lili putih yang tertata rapi di atas meja nakas. Atas perintah mutlak Aldebaran Kusuma, dinding pembatas antara dua kamar suite terbaik di rumah sakit itu telah dibongkar dalam waktu semalam. Pria itu mengubahnya menjadi satu ruangan perawatan raksasa yang mewah agar seluruh keluarganya bisa berkumpul dalam satu pandangan matanya. Di sisi kiri, Revalina berbaring di atas ranjang dengan raut wajah yang kian memancarkan rona kehidupan, ditemani oleh Aletta yang tengah duduk santai di sofa sembari mewarnai buku gambar. Di sisi kanan, Arkananta terbaring dengan senyum tipis yang tak pernah lepas dari w

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 131

    "Papa akan menemanimu masuk. Papa tidak akan melepaskan tanganmu," ucap Al, mengusap pipi Aletta dengan ibu jarinya yang bergetar. "Papa jangan sedih lagi," ucap Aletta sambil mengulurkan tangannya yang mungil, membelai rahang ayahnya yang mengeras. "Aletta, kan, superhero. Setelah ini, Arkan pasti bisa lari-lari lagi di taman sama Aletta." Aldebaran memaksakan sebuah senyuman, meski hatinya hancur berkeping-keping. "Ya, Sayang. Kau adalah superhero terhebat yang pernah Papa kenal." Ruang operasi itu terang benderang, dipenuhi aroma antiseptik yang tajam dan bunyi dengungan pelan dari berbagai mesin penyokong kehidupan. Suhunya sengaja dibuat sangat dingin untuk menjaga kesterilan. Namun bagi Aldebaran, dinginnya ruangan itu tak sebanding dengan kebekuan di dalam hatinya. Aletta sudah berbaring telungkup di atas meja operasi yang dilapisi selimut pemanas. Tubuh kecilnya terlihat sangat rapuh di tengah kepungan peralatan medis berbahan logam yang mengilap. Aldebaran duduk di ku

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 130

    "Aletta, prosedur itu bukan cuma suntik biasa, Sayang. Itu akan sangat menyakitkan. Tulang belakangmu nanti akan disuntik dengan jarum yang ... ah, Papa tidak akan sanggup melihatmu kesakitan, Nak," ucap Reva dengan tangis yang akhirnya pecah. Ia memeluk putrinya erat-erat, menciumi puncak kepalanya dengan penuh keputusasaan. "Ibu juga tidak sanggup. Kami sangat menyayangimu." "Tapi kalau Arkan mati, Papa bakal sedih terus! Ibu juga nangis terus!" bantah Aletta, suaranya melengking karena frustrasi yang kekanak-kanakan. "Aletta nggak mau sendirian, Ibu! Aletta mau main sama Arkan lagi! Aletta mau nahan sakit sebentar, asal kita semua bisa ketawa lagi!" Di tengah momen yang begitu memilukan itu, pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka lebar dengan kasar. Aldebaran melangkah masuk. Pria itu baru saja berlari dari koridor bangsal steril setelah memerintahkan Dimas untuk mencari opsi ke seluruh benua. Niat awalnya adalah untuk memeriksa keadaan Reva, mencari sedikit ketenangan dari sa

  • Di Balik Akad Rahasia   Bab 129

    Pintu bangsal steril terbuka, dan Dokter Bisma melangkah keluar dengan wajah yang dipenuhi peluh. Ia melepas masker medisnya, menatap Aldebaran dengan pandangan mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus keletihan yang luar biasa. "Tuan Besar Kusuma." Dokter Bisma menjeda kalimatnya, membungkuk sedalam mungkin di hadapan Al. "Maafkan kami. Kami berhasil mengembalikan ritme jantung Tuan Muda untuk sementara waktu. Tapi ini hanya solusi jangka pendek yang sangat rapuh. Perdarahan internalnya belum sepenuhnya berhenti karena faktor pembekuan darahnya sudah tidak berfungsi sama sekali akibat anemia aplastik tingkat akhir ini." "Aku tidak butuh permintaan maafmu, Dokter! Aku butuh solusi!" bentak Al, suaranya menggelegar di koridor yang sepi itu, membuat Dokter Bisma tersentak mundur. "Aku membayar kalian dengan fasilitas terbaik di negeri ini! Cari cara! Datangkan obat apa saja! Sialan, apa gunanya semua gelarmu jika menyelamatkan satu anak kecil saja kau tidak mampu?!" Dokter B

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status